
"Baiklah. Kami akan mengurus orang-orang kami. Namun, kami juga harus membicarakannya dengan pimpinan kalian tentu saja," ujar Erick Martin. "Siapa dan di mana pimpinan kalian?"
Tak ada satu pun dari para pengawal itu yang berani menyahut. Semuanya tertunduk dan membisu sambil menahan sakit akibat luka-luka pada tubuh mereka.
Erick Martin harus kembali mengulangi pertanyaannya yang belum juga dijawab oleh pihak lawan. "Mana para pimpinan kalian? Kami akan bicarakan semua dengan mereka."
"Akulah pimpinan mereka!"
Terdengar suara tegas seorang wanita dan disusul dengan penampakan penampilannya yang anggun memukau. Serentak pula, para pemilik mata pun mengarahkan pandangan mereka kepada gadis cantik yang baru saja tiba dengan diiringi oleh para pengawal lainnya.
Tentu saja kedatangannya telah membuat mata para pria terbelalak saat melihat betapa cantiknya gadis yang memiliki wajah nyaris serupa dengan Alexi. Beberapa di antara mereka pun berusaha mengingat-ingat di mana pernah bertemu dengan orang yang mirip gadis ini.
Hanya Jessey Liu saja yang tetap bergeming di tempatnya tanpa memedulikan kedatangan gadis cantik tersebut. Pria itu memang tidak tertarik kepada gadis berpenampilan seperti Alexa. Menurutnya, itu terlalu berlebihan dan sangat merepotkan.
Alexa Nata Praja sekarang berhadapan dengan Erick Martin dan mereka sama-sama memiliki sikap sedikit angkuh sebagai seorang pemimpin. Erick Martin
"Jadi, Anda adalah pemimpin dari rombongan ini?" bertanya Erick Martin sambil meneliti gadis di hadapannya dengan saksama. "Nona Alexa Nata Praja?"
"Yaa!" Alexa menyahut dengan santai dan tegas.
"Baiklah. Kita bisa bicarakan soal kecelakaan dan perkelahian ini secara baik-baik, Nona." Erick Martin berbicara dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.
"Biar kulihat dulu kondisi para anak buahku dan seberapa besar kerugian akibat kecelakaan ini." Alexa pun bersikap acuh tak acuh dan merasa jikalau dirinya lebih tinggi dalam segala hal dari orang yang baru saja berbicara dengannya.
Alexa berjalan berkeliling sembari memeriksa satu-persatu para anak buahnya yang bagaikan mati kutu di hadapannya. Gadis itu juga melihat goresan memanjang yang sebenarnya tidak terlalu fatal pada mobil hitam milik sektenya.
"Hanya goresan seperti ini saja, mengapa sampai diributkan dan menimbulkan perkelahian?" tanya Alexa pada salah satu anak buahnya yang sedang meringis menahan sakit pada lengannya. Ada tiga luka memanjang dan masih mengalirkan darah segar.
__ADS_1
"Maafkan kami, Nona!" Pria anak buah Alexa meminta maaf atas kecerobohanya. "Kami tidak bermaksud untuk membuat keributan, tetapi mereka juga mendahului menyerang kami."
"Dan kalian semua kalah, juga dibuat sampai babak belur hingga luka-luka seperti ini?" bentak Alexa Nata Praja sambil berkacak pinggang. Sesungguhnya dia juga sangat ingi menghajar anak buahnya yang telah bertindak dengan tanpa persetujuannya.
"Nona, maafkan kami!" seru beberapa orang pengawal hampir secara bersamaan.
"Bodoh kalian semua!" hardik Alexa dengan masih menahan marah yang tiada tara. "Ya sudah! Bubar semuanya dan rawat luka-luka kalian itu!"
"Tapi, Nona! Bagaimana dengan masalah itu?" tanya salah seorang pengawal sembari melirik ke arah para penyerangnya yang juga sedang mendapat marah dari Erick Martin.
"Sekarang masalah itu bahkan harus aku yang ikut menanggungnya! Mengapa masih juga bertanya?" Alexa mendorong kepala si penanya dengan sangat kasar.
"Maaf! Maafkan kami semua, Nona!" Para pengawal terlihat ketakutan pada kemarahan sang nona. Meski dalam hati mereka masih sangat geram kepada para lawannya. Namun melihat Alexa yang terlihat marah, mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Hanya maaf dan maaf saja yang kalian bisa!" hardik Alexa dengan masih berkacak pinggang. "Kalian ini pasukan elit yang seharusnya bertindak hati-hati dan tidak berbuat brutal seperti berandalan jalanan yang tidak terlatih sama sekali!"
"Siaal! Mengapa pula harus disamakan dengan pengawal elit dalam pelatihan di bawah pimpinan Tuan Segara?" Salah seorang pengawal menggerutu dalam hati dan merasa tidak senang saat dibandingkan dengan pasukan milik Sekte Sanca Perak pertama. "Tapi memang benar. Pengawal elit di sana lebih bagus dan tidak gegabah seperti di Sanca Perak kedua."
"Sudahlah. Sekarang juga kalian bubar dan cari tempat untuk menyembuhkan luka-luka kalian ini." Alexa merasa pusing melihat darah yang menyimbahi tubuh-tubuh para pengawalnya. "Bubar!"
"Baiklah, Nona!" sahut para pengawal secara serentak dan segera berpamitan.
Para pengawal elit yang segera menuruti perintah majikannya dengan perasaan dendam yang hanya mereka tahan dalam hati saja. Berbagai gumaman tidak puas pun terdengar dari mulut mereka. Walaupun bara kebencian menyala-nyala, tetapi mereka juga tidak punya kewenangan lebih. Mereka meninggalkan tempat kejadian. Tinggalah Alexa bersama dengan dua orang pengawal pribadinya, yaitu dan Jay.
Alexa mendesahkan napas panjang yang terasa berat menjejali rongga dada sembari menepuk dahi. "Aku baru saja bisa keluar untuk menyusul kakakku, tapi belum apa-apa sudah tertimpa masalah seperti ini."
"Nona, tenanglah! Semoga semua bisa diselesaikan dengan mudah dan pihak mereka bisa diajak berkompromi," ujar Jay yang memiliki perawakan tinggi besar dan terlihat paling gagah di antara para anak buah Alexa lainnya.
__ADS_1
"Aku harap begitu, Jay. Hanya goresan tak seberapa saja sudah embuat kebutan sebesar ini," sahut Alexa. "Ya sudah, mari kita ke sana!"
"Roy, Jay! Ikut aku!" ajak Alexa setelah para anak buahnya pergi meninggakan tempat tersebut.
"Baik, Nona!" sahut keduanya yang segera bergerak mengikuti sang nona kembali ke arah Erick Martin.
"Roy! Tolong hubungi Danny sekali lagi dan katakan padanya untuk memberitahukan keberadaanku di sini pada kakakku!" Alexa berkata sambil terus berjalan di antara orang-orang yang langsung memberi jalan padanya.
Beberapa pria merasa terpesona dengan kecantikan Alexa yang memang sangat memikat. Terlebih lagi, gaya busananya yang berbeda dari para gadis kebanyakan. Tentu saja semua itu karena dia adalah seorang stylish dan fashion faux pas atau orang yang suka berbusana dengan gaya melenceng. Hal itu juga yang membuat Alexa Nata Praja cukup terkenal karena penampilannya yang modis. Hanya saja sayangnya, sang ayah tidak mengijinkan putrinya ini menjadi seorang model.
"Woaaaahh! Jadi ini pimpinan mereka?" Seorang pria muda menggeleng-gelengkan kepala sambil memuji kecantikan Alexa yang terlihat sangat mempesona tersorot lampu-lampu penerangan yang ada di area parkir tersebut. "Ternyata seorang gadis muda yang sangat cantik dan begitu mempesonaaaa!"
"Benar-benar sangat cantik!" celetuk yang lainnya sampai-sampai gelas air mineral yang sedang dipegangnya miring dan menyiram sepatu salah satu kawannya.
"Heh! Sialan kamu!" Sang kawan mengumpat karena rasa dingin dan basah mengenai sepatunya. Serta merta anak muda itu menjitak kepala kawannya. "Liat-liat kek, kalau mau numpahin air!"
"Oops, sorry! Sorry banget, aku gak sengaja!" Pelaku penyiraman terlihat gugup dan segera melemparkan begitu saja gelas yang sedang dipegangnya ke arah lain dan tepat mengenai Tygra.
Auman keras harimau kecil dalam pelukan Chriss yang terkejut karena terkena lemparan gelas kosong itu behasil menggegerkan orang-orang di sekitar Chriss. Pria itu menjerit histeris tanpa sadar. "Tygraaaa!"
Tygra mengaum marah sambil melompat dari pelukan Chriss hingga menimpa beberapa orang yang ada di sekitarnya. Tentu saja orang-orang seketika geger, histeris dan bahkan ada yang sampai pingsan karena ketakutan.
"Ada harimauuu!" Seseorang menjerit.
Yang lainnya bertanya, "Harimau putih?"
"Ayo kita tangkap diaaa!" teriak yang lainnya.
__ADS_1
...Bersambung...