Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MARAH


__ADS_3

Secara diam-diam, Alexi mengepalkan telapak tangan kuat-kuat tanpa memedulikan rasa sakit yang menyerang tangan kanannya. Kepedihan dalam hati pria muda itu bagaikan obat bius yang sanggup mematikan rasa, hingga luka goresan kaca itu pun kembali mengalirkan darah.


"Sial! Mengapa aku harus bertemu dengan dia?" rutuk Alexi dalam hati dengan sangat geram. "Gara-gara dia juga yang membuatku harus mengalami berbagai macam siksaan dari ayah!"


"Ayah terlalu terobsesi dengannya. Sehingga anak sendiri pun harus menjadi korban!" Alexi menggeram dalam hati dengan tatapan mata menerawang entah ke mana. Hanya ada kekosongan dalam pandangan bola matanya dan perasaan jengkel yang teramat kuat menyerang sanubari pria muda itu.


"Dan lebih sialnya lagi! Mengapa aku harus bertemu dengannya di tempat ini?" Alexi tanpa sadar memukul dinding kamar mandi dengan kuat. Meski dinding tidak mengalami kerusakan ataupun kesakitan, tetapi tangan Alexilah yang terkena akibatnya. Alexi masih seperti tanpa sadar dengan apa yang dilakukannya. "Tapi baguslah. Aku bisa bertemu dengan orang yang menjadi obsesi ayahku itu."


"Jessey Liu ... aku sangat ingin melihat sehebat apakah dirimu itu," geram Alexi dalam hati dengan sorot mata disertai kilatan kebencian dan seringaian sinis terulas di bibirnya.


"Aku bahkan tidak mengenalnya, tetapi mengapa harus ada rasa benci dalam hatiku?" Alexi tiba-tiba merasa heran dalam hati dengan apa yang dipikirkannya saat ini. Membenci seseorang yang tidak dikenalnya, bukankah itu adalah suatu hal yang lucu?


Suara dinding yang dipukul telah membuat Alexa menoleh ke arah sang kakak dan matanya pun terbelalak lebar. Dia mendapati tangan kakaknya mengalirkan darah yang bercampur dengan air hingga membuat genangan air di bawah Alexi pun seperti banjir darah.


"Kaak! Mengapa tangan Kakak berdarah?" Alexa terpekik histeris saat melihat tangan kakaknya berdarah. Gadis itu segera berlari menghampiri Alexi yang juga jadi terkejut akibat lukanya telah diketahui oleh sang adik. Alexi berniat menyembunyikannya, akan tetapi sang adik telah mendahului datang. Mereka berhadapan dengan masih dalam keadaan tanpa penghalang apa pun.


"Kaaak! Ini kenapa?" Alexa bertanya sambil meraih tangan kakaknya. "Ini luka sobek dan bekas dijahit?"


"Oh! Ini sudah lama." Alexi segera menarik tangannya, lalu mencuci lukanya sambil menahan pedih. Entah mengapa dia selalu saja bertindak ceroboh saat marah datang menyerang pikirannya dan hampir saja itu juga membangunkan kekuatan dari tanda lahirnya tersebut.


"Kak! Apakah Kakak sedang tidak baik-baik saja? Ular Kakak bahkan hampir terbangun!" Alexa meraba lengan kiri kakaknya yang bertanda lahir pola ular sanca dengan guratan keperakan.


"Cepat selesaikan mandimu! Setelah ini kita turun dan berjalan-jalan sebentar sebelum melanjutkan perjalanan," ujar Alexi yang dengan cepat segera mencuci lukanya hingga bersih dan membilas sisa-sisa sabun di tubuhnya.


Anak muda itu pun segera menyudahi mandinya, karena tidak ingin sang adik merasa sedih atau menanyakan hal yang macam-macam tentang luka goresan yang sekarang kembali rusak. Alexi Nata Praja segera menyambar sehelai handuk untuk membalut bagian awah tubuhnya dan bergegas keluar tanpa banyak berkata-kata.

__ADS_1


"Kaaaak!" Alexa memanggil karena masih merasa penasaran dengan luka sang kakak.


"Kakak ini ada apa sih? Mengapa akhir-akhir ini dia jadi tertutup padaku?" tanya Alexa dengan kesal yang langsung mengikuti menyudahi mandi paginya. "Belum punya istri tapi sudah mengabaikan aku!"


Alexi tidak menjawab panggilan dari adiknya. Pemuda itu telah sedikit jauh dari kamar mandi dan segera berpakaian, kemudian bergegas menemui Abraham yang di kamar lain bersama dengan Segara dan Danny Hendrat. Pemuda itu hanya perlu berpindah ke kamar sebelah dan segera mengetuk pintu tanpa bersuara.


"Eh, ada yang datang!" Segara yang sedang bersiap untuk mandi, meminta Abraham untuk membuka pintu. "Kamu saja yang bukanya."


"Mmh." Abraham yang telah lebih dahulu rapi, hanya mengangguk dan bangkit. Segara sendiri segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Tuan Muda?" Abraham yang muncul di depan pintu cukup terkejut. "Silakan masuk!"


Alexi hanya menganggukkan kepala, kemudian melangkah masuk dan duduk di sofa sambil bersedekap menahan dingin.  Melihat hal itu, Abraham dengan cepat dan tanpa disuruh segera menyambar selembar selimut untuk menutupi badan Alexi.


Abraham menyeka wajah Alexi yang terlihat kedinginan dengan sehelai kain yang lembut.  "Tuan Muda kedinginan. Maaf, saya tak berani masuk ke dalam kamar Tuan Muda, karena ada nona!"


"Cepatlah, kamu keringkan rambutku!" perintah Alexi yang masih kerepotan menahan rasa dingin. "Aku tidak tahan rasanya."


"Tunggu sebentar, Tuan Muda. Saya akan ambilkan alat pengering." Abraham bergegas mengambil alat pengering rambut yang akan selalu dia bawa di dalam tasnya. Dia pun lantas melakukan tugasnya.


Alexi mengedarkan sedikit pandangannya dan tidak mendapati orang lain di sana. Dia lalu bertanya, "Di mana Danny dan Segara?"


"Segara sedang mandi dan Danny sedang melihat para anak buah kita yang terluka," jawab Abraham yang mengira jikalau Alexi telah mengetahui tentang kejadian semalam. Dia masih siuk mengeringkan rambut sang tuan muda dengan hati-hati. "Meski luka-luka mereka tidak terlalu parah, tapi tetap harus segera ditangani agar tidak ada infeksi yang terjadi."


Alexi terkejut dengan penuturan Abraham. "Anak buah kita terluka? Terluka karena apa?"

__ADS_1


Abraham tidak kalah terkejutnya, karena ternyata sang tuan muda masih belum mengetahui perihal kejadian semalam. "Jadi ... Tuan Muda tidak tahu? Nona Alexa tidak bercerita?"


"Tidak. Exa datang aku sudah tertidur dan dia juga ikut tidur. Alexa juga belum bercerita banyak tentang perjalanannya." Alexi merasa kecewa dengan adiknya. "Kalau begitu akan aku tanyakan saja padanya!"


"Dasar bocah itu!" Alexi dengan wajah memerah segera bangkit sambil menyibak selimut dan melemparkannya dengan kasar ke sembarang tempat. Dia sudah tidak peduli lagi pada keadaan rambutnya yang masih setengah basah, karena untuk mengeringkan rambut panjang dan tebal miliknya memang butuh waktu yang tidak sebentar.


"Tapi rambut Anda belum kering, Tuan Muda!" Abraham berseru dengan perasaan sedikit bersalah atas apa yang dia ucapkan. Namun sang tuan muda telah menghilang di balik pintu. "Bagaimana ini? Apakah Tuan Muda akan memarahi nona?"


Abraham akhirnya hanya bisa termangu-mangu di tempatnya berdiri sambil masih menggenggam alat pengering rambut. Pria itu merasa bingung. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Menyusul tuan muda ke kamarnya juga tidak mungkin, karena di sana ada Nona Alexa," gumamnya dalam hati.


"Selamat pagi, Tuan Muda!" Segara yang baru saja selesai berpakaian rapi berniat menyapa sang tuan muda.


Abraham segera menoleh dan berkata, "Tuan Muda sudah kembali ke kamarnya. Tak perlu dicari lagi."


Segara merasa heran. "Ada apa tuan muda ke mari? Apa ada kepentingan yang mendadak?"


"Tidak ada. Tuan muda hanya minta dikeringkan rambutnya, sedangkan aku tidak bisa ke kamarnya karena ada Nona Alexa." Abraham menjawab sambil menyimpan kembali hair dryer ke dalam tasnya. "Tapi, sepertinya ... akan ada ha yang kurang baik."


"Apa maksudmu, Abraham?" Segara bertanya sambil merapikan lagi pakaiannya. Pagi ini ada rencana sebuah pertemuan besar dengan orang-orang dari Sekte Elang Emas, seperti yang telah dia bicarakan dengan Roy dan Jay.


"Tuan Muda sepertinya marah pada Nona Alexa," jawab Abraham dengan suara berbisik.


Segara kaget. "Marah?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2