
Ni Sendari menepuk pipi cucunya dengan perasaan gemas. "Nenek juga sayang kamu, Ale."
"Terima kasih, Nek. Setelah urusan selesai, aku pasti akan kembali ke mari." Alexi melepaskan pelukannya. "Mmhh, Nenek ingin kubawakan oleh-oleh apa?"
"Kain tenun songket asli, sutra atau apa saja yang Nenek inginkan?" bertanya Alexi guna menyenangkan sang nenek. "Atau semuanya saja akan aku bawakan untuk Nenek."
Alexi melepaskan pelukannya. Dia berharap sang nenek mengatakan keinginannya. Ni Sendari menggelengkan kepala dan berkata, " Nenek sudah tua, Ale. Nenek tidak menginginkan benda-benda apa pun. Nenek hanya berharap kamu pergi dan kembali dengan selamat dan itu sudah cukup bagi Nenek."
Alexi terdiam dan merasa terharu. Ketulusan kasih sayang neneknya, membuat pria itu sungguh menginginkan memiliki seorang pendamping hidup bersifat seperti sang nenek.
"Tapi, aku ingin membawakan Nenek oleh-oleh yang Nenek sukai." Alexi berusaha membujuk sang nenek. "Atau ... Nenek pilihkan sesuatu untuk kuhadiahkan pada seseorang."
"Hadiah untuk seseorang? Wanita?" tanya sang nenek dengan nada heran.
"Mmhh. Dia seseorang yang aku sukai. Nenek jangan katakan ini pada siapa pun, okay?" Alexi berucap dengan wajah tersipu dan memerah.
"Baiklah, nenek berjanji." Ni Sendari tentu saja merasa senang jika cucunya ini menyukai seorang gadis.
"Lalu, hadiah apa kira-kira yang mungkin disukai oleh seorang gadis?" Alexi bertanya lagi.
"Kamu pikirkan saja sendiri. Dia menyukai apa saja, bukankah kamu sendiri yang nengetahuinya?" Sang nenek malah balik bertanya hingga semakin membingungkan cucunya.
"Neneeeek!" Alexi terlihat cemberut hingga wajahnya terlihat semakin menggemaskan di mata Ni Sendari.
"Apa dia cantik?" tanya Ni Sendari tiba-tiba.
"Tentu saja dia sangat cantik. Kalau tidak, bagaimana aku akan menyukainya?" Alexi juga balik bertanya. Zain Kamilaku adalah gadis yang paling cantik di mataku selain Nenek, ibu dan juga Alexa."
"Zain Kamila?"
"Ya, Nek. Itu nama gadis yang aku sukai. Suatu saat aku akan membawanya ke mari untuk bertemu Nenek dan kakek," ujar Alexi dengan bersemangat.
Ni Sendari melihat Alexi yang terlihat sangat gembira saat menceritakan gadis bernama Zain Kamila. Wanita itu pun berucap dalam hati. "Sepertinya, dia sangat mencintai gadis itu. Semoga kalian bahagia, cucukku."
"Baiklah, nenek tunggu kedatangan gadis pujaanmu itu. Ingat, jangan terlalu lama, karena nenek juga sangat ingin mengetahui rupa gadis yang telah berhasil mengubah wajah cucu nenek ini menjadi semerah buah delima." Ni Sendari memang sengaja menggoda cucunya.
__ADS_1
"Aaah, Neneeeek!" Alexi merasa semakin malu hingga wajahnya kembali bersemu merah. "Baiklah, aku akan membawanya ke mari secepatnya untuk bertemu dengan Nenek dan kakek."
Alexi tersenyum-senyum sendiri dan berucap dalam hati. "Apakah dia bisa seperti nenekku?"
Suara sedeorang dari luar ruangan mengejutkan keduanya. "Kak Ale ..."
Alexi dan neneknya menoleh ke arah sumber suara. Wajah pria muda itu terlihat sangat tidak senang atas kehadiran seseorang yang tidak dia sukai sama sekali. Ni Sendari melihat perubahan sikap sang cucu pun segera menghampiri Garnis.
"Garnis, ada apa?" bertanya Ni Sendari.
"Tidak ada apa-apa, Nek. Saya hanya ... mencari Nenek saja." Garnis melirik kecil ke arah Alexi yang tidak memedulikannya sama sekali. Pemuda itu selalu bersikap acuh tak acuh dan dingin padanya. Garnis segera menundukan wajah guna menyembunyikan kekecewaan dalam hatinya. "Kapankah sikapnya itu berubah padaku? Kapankah kamu akan bersikap manis padaku, Kak Alexi?"
"Oh mencari nenek. Kalau begitu, tolong antarkan nenek kembali ke kamar. Nenek sudah lelah dan ingin beristirahat." Ni Sendari berkata sambil tersenyum. Tentu saja hal itu sengaja dia lakukan guna membuat Alexi senang.
"Baiklah, Nek. Mari, silakan!" Garnis segera menggamit lengan Ni Sendari dengan hati-hati. Meskipun raut kekecewaan tak bisa dia sembunyikan, akan tetapi gadis itu memilih untuk mematuhi Ni Sendari.
"Ale, kau juga harus beristirahat!" seru sang nenek sambil melangkah pergi bersama Garnis.
"Baik, Nek. Selamat beristirahat, Nenekku sayang!" seru Alexi dengan girang yang langsung menutup pintu kamar dan segera mengambil ponselnya.
"Hallo, Sayang!" Alexi menyapa dengan penuh kemesraan disertai kerinduan yang telah menggunung kepada seseorang yang segera menerima panggilan darinya.
"Ada yang memanggil nona!" Suri melihat ponsel Zike yang tergeletak di atas nakas terlihat menyala. Gadis itu segera meraihnya dan melihat wajah cantik dalam profil panggilan terpampang di layar tersebut. "Pasti ini teman Nona Zike. Waaah cantik sekali orang ini!"
"Nonaaaa! Nonaaaa!" Suri memanggil Zike yang sedang berada di dalam kamar mandi. "Ada sesorang yang menelepon Nonaaa!"
"Siapa?" Zike menyahut sambil berteriak. "Tolong angkatlah! Katakan aku sedang ada kepentingan sebentar!"
"Oh, baiklah!" Suri pun segera menerima panggilan tersebut. Gadis berbadan gemuk itu kemudian menggeser ke atas tombol hijau dan langsung mendengar suara seorang pria menyapanya dengan nada penuh kemanjaan.
"Hello, Sayang!" sapaan manja terdengar dari seberang panggilan.
"Suara laki-laki dan memanggil sayang pada Nona Zike?" Suri merasa heran dengan suara yang baru saja dia dengar. Gadis pelayan itu membatin, "Apa aku tak salah dengar? Wajah secantik ini dengan suara laki-laki?"
"Namanya juga Al ... Alexi?" Suri baru membaca nama si pemanggil dan bertanya dalam hati. "Jadi ... ini pria? Benar-benar seorang pria?"
__ADS_1
"Apakah ini adalah ... pacarnya?" Suri menerka-nerka dalam hati.
Karena tak ada jawaban dari orang yang tengah dihubunginya, Alexi memanggil sekali lagi. "Zike! Zike, Sayaang!"
"Oh!" Suri terkejut dan menjadi gugup. Dia justru sedang mengkhayalkan dirinyalah yang mendapat panggilan mesra tersebut. Apalagi jika itu adalah Jessey Liu.
Suri dengan gugup menjawab, "Ma-maaf! Maaf, Tuan. Nona Zike sedang ada keperluan sebentar di belakang!"
"Oh, jadi ini bukan Zike yang menerimanya?" Alexi kecewa karena ternyata suara wanita itu bukanlah Zike yang sedang ia harapkan.
"Benar, saya temannya dan saya hanya diminta tolong untuk mengangkat dan menyampaikan pesan saja. Tuan tunggulah sebentar!" Suri berbicara dengan suara dia buat setenang mungkin.
"Apakah masih lama?" tanya Alexi di seberang telepon.
Suri menoleh ke arah kamar mandi dan belum juga menampakan sang nona. "Mudah-mudahan tidak. Nona Zike baru saja masuk."
"Baiklah, aku akan menghubunginya lagi nanti. Bye!" Alexi segera memutuskan sambungan saluran teleponnya dengan nada suara lesu.
"Bye," bisik Suri seraya memperhatikan wajah Alexi tang sekarang dilihatnya dalam wallpaper ponsel setelah panggilan dari Alexi terputus. "Master Liu dan Tuan Muda Ah Xuan saja sudah sangat tampan, lalu ada lagi kekasih Nona Zike yang sangat tampan sekaligus cantik ini."
Gadis itu tak bosan-bosannya menatapi wajah Alexi yang memiliki alis bak bulan sabit, hidung mbangir, bibir tipis merah muda dan juga dagu bak lebah bergantung. Yang paling menarik lagi adalah bola mata Alexi. Pria muda itu memiliki sepasang bola mata sedikit lebar, bulat, berbulu lentik dan bola mata berwarna biru kehijauan.
"Mata orang ini sangat indah dan terlihat cukup langka. Apa dia memakai softlens?" tanya Suri dalam hati dengan perasaan heran. Memang tidak mustahil jika bola mata cantik itu hanyalah softlens yang banyak dijual saat ini.
"Pasti wajahnya ini hasil operasi bedah plastik dan bukan wajah yang asli dari lahir." Suri menerka-nerka. "Tapi, kok Nona Zike mau ya sama orang begini?"
"Aaahh! Itu bukan urusanku, jadi mengapa harus kupusingkan?" Suri meletakan kembali ponsel milik Zike di atas nakas dan dia kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda.
Tak seberapa lama kemudian, Zike keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Wajahnya sekarang terlihat berbeda jika dibandingkan saat baru pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat ini. Rupanya semenjak menjadi murid dari Mei Lan, dia telah banyak belajar bagaimana cara merawat kulit. Selama ini dia memang tidak begitu peduli pada keadaan dan penampilan dirinya sendiri.
"Nona Zike semakin cantik saja. Padahal baru beberapa hari di sini," ujar Suri sembari menyapu lantai.
"Tapi, tetap saja masih jauh lebih cantik guruku," sahut Zike sambil mengeringkan rambutnya yang sedikit basah.
"Kalau nyonya sih, jangan ditanya lagi. Dia memang sangat cantik sejak dulu. Pantas saja Tuan Ye sangat tergila-gila padanya." Suri memang kerap melihat para majikannya bermesraan di mana saja.
__ADS_1
Membayangkan hal tersebut, membuat gadis gemuk itu membatin, "Kapan ya, aku bisa seperti mereka?"
...Bersambung...