Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KEMBALI


__ADS_3

Agustin segera masuk setelah Ye Kai sedikit menjauh dari ruangan serba putih tersebut. Beberapa orang suster pun terlihat mengikutinya sambil membawakan nampan berisi makanan. Wajah para suster seketika menjadi berubah ceria saat melihat ketampanan pasien khusus ini.


"Silakan, Tuan!" Suster cantik langsung bertingkah sedikit genit saat meletakan nampan di atas meja yang ada di samping tempat tidur.


Jessey Liu hanya melirik sekilas tanpa sedikit pun mengubah posisi duduknya. "Mmh, terima kasih."


"Apa perlu saya bantu Anda untuk sarapan?"


"Tidak perlu." Jessey Liu menjawab dengan cepat dan tegas.


Agustin segera masuk setelah Ye Kai sedikit menjauh dari ruangan serba putih tersebut. Beberapa orang suster pun terlihat mengikutinya sambil membawakan nampan berisi makanan. Wajah para suster seketika menjadi berubah ceria saat melihat ketampanan pasien khusus ini.


"Silakan, Tuan!" Suster cantik langsung bertingkah sedikit genit saat meletakan nampan di atas meja yang ada di samping tempat tidur.


Jessey Liu hanya melirik sekilas tanpa sedikit pun mengubah posisi duduknya. "Mmh, terima kasih."


"Huh! Dingin sekali dia!" Suster cantik menggerutu dalam hati atas sikap dingin Jessey Liu. "Dokter dan pasien sama saja!"


"Ya sudah, silakan dinikmati hidangannya! Kalau ada hal lain yang Anda butuhkan, Tuan bisa memanggil saya," ujar suster yang sebenanya masih merasa sangat penasaran dengan sososk pasien dari atasannya ini.


"Baiklah." Lagi-lagi hanya sepatah kata tanpa sedikit pun ekspresi di wajah pengucapnya. Pria itu bahkan memilih mengalihkan pandangannya dengan menundukan wajah menatap selimut. Dia sungguh enggan melihat penampilan seksi suster muda dan cantik itu.


Suster cantik dengan pakaian kurang bahan itu masih belum juga menyingkir dari hadapan Jessey Liu. Tentu saja Heldevi tahu jika Jessey Liu tidak menyukai wanita bertingkah genit dan sok seksi semacam itu. Pria muda berwajah tampan dan cuek itu segera bertindak demi menjaga kenyamanan perasaan tuan muda dari Sekte Elang Emas ini.


"Minggirlah, Anna!" Heldevi segera mengambil nampan untuk membantu Jessey Liu makan.


"Huh! Dasar Tuan Devil!" gerutu Suster Anna sambil beranjak pergi dari ruangan tersebut setelah menganggukan kepala kepada Agustin. "Permisi, Dokter!"


"Mmhh." Agustin hanya bergumam untuk menyahut susternya tanpa sedikit pun melirik pada wanita yang berjalan cepat dengan pinggul dan dada yang bergerak ke segala arah namun tetap pada tempatnya. Pria itu hanya menggelengkan kepala dengan malas disertai embusan napas hingga beberapa kali.


"Anna!" panggil Agustin setelah Suster Anna baru saja melewati pintu.


"Ya, Dokter. Ada yang masih harus saya lakukan?" Suster Anna berhenti berbalik menghadap kembali kepada Dokter Agustin.


"Lain kali pakailah baju yang lebih tertutup!" Agustin berkata sambil terus melakukan pekerjaannya dibantu oleh suster yang lain.


"Oh!" Suster Anna menyahut dengan raut wajah tak senang dan sedikit bersemu merah menahan malu. "Baiklah, Dokter!"


Suster itu pun segera berbalik pergi sambil menanggukan kepala kepada Ye Kai yang juga hendak masuk kembali ke dalam ruang perawatan. Ye Kai bahkan tidak melirik apa lagi membalas anggukan dari suster seksi yang merasa terabaikan ini.


"Para pria di sini sungguh aneh! Apakah semuanya adalah pria normal?" Suster Anna menjadi sedikit bergidik saat membayangkan tentang para lelaki yang tak tergoda dengan penampilannya sekarang ini. "Sayang sekali! Wajah setampan pangeran tapi perbuatan mereka menyimpang dari hal yang semestinya."


"Pantesan aja lu suka banget jadi dokter. Asistennya aja gemoy, seksoy gituuu." Heldevi sengaja menggoda Agustin sepupunya yang tampak dengan tenang tengah meracik obat.


"Dia baru dua hari di sini," sahut Agustin tanpa menoleh.


"Oh, pantesan aja gue kayak baru liat." Heldevi berkata sambil menyenduk sesuap nasi untuk Jessey Liu.


"Gue bisa sendiri." Jessey Liu menolak suapan dari Heldevi. "Yang sakit kan pala gue, bukan tangan gue."

__ADS_1


"Okay, lu makan sendiri. Tapi harap abisin semua biar cepet sehat lagi." Heldevi menyerahkan piring yang ada di tangannya kepada Jessey Liu.


Jessey Liu menerima piring tersebut dan menjadi tertegun saat melihat makanan di atasnya. "Tapi gue gak suka ma lauknya."


"Jessey!" Ye Kai segera merebut piring itu dan menyuapi Jessey Liu dengan paksa. "Ini adalah semur hati kambing yang sangat bagus untuk mengganti darahmu yang udah banyak keluar!"


"Tapi, Ye Kai!" Jessey Liu ingin menolak semur hati kambing yang sangat tidak dia sukai aromanya. Meskipun pada akhirnya dia tetap harus memakannya hingga habis sambil menahan gejolak dalam perutnnya. "Cukup!"


"Habiskan semua, biar kita bisa segera pulang."


"Pulang?" Agustin menoleh kepada Ye Kai. "Kapan emang gue bolehin pasien gue ini pulang?"


"Dengan atau tanpa ijin dari lu. Dia tetep bakal gue bawa pulang!" Ye Kai tampaknya tak mau tahu dengan reaksi Agustin.


"Gak bisa gitu, Ye Kai! Enak aja mau bawa pasien orang seenaknya."


"Gue emang mau pulang, Gus."


"Jessey, Ye Kai." Agustin akhirnya bangkit dan menyuruh asistennya menyelesaikan peracikan obat. Dokter itu menghampiri Ye Kai dan Jessey Liu.


"Bakalan ada perang nuklir sengit nih kalo gini!" Heldevi memilih sedikit menyingkir dari tiga orang pria yang sekarang berhadapan tengah meributkan sesuatu. "Biarin aja dah gue jadi supporter di pinggir lapangan."


Setelah melalui perdebatan panjang dan sedikit rumit, akhirnya dengan terpaksa Dokter Agustin mengijinkan Ye Kai membawa pasien istimewanya ini untuk dibawa kembali oleh Ye Kai. Mereka juga sepakat untuk tidak akan pernah membocorkan tentang keberadaan Jessey Liu hingga ketua sekte muda itu pulih kembali.


Sementara itu, Ye Kai juga memerintahkan para anggota pasukan elit yang terluka untuk mengambil cuti selama satu bulan guna pemulihan diri dan meminta mereka semua untuk merahasiakan tentang kejadian yang mereka alami.


Sore itu juga Ye Kai segera berpamitan setelah semua persiapan selesai. Dua buah mobil mewah bernilai milyaran milik Ye Kai sudah menunggu di halaman rumah Dokter Agustin dan siap untuk membawa Jessey Liu kembali ke kediaman Ye Kai.


"Mmmhh. Jangan lupa minum obatnya. Ntar gue bakal kontrol luka lu setelah tiga hari." Agustin menyahut. Dia memang mengijinkan Ye Kai membawa kawannya ini karena memang tidak ada yang dikhawatirkan.


"Tenang aja. Ada gueee!" Ye Kai yang sudah berada di dalam mobil menyahut.


Agustin hanya berdecih kecil, sedangkan Jessey Liu justru seperti sedang mencari-cari seseorang. Agustin yang mengetahui siapa yang sedang dicari oleh kawannya ini justru menjadi ingin menggoda. "Lu nyariin Anna? Kalo lu suka dia, lu boleh membawanya."


"Buat lu aja. Gue gak minat."


"Huh! Dasar lu. Emang yang kek apa sih yang lu minat?" Agustin bertanya sambil menyedekapkan kedua tangan di depan dada. "Kalo lu nyari yang kayak si Kat ...."


"Bisa diem gak sih lu?" Jessey Liu membentak. "Mana Chriss gue?"


"Oh! Jadi lu nyariin Chriss." Agustin menunjuk ke suatu arah. "Noh!"


Chriss yang juga sudah pulih segera keluar dari dalam rumah Agustin dan menemui sang tuan sambil membawa seekor binatang mungil dalam gendongannya. Pria itu menghampiri Jessey Liu yang hendak memasuki mobil.


"Chriss! Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Jessey Liu terlihat lega dan senang meski tanpa senyum terulas di bibirya.


"Gong Zi." Chriss membungkuk hormat. "Aku tidak apa-apa. Akulah yang justru sangat mencemaskan Gong Zi."


"Aku juga tidak apa-apa. Mari ikut aku."

__ADS_1


"Baik, Gong Zi!" Kepatuhan tentu saja akan dilakukan oleh pria ini.


Sepasang mata sipit pria itu mengawasi binatang yang sangat menarik perhatiannya. "Chriss! Dari mana kamu dapatkan binatang itu?"


"Ini dari hutan semalam. Pada saat kami hendak bersiap kembali, tiba-tiba kami melihat dia tergelincir turun dari tebing bukit dan kaki depannya cedera. Jadi, kami membawanya." Chriss menjawab sambil memperlihatkan binatang yang tertidur dalam gendongannya.


"Bolehkah dia ...."


"Tentu saja. Gong Zi boleh memilikinya jika Ging Zi menyukainya. Chriss menyerahkan binatang sebesar anak kambing baru lahir itu kepada tuannya. "Silakan!"


Mata Jessey Liu seketika berbinar karena merasa senang dan menyukai hewan tersebut. "Baiklah,aku inginkan itu. Dan untuk siapa pun yang telah menemukannya, aku akan memberinya hadiah."


Jessey Liu menerima binatang yang ternyata adalah seekor anak harimau jantan belang hitam dan putih dengan perasaan gembira bukan buatan. "Cantik sekali!"


"Kasihan sekali dia," ucap Jessey Liu sambil menopang kaki depan hewan pemakan daging tersebut dengan perasaa iba.


"Harimau dia bilang cantik dan bisa membuatnya sesenang itu, sedangkan wanita cantik dan seksi dia abaikan. Dasar aneh!" Agustin hanya bisa menggerutu menyaksikan serah terima binatang buas yang terluka tersebut.


"Diam lu!" Jessey Liu membentak kepada Agustin yang sangat suka mengomel tak jelas. "Gue pamit. Pusing gue ngadepin dokter bawel macem elu."


"Pegi aja dah!" Agustin menyahut dengan nada ketus, sedangkan Heldevi yang di sampingnya hanya bisa menahan tawa menyaksikan orang-orang yang jarang sekali bisa bersikap akur dengan manis saat bertemu, meskipun akan saling mecemaskan jika berjauhan.


"Chriss, cepat masuk! Biar dia aku yang bawa."


"Siap, Gong Zi!" Chriss segera msuk ke dalam mobil dan duduk di samping san supir. Dia memang tidak boleh jauh sedikit pun dari tuannya.


"Buruaaan! Udah sore nih!" Ye Kai berteriak dari dalam mobil.


"Gus, Vil. Gue pulang!" Jessey Liu berkata sambil menatap kedua sahabatnya dan membuka pintu mobil.


"Okay, ati-ati yaa! Inget, lu harus segera sembuh sebelum acara konser ke Taiwan yang akan datang." Heldevi mengingatkan.


"Okay, gue inget itu." Jeseey Liu berkata sembari masuk ke dalam mobil.


"Bye, Jessey!"


"Bye!"


Kedua kendaraan itu pun, kemudian bergerak secara perlahan meninggalkan rumah Dokter Agustin. Heldevi dan sepupunya hanya menatap kepergian orang-orang dari Sekte Elang Emas tersebut.


"Masuk!"


"Gue juga mau pulang, Gus." Heldevi ternyata juga berpamitan.


Agustin tak tampak terkejut. "Lu gak nginep sini lagi?"


"Lain kali aja. Gue juga harus nyiapin diri buat acara besar itu."


"Okaylah. Terserah kamu."

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2