
Setelah mendapat perawatan medis, Jing Xuan membuka sepasang matanya dengan sangat perlahan dan langsung melihat wajah Mei Shin. "I-Ibu ...."
"Ah Xuan!" Mei Shin merasa sangat bahagia mendengar suara anak lelakinya. Wanita itu pun berusaha tersenyum agar Jing Xuan merasa lebih baik.
"Ibu ... Di mana teman-temanku?" Jing Xuan masih belum begitu sadar dengan keadaannya dan mengira jika dirinya masih sedang bersembunyi. "Ibu, mengapa ibu ada di sini?"
"Ah Xuan Sayang, kamu sudah sadar?" Mei Shin bertanya dengan suara lemah lembut.
"Sadar?" Jing Xuan bertanya dalam hati sambil meneliti keadaan sekitarnya. Saat ingin bergerak untuk bangun, tiba-tiba dia berteriak dengan suara keras.
"Aaww! Sakit!"
"Ah Xuan!" Beberapa orang yang mendengar teriakan Jing Xuan segera berlarian dari luar ruang perawatan. Mereka semua merasa lega setelah mendengar suara tuan muda kecil Keluarga Jing.
"Ah Xuan, kamu sudah sadar?" Jing Guo bertanya seperti kepada dirinya sendiri. "Ah Xuan, cucukuuuu!"
"Ah Xuan, akhirnya sadar!" Jing Shan juga berseru karena bahagia. Pria itu ingin memeluk anaknya, tetapi dia juga teringat bahwa Jing Xuan tidak boleh disentuh dengan bebas akibat cederanya.
"Ayah, Kakek, Paman ... mengapa ada di sini juga?" Jing Xuan menatap satu-persatu orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Kami semua sedang menunggu Ah Xuan kami sembuh dari sakitnya," ujar Jing Ren sang paman.
"Sakit?" Jing Xuan meneliti keadaanya dan merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan bebas. "Mengapa tubuh Ah Xuan rasanya sakit semua?"
Orang-orang hanya bisa saling bertatapan satu sama lain dengan wajah bingung. Mereka tidak tahu bagaimana cara menceritakan pada anak sekecil itu tentang kejadian yang sebenarnya. Akhirnya Mei Shin harus mengarang cerita, bahwa Jing Xuan terluka karena kecelakaan akibat tertimpa peti kayu di gudang senjata mereka.
Jing Xuan mendengarkan apa yang diceritakan oleh ibunya dan mempercayai sepenuhnya. Walaupun itu adalah sebuah kebohongan, akan tetapi itu terpaksa dilakukan demi kebaikan mental anak seusia dia. Mereka tidak ingin Jing Xuan akan menjadi patah semangat hanya karena cacat pada jalur meridiannya.
Sejak saat itulah, Jing Xuan kecil tumbuh dengan meridian yang tidak sempurna. Dia hanya mampu berlatih semua ilmu-ilmu di pergururan tersebut hanya sampai tingkatan ke tiga saja. Tentu saja Jing Xuan merasa malu kepada para murid junior yang telah malampaui tingkatan ilmunya dengan cepat, sedangkan Jing Xuan tetap di tingkatan ketiga dan tidak pernah berubah.
"Bagaimana bisa orang lemah seperti dia akan memimpin Sekte Rajawali Api yang kuat ini kelak?" tanya salah seorang anak lelaki yang merupakan murid junior di Sekte Rajawali Api.
"Iya, meski dia adalah seorang tuan muda, tetapi tak ada gunanya! Dia dihormati hanya karena dia anak dari ketua Sekte kita!" Anak yang terlihat congkak berkata sambil menuding ke arah wajah Jing Xuan yang hanya bisa diam menunduk.
__ADS_1
"Hanya tingkat tiga dan tidak akan pernah bisa meningkat. Bukankah itu tidak ada gunanya?" Salah seorang anak berkata sambil berkacak pinggang disertai gelak tawa anak-anak lainnya.
"Dia hanya sampah tak lebih!" seru anak yang lain. "Sampah sekte yang sangat tidak berguna!"
Berbagai macam ejekan dari mereka-mereka, sungguh sangat menyakitkan hatinya dan membuat Jing Xuan menjadi tidak ingin bergaul dengan siapa pun. Dia lebih senang menyendiri dan menutup diri. Hal itu juga yang membuat Jing Shan dan Jing Ren terus menyesali kejadian tersebut, akan tetapi mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan kondisi penerus sekte yang seharusnya mewarisi perguruan tersebut.
Sejak kejadian itu juga, Jing Xuan menjadi lebih sering bekunjung ke tempat Ye Kai yang merupakan master kedua dari Sekte Elang Emas. Ye Kai dan orang-orang Sekte Elang Emas tak ada yang mem-bully atau menghina nya meski dia tidak bisa memiliki ilmu yang sempurna seperti anak-anak lainnya. Di sekte tersebut, baik murid biasa ataupun murid inti dan juga para seniornya semua menyukai Jing Xuan.
Ye Kai dan Mei Lan secara diam-diam mencoba membantu memperbaiki meridian keponakannya itu dengan cara yang ditentang oleh para suhu bela diri di Sekte Rajawali Api, karena dikhawatirkan hanya akan semakin memperburuk keadaan Jing Xuan. Namun, seorang Ye Kai juga tidak akan bertindak sembarangan. Dia terus melakukan berbagai macam penelitian demi untuk menyembuhkan keponakannya tersebut.
Pernah suatu ketika, Jing Xuan mengatakan bahwa dia ingin bergabung dengan Sekte Elang Emas, akan tetapi Ye Kai menolaknya. Hal itu karena Jing Xuan adalah satu-satunya penerus Sekte Rajawali Api. Ye Kai dengan berat hati menolak keinginan Jing Xuan, tetapi dia bersedia membantu penyembuhannya tapi dengan syarat Jing Xuan tidak diijinkan memberitahukannya kepada orang lain.
Berkat ketelatenan dan usaha Ye Kai yang didukung sepenuhnya oleh Mei Lan, akhirnya Jing Xuan pulih secara bertahap dan memerlukan waktu hampir sebelas tahun untuk melakukan terapi secara rahasia. Sebuah metode pengobatan yang sangat menyiksa tentu saja.
Jing Xuan mengakhiri cerita masa lalu kelam yang teramat menyakitkan. Pemuda itu harus menahan penderitaan dan tekanan mental atas ejekan anak-anak yang dulu sangat menghormati dan takut padanya. Di Sekte Rajawali Api yang tak diragukan lagi kehebatannya, Jing Xuan hidup tanpa kedamaian.
"Kamu tahu? Tubuhku ini akan dipenuhi oleh jarum es selama hampir seharian." Jing Xuan berkata kepada Zike sembari mengusap lembut seruling bambunya yang hijau mengkilat.
"Jarum es? Benda semacam apakah itu?" Zike merasa penasaran dengan benda yang setahu dia hanya digunakan untuk menjahit pakaian.
Jing Xuan tidak menjawab langsung pertanyaan dari gadis yang baru saja dia kenal sehari ini. Entah mengapa ada semacam perasaan nyaman dalam hati pemuda itu saat bersama Zike. Ia tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya. Tiada orang yang dekat dengan pemuda itu selain daripada kedua orang tuanya, Ye Kai dan Mei Lan bibinya.
Tetapi saat melihat Zike yang begitu diperhatikan oleh Ye Kai, dia pun merasa jikalau gadis ini adalah orang yang cukup menarik. Jing Xuan seketika merasa penasaran dan ingin mengenal lebih dalam tentang murid baru dari paman dan bibinya. Pemuda itu merasa, jikalau Zike juga sedikit memiliki sebuah keistimewaan.
"Itu hanyalah penyebutan saja, benda itu sebenarnya jarum dari perak yang digunakan untuk teknik akupuntur dan ditusukkan ke dalam pusat titik-titik syaraf." Jing Xuan menjelaskan.
"Ooohh, metode pengobatan tusuk jarum? Alangkah mengerikannya hal itu." Zike bergidik ngeri membayangkan hal yang baginya sangat menakutkan. Bagaimana tidak? Seseorang bisa ditusuk puluhan jarum perak yang akan menyiksa selama beberapa lama.
"Bukan itu saja. Paman bahkan menyuruhku berendam dalam air es untuk menetralkan aliran hawa panas yang akan membuatku seperti demam tinggi." Jing Xuan bagaikan sedang mengungkapkan penderitaannya selama ini. "Dan aku melakukannya demi mengendalikan dua kekuatan yang saling bertarung dalam tubuhku."
Zike tercenung mendengar penuturan Jing Xuan. Ternyata dalam tubuh pria muda ini, tersimpan sisa dua kekuatan dari ilmu tingkat tinggi yang menyebabkan kerusakan pada titik syaraf tertentu. Tentu saja itu adalah hal terberat bagi seorang keturunan praktisi bela diri seperti Jing Xuan, di mana dia dituntut harus bisa menguasai segala hal mengenai tenaga dalam.
Namun, hal tersebut tidak bisa dikuasai oleh Jing Xuan yang merupakan calon penerus sekte. Hal itu pula yang membuat dirinya dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi ketua sekte berikutnya. Ye Kai yang merasa prihatin, menjadi tergerak untuk mengobati keponakannya itu. Bagi sang paman, tidak ada kata mustahil jika terus berusaha.
__ADS_1
"Lalu setelah melakukan semua itu secara bertahun-tahun, apakah ada perubahan?" Zike merasa penasaran untuk hal ini.
Jing Xuan tersenyum sembari menyambar kacang goreng dan memakannya dengan nikmat. "Menurutmu, bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana? Aku tidak tahu," sahut Zike tanpa memandang kepada lawan bicaranya.
"Maksudku, apakah usaha paman dan bibiku selama ini akan sia-sia?" bertanya Jing Xuan.
Zike menjawab dengan nada pasti. "Aku yakin, itu pasti berhasil."
"Ooh? Begitu yakin?" Jing Xuan bertanya. "Mengapa?"
Lawan bicara pemuda itu berkata, "Karena aku melihatmu baik-baik saja sekarang. Lagi pula, aku tidak begitu paham masalah luka dalam. Terlebih lagi yang menyangkut titik syaraf."
"Dan karena aku melihatmu sekarang terlihat sehat dan ceria, bukankah itu artinya usaha paman dan bibimu tidak sia-sia?"
Selengkungan senyum kecil terkembang di sudut bibir pria muda berwajah tampan tersebut. "Tepat!."
"Paman dan bibiku adalah orang yang sangat sabar juga telaten, meskipun terkadang Paman Ye terlihat galak dan bawel. Tetapi, dia adalah orang yang justru sangat perhatian padaku dan bersedia mengobatiku tanpa meminta sepeser pun bayaran," ujar Jing Xuan sambil memilin-milin batang serulingnya. "Aku memilih percaya kepadanya, di saat keluargaku sudah pasrah dengan keadaanku yang tidak mungkin bisa dipulihkan. Aku bersedia menanggung semua resiko jika usaha paman dalam menyembuhkanku gagal."
Zike mendengarkan penuturan Jing Xuan dengan perasaan sedih. Semula ia mengira, jikalau dirinyalah orang paling sial yang pernah ada di atas bumi. Namun setelah dia mendengar kisah pemuda ini, gadis itu merasa ada teman yang tidak kalah memprihatinkan.
"Boleh aku tahu?" Zike bertanya. "Mengapa kamu menceritakan semuanya padaku? Padahal kita baru saja bertemu. Apakah kamu tidak curiga padaku?"
Jing Xuan kembali tersenyum dan berkata, "Sama seperti kepada paman dan bibiku. Aku memilih percaya padamu."
"Mengapa?"
"Karena kamu adalah murid paman dan bibiku yang tentunya mereka sangat mempercayaimu." Jing Xuan menjawab tanpa ragu. "Karena mereka tidak pernah salah dalam menilai seseorang."
"Sebegitu yakin dan percayanya mereka kepadaku." Zike berucap dalam hati. "Terima kasih, Tuhan! Engkau telah mengirimkan mereka semua padaku."
"Sekarang giliranmu menceritakan kisahmu padaku." Jing Xuan berkata.
__ADS_1
"Aku?"
...Bersambung...