
Perasaan bersalah menjalari perasaan pria tampan ini hingga sebuah gumaman kecil pun terdengar dari mulutnya. "Keterlaluan sekali aku ini!"
"Sudahlah, Gong Zi. Saya yakin mereka pasti akan mengerti dengan keadaan Anda." Erick Martin mencoba menenangkan tuannya.
"Mudah-mudahan para tetua tidak menyalahkan aku." Jessey Liu berucap dengan nada lirih sambil menarik napas yang terasa sedikit berat akibat beban pikiran yang sedang menganggunya.
"Semua gara-gara papa yang terus saja menekanku!" Jessey Liu berkata dalam hati dengan perasaan geram, hingga tanpa sadar tanganya terkepal kuat-kuat. "Kalau saja tidak ada niat itu dalam pikiran papa, tentunya aku pun tidak akan seterbeban seperti sekarang ini."
"Tetua dan nyonya sudah tahu masalah Anda, Gong Zi," ujar Erick Martin sambil menatap kepada sang tuan yang sekarang terlihat muram. "Dan kabarnya, Nona Vania juga akan hadir dalam acara peringatan tersebut, Gong Zi."
"Siaaaal!" Jessey Liu mengumpat dengan suara keras atas apa yang ia dengar baru saja. "Mengapa dia juga merasa harus datang ke dalam acara keluargaku?"
"Tetua juga mempertanyakan hal itu, Gong Zi. Mereka bertanya-tanya, apakah Anda benar-benar akan menikahinya?" Erick Martin bicara dengan suara lirih karena takut menyinggung tuannya.
Demi mendengar pertanyaan yang menyakitkan telinga dan juga hatinya, Jessey Liu seketika murka. Wajahnya merah padam menahan geram, hingga bunyi gigi-giginya saling bergemerutukan.
"Siapa yang akan menikahi gadis sombong seperti dia?" Jessey Liu merasa geram hingga tanpa sadar meregam gelas kaca kuat-kuat. "Sejak awal aku tidak menyukai gadis manja itu! Daripada menikah dengannya, lebih baik aku menikahi gadis yang tidak pernah melirikku sama sekali!"
"Gong Zi ini aneh sekali. Kalau ada gadis yang melirik padanya saja tidak, bagaimana cara mereka menikah?" Erick Martin bergumam dalam hati dengan sangat heran. "Dan lagi, gadis mana yang tidak akan menyukai dia? Mustahil sekali, bukan?"
"Gong Zi bersabarlah! Mudah-mudahan memang ada gadis yang tidak melirik sedikit pun pada Anda ... jadi, Anda bisa menikahinya nanti." Erick Martin berkata semari menahan geli dalam hati.
"Hei, Bodoh! Tidak bisakah kamu sedikit kecilkan suaramu?" Tiba-tiba saja terdengar suara Ye Kai. Pria itu baru saja terbangun dan masih terbaring malas di tempat tidur.
"Bangunlah, Ye Kai! Bukankah kau akan melihat anak-anak itu?" Jessey Liu tak tampak tersinggung meski dikatai bodoh oleh Ye Kai. Amarahnya pun berangsur menurun setelah menarik napas panjang hingga beberapa kali.
__ADS_1
"Ouuhh!" Ye Kai menyahut sambil menggeliatkan badan, lalu bangkit dan duduk sejenak. Mata sipitnya mencari-cari jam dinding dan bertanya dengan suara malas. "Jam berapa sekarang? Tidak ada matahari yang biasanya membangunkan aku."
"Ini sudah pukul tujuh lebih, Master." Erick Martin yang menyahut kali ini.
"Oh, masih pagi ternyata. Kupikir sudah pukul sepuluh." Ye Kai berkata sambil bangkit dan menuju ke kamar mandi.
"Cepatlah bersiap, Ye Kai!" seru Jessey Liu sambil masih menikmati secangkir kopi susu hangat.
"Iya, iyaaa!" Ye Kai melangkah dengan sedikit masih lesu, karena rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya.
Setelah Ye Kai menyelesaikan semua rutinitas pagi, mereka akhirnya memutuskan untuk menemui para pengawal Jessey Liu yang masih menderita luka akibat dari pukulan Tapak Racun Akar Hitam. Ye Kai segera meneliti dengan saksama sambil melihat catatan yang Mei Lan berikan kepadanya semalam.
"Bagaimana, Ye Kai?" Jessey Liu bertanya sambil memeriksa keadaan anak buahnya yang terlihat masih
"Setelah minum penawarnya dan beristirahat, ini sudah sedikit lega. Sekarang hanya tinggal rasa nyeri yang sudah tidak terlalu tajam, Master." Sang anak buah menjawab pertanyaan dari Ye Kai.
"Baguslah." Ye Kai merasa sedikit lega mendengar keterangan dari anak buahnya ini. "Beruntung sekali ini hanya pukulan tingkat dua, jadi tidak terlalu berbahaya."
"Ini suatu pengalaman pahit dan juga pelajaran untuk kalian semua, agar tidak lagi mencari masalah dengan siapa pun." Ye Kai bangkit dan bergerak mendekati para pengawal lainnya yang masih terlihat pucat duduk di tepi pembaringan. "Terlebih lagi dengan sekte ahli racun seperti Sanca Perak."
"Jadi kamu sudah tahu kalau racun ini dari Sekte Sanca Perak, Ye Kai?" Jessey Liu bertanya walaupun dia tidak merasa terkejut, karena Erick Martin telah memeritahukan padanya semalam.
"Sekte Sanca Perak yang terkenal dengan ilmu pukulan beracunnya itu?" tanya alah seorang di antara para anak buah Jessey Liu. Semua orang merasa terkejut dengan penuturan Ye Kai.
"Ya, aku tahu dari istriku. Rupanya dia pernah merawat ayahnya yang juga pernah terkena pukulan ini saat dahulu bertanding dengan Ki Nata Praja. Tetapi keadaannya jauh lebih buruk dari ini, karena beliau terkena pukulan tingkat tujuh yang sulit untuk disembuhkan sampai sekarang," jawab Ye Kai sambil menyiapkan seperangkat alat akupuntur berupa jarum-jarum perak berbagai macam ukuran.
__ADS_1
"Maaf, aku akan mengambil contoh penawar dan racun ini untuk kupelajari. Aku akan menjadikan bahan refrensi yang bisa untuk penelitian guna mengembangkan ilmu ketrampilan medisku, terutama tentang pengobatan tradisional," ujar Ye Kai kepada anak buahnya yang sedang dia periksa. "Kamu tidak keberatan, kan?"
Pria muda yang sedang diperiksa oleh Jessey Liu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Silakan saja, Master!"
Ye Kai tersenyum dan menganggukan kepala sambil memilih jarum-jarum perak yang akan ia gunakan untuk mengambil contoh racun yang akan ia ambil. Pria itu dengan sengaja menggoda anak buahnya yang menjadi ketakutan saat Ye Kai memperlihatkan jarum perak paling besar.
"Apa kamu siap?" Ye Kai tersenyum sambil mengangkat jarum perak besar di depan mata anak buahnya.
"M-Master!" Wajah pria muda itu seketika menjadi pucat pasi. "Aa-apa maksud Master?"
"Tidak apa-apa. Hanya mengambil sedikit darah dari lukamu ini." Ye Kai berucap dengan nada santai, seolah itu adalah sebuah lelucon untuknnya. "Berbalik!"
"Tapi, Master! Saya takuuuut!" Mata pria muda itu tampak berkedip-kedip dengan ngeri melihat jarum terbesar milik Ye Kai yang terjepit di sela-sela jari-jemari lelaki tersebut.
"Jarum sebesar itu, Master?"
"Kalian!" Ye Kai menoleh ke arah para pengawal yang lain. "Pegangi dia!"
Orang-orang yang mendapat perintah merasa ngeri juga dengan teknik akupuntur dengan jarum sebesar yang sedang dipegang oleh Ye Kai. Mereka juga merasa ngeri dan takut, jika akan mendapatkan giliran yang sama. Hal itu membuat Ye Kai merasa marah karena perintahnya tidak dijalankan oleh para pengikut Jessey Liu.
"Cepat! Tunggu apa lagi?" bentak Ye Kai sambil melotot ke arah para pengawal.
"Masteeeeer! Ampuuuun!"
...Bersambung...
__ADS_1