
"Mempelajari ilmu ini?" Sekarang Jessey Liulah yang merasa heran atas keinginan kawannya. "Untuk apa? Bukankah itu bukan ilmu dari perguruan kita?"
"Aiyaaaaa! Kamu ini!" Ye Kai melototi kawannya kali ini. "Aku hanya ingin tahu tekniknya dan bukan berarti akan mempelajarinya juga. Kamu pikir Elang Emas sudah kehabisan ilmu hebat, sampai-sampai harus menyeberang ke perguruan lain untuk menambah kekuatan?"
"Kamu benar juga, mungkin saja suatau saat itu akan berguna bagi kita." Jessey Liu hanya berusaha berpikir positif pada niatan Ye Kai. Dia juga tahu, jikalau Ye Kai saat ini juga sedang gemar mempelajari ilmu pengobatan tradisional dari leluhur mereka.
"Baiklah, lanjutkan saja penelitianmu itu!" Jessey Liu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Tygra. Namun tiba-tiba saja dia berhenti, lalu menoleh lagi dan berseru dengan suara sedikit keras. "Aku sudah menyuruh orang untuk mengirimkan hadiah kepada gadis itu!"
"Apa?" Ye Kai yang sedang asyik meneliti ulang cara kerja racun dari Sekte Sanca Perak pun menghentikan kegiatannya sejenak. "Sudah kubilang itu tidak perlu. Tapi masih melakukannya juga."
Ye Kai tak mengira, jika Jessey Liu benar-benar melakukan niat memberikan hadiah itu kepada Zike. Namun dia juga tahu, kalau seorang Jessey Liu memang tidak menyukai apa yang namanya hutang budi.
"Aku hanya tidak ingin berutang budi sekecil apa pun kepada orang lain. Apalagi ia juga yang telah menolong Tygra dan memberinya nama yang unik untuknya." Jessey Liu berkata seraya melanjutkan kembali langkahnya. "Mungkin tidak lama lagi, barangnya akan sampai."
"Ya sudahlah, kalau itu maumu. Semoga saja muridku itu mau menerima hadiah dari orang yang tidak dia kenal!" sahut Ye Kai yang tidak menyadari akan ucapannya barusan.
"Murid?" Jessey Liu merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Jadi, dia adalah muridmu?"
"Hmm ... Dia pasti seseorang yang tidak biasa, sampai-sampai seorang Ye Kai mengangangkatnya sebagai murid." Jessey Liu menyambung ucapannya.
Jessey Liu bahkan tidak bisa melihat wajah gadis berkaos putih dengan rambut panjangnya yang indah. Tetapi dia juga bukan orang yang terlalu ambil pusing dengan masalah orang lain. Baginya, dia hanya berniat untuk membalas jasa kepada gadis yang ditemui di Paviliun Tanpa Nama.
"Oops!" Ye Kai baru sadar, jikalau dia sudah keceplosan. Akhirnya pria itu harus mengakui. "Ya. Dia memang muridku yang akan kupersiapkan untuk melawan dan mengalahkanmu kelak!"
"Mengalahkanku?" Jessey Liu merasa geli akan ucapan Ye Kai. "Baiklah! Aku akan menunggu hari itu tiba!"
"Humph! Lihat saja nanti!" Ye Kai melirik kecil ke arah Jessey Liu yang sudah berbaur dengan Chriss dan Tygra.
__ADS_1
Di ruangan Alexi ....
"Kamu sedang apa?" Alexi baru saja masuk ke dalam kamarnya dan melihat Alexa sedang sibuk berdandan di depan sebuah cermin di pintu almari hotel. Terang saja ia merasa heran dengan tingkah adiknya yang tidak biasanya ini.
Alexa tersenyum sambil merapikan gaun cantik yang membalut tubuhnya. Riasan tipis dan berbagai aksesoris rambut juga menghiasi penampilan gadis cantik adik kembar tuan muda Sekte Sanca Perak ini. Senyum cerah bahkan terus mengembang di bibir tipis berpoleskan lipstik warna merah mudanya.
"Kak, aku cantik tidak?" tanya Alexa sambil berputaran dan mengembangkan gaun pendek yang baru saja dia beli. Mini dress kuning kunyit tanpa lengan dengan rok bersusun menjadi piliahannya kali ini. Gadis itu terlihat sangat percaya diri dan merasa dialah satu-satunya wanita paling cantik di Hotel Van Houten.
"Baju macam apa ini?" Alexi bukannya menjawab, tetapi menarik rok sang adik yang menurutnya sangat aneh. "Sangat norak!"
"Kaaaak!" Alexa terpekik saat kakaknya dengan kasar menghentakan pegangan pada baju sang adik. "Ini gaun langka yang baru saja aku dapatkan tadi! Masa iya dibilang sangat norak?"
"Cantik apanya?" Alexi masih menjewer-jewer gaun adiknya dengan perasaan tidak suka. "Ini mbuat kamu seperti ayam goreng bumbu kuning bikinan nenek!"
"Kaaaaaak!" Alexa merasa kesal, karena disamakan dengan ayam goreng. "Tidak bolehkah aku tampil beda hari ini?"
"Sejaaaaak ...."
"Bagaimana ini? Aku tak mungkin mengatakan pada kakak, kalau aku igin terihat memukau di hadapan pria itu." Alexa berpikir kata yang tepat untuk memberikan alasan kepada kakaknya. "Bisa-bisa kakak akan mengomeliku atau bahkan melarangu mendekati dia."
"Sejak aku melihat pentas busana musim panas dua bulan yang lalu." Alexa akhirnya mendapatkan alasan yang cukup masuk akal.
"Ooh," sahut Alexi sambil melirik kecil ke arah Alexa yang sekarang kembali mematut dirinya di depan cermin. "Hanya untuk pertemuan kasus kecelakaan saja, sudah membuat kamu seperti mau menghadiri pesta dansa saja. Kamu pikir di sini akan ada pangeran tampan yang akan menyatakan cinta dan melamarmu?"
"Kaaaaak!" Alexa merasa malu atas ucapan sang kakak. Wajahnya seketika bersemu merah dan langsung ia sembunyikan. "Kakak bicara apa, siih?"
"Aku kan hanya minta pendapat Kakak, apakah aku cocok tidak dengan gaun ini? Mengapa harus ada kecurigaan seperti itu dalam hati Kak Ale!" Alexa memainkan jari-jarinya di depan dada sambil tersipu malu.
__ADS_1
"Karena tingkahmu seperti orang yang sedang jatuh cinta!" Alexi lalu bangkit dan berjalan memutari Alexa dan berkata, "Adikku ini memang sangat cantik, tidak ada yang mengalahkan kecantikan seorang Alexa Nata Praja. Hmmm ...."
Alexa tiba-tiba memeluk sang kakak dari belakang dengan hati senang atas pujian tersebut. "Terima kasih, Kakaaaak!"
"Sama-sama," sahut Alexi sambil tersenyum manis. "Lalu ...."
"Lalu?" Alexa merasa penasaran.
"Lalu aku ingin tahu ... Pria mana yang telah membuat Alexa-ku ini tiba-tiba saja jadi seperti ini?" Alexi mengernyitkan kedua alis matanya, kemudian ia membawa Alexa untuk kembali duduk di sofa.
"Itu ... itu masih sangat rahasia, Kak." Alexa kembali tersipu malu hingga tak berani bertatapan dengan sang kakak. "Nanti juga Kak Ale akan mengetahuinya."
"Dia ada di sini?" Alexi terkejut hingga tanpa sadar pria muda itu melotot.
Alexa menganggukan kepalanya dengan pelan. "Mmhh."
"Baiklah. Kita akan lihat seperti apa dia dan apakah dia layak untuk Alexa-ku ini." Alexi berkata dengan nada santai, sambil mengeluarkan ponselnya untuk melihat pesan yang baru saja masuk.
"Jadi ... Kak Ale tidak marah?" tanya Alexa masih tidak yakin atas sikap sang kakak.
Demi melihat Alexi tidak memarahinya, gadis itu kemudian bangkit dari duduknya untuk kembali mematut diri di depan cermin. "Kalau begitu, aku akan melanjutkan merapikan rambutku!"
"Dasar wanita!" Alexi hanya sedikit menggerutu sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Apa kabar, Sayang?"
...Bersambung...
__ADS_1