
Mesin mobil sport telah terdengar, lampu-lampu pun juga menyala dengan terangnya. Ye Kai sudah duduk di belakang kemudi dan sengaja mengendarai sendiri mobil sport tersebut. Dia kembali melemparkan seulas senyum kepada Mei Lan yang masih berdiri agak sedikit dekat di sisi mobil.
"Selamat jalan, Geee! Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu ngebut!" Mei Lan menyerukan pesan.
"Okaaay!" sahut Ye Kai di tengah-tengah deru mesin yang sedang dipanaskan. "Cepatlah masuk! Udara malam tidak baik untuk kesehatan tubuh dan setelah ini, segeralah tidur dengan baik!"
Mei Lan menganggukan kepala. "Mmmh."
"Geee! Jangan lupa apa yang telah aku pesankan tadi!" teriak Mei Lan sembari melambaikan tangan setelah mobil suaminya bergerak secara perlahan meninggalkan pelataran beranda depan kediamannya. Mata wanita itu terus mengamati pergerakan mobil sport putih itu dengan kesepian dalam hati yang mulai merambati perasaannya.
"Ya Tuhaaan! Tolong jaga dan lindungilah suamiku di dalam perjalanannya!" Mei Lan memanjatkan doa-doa untuk keselamatan suami dan semua rombongan Jessey Liu. "Dan juga sembuhkanlah mereka yang sedang menderita sakit akibat dari racun itu."
"Aamiin!" Mei Lan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya seusai memanjatkan doa. Hal itu memang akan selalu dia lakukan untuk kebaikan suaminya, kemudian ia masuk kembali ke dalam kediaman dan bersiap-siap untuk tidur. Dia sudah terbiasa dengan keadaan ini dan bukan hal yang baru lagi bagi wanita yang masih belum juga bisa mengandung anak untuk Ye Kai.
Sementara itu di Paviliun Tanpa Nama. Zike baru saja menyalakan ponsel yang sedari siang sengaja tidak dia aktifkan. Hal itu bukan karena marah pada Alexi, akan tetapi dia hanya ingin bisa fokus berlatih tanpa terganggu oleh aktifitas yang bisa membuatnya sering lupa waktu.
Terlebih lagi jika sudah bersama Alexi dan kawan-kawannya yang lain, maka waktunya pun akan habis sia-sia hanya untuk berbicara berlama-lama hingga tertidur dan ini adalah saat yang tepat untuk mengganggu Alexi tentu saja. Ya! Zike memang kerap mengerjai kekasihnya pada tengah malam.
"Waahh, banyak sekali pesan darinya!" Mata Zike menangkap deretan pesan masuk dari Alexi melalui pesan WH4tsupp. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri dengan banyaknya kata permintaan maaf dan penjelasan tentang apa yang terjadi pada siang hari tadi. "Ooohh , jadi lukisan itu dia bawa dari penginapan itu?"
"Apakah Meilia yang dengan sengaja memberikan lukisan itu padanya?" pikir Zike dan membuat ia membayangkan kembali kawan lama yang telah menganggapnya sebagai seorang pengkhianat dan dengan tega mengusir Zike dari rumahnya.
"Apa kabar kawanku itu?" Bagaimana pun juga, Zike memang masih merasa bersalah pada Meilia yang sudah pernah menolongnya. "Kawan?"
"Masih pantaskah aku menyebutnya kawan?" tanya Zike dalam hati dengan perasaan sedih. "Biarlah. Aku memang tidak pantas menjadi kawannya."
Zike memang masih tidak mengetahui, jikalau Penginapan Maple Jingga telah menjadi milik Alexi Nata Praja yang merupakan seorang pengusaha muda pertambakan mutiara. Di mana semua usahanya itu di bawah pengawasan kakeknya dan semua berjalan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Hal tersebut memang sengaja dilakukan oleh Alexi, karena dia ingin sekali segera terlepas dari Sanca Perak dan ingin memiliki lahan usahanya sendiri tanpa bayang-bayang dari Nata Praja ayahnya. Sepertinya, niat untuk memberontak terlalu besar dalam diri anak muda itu.
"Dia sudah tidak lagi menganggapku sebagai seorang kawan. Dia sudah sangat membenciku sekarang." Zike berucap dalam hati sambil memandangi foto lukisannya dan tangan Alexi yang diperban. "Jadi ... dia terluka oleh pecahan kaca dari figura lukisan itu?"
__ADS_1
"Maafkan aku, Ale!" Zike akhirnya merasa bersalah karena dia telah mengabaikan kekasihnya hanya karena ketidakjujuran pemuda itu. "Ternyata, dia hanya ingin agar aku tidak mencemaskannya."
"Aku akan meminta maaf padanya!" seru Zike dalam hati dengan mata berbinar. "Semoga saja dia tidak akan menjauhiku hanya karena aku sudah mengabaikannya."
"Mungkin juga dia nanti akan menceritakan tentang, bagaimana lukisan jelekku itu bisa ada di tangannya," bisik Zike dalam hati.
Zike pun segera mengirimkan pesan yang berisikan permintaan maaf pula. Namun, alangkah kagetnya saat matanya melihat foto-foto Alexi dengan berbagai macam gaya sedang berlagak bintang iklan produk makanan. Alexi juga menunjukkan di mana dirinya saat ini berada.
"Jadi, Ale sedang tidak ada di rumah sekarang. Hmm, pantas saja foto-fotonya saat ini menunjukkan kalau dia sedang berada di sebuah restoran." Zike menggeser satu-persatu foto-foto kekasihnya yang memakai masker hitam.
"Hei, apa ini?" Mata gadis itu terbelalak saat melihat penampakkan satu piring makanan kesukaannya di dalam foto Alexi. Dirinya tiba-tiba merasa sangat ingin sekali makan siomay saat ini juga.
"Humph! Awas saja dia, ya!" Zike merasa kesal kali ini karena kekasihnya secara sengaja memamerkan makanan kesukaan Zike dengan bubuhan kata-kata yang terkesan sedang meledek. "Apa sih, konsepnya dengan memamerkan semua ini?"
"Kalau aku bertemu denganmu, maka bersiaplah untuk mentraktirku satu gerobak siomay sebagai penebusnya!" Zike menggeram sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Tetapi saat mengingat penampilan Alexi saat bersama dengannya, dia pun menjadi merasa tidak tega. "Ya Tuhaaaan! Apa yang baru saja aku pikirkan?"
"Bagaimana kalau ternyata dia sebenarnya tidak punya banyak uang? Dan yang di foto-foto ini adalah karena dia karena dia dibayari kawannya?" Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. "Aaaah, sudahlah! Kelak akulah yang akan mentraktir dia saja."
Gadis itu pun segera terlelap setelah selesai mengirimkan beberapa pesan. Dia sama sekali tidak mengetahui, jika Ye Kai sudah melesat di jalanan untuk menuju ke tempat di mana Alexi juga berada saat ini. Mei Lan pun juga masih belum ingin memberitahukan tentang kepergian suaminya kepada siapa pun.
Sementara itu, Ye Kai telah melesat meninggalkan Kota Da Ha dengan mengendarai mobil sport hanya seorang diri. Pria itu memang telah terbiasa melakukan petualangan semenjak muda dan dia juga adalah seorang mantan pembalap liar. Kebadungan dan kenakalan salah satu tuan muda dari Keluarga Ye itu memang cukup terkenal dan hampir saja membuatnya gagal meminang Mei Lan.
Namun dengan kegigihan dan perjuangan Ye Kai, akhirnya dia berhasil mendapatkan putri cantik dari Keluarga Mei yang sangat dia idamkan. Pria itu memutuskan untuk mengubah segala kebiasaan buruk dan di masa lalu, hanya demi seorang wanita cantik bernama Mei Lan.
Ye Kai terus melajukan kendaraannya, sementara orang-orang sudah terlelap dan terbuai di alam mimpi. Pria berwatak keras namun sangat setia kawan itu pun sampai di Hotel Van Houten pada pukul tiga dini hari tanpa halangan yang berarti. Kedatangannya disambut langsung oleh Chriss yang langsung membawa pria itu ke kamar hotel yang ditempati oleh Jessey Liu.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Ye Kai yang berjalan di samping Chriss. Mereka harus sedikit berjalan cukup jauh dari lobby hotel hingga kamar yang ditempati oleh orang-orang dari Sekte Sanca Perak.
"Gong Zi sudah tidur sejak satu jam yang lalu, Master. Tapi sebelumnya Gong Zi berpesan, agar saya membawa Anda ke kamar kami." Chriss menyahut sambil terus berjalan menyusuri lorong-lorong hotel tersebut dan menaiki lift agar segera tiba di lantai 5.
"Kami?" Ye Kai bertanya lagi dengan heran.
__ADS_1
"Ya. Kami," sahut Chriss dengan nada santai. "Sebagian kamar dan tempat lainnya di hotel ini sudah dikuasai oleh orang-orang dari Sekte Sanca Perak. Jadi kami hanya menempati kamar yang tersisa, hingga kami harus tidur berjejalan malam ini, Master."
"Ooohh, begitu?" Ye Kai menganggukan kepalanya tanda mengerti. Pria itu memperhatikan sekilas detail rancangan bangunan hotel yang berarsitektur Eropa dengan kesan klasiknya yang elegan.
"Walaupun hotel ini tidak sebesar hotel kami, tetapi ini juga tidak leebih buruk," gumam Ye Kai dalam hati. "Kesannya bahkan sedikit beraura mistis."
Tiba-tiba saja Ye Kai seperti merasa akan adanya suatu hal aneh yang berdesiran. Pria itu bagaikan terbawa oleh suasana gelap beraroma darah pada salah satu kamar di hotel tersebut. Seperti ada sebuah tekanan aura gelap berbau kematian yang sangat kuat dan membuatnya sedikit merasa sesak.
Ye Kai yang memiliki perasaan tajam pun bagaikan melihat bayang-bayang yang ia sendiri tidak begitu memahami. Sangat kuat, liar, halus dan samar. Entah ada peristiwa apa yang terjadi pada hotel tersebut, yang jelas perasaan Ye Kai menjadi dingin, merinding, mual dan sedikit pusing.
"Aneh? Ada apa dengan keadaan hotel ini, ya?" Firasat Ye Kai terasa buruk dan sangat tidak enak dalam hati. Namun, pria ini tidak ingin terus larut dalam perasaan yang tidak jelas. Dia pun hanya bisa berbisik dalam hati. "Ini benar-benar aura gelap yang nyata!"
Ye Kai berusaha menepisnya dan men-sugesti dirinya sendiri dengan hal yang positif agar tidak menambah kelelahan pada jiwa dan raganya. "Semoga hanya perasaanku saja."
"Master Kedua!" panggil Chriss dengan sebuah bisikan lirih. Ternyata, dia juga merasakan hal serupa seperti apa yang dialami oleh Ye Kai.
Ye Kai menyahut, "Ya?"
"Apakah Anda merasakan sesuatu yang sedikit janggal pada kamar yang tadi itu?"
"Kamar yang mana?" Ye Kai hanya ingin menguji ketajaman perasaan Chriss.
"Kamar sembilan ratus sembilan puluh sembilan." Chriss menjawab disertai perasaan merinding yang bagai memberatkan tengkuk dan langkah kakinya. Dia memang merasa sangat aneh saat melewati kamar bernomor pintu 999 yang baru saja mereka lewati.
Ye Kai sengaja memepetkan badannya dekat sekali dengan tubuh Chriss, lalu berbisik di sisi telinga pria itu. "Aku penasaran dengan isi di dalam kamar itu. Bagaimana kalau kita selidiki, Chriss?"
"Tapi, Master!" Chriss berniat mencegah.
Ye Kai segera memotong, "Kamu juga penasaran, kan?"
...Bersambung...
__ADS_1