
Rombongan dari Sekte Elang Emas terus melesat di atas jalanan beraspal menuju ke arah utara Kota Da Ha. Mereka harus segera tiba ke sebuah tempat terpencil, di mana bangunan markas pusat Perguruan Elang Emas berada.
Begitu pula dengan rombongan Alexi yang juga sudah melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah dermaga di Pantai Selatan dengan tujuan utama Teluk Kura-Kura. Mereka pun harus segera tiba tanpa menunda waktu terlalu lama.
Pada saat malam tiba, rombongan Alexi terpaksa harus menghentikan perjalanan untuk beristirahat. Mereka akhirnya berhenti di pelataran sebuah hotel tidak terlalu besar dan mewah, akan tetapi hanya itulah yang bisa mereka temui dalam perjalanan. Tentu saja itu bukan kali pertama bagi Alexi bermalam di tempat tersebut. Bahkan pemilik hotel itu juga sudah sangat mengenal tuan muda dan keluarganya.
"Kamu mintalah orang-orangu untuk mengurus semuanya, Danny!" Alexi memberi perintah kepada Danny Hendrat tanpa mengubah posisinya.
"Siap, Tuan Muda!" Danny Hendrat segera memerintahkan salah seorang dari orang kepercayaannya untuk mengurus semua kepentingan mereka.
Alexi sendiri sedang berusaha meghubungi Zike yang mungkin saja masih kecewa atas terputusnya sambungan teleponnya siang tadi. Wajah pria muda yang masih duduk di kursi belakang mobilnya terlihat sangat kecewa dan merasa bersalah.
"Dia pasti kecewa sekali!" seru Alexi menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi dengan perasaan frustrasi. "Zikeeeee! Mengapa nomormu tidak aktif malam iniiii?"
"Tuan Muda tidak bisa menghubunginya?" bertanya Segara yang masih berada di belakang kemudi. Pria itu bisa merasakan kerisauan hati tuan mudanya yang terus berusaha menghubungi kekasihnya di sepanjang perjalanan.
"Kasihan sekali tuan mudaku ini," bisik Segara dalam hati sambil melirik kecil ke arah Alexi yang duduk di kursi belakang dengan gelisah.
"Mmhh!" Alexi membiarkan ponselnya masih tetap melakukan sambungan pada nomor Zike. "Tidak mungkin dia sudah tidur secepat ini."
"Eehh, mungkin kekasih Anda itu sedang ada kesibukan lain di sana. Anda tenanglah, Tuan Muda!" ujar Abraham yang berusaha menenangkan hati tuan mudanya. "Semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja."
"Ya. Aku juga berharap dia tidak marah padaku atas kejadian tadi," ujar Alexi dengan masih merasa frustrasi. "Itu juga karena nenek dan gadis sialan itu tiba-tiba saja muncul di kamarku?"
"Kenapa juga harus ada seorang gadis yang tak tahu malu dengan memasuki kamar pria yang bukan siapa-siapanya!" geram Alexi sembari mengepalkan telapak tangannya tanpa sadar.
"Auuww!" jeritan kecil terdengar dari mulut Alexi dengan ringis kesakitan semabri mengibaskan tangannya beberapa kali. "Luka sialan ini benar-benar mengangguku!"
__ADS_1
"Hati-hati, Tuan Muda!" Abraham segera menangkap tangan Alexi dan menahannya. "Sepertinya luka Tuan Muda tidak sembuh-sembuh kalau Anda sering melakukan kecerobohan."
"Ceroboh katamu?" Alexi menoleh ke arah Abraham dengan gerakan cepat denga mata melotot.
"Ma-maksud saya ... maksud saya adalah, Anda sering tanpa sadar melakukan gerakan yang membuat luka ini robek lagi." Abraham sedikit gugup melihat tuan mudanya menjadi tidak senang atas ucapannya.
Alexi menarik tangannya sembari meredupkan pandangan mata hingga kembali terlihat sayu. "Kamu benar, Abraham. Aku memang kerap sekali merasa kesal yang membuatku ingin *****4* seseorang hingga menjadi debu!"
"Gadis sialan itu benar-benar membuatku merasa muak dan frustrasi!" geram Alexi lagi. "Aku takut sekali kalau Zain menjadi salah paham dan marah padaku. Aku harus bagaimana, Abraham?"
Abraham yang duduk di samping Alexi hanya bisa menjadi bingung jika itu sudah menyangkut gadis yang disukai oleh tuan mudanya ini. Bagaimana mungkin dia paham dengan hal-hal mengenai asmara? Jatuh hati pada seorang gadis pun dia belum pernah sama sekali.
"Sudahlah! Aku pusing memikirkannya!" seru Alexi sembari menyimpan ponselnya.
"Semoga saja Zike nanti meneleponku." Alexi berucap dalam hati dengan penuh pengharapan.
Danny Hendrat segera kembali ke mobil yang ditumpangi Alexi guna melaporkan hasil kerjanya. Pria itu mengetuk kaca mobil sebanyak tiga kali. "Semua sudah beres, Tuan Muda."
"Baguslah, Danny. Perintahkan semua orang-orang kita untuk beristirahat!" sahut Alexi sambil bersiap-siap untuk turun dari mobilnya.
"Baik, Tuan Muda. Siap laksanakan!" Danny Hendrat segera berbalik dan kembali memimpin para anak buahnya.
Segara pun segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Alexi dengan sikap hormat. "Tuan Muda, silakan!"
Alexi bergegas turun dari mobil setelah mengenakan sehelai syal untuk menutupi wajahnya. Pemuda itu lalu berjalan dengan elegan memasuki hotel diiringi para anak buahnya. Tentu saja kehadirannya menarik perhatian banyak orang yang ada di sana, akan tetapi tidak ada yang berani bersuara karena melihat begitu banyak orang yang berjalan mengiringinya.
Beberapa orang pria dan wanita penyambut tamu segera bergegas menghampiri rombongan tersebut. Salah satu di antara mereka menyapa sembari membungkukan badannya. "Selamat datang, Tuan-Tuan semua!"
__ADS_1
"Terima kasih!" Danny Hendrat yang menyahut kali ini dan tak ada perkataan lain setelah itu, karena Alexi dan rombongannya tidak suka dengan penyambutan basa-basi yang hanya membuang waktu. Pada saat mereka melewati sebuah bangunan yang tampak ramai oleh para pengunjung, Alexi Nata Praja melihat ke arah sana. Tak bisa dipungkiri lagi jika dia pun merasa lapar.
Segara yang sealu mendampinginya tentu saja tahu, jikalau sang tuan muda memang sudah saatnya untuk makan. Pria muda itu tanpa ragu segera bertanya, "Apakah Tuan Muda ingin makan malam di sana?"
"Mmhh, boleh saja. Sekali-kali tidak apa-apa kalau aku makan di tempat umum seperti itu," sahut Alexi dengan wajah santai. Walaupun pikirannya masih dibuat bingung atas sikap Zike, akan tetapi dia tidak ingin memperlihatkan penampilan buruk di hadapan siapa saja. Itu adalah pantangan bagi seorang Alexi. Dia harus terlihat elegan dan anggun pada saat di depan tempat umum.
"Danny!" Alexi memanggil Danny Hendrat yang berjalan di depan
"Silakan, Tuan Muda!" Segara mempersilakan sang tuan muda untuk memasuki restoran.
Para pengunjung restoran yang tengah bersantap malam pun seketika menoleh ke arah rombongan pria berbusana casual serba hitam yang elegan dan terlihat gagah berwibawa. Pandangan mereka juga langsung tertuju pada pria berambut panjang, lurus yang begitu dijaga oleh orang-orang tersebut.
Para pelayan terlihat bergerak cepat dengan wajah sedikit panik saat melayani rombongan tersebut. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam menyediakan layanan untuk tuan muda dari Sekte Sanca Perak yang sudah beberapa kali singgah di tempat tersebut.
"Merry, lihatlah pemuda yang memakai penutup wajah itu! Apa kamu tahu siapa dia?" tanya seorang gadis berpakaian mini dress hitam yang ketat membalut tubuhnya.
Yang ditanya segera menoleh ke arah Alexi dan para pengawalnya. Wanita cantik bermake up tebal itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Tetapi kalau menilik dari pakaian dan penampilannya, sepertinya dia cukup diistimewakan. Bukankah begitu, Jean?"
"Benar sekali. Aku jadi penasaran ingin tahu siapa dia. Tampaknya mereka bukanlah orang-orang kalangan biasa saja." Jean berbisik dengan suara penuh kelicikan. "Sudah lama kita tidak mendapatkan makanan berat sejak lama dan makanan kecil terlalu membosankan!"
"Sepertinya, kita akan mendapatkan mangsa empuk hari ini," bisik wanita bergaun merah yang bernama Merry dengan seringaian penuh misteri.
"Ayo kita dekati dia!" Merry mengajak Jean untuk mendekati pemuda bercadar syal yang tampak sangat diistimewakan oleh rombongannya.
Akankah keduanya berhasil mendekati dan merayu pria bercadar?
...Bersambung...
__ADS_1