
Alexi terus melangkah dan masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Hati sang tuan muda dipenuhi kekesalan yang teramat sangat pada gadis yang terus mengejar cintanya dan selalu berusaha menarik perhatian Alexi dengan berbagai cara.
"Kak Aleeee!" Garnis berseru sambil menangis pilu saat melihat mobil Alexi dan para pengikutnya meninggalkan pelataran kediaman Ki Surya Praja. Hati gadis itu sungguh sangat hancur atas sikap Alexi padanya.
Harvey yang melihatnya segera menghampiri dan bertanya, "Garnis, apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal ini." Garnis menjawab sambil mengusap air matanya dengan lengan bajunya. "Terima kasih atas perhatiannya, Harvey. Aku mohon diri!"
Garnis segera berbalik masuk ke dalam kediaman sambil masih menangis, sedangkan Harvey masih tertegun dengan perasaan kecewa. "Tunggu saja kamu, Garnis! Aku akan mengejarmu sejauh kamu berlari!"
"Kamu dan Sekte Sanca Perak harus menjadi milikku!" gumam Harvey dalam hati. "Dan kau, Alexi. Selamat menikmati sebuah permainan baru di sana!"
"Aku ingin tahu, apakah kamu bisa selamat hidup-hidup dan kembali ke Sanca Perak dalam keadaan utuh?" Seulas seringaian sinis dan licik mengembang kecil di sudut bibir pria muda yang telah merencanakan sebuah siasat jahat untuk menjebak saingannya ini.
Garnis terus berlari masuk dan tak menyadari akan adanya dua orang tua yang sedang memperhatikannya dari ruangan lain. Gadis itu melangkah cepat sambil menangis tanpa menghiraukan siapa pun yang berpapasan dengannya. Perlakuan Alexi terhadapnya terasa lebih menyakitkan daripada disayat-sayat sembilu.
Ki Surya Praja dan Ni Sendari hanya bisa menatap iba kepada Garnis yang tengah merasa bersedih karena selalu diabaikan oleh calon suaminya. Gadis itu menuju ke kamar dan segera mengunci pintu, lalu menangis sejadi-jadinya atas sikap Alexi yang tak pernah lunak sedikit pun padanya.
"Kak Alexiiii! Mengapa kamu selalu saja mengabaikan aku? Mengapa tidak ada sedikit saja sikap manismu padaku?" Garnis menumpah segenap perasaannya di atas bantal. "Apa salahku padamu, Kak Ale?"
"Aku hanya ingin bersamamu, mendampingimu seumur hidupku." Garnis berisak tangis dalam kesendirianya. Dia tahu betapa Alexi sangat tidak menyukainya. Namun, perasaan gadis itu pun terlalu egois dan tidak memikirkan perasaan Alexi sama sekali.
Walaupun Alexi pernah menolaknya secara halus, tetapi dia memilih untuk menunggu hingga pria itu bisa menerimanya. Mungkin seorang Garnis terlalu terobsesi pada sebuah kisah novel 'Gempita Hati' yang sering ia baca pada saat dirinya masih SMA. Saking tergila-gilanya pada kisah tersebut, sampai-sampai dia pun berpikir untuk mengejar cinta yang bertepuk sebelah tangan hingga berhasil ia miliki.
Garnis selalu merasa jikalau dia harus berusaha keras untuk bisa meraih hati pria yang bersikap dingin padanya seperti dalam kisah novel 'Gempita Hati' kesukaannya. Akan tetapi justru Alexi menjadi semakin muak pada gadis yang mengejarnya hingga memaksakan diri untuk melamar seorang pria dengan iming-iming sesuatu yang menggiurkan.
__ADS_1
Sekarang gadis itu benar-benar terjebak dalam kungkungan kesedihan yang dia ciptakan sendiri. Jika mundur itu sama saja mempermalukan dua keluarga yang telah dengan bangga mengumumkan sebuah pernikahan aliansi. Namun jika terus maju, maka dia pun akan tercebur dalam sebuah pernikahan neraka tanpa harga diri di mata suaminya.
"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Garnis dalam hati sembari masih berisak tangis. "Aku harus bagaimanaaaaa?"
"Pulang!" Gadis itu tiba-tiba merasa memang itu adalah jalan yang terbaik. Ya! Hari itu juga dia memutuskan untuk pulang ke Sekte Awan Putih.
Gadis itu segera meraih koper dan mengemasi barang-barangnya dengan perasaan hancur lebur. Keputusan untuk pulang sudah tidak bisa lagi dia tahan.
"Tetap tinggal di sini juga sudah tak ada gunanya. Bahkan jika ada dia pun, aku bukanlah apa-apa di matanya!" Garnis berseru dalam hati.
Sepeninggalan sang cucu dan para rombongan pasukan pengawalnya, Ni Sendari dan Ki Surya Praja saling perpandangan sejenak untuk kemudian kembali ke tempat masing-masing.
Sementara itu, Jessey Liu masih berada dalam perjalanan kembali ke Sekte Elang Emas. Saat ini dia satu mobil dengan Erick Martin, Chriss dan juga Thomas sebagai supirnya. Iring-iringan pengawal khusus ini secara diam-diam mempersenjatai diri dengan berbagai macam jenis senjata yang terbilang berbahaya dan sebenarnya dilarang oleh pihak pemerintah setempat.
Meskipun hal tersebut memang melanggar aturan, akan tetapi resiko dalam setiap tugas mereka sungguh terlalu besar. Para pengawal ini benar-benar harus mempertaruhkan nyawa satu-satunya hanya demi menjalankan tugas. Walaupun gaji dan seluruh keluarganya dijamin oleh pihak sekte namun mereka juga telah berani mengambil sumpah perjanjian di hadapan para petinggi sekte.
Jessey Liu merasakan sebenarnya rombongan kali ini lebih terlihat seperti hendak berangkat berperang melawan musuh negara. Pria tersebut berulang kali menggelengkan kepalanya dengan perasaan yang tak menyukai iring-iringan kali ini.
"Sepertinya, Kaket Wan sangat berlebihan kali ini," gumam Jessey Liu dalam hati. "Siapa yang telah memberitahukan perihal para musuh yang memburuku kemarin itu?"
"Kali ini kau terlalu banyak membawa orang, Erick!" Jessey Liu akhirnya membuka suara. "Aku sungguh tidak menyukainya. Ini terlalu mencolok dan seperti sedang mengokohkan diri di depan masyarakat luas."
Erick Martin yang duduk di sebelah Thomas sang pengemudi mobil memfokuskan pandangannya ke depan dan berkata, "Ini semua adalah perintah dari para petinghi dan tetua demi keselamatan Gong Zi. Saya tidak bisa untuk tidak mematuhinya."
Erick Martin menyambung ucapannya dengan masih menatap jauh ke depan. "Berita tentang sekelompok orang yang memburu Anda telah membuat para tetua sangat cemas, Gong Zi. Saya harap Anda tidak mempermasalahkannya lagi."
__ADS_1
"Meskipun itu terdengar masuk akal, tetapi aku lebih suka bergerak bebas," ujar Jessey Liu sembari mengusap kepala harimaunya dengan lembut. "Tetapi aku adalah Jessey Liu. Bagaimana bisa aku dengan mudah dikalahkan oleh sekelompok bandit macam mereka!"
"Tentu saja ketua kami tidak akan dengan mudah dikalahkan. Namun, tetap saja kami harus melakukan penjagaan yang ketat demi keamanan Gong Zi," ujar Erick Martin dengan sikap tenang. Pria berdarah campuran ini memang memiliki penampilan kalem dan tegas, akan tetapi jika sudah berhadapan dengan lawan maka dia akan berubah garang tanpa ampun.
"Baiklah. Tidak usah memperdebatkannya lagi. Bagaimanapun juga, aku sangat berterima kasih atas usaha kalian dalam menjagaku." Jessey Liu mengucapkan kalimat tersebut dengan segenap ketulusan hatinya. Jessey Liu berucap dalam hati. "Aku harus memikirkan imbalan yang tepat untuk semua orang ini."
"Dan lagi, aku masih belum memiliki ide untuk memberi hadiah pada gadis yang telah memberi nama harimauku ini," bisik Jessey Liu dalam hati seraya membelai kepala harimau yang tertidur pulas di atas pangkuan Chriss.
"Gong Zi tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi tugas dan kewajiban kami untuk menjaga Anda," sahut Erick Martin tanpa menoleh, sedangkan Chriss dan Thomas sang supir hanya mendengarkan percakapan tersebut tanpa menyela.
"Selain daripada memintaku untuk kembali ke Elang Emas, adakah berita penting lainnya lagi, Erick?" bertanya Jessey Liu. "Dan juga, apakah suasana di sana baik-baik saja?"
Erick Martin terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, "Untuk hal pastinya saya tidak begitu mengetahuinya, Gong Zi."
"Tetapi saya melihat Tetua Wan terlihat sedang sibuk mengatur beberapa murid untuk lebih giat berlatih," sambung Erick Martin. "Saya hanya mendengar kalau dalam waktu tidak terlalu lama, akan ada sebuah acara besar yang harus Anda hadiri."
"Aku?" Jessey Liu menjadi sedikit heran. Semenjak dirinya diangkat untuk menjabat sebagai ketua sekte satu tahun yang lalu, memang belum pernah ada acara besar yang mengharuskan dirinya datang secara pribadi. "Apakah kamu tahu, acara apakah itu?"
"Saya tidak begitu tahu, Gong Zi. Mungkin hanya para petinggi sekte yang megetahuinya," jawab Erick Martin.
"Oh, baiklah. Biar aku tanyakan saja pada Kakek Wan nanti." Jessey Liu tak ingin menyulitkan Erick Martin dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan diketahui jawabannya.
"Itu terdengar lebih baik dan pastinya mereka akan memberikan semua jawaban dari pertanyaan Anda, Gong Zi." Nada suara Erick Martin terdengar penuh kelegaan kali ini.
Rombongan dari Sekte Elang Emas terus melesat di atas jalanan beraspal menuju ke arah utara Kota Da Ha. Mereka harus segera tiba ke sebuah tempat terpencil, di mana bangunan markas pusat Perguruan Elang Emas berada.
__ADS_1
...Bersambung...