
"Tampaknya nona memang tertarik dan menyukai pimpinan dari orang-orang ini." Roy dengan perasaan sedih bergumam dalam hati. "Mereka memang sepadan dan tampak sangat serasi."
"Tapi ... mengapa hatiku sakit sekali?" Roy merasakan sesuatu yang sangat menusuk perasaannya saat ini. "Apakah aku cemburu?"
"Mengapa juga harus merasa cemburu?" gumam Roy dan merasa bodoh kali ini.
Jay yang mengerti akan perasaan Roy pun hanya melirik kecil sambil menggelengkan kepala dan mendesah perlahan. Dia memang tahu, jikalau Roy sudah lama menaruh hati pada majikan mereka yang memang sangat cantik. Tetapi dia juga tau secara pasti, kalau seorang Alexa tidak akan pernah melirik pada orang-orang suruhan semacam mereka.
Menjadi bawahan orang lain memang menyakitkan, tetapi saat ini itu juga masih lebih baik jika dibandingkan tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Namun se
"Terima kasih, Nona!" Erick Martin memang harus mengucapkan kepada sang pemberi hadiah.
"Hadiah yang aneh," pikir Erick Martin sambil menimang-nimang kaplet obat dari Roy.
Erick Martin tidak ingin memusingkan hal yang tidak perlu. Lagi pula, dia juga tidak mungkin menolak sebuah kebaikan dari seseorang yang mungkin akan diperlukan nantinya.
"Baiklah, Nona. Anda tinggal atur waktu dan tempatnya guna membicarakan masalah anak-anak itu." Eric Martin mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam saku bajunya, lalu mengulurkannya kepada Alexa. "Ini kartu nama saya dan Anda bisa menghubungi saya setelah mengambil keputusan pertemuan."
Alexa dengan sedikit bersemangat menerima kartu nama tersebut. "Baiklah. Saya setuju!"
"Kalau begitu saya permisi, Nona!" Erick Martin membungkukkan badannya tanda penghormatan, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.
Alexa dengan senang hati sejenak mempermainkan kartu nama dari Erick Martin, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya yang ketat. Di dalam hati gadis itu bukanlah soal kecelakaan yang terpenting, melainkan berharap bisa bertatap muka lagi dengan pria yang mulai mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Jessey Liu, aku akan mencari tahu tentangmu!" seru Alexa dalam hati dengan riang gembira. Sekarang tujuan utamanya bahkan sudah berubah dan tak ingin terlalu mempermasalahkan keributan yang dipicu hanya karena goresan kecil pada mobilnya.
"Roy, Jay. Sekarang kita cari kakakku!" seru Alexa Nata Praja sembari bergerak melangkah meninggalkan area parkiran.
"Baik, Nona!" sahut Roy dan Jay secara serentak, lalu mereka mengikuti sang nona tanpa bertanya apa pun lagi.
Sementara itu di dalam sebuah ruang kamar hotel yang telah dipesan untuknya, Danny Hendrat baru saja bisa merasa sedikit lega dan memutuskan untuk beristirahat.
"Aaaaaahh! Merdekaaaa!" Pria tampan dengan rambut cepak namun elegan itu merentangkan kedua tangannya sembari menggeliat guna meregangkan sebagian otot-otot badan yang terasa lelah dan kaku.
"Sebaiknya aku mandi dulu sebelum Segara datang." Danny Hendrat segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Jarum jam baru menunjukan pukul 21.00 dan ini adalah waktu terbaik untuk memanjakan diri.
Tak seberapa lama kemudian, dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Tubuhnya sekarang hanya terbalut selembar piyama handuk. Danny Hendrat dengan senang hati menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa nan empuk dan hangat.
Seharian duduk tanpa kebebasan di dalam kendaran, ditambah lagi kejadian memalukan yang dilakukan oleh dua wanita penghibur Jean dan Merry telah benar-benar menguras pikiran dan tenaga pria itu. Meskipun itu bukanlah masalah yang terlalu berat untuk ditangani, tetapi tetap saja dia harus bisa mengendalikan emosi yang kerap akan membuncah dan meledak.
Nyaman! Itulah yang sedang dia rasakan saat ini. Bagi pria dewasa yang sudah matang, waktu yang langka ini tidak bisa dinikmatinya hanya sendirian saja, karena seorang wanita muda dan cantik selalu menunggu untuk dimanja dan diberi kasih sayang. Walaupun, semua itu cuma bisa dia tumpahkan lewat layar ponsel miliknya.
"Hallo, Sweety!" Danny Hendrat mulai berbicara dengan seseorang yang hanya bisa ia dengar suaranya saja. Sebagai seorang asisten dan pengawal pribadi bagi seorang tuan muda yang sangat disayangi oleh sesepuh Sekte Sanca Perak yang harus siap menjalankan perintah kapan saja, maka urusan pribadi pun hanya bisa menjadi yang kesekian daripada tugasnya.
Mungkin itu tampak seperti sebuah penderitaan panjang, akan tetapi semua juga sudah menjadi resiko tugas yang telah dia pilih sejak memutuskan bekerja dan setia hanya kepada Ki Surya Praja dan Alexi Nata Praja. Suatu keputusan yang sudah tidak bisa lagi dia langgar selama hidupnya.
Namun belum genap tiga puluh menit dia berbaring di atas tempat tidur, sebuah pesan masuk ke dalam inbox ponselnya dan membuat pria itu sungguh terkejut.
__ADS_1
"Me time gagal! Seru Danny Hendrat dengan kesal.
"Kenapa bisa bersamaan seperti ini?" Danny Hendrat terlihat gusar saat menerima pesan dari Roy yang merupakan asisten Alexa Nata Praja tentang insiden yang terjadi di luar hotel. "Bagaimana kalau tuan muda tahu bahwa Nona Alexa ada di sini?"
"Baru saja bisa sedikit menikmati waktuku yang indah ini, datang lagi masalah lain!" Danny Hendrat bangkit dari terlihat gelisah hingga ia merasa tak bisa duduk walau barang sejenak saja.
Terdengar suara panggilan disertai ketukan di pintu hingga beberapa kali, tapi Danny Hendrat merasa enggan untuk membukanya. Pria itu berseru dengan suara keras. "Masuklah!"
Segara muncul setelah pintu dibuka dari luar. Wajah Segara masih terlihat kumal dan seperti sangat lelah. Segara tidak hanya bertangan kosong saat dia hendak ke kamar tersebut. Pemuda itu membawa beberapa buah kantong plastik dan dua cangkir kopi.
Segara sangat merasa heran, saat melihat kawannya seperti tengah bersiap-siap hendak pergi lagi. Pemuda itu memperhatikan sang teman secara saksama. Jelas sekali pada sorot mata dan raut wajah Danny Hendrat memancarkan kegelisahan.
"Ada apa, Danny?" Segara bertanya seraya meletakan dua cangkir kopi panas. "Kenapa kamu seperti mau pergi lagi?"
"Roy baru saja mengirimkan pesan dan mengatakan kalau nona di sini da ada insiden dengan salah seorang anak buahnya. Bagaimana aku bisa tenang?" Danny Hendrat balik bertanya sembari memakai kembali jaketnya.
Segara tak tampak terkejut atas apa yang dikatakan oleh Danny Hendrat. "Ooh, Nona Alexa."
"Ya! Siapa lagi memangnya yang bisa memaksa dan mengejarku sepanjang waktu?" bertanya Danny Hendrat sambil menyambar ponselnya. "Aku akan menjemputnya!"
"Tidak perlu." Segara berkata sambil duduk dengan santai dan mulai membuka kantong plastik yang dibawanya. "Duduk dan minum saja kopimu!"
Danny Hendrat menoleh ke arah Segara dan bertanya, "Minum kopi katamu?"
__ADS_1
"Bagaimana dengan nona?"
...Bersambung...