Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KEDATANGAN IBU


__ADS_3

Di Sekte Sanca Perak Utama.


Pada saat itu juga, Alexi memilih menyegarkan diri dan pikiran dengan bersantai pada sebuah taman nan asri yang ada di kediaman Ki Surya Praja. Dia memilih tempat yang menurutnya paling nyaman dan menjadi tempat bermain yang paling menyenangkan semenjak masa kecilnya.


Pada siang yang cukup terik itu, lagi-lagi Alexi masih sibuk memikirkan lukisan yang ternyata bertuliskan rangkaian kalimat menyerupai sebuah syair. Kalimat tersebut mungkin biasa saja, akan tetapi menurutnya itu cukup menarik. Dia sendiri bahkan tidak mengetahui hal apa pun tentang puisi, apa lagi kalau disuruh menyusunnya tentu saja seorang Alexi akan lebih memilih berlatih hal yang lain.


Karena benda kesayangannya sedang diperbaiki dengan membingkai kembali lukisan daun maple buah karya Zike, maka pemuda itu meminta Segara untuk menyalin kalimat tersebut pada buku diary-nya. Mengingat tangan kanan pemuda itu yang baru saja terluka, Alexi mengijinkan Segara menuliskan kalimat tersebut pada benda pribadi yang selama ini tidak ada satu orang pun bisa menjamahnya.


Hanya sebuah bingkai lukisan yang rusak saja, bisa membuat Alexi bersedih hati hingga hampir seperti orang gila. Hanya sebuah syair yang terlihat tidak terlalu istimewa saja, telah berhasil membuat tuan muda Sekte Sanca Perak ini juga berpikir keras. Sebegitu istimewakah seorang Zain Kamila di mata Alexi Nata Praja? Sehingga hal apa pun yang masih ada kaitannya dengan gadis itu, akan selalu dia jaga dengan taruhan nyawa.


Benar-benar melebihi seorang tokoh budak cinta yang ada dalam film series, sinetron tontonan kegemaran para ibu-ibu serta lansia di jaman sekarang. Lalu sebutan apakah yang sekiranya pas, juga cocok untuk seseorang seperti dia? Pemuja Cinta, Penghamba Asmara, Pemburu Rindu, atau ... Master Romansa?


Namun, sepertinya julukan atau gelar semacam itu juga kurang tepat bagi dia. Karena hanya untuk mencerna makna yang terkandung dalam kalimat pendek saja, Pria muda tersebut dibuat sangat kebingungan. Seorang Alexi bisa sampai lupa untuk menanyakan asal-usul dan latar belakang sang kekasih. Bahkan sebuah hadiah untuk gadisnya pun, dia tidak memikirkannya sama sekali.


Sungguh, penulis ini juga terkadang merasa bingung dengan sifat dan karakter Alexi Nata Praja yang cukup unik namun kuat. Dia tidak terlalu menyukai banyak hal, karena yang diinginkan pemuda tampan satu ini hanyalah kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya.


Hal itu sungguh sangat jauh berbeda dengan tuan muda genius lainnya, yang selalu menjadi bahan perbandingan oleh Nata Praja ayah dari Alexi dan Alexa yang terlalu menginginkan anak lelakinya ini bisa setara dengan tuan muda yang begitu disanjung oleh banyak orang karena memiliki berbagai macam kelebihan.


Sudahlah, sebaiknya kita lihat juga tentang tulisan yang telah membuat Alexi merasa sangat kebingungan ini. Dia bahkan sampai beberapa kali mengerutkan dahi, memicingkan mata dan benar-benar sakit kepala dibuatnya.


...Semilir angin timur berembus perlahan, meluruhkan ribuan daun maple di musim gugur....


...Mereka jatuh terserak di atas bumi tanpa hijau rumput yang mengalasinya....


...Dedaunan yang hampir mengering itu hanya bisa memasrahkan diri, untuk kemudian berbaur dengan tanah dan hanya akan membusuk setelahnya....

__ADS_1


...Tiada yang tergoda untuk menjadikan guguran sampah menjadi sebuah hiasan....


...Mereka pun teronggok dan hanya akan menjadi bahan injakan semata....


"Apa artinya semua ini? Benarkah ini juga ditulis sendiri olehnya?" Alexi bergumam sembari membaca berulang kali kalimat yang sebenarnya tidak begitu penting untuk dipikirkan. Tetapi dia adalah seorang Alexi, yang akan memuja apa saja yang masih terkait dengan kekasih hatinya itu.


"Tuan muda masih mempelajarinya?" Abraham datang dengan membawa berbagai macam makanan camilan dan berapa gelas es jus jeruk yang tentunya sangat menyegarkan jika diminum pada siang hari nan terik seperti sekarang ini.


"Ya, Abraham. Aku merasa penasaran dengan arti dari tulisan ini. Segara saja juga masih belum memahaminya, apalagi aku." Alexi mengangkat bahu tanda masih tidak juga mengerti.


Abraham menata semua barang bawaannya dengan rapi di atas meja, kemudian ia duduk di kursi lain yang ada di hadapan Alexi. Demi ingin menyenangkan tuan mudanya dia rela membuatkan puding marmer coklat kesukaan sang tuan muda. "Silakan, Tuan Muda!"


"Apakah perlu saya suapi?" Abraham melihat tangan kanan Alexi yang diperban dan ditutupi dengan menggunakan sarung tangan kulit berwarna hitam, hal itu agar tidak menimbulkan kecurigaan kakek dan neneknya. Alexi tidak ingin hal sekecil itu akan tersebar dan membuat cemas orang lain.


"Aku bukan bayi, Abraham!" Alexi sendiri sepertinya lupa pada luka yang baru saja dijahit oleh Abraham.


"Oh! Kau benar juga, Abraham." Alexi sungguh lupa dengan keadaan tangannya. "Ya sudah, aku pakai tangan kiri saja!"


Alexi segera menyambar beberapa potong kue yang sudah menggodanya sejak tadi dengan tangan kiri dan langsung melahapnya. Namun, sebuah suara tiba-tiba mengingatkan perbuatannya tersebut.


"Ale, tidak baik makan dengan tangan kiri!"


Alexi menoleh dan mendapati wajah seorang wanita cantik telah berdiri tak jauh darinya. Mata pemuda itu pun seketika menjadi berbinar dan tanpa sadar menjerit.


"Ibu!" Alexi serentak bangkit dan memeluk sang ibu yang sudah sangat dirindukannya sejak lama. "Ibuuu, aku rindu ibuuu!"

__ADS_1


Diah Ningsih tidak bisa untuk tidak meneteskan air mata saat mendapati sang putra yang sekarang menjadi sedikit kurus dan terlihat pucat. "Alexi anak ibu! Bagaimana kabarmu, Sayang?"


"Mengapa keadaanmu seperti ini? Kau kurus dan pucat begini, apakah anak ibu sakit?" Diah Ningsih meneliti tubuh anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia menyentuh pipi dan badan anaknya yang hanya membiarkan sang ibu memeriksa keadaan Alexi. "Kau ini, mengapa tidak menemui ibu?"


"Ibuuu, aku baik-baik saja." Alexi memberi isyarat kepada Abraham agar segera pergi dari tempat itu. Dia hanya ingin bicara berdua dengan wanita tercintanya ini.


Abraham pun mengerti dan segera berpamitan kepada keduanya. Dia meninggalkan sang tuan muda untuk melakukan tugasnya yang lain. Di tengah perjalanan, pria itu melihat Alexa tengah berjalan dengan seorang gadis yang sudah dia kenal dan hal itu membuat Abraham tercekat sekaligus merasakan hal yang tidak menyenangkan mungkin akan segera terjadi.


"Celaka!" seru Abraham dalam hati dan pria itu segera menyingkir ke pinggiran untuk memberi jalan kepada dua gadis cantik yang sepertinya akan menuju ke tempat di mana Alexi dan ibunya berada.


"Selamat siang, Nona Alexa!" Abraham menyapa sembari membungkukan badan.


"Selamat siang juga, Abraham!" Alexa Nata Praja membalas sapaan anak buah kakak kembarnya ini dengan sikap ramah.


"Apakah kakakku ada di sana?" bertanya Alexa kepada pria yang tetap menundukan wajahnya.


"Benar, Nona. Silakan jika Anda akan bertemu dengan tuan muda!"


"Baiklah, terima kasih!"


Kedua gadis cantik itu pun segera berlalu dari hadapan Abraham yang hanya melirik sekilas kepada gadis lain yang terlihat tidak memperhatikannya.


"Dia datang juga pada akhirnya! Semoga tidak terjadi hal yang tidak baik!" Abraham bergumam seraya melangkah pergi.


Siapa sebenarnya gadis yang besama dengan Alexa itu?

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2