Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KEKAKUAN


__ADS_3

Kedua gadis cantik itu pun segera berlalu dari hadapan Abraham yang hanya melirik sekilas kepada gadis lain yang terlihat tidak memperhatikannya.


"Dia datang juga pada akhirnya! Semoga tidak terjadi hal yang tidak baik!" Abraham bergumam seraya melangkah pergi.


"Siapa dia?" Gadis yang bersama Alexa bertanya sembari menatap punggung Abraham yang terlihat berbelok ke arah lain dan menghilang di antara gerumbul pepohonan. Gadis itu membatin, "Sikapnya terlihat aneh dan seperti tidak menyukaiku."


"Itu yang namanya Abraham dan dia adalah asisten pribadi kakakku selain Segara dan Danny Hendrat." Alexa menjelaskan sekaligus agar gadis ini mengenal orang-orangbyang dekat dengan Alexi.


"Sudah jangan dipikirkan sikapnya ituuu! Dia memang orang yang kaku ... eeh, dia lebih mirip batu yang tidak akan peduli apa pun selain kepada kakak dan kakekku!" Alexa kemudian mengajak gadis itu terus melangkah.


"Oohh." Gadis cantik berbusana gaun berwarna biru muda itu hanya menganggukan kepala sembari berjalan mengikuti Alexa yang terlihat sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakaknya.


Alexa dan gadis cantik lainnya itu pun, segera melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana Alexi dan Diah Ningsih berada. Binar kerinduan tak bisa ditutupi lagi hingga Alexa pun berteriak, "Kak Aleee!"


Alexi yang sedang bercakap-cakap dengan ibunya pun spontan menoleh. "Exa?"


"Jadi ibu juga dengan Alexa?" Tentu saja Alexi menjadi sangat senang dengan kedatangan adik kembarnya ini.


"Tentu saja. Karena ibu tahu anak-anak ibu ini pasti sangat saling merindukan satu sama lain." Diah Ningsih berucap sembari membelai poni rambut anaknya yang panjang dan jatuh di wajah tampan nan cantik di hadapannya.


Terkadang wanita ini sampai heran dan merasa sungguh sangat beruntung sekali, karena memiliki dua orang anak kembar yang berparas jauh lebih cantik dari serta tidak mirip sama sekali dengan wajahnya ataupun Nata Praja suaminya.


Ketampanan Alexi dan kecantikan Alexa memang sering membuat banyak orang mempertanyakan tentang kemiripan wajah mereka dan kedua orang tuannya. Tidak sedikit pula yang meragukan tentang keaslian keturunan Nata Praja pada diri keduanya.

__ADS_1


Namun, tentu saja hal itu tidak membuat Nata Praja memikirkan semua omongan orang tentang kedua anaknya tersebut. Karena pada tubuh anak-anaknya, telah memiliki tanda lahir khusus yang tak akan pernah bisa dipalsukan oleh tangan manusia dan itu menandakan jikalau keduanya memang seratus persen keturunan pemimpin Sekte Sanca Perak yang asli.


"Baguslah, aku bisa menanyakan perihal syair ini kepadanya," bisik Alexi dalam hati sambil mengulas senyum.


"Mmhh, ibu tidak hanya bersama Exa. Tetapi ibu juga datang dengan yang lain juga." Diah Ningsih menjawab dengan perasaan sedikit cemas. Wanita itu membatin, "Semoga saja kali ini anakku tidak marah dan kecewa."


"Yang lain?" Alexi Nata Praja tidak ingin menebak siapa yang ibunya maksudkan. Karena dia mengira, kemungkinan itu adalah ayahnya.


"Kak Aleeee!" Alexa berteriak sambil setengah berlari karena sudah sangat ingin memeluk kakaknya. Tentu saja Alexi pun segera menyambutnya dengan pelukan pula.


Meskipun baru beberapa hari mereka tidak bertemu, tetapi kerinduan telah menghinggapi keduanya. Alexa merasa sangat iba saat melihat kondisi Alexi yang terlihat pucat dan menjadi lebih kurus hingga dia pun menitikan air mata. Sebagai saudara satu-satunya, dia paham benar dengan kondisi Alexi yang lebih banyak tertekan.


"Kak, mengapa ...."


"Baiklah." Alexa melepaskan pelukannya. Saat itulah, Alexi baru menyadari akan adanya seseorang yang tengah berdiri dengan wajah merona saat mata mereka beradu pandang.


"Garnis?" Alexi berucap dengan nada lirih penuh kekecewaan dalam hati. Dia sunggh tak ingin bertemu dengan gadis yang telah membuatnya tersudut pada sebuah perjodohan. Suatu hal yang sangat tidak ia inginkan, karena secuil pun dia tidak memiliki perasaan cinta kepada gadis ini.


Akan tetapi janji dan iming-iming dari Sekte Awan Putih telah membuat Nata Praja menyetujui lamaran orang tua gadis itu untuk dirinya. Dia sendiri tidak diijinkan menolak ataupun memilih apa yang ingin dia pilih. Terlebih lagi, seorang Nata Praja adalah orang yang tidak suka dibantah dan tak segan-segan menghukum anak lelakinya ini dengan siksaan yang tak seharusnya diterima oleh calon ketua sekte tersebut.


Hal itu pula yang membuat seorang Alexi menjadi mendendam kepada ayahnya sendiri. Dia bahkan telah berpikir untuk melepaskan diri dari Sekte Sanca Perak dan secara diam-diam membangun usahanya sendiri dengan bantuan serta dukungan dari kakeknya tentu saja.


Gadis yang disebut namanya pun menjadi semakin merasa tidak menentu dibuatnya hingga dia hanya bisa menganggukan kepala sebagai bentuk penghormatannya kepada Alexi. Alexa melihat kilat kekecewaan pada mata Alexi yang menjadikan senyum pemuda itu sirna dan berganti dengan wajah kaku dan dingin.

__ADS_1


"Mengapa gadis sialan ini ikut datang juga ke mari?" Alexi bersungut-sungut akibat merasa kesal dengan kedatangan gadis yang tak diinginkannya ini.


"Ayo kita duduk di sana!" Alexi berbalik kembali ke tempat duduknya semula dengan wajah masam. Jelas sekali dia merasa tidak suka atas kehadiran gadis ini.


"Yang kuinginkan Zain Kamila-ku, tapi yang datang malah dia!" geram Alexi dalam hati. Abdaikan saja tidak ada Diah Ningsih, mungkin dia sudah memilih pergi dari tempat itu. Betapa kesal rasa hatinya saat ini dan rasanya sangat ingin melarikan diri saja.


Alexa pun segera mengikuti sang kakak sambil menarik lengan gadis yang bernama Garnis Sari Gunawan. Dia adalah putri satu-satunya dari Sekte Awan Putih yang konon sangat dihormati dan dicintai oleh seluruh klannya. Kecantikan gadis ini telah tersohor di kalangan para seniman bela diri hingga banyak di antara mereka datang meminang gadis itu.


Namun, sekali lagi rasa suka tidak bisa memilih atau dipilih oleh para pemilik hati. Karena dari sekian banyak para putra negeri yang datang melamarnya, tak ada satu orang pun yang beruntung mendapatkan gadis itu. Hal itu dikarenakan, Garnis telah menjatuhkan cintanya kepada seorang pria yang justru tidak pernah menginginkan dia.


Adalah seorang Alexi Nata Praja yang telah berhasil merampas perhatian dan hati gadis tercantik di kalangan praktisi bela diri. Akan tetapi Alexi selalu menghindari pertemuan dengan gadis yang telah disetujui oleh orang tuanya untuk menjadi calon istri masa depan tuan muda Sekte Sanca Perak tersebut.


Siang ini gadis itu kembali berhadapan dengan pemuda impiannya yang telah dia sukai semenjak kecil. Garnis merasakan debar jantungnya bertaluan tidak menentu hingga tangan dan tubuhnya sedikit terasa dingin dan gemetar. Dia sungguh malu dan salah tingkah tidak menentu.


"A-apa kabar ... Kak Alexi?" Garnis ingin menanyakan itu kepada pria yang ada di hadapannya saat ini. Tetapi lidahnya terasa kelu, sehingga pertanyaan itu pun hanya tertahan dalam hati saja. Sungguh sebuah kekakuan suasana yang nyata dirasakan oleh semua orang yang hadir di sana, termasuk Diah Ningsih pun tidak bisa berkata-kata lagi.


Wanita yang menjadi ibu dari sepasang anak kembar ini hanya bisa terdiam dalam perasaan bersalahnya yang teramat besar. Seharusnya dia bisa menolak keinginan Garnis untuk ikut menemui Alexi, akan tetapi Nata Praja juga tidak bisa dibantah jika sudah berkeinginan.


Keempat orang manusia itu telah duduk dengan rapi dan saking berhadapan. Keceriaan Alexi yang semula bagaikan burung murai yang riang berkicau di pagi hari saat menyambut mentari pun, mendadak sirna dan berganti menjadi sebuah kekakuan suasana pertemuan. Wajah Alexi jelas menunjukan ketidaksukaan yang terlalu nyata.


"Kak Ale ... bagaimana kabar Kakak?"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2