Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
RUMOR HANTU


__ADS_3

"Li-li-lihat! A-ada bayangan!" Salah seorang preman berseru dengan wajah takut saat melihat beberapa kali kelebatan bayangan hitam dari ruangan lain. "Bayangan hitam!"


"Ba-bayangan hi-hitam?" Temannya bertanya dengan nada heran sekaligus merasa takut. "Bayangan ha-hantu?"


"Bayangan hitam?


"Mungkinkah bayangan hantu?"


"Coba kalian lihat ke sana!" Bos preman sepertinya merasakan ketakutan juga dalam hatinya. "Salah satu dari kalian periksalah tempat itu!"


Salah seorang menyahut, "Kami tidak berani, Booos!"


"Iya, Bos. Bagaimana kalau itu benar-benar penghuni tempat ini yang murka kepada kita?"


"Bodoh kalian semua! Mana ada hantu di siang panas begini?" Bos preman berusaha untuk menutupi kepengecutannya sendiri. "Itulah akibatnya kalau kalian terlalu banyak menonton film horror!"


"Pokoknya aku takuuuut!"


"Aaahh, sampah semuanya! Tampang aja sangar kek Bruce Li, tapi pada gak punya nyali!" Sebagai seorang pimpinan cabang Skull Head, tentu saja dia tidak mau terkena murka atasannya. Meski sebetulnya dia takut luar biasa.


"Dasar preman kampung!" Gadis itu merasa sedikit terhibur dengan pertikaian mereka, hingga suara tawa terkikik kecil keluar dari mulutnya. "Mereka percaya sekali dengan rumor hantu yang menghuni rumah ini. Lucu sekali."


Mata salah seorang preman terbelalak lebar saat mendengar suara misterius dari suatu arah. "Su-su ...."


"Suara ... suara han-hantuuu!" Beberapa orang dari para preman tak sengaja mendengar suara tawa samar yang rasa-rasanya cukup dekat dengan posisi mereka berada saat ini.


"Oops!" Gadis yang bersembunyi segera menutup mulutnya kuat-kuat. Dia masih mematung di tempat dan masih tidak leluasa bergerak. Dia sungguh khawatir jika pergerakannya justru akan semakin menimbulkan kecurigaan para preman-preman kampung tersebut. Terlebih lagi ada banyak benda pecah belah dengan penopangnya yang telah lapuk dimakan usia.

__ADS_1


"Celaka, mereka mendengar suaraku!" Gadis itu kembali merasa bodoh dengan dirinya sendiri, sedangkan para preman terlihat panik.


"Suara itu, pasti suara hantu yang menghuni rumah ini!" teriak preman bergaya Punk Head yang langsung gemetaran hingga tanpa dia sadari ada kehangatan yang merembes keluar dari bagian bawah tubuhnya. Untung saja ruangan itu tidak cukup terang, sehingga tak ada yang menyadari tentang suatu hal yang sungguh sangat memalukan bagi seorang pria bertampang sangar sepertinya.


"Semoga mereka tidak tahu kalau aku mengompol karena takut hantu!" preman Punk Head meraba celananya yang telah dibanjiri cairan urine.


"Di mana ada suara hantu?" Bos preman membentak dengan suara keras. Meskipun sebenarnya dia merasa takut juga, tetapi dia harus bersikap sebaliknya . "Aku tidak mendengar suara apa pun selain suara dari mulut kalian itu!"


"Ta-Ta-tapi! Tapi su-suara i-itu dari arah sana!" Lelaki yang mendengar suara cekikikan seorang wanita menunjuk dengan tangan gemetaran dan suara terputus-putus.


"Tunggu apa lagi? Itu pasti dia!" Bos preman membentak sembari menendang dengan keras pantat salah seorang anak buahnya ke arah yang ditunjuk tadi.


Tak ayal lagi, preman berkumis itu pun terpental dan jatuh bergulingan di atas sofa yang sedang digunakan untuk melindungi diri oleh gadis buruan para preman. Pada saat yang hampir bersamaan, sesosok tubuh bergerak dengan cepat menuju ke lantai atas melalui anak tangga.


"Itu dia orangnya!" Salah seorang menunjuk ke ruang atas.


"Mana ada hantu naik tangga? Ya jelas oranglah!" Teman preman berkumis merasa sangat kesal. "Hantu ya terbang dan gak perlu susah-susah jalan naik anak tangga kayak kamu itu!"


"Oohh, iya juga ya?" pria berkumis seperti baru menyadari kebodohannya sendiri.


"Kejar dia!"


Aba-aba dari pimpinan mereka bagaikan suara lecutan cambuk yang menggelegar di telinga para anak buahnya yang masih termangu-mangu akibat terus memikirkan kisah hantu penghuni bangunan rumah tua yang terkenal sangat menyeramkan. Entah dari mana asalnya rumor tersebut, yang sukses membuat bangunan tua bergaya eropa ini menjadi aman dari para perampok dan penjarah harta.


Kembali terjadi aksi kejar-kejaran yang lagi-lagi sangat tidak seimbang. Sepertinya para preman memang bertekad harus mendapatkan gadis buruannya yang cukup lincah dan tidak bisa dengan mudah mereka tangkap. Baru kali ini mereka merasa dipermainkan dan cukup kesulitan menghadapi seorang gadis baru gede yang terus saja berlarian.


Demi menyelamatkan dirinya, gadis burunon para preman itu kembali melemparkan barang-barang apa saja yang bia dia raih. Dia memang tidak ingin menyerah begitu saja kepada orang-orang jahat ini. Setelah cukup lama kejar-kejaran itu berlangsung, mereka pun merasa mulai kelelahan dan kehabisan napas.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sanggup lagi mengejarnya!" Salah seorang preman jatuh terduduk di atas lantai dengan napas hampir terasa hendak putus saat itu juga.


"Cuma seorang gadis jelek saja, kenapa susah sekali menangkapnya," ujar yang lain yang memilih berhenti dan bersandar seenaknya.


"Dasar mental tempe!" Bos preman yang sudah tiba di tempat itu menempeleng kembali para anak buahnya yang dianggapnya sangat bodoh. "Dasar manusia bodoh gak ada guna!"


'"Ampuun, Bos!"


"Iya, Bos. Ampuni aku!"


Sialnya lagi, gadis itu terjebak di sebuah ruangan buntu yang mau tidak mau membuatnya berhenti dan berusaha mencari apa saja yang bisa dijadikan perlindungan. Gadis itu mulai menjadi merasa panik dan berpikir, "Apakah aku akan berakhir hari ini?"


"Lihat! Sepertinya dia juga dalam masalah besar." Bos preman Skull Head merasa cukup senang saat melihat gadis buruannya tengah kebingungan mencari jalan keluar.


"Sudahlah anak manis, menyerah saja pada kami!" bentak bos preman seraya berjalan ke arah buruannya. "Kalau saja kau menyerah sejak tadi, tentunya tenagamu tidak akan terbuang sia-sia dan juga bisa untuk memuaskan kami."


Bos preman tertawa terbahak-bahak setelah ucapannya berakhir. Kali ini dia sungguh merasa menang dan membayangan dia akan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh orang yang menyuruhnya sebagai bonus untuk mereka semua. Tentu saja para preman tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Kesepuluh orang pria berotak bejat itu pun kembali merasa bersemangat.


"Baiklah, tidak ada jalan lain," bisik gadis itu dalam hati dengan hati tak menentu. Jantugnya berdebaran lebih kencang saat para pria yang mulai terlihat bersemangat itu mendatangainya dengan sorot mata liar dan nakal.


"Mama, papa ... maafkan anakmu ini! Mungkin hari ini adalah yang terakhir bagi anakmu ini untuk bisa hidup di dunia ini." Gadis itu bagai berdiri sembari memegang ujung kain gorden usang dengan air mata berlinangan. "Maafkan atas kesalahanku pada kalian berdua!"


"Alexi ... maafkan aku! Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi!" Gadis itu berucap dalam hati dengan perasaan pilu. "Alexi, aku cinta kamu!"


"Tangkap dia dan kalian boleh melakukan apa saja padanya, termasuk ...."


"Termasuk mencicipinya!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2