
Di kediaman Ye Kai ....
Saat ini Mei Lan begitu disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut orang nomor satu di Sekte Elang Emas. Meskipun dia sendiri tidak mengerti, mengapa Ye Kai suaminya membawa pria itu ke tempat mereka. Namun sebagai seorang istri dari master kedua, tentu saja dia tidak akan terlalu banyak bertanya.
Mei Lan berjalan menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu hingga suara detak sepatunya terdengar begitu jelas. Wanita itu hendak memeriksa ruangan yang sedang dipersiapkan untuk Jessey Liu. Tentu saja semuanya haruslah yang terbaik, agar ketua sekte itu merasa tenang dan nyaman tinggal di sana.
Mei Lan meneliti seluruh tatanan ruangan secara rinci. Kamar tersebut memiliki jendela berada tepat menghadap ke arah matahari terbit. Itu adalah tempat kesukaan Ye Kai dan Jessey Liu. Dia memang sudah cukup hafal dengan kebiasaan dua lelaki yang telah cukup dia kenal selama bertahun-tahun silam dan ini juga bukan kali pertama Mei Lan melayani tuan muda Keluarga Liu.
"Tolong, kalian pindahkan meja itu ke sisi jendela dan juga lukisan yang di sana juga disingkirkan! Master Liu tidak begitu menyukai gambar semacam itu!" Mei Lan harus berseru. Ia memerintahkan beberapa orang pelayan untuk membereskan ruangan yang diperuntukan bagi Jessey Liu.
"Baik, Nyonya!" Para pelayan menyahut dan bertindak sesuai perintah.
Seorang pelayan wanita datang dengan membawa lipatan selembar seprei dan sarung bantal. Wanita tersebut memasangnya sebagai penutup kasur busa nan empuk pada ranjang kayu berukir. Namun, Mei Lan segera berseru, "Tunggu!"
Pelayan itu pun menghentikan pekerjaannya dan berbalik menatap pada sang majikan seraya bertanya, "Ada apa, Nyonya? Adakah yang salah"
"Jangan pasang sprei dengan warna seperti ini! Master Jessey Liu tidak menyukai warna yang terlalu terang dan mencolok. Itu bisa membuatnya tidak nyaman," jawab Mei Lan sambil menarik sprei jingga muda bermotif bunga yang baru setengahnya digelar. "Ganti dengan yang lain!"
"Oh, baiklah. Akan saya ganti, Nyonya." Pelayan itu segera mengurungkan pekerjaannya dan segera membereskan kembali sprei tersebut. "Maaf, Nyonya. Jadi, warna apakah yang Master Liu sukai?"
Mei Lan berpikir sejenak dan berkata, "Apa saja asal yang gelap dan juga polos tanpa motif apa pun."
"Siap, Nyonya! Saya akan mencarinya," ujar sang pelayan sambil membungkuk hormat. Pelayan muda itu pun berlalu dengan mendekap lipatan sprei jingga muda. Meskipun benerapa pelayan merasa aneh dengan tingkah Mei Lan hari ini, tapi mereka pun tidak akan banyak bertanya apa lagi membantah.
"Pokoknya tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun." Mei Lan berkata setengah bergumam sambil memperbaiki tatanan buah-buahan segar. Dia juga meneliti beberapa sajian cemilan dalam wadah tertutup yang cantik dan satu set peralatan minum teh.
Mei Lan tanpa sengaja menoleh ke arah vas bunga yang telah berisi rangkaian bunga-bunga segar. "Bunga?"
"Tapi ... sejak kapan dia menyukai bunga?" Mei Lan menggelengkan kepala dan segera menyingkirkan benda tersebut. "Ini tidak penting!"
Mei Lan hampir saja menyuruh seseorang untuk menyingkirkan benda tersebut. Namun, wanita itu mengurungkannya sambil berguman, "Biar sajalah! Mungkin keindahan dan aroma bunga-bunga ini bisa membuat dia merasa santai dan nyaman."
Di sudut ruangan, para pelayan yang sedang sibuk membersihkan banyak benda pun, hanya bisa saling bertatapan satu sama lain. Mereka semakin merasa penasaran dengan orang yang berhasil membuat para majikan ini begitu sibuk.
"Eh, kamu lihat! Nyonya kelihatannya dibuat sangat sibuk kali ini," bisik seorang pelayan wanita berbaju biru muda kepada kawannya.
__ADS_1
"Iya, aku juga heran. Baru kali ini nyonya sampai ikut menata ruangan." Kawannya menyahut sambil melirikan mata ke arah Mei Lan.
"Aku jadi merasa sangat penasaran, seperti apa sih sosok Master Liu yang katanya sangat dingin itu?" Pelayan berbaju biru muda bertanya sambil membayangkan bagaimana rupa dan sedingin apakah atasan dari majikannya itu.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja dia adalah seorang pria berusia sedikit lebih tua dari Tuan Ye dengan jenggot dan kumis yang menakutkan. Atau ... bisa juga seorang kakek tua yang tegas dan tak bisa disinggung oleh majikan kita ini," sahut kawan si pelayan berbaju biru muda sambil mengelapi benda-benda yang harus segera dibersihkan. "Coba kita lihat saja nanti seperti apa orangnya."
Kawannya pun hanya bisa menganggukan kepala. Sebagian dari mereka memang sangat ingin sekali mengetahui rupa dan sosok seorang master pedang yang telah menggemparkan Kota Da Ha dan sekitarnya. Sebuah pencapaian dari seorang ahli bela diri terhebat pada saat ini.
"Setelah selesai, kalian bersiaplah dengan pakaian yang layak untuk menyambut kedatangan calon penghuni kamar ini!" perintah Mei Lan kepada para pelayannya.
"Baik, Nyonya!"
Sementara itu, di dalam perjalanan. Jessey Liu terlihat sangat asyik mencandai bayi harimau putih yang diduga berusia sekitar satu atau dua bulan tersebut. Ye Kai duduk di sampingnya dan hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali melihat tingkah sang kawan.
Tetapi Ye Kai pun merasa cukup senang, karena sahabat sekaligus atasannya ini memiliki hiburan yang bisa membuat pria bermata teduh itu berulang kali tersenyum. Maka timbul pula niat menggoda.
"Sepertinya, kamu memang sudah pantas jadi seorang ayah," ujar Ye Kai sembari menopangkan salah satu tangan di pipinya, sedangkan tubuhnya ia sandarkan dengan malas ke badan kursi mobil yang empuk. "Mengapa kamu tidak menikah saja segera?
"Bukankah kamu yang lebih pantas? Kamu sudah memiliki Mei Lan, sedangkan aku tidak memiliki wanita satu pun sebagai kekasihku." Jessey Liu memang biasa berbicara sepanjang Sungai Nil dan seluas samudra raya hanya kepada sahabatnya ini. Selain Chriss dan Ye Kai, tak ada yang tahu akan kebiasaan Jesssey Liu yang kadang bertingkah konyol di hadapan mereka.
"Kau benar. Aku memang sudah sangat ingin memiliki seorang bayi yang akan kulatih banyak hal." Ye Kai berkata sambil menerawang ke luar jendela, melihat jalanan panjang yang sedang mereka lewati. Pria itu membayangkan dirinya tengah menimang seorang bayi mungil yang gemuk dan lucu.
"Jesseeeeey!" Ye Kai berseru sambil mencubit lengan Jessey Liu dengan gemas akibat dari rasa malu akan tingkah yang tak pantas di masa lalu. Dia takut sang supir akan mendengar tentang aibnya pada saat dia mengejar-ngejar cinta seorang Mei Lan yang sangat cantik .
"Aaaa!" Jesssey Liu seketika terpekik kecil sambil meringis menahan sakit atas cubitan Ye Kai. "Dasar kamu ini! Aku sudah sakit tapi masih juga ditindas!"
"Makanya, jangan bicarakan hal itu lagi!" bisik Ye Kai dengan nada dalam dan tajam sambil melepaskan cubitannya.
"Sakit tau gak?" Jessey Liu memasang wajah cemberut.
"Syukurin!" Ye Kai menggerutu sekali lagi sambil membuang muka dengan wajah memerah. Dia langsung teringat kejadian saat di mana dirinya memang memanjat pohon hanya untuk melihat Mei Lan. Namun sialnya, ternyata yang dia menyaksikan para pelayan rumah yang sedang berenang di sebuah kolam.
Seorang pelayan yang melihatnya seketika berteriak dengan ketakutan dan hal itu berhasil mengagetkan Ye Kai hingga menyebabkan dia terjatuh. Untung tak jua diraih, malang tak bisa ditolak itulah yang dialami seorang master bela diri saat muda. Seperti halnya dirinya dikejar anjing penjaga pada saat sedang berusaha bangkit dari jatuhnya, sedangkan sang bidadari impian tak tampak sepucuk pun batang hidungnya.
"Apes betul gue waktu itu," gumam Ye Kai dalam hati saat mengingat hal memalukan. "Untung saja dia mau menerima cintaku. Kalau tidaaak ...."
__ADS_1
Karena tidak ingin terus mengingat kejadian masa lalu yang acap kali jadi bahan tawa kawan-kawannya, Ye Kai mengalihkan ingatan dengan bertanya, "Eh, akan kau namakan siapa bayi itu?"
Jessey Liu seakan baru saja tersadar akan satu hal yang dia lupakan. "Nama?"
"Iya, nama. Bukankah nanti akan lebih mudah memanggilnya?" Ye Kai bertanya balik dengan nada heran. "Dasar kau ini!"
"Benar juga." Jessey Liu terlihat berpikir sebuah nama yang cocok bagi bayi harimau putih yang sangat manis dan lucu ini. "Kamu punya usul, Ye Kai?"
Ye Kai terlihat berpikir, "Mmmhh ...."
"Bagaimana kalau Choky?" usul Ye Kai yang asal saja menyebutkan nama.
"Aku tidak suka!"
"Jackie, Cherry atau mungkin ... Leon?" Ye Kai juga sebenarnya tidak begitu paham dengan nama yang sedang diinginkan oleh kawannya ini.
Jessey Liu merasa kurang cocok dengan nama-nama dari Ye Kai. "Apa pula itu? Dia bukan singa!"
"Lalu, siapa yang pas menurutmu?" bertanya Ye Kai.
Jessey Liu menjawab seraya mengangkat sedikit bayi harimau putih yang seharusnya masih menyusu itu. "Aku juga bingung. Aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali."
"Chriss! Kamu boleh mencarikan nama untuk bayi harimau putih ini," ujar Jessey Liu dengan nada serius. Dia sendiri asyik mendekatkan wajah bayi kucing besar itu seolah hendak menciumnya.
Hanya sebuah nama saja, telah membuat mereka kebingungan hingga terdiam dalam waktu yang cukup lama.
"Maaf, Gong Zi. Aku tak pandai dalam memberi nama." Chriss juga tidak menemukan nama yang cocok untuk bayi harimau tersebut.
"Hmm ...."
Jessey Liu tampaknya juga tidak ingin terus memusingkan sebuah nama. Akhirnya, Jessey Liu pun memutuskan untuk tidak ingin lagi mencari sebuah nama dalam waktu dekat.
"Hanya sebuah nama bayi binatang saja, kamu sudah merasa sepusing ini." Ye Kai berkata sambil terus menikmati pemandangan pada sore hari itu.
"Baiklah, pikirkan saja nanti!" Jessey Liu benar-benar belum menemukan sebuah nama yang menurutnya unik dan mudah diingat namun tidak banyak yang memakainya. "Maaf, baby. Mungkin nanti kami menemukan nama yang bagus untukmu."
__ADS_1
Siapakah nama yang cocok untuk si anak bulu bayi harimau putih milik Jessey Liu?
...Bersambung...