
Edler Van Houten hanya menganggukkan kepala tanpa melihat lagi ke arah pengawal yang bergegas pergi dari hadapannya. Pria itu lalu menyambar sebatang cerutu yang segera disusul nyala api dari korek gas yang disodorkan oleh Robert.
"Ada-ada saja kejadian pada malam hari ini," ujar Robert sambil menggelengkan kepala berulang kali dan menyimpan kembali korek gas dalam saku celananya.
"Untung saja masalah itu tidak berkelanjutan," gumam Edler Van Houten sambil menarik napasnya. Keduanya kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Sekarang masih harus memikirkan cara untuk membuat Tuan Muda Alexi mau membantu kita menutupi masalah prostitusi di sini!" seru Edler Van Houten sambil menghempaskan pantatnya ke atas kursi putarnya.
Di tempat yang lain. Jessey Liu yang baru saja mendapatkan tempat untuk bermalam di hotel tersebut tampak masih sibuk mengurusi delapan orang anak buahnya yang terluka. Wajah pria muda itu terlihat masih cemas dengan kondisi para anak muridnya. Mereka semua dikumpulkan dan dibaringkan dalam satu ruangan. Hal itu sengaja dilakukan untuk memudahkan pengawasan.
"Bagaimana? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Jessey Liu sambil meraba kening anak buahnya.
"Sakit sekali, Master!" rintih sang anak dengan sambil menahan sakit. "Panas dan rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum!"
"Kamu tahanlah, aku akan menghubungi Ye Kai untuk menanyakan tentang racun jenis ini. Oh ya, apakah kamu sudah meminum pil penawar itu?" tanya Jessey Liu dengan suara lembut.
"Sudah, Master," jawab yang ditanya sambil meringis kesakitan.
"Baguslah. Semoga nanti akan ada perubahan dan pengurangan dari siksaan racun ini." Jessey Liu menutup kembali lengan baju anak buahnya.
Jessey Liu merasa heran dengan jurus pukulan yang mengandung racun ini. Bagaimana bisa hanya sebuah pukulan saja itu bisa meracuni seseorang? Apakah mereka memakai suatu benda di telapak tangannya?
Tanpa pikir panjang lagi, pria muda itu pun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi sang sahabat yang sedikit banyak mengetahui tentang ilmu pengobatan. Jessey Liu menelepon Ye Kai untuk menanyakan perihal luka-luka yang sedang diderita oleh para anak buahnya.
Jessey Liu menyapa, "Halo, Ye Kai!"
"Hello, Jessey." Suara Ye Kai terdengar dari speaker ponsel milik Jessey Liu.
Jessey Liu sendiri segera menyingkir ke tempat yang agak jauh dari para anak buahnya berada. "Baguslah kalau kamu belum tidur, Ye Kai."
"Kebetulan saja aku baru selesai. Oh ya, Jessey ... ada apa kamu malam-malam begini menghubungiku?" tanya Ye Kai dari seberang sambungan telepon. "Apakah kamu sudah sampai di sekte? Secepat ini?"
"Belum, Ye Kai. Aku masih berada dalam perjalanan dan kami semua saat ini sedang berada di Van Houten Hotel." Jessey Liu menjelaskan, lalu dia bercerita tentang semua kejadian yang dialami oleh rombongannya kali ini.
"Bisa kulihat seperti apa lukanya?" tanya Ye Kai yang merasa penasaran dengan jurus pukulan yang cukup unik ini.
"Bisa. Kamu tunggulah sebentar!" Jessey Liu kemudian melakukan pengalihan panggilan suara menjadi panggilan video. Dia memperlihatkan detail luka yang diderita oleh para anak buahnya. "Ada enam orang yang terkena pukulan ini dan untungnya, Erick telah berhasil mendapatkan penawarnya."
__ADS_1
"Penawarnya?" Ye Kai semakin penasaran dengan ucapan Jessey Liu tentang jurus pukulan beracun yang memiliki penawarnya juga. "Kalau begitu cepat minumkan pada mereka sebelum berakibat yang lebih fatal lagi!"
"Kami sudah lakukan," sahut Jessey Liu. "Tapi, sepertinya prosesnya lama dan mereka tidak akan bisa secepatnya sembuh."
"Dan kemungkinan perjalanan kembali ke sekte akan ada sedikit penundaan, karena esok kami masih harus berdiskusi dengan mereka tentang kerusuhan yang terjadi malam ini." Jessey Liu bangkit da berjalan menuju ke arah jendela.
Saat ini dia dan rombongannya tengah berada di lantai lima dari hotel tersebut. Hanya ada lima kamar yang tersisa dan membuat mereka terpaksa tinggal dalam satu ruangan yang seharusnya hanya untuk dua orang, sekarang menjadi berisi enam orang. Hal itu juga karena kedatangan rombongan dari Sanca Perak yang telah terlebih dahulu memesan banyak tempat untuk seluruh rombongannya.
"Tidak apa-apa, Jessey. Tentunya kakekmu akan memaklumi keadaan kalian saat ini," sahut Ye Kai guna menenangkan perasaan sahabatnya ini. Bagi Ye Kai, semua lebih baik sedikit terlambat daripada membawa orang sakit dalam sebuah perjalanan jauh.
"Apa perlu kami menyusulmu secepatnya?" tanya Ye Kai yang sudah siap jikalau Jessey Liu memintanya untuk datang.
"Sebetulnya aku sangat membutuhkanmu untuk pemeriksaan tentang racun ini. Tetapi, itu akan memakan waktu yang lama, bukan?" tanya Jessey Liu sembari menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan agar tiba di tempat ia berada saat ini. "Sekitar tiga jam dari tempatmu saat ini, Ye Kai."
"Bukankah itu hanya tiga jam? Bisakah kamu menungguku?" bertanya Ye Kai yang ternyata sudah bersiap untuk pergi malam itu juga.
"Baiklah, kalau kamu bersedia. Aku menunggumu, Ye Kai." Jessey Liu merasa senang jika sahabatnya ini akan datang ke tempat itu.
"Kalau begitu tunggu aku. Aku akan segera ke tempatmu saat ini," ujar Ye Kai dengan nada suara mantap tanpa keraguan. "Semua urusan di sini biar Henry dan istriku yang menangani."
"Baiklah. Berhati-hatilah, Ye Kai!" Jessey Liu berpesan demi keselamatan sahabatnya ini. "Terima kasih. Aku selalu merepotkanmu, Ye Kai!"
"Baiklah. Bye!" Jessey Liu menyudahi panggilannya karena Ye Kai telah menutup sambungan teleponnya. Pria muda berambut panjang ini kini merasa sedikit lega dengan niat Ye Kai datang ke Hotel Van Houten.
Ye Kai memang sudah mengetahui letak hotel di wilayah perbatasan antara Kota Wu Shang dan Kota Da Ha itu dengan cukup baik. Hal itu karena dia adalah seorang petualang yang cukup handal pada masa lajangnya. Berbagai tempat, pertandingan seni bela diri telah ia datangi dan bagi seorang Ye Kai, dia harus pulang dengan membawa kemenangan serta tidak ada kata kalah atau mengalah.
Jessey Liu segera bergegas menghampiri Erick Martin. Pria itu masih kebingungan menghadapi salah seorang anak buahnya yang terus merintih kesakitan. Walaupun keadaan mereka sudah jauh lebih baik daripada sebelum mereka meminum penawarnya.
"Apakah pil itu palsu?" bertanya Erick Martin seolah kepada dirinya sendiri sembari memeriksa luka lebam membiru yang bermotif seperti akar serabut.
Erick Martin sungguh merasa bodoh, karena dia tidak bertanya banyak tentang kegunaan dan efek samping dari pil yang disebut-sebut sebagai obat penawar. "Di dunia ini, benarkah ada jurus pukulan yang mengandung racun seperti ini?"
"Kalau dipikir-pikir memang sangat tidak masuk akal, Erick." Suara Jessey Liu berhasil mengejutkan Erick Martin yang masih larut dalam pikirannya tentang ilmu pukulan aneh dari Sanca Perak ini.
"Oh, Gong Zi!" Erick Martin sampai sedikit terlonjak akibat dari rasa keterkejutanya. Namun, pria itu segera berusaha keras untuk mengatasinya secepat mungkin. "Anda memang benar. Ini sungguh sangat tidak masuk akal."
"Tapi pada kenyataanya kali ini ada hal semacam ini," sahut Jessey Liu yang juga ikut memperhatikan motif akar berakar yang sebenarnya terlihat cukup unik namun menakutkan.
__ADS_1
"Sekte Sanca Perak benar-benar tempatnya ahli racun yang terkenal akan kehebatannya dalam mengolah racun. Bahkan ilmu tenaga dalamnya pun juga beracun," gumam Jessey Liu dengan penuh kekaguman.
Jessey Liu terpaksa harus menunggui hingga para anak buahnya menjadi sedikit tenang. Walaupun Erick Martin telah memintanya untuk segera kembali ke kamarnya, tetapi sang ketua sekte termuda di Provinsi Guangbei itu menolaknya. Dia sungguh merasa tidak tega untuk meninggalkan orang-orang yang terluka itu dalam penyiksaan.
Baru setelah mereka tidak merintih lagi, Jessey Liu memilih segera berpamitan. Dia juga masih teringat pada bayi harimau miliknya yang tadi sempat marah dan menjadi gelisah hanya karena kepalanya gelas plastik dari seseorang yang melarikan diri pada akhirnya.
"Ya sudah, Erick. Aku akan kembali ke kamarku dan ingatlah untuk segera beristirahat!" Jessey Liu berpesan kepada Erick Martin sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
" Baiklah, Gong Zi!" Erick Martin mengantarkannya hingga di pintu. "Selamat malam dan semoga bermimpi indah, Gong Zi!"
"Selamat malam, Erick!" seru Jessey Liu sambil terus melangkah tanpa menoleh lagi. "Kamu juga. Bermimpilah yang indah!"
Erick Martin juga memutuskan untuk kembali saja ke dalam ruangan lain yang disiapkan untuk dirinya sendiri. Pria itu juga sudah merasa cukup kelelahan setelah selama seharian ini mengawal sang tuan dan harus menangani berbagai macam urusan.
"Alangkah nyaman hidup ini!" seru pria itu setelah berada di atas pembaringannya. "Damai, tenang dan ... saatnya bermimpi tentu saja."
"Terkadang seseorang pun sangat menantikan hal sederhana seperti sekarang ini," gumam Erick Martin sambil memejamkan kedua kelopak matanya yang mulai terasa sangat berat. "Bahkan seorang pria perkasa pun, tidak akan kuat dengan beban seberat ini."
Beban berat yang dimaksukan oleh Erick Martin adalah rasa kantuk teramat sangat. Siapa pun tidak akan pernah bisa menolak kedatangan hal yang kadang dirindukan oleh orang dengan segunung kegelisahan. Rasa kantuk itu juga sebuah anugerah tiada terhingga nikmatnya.
Mari kita tinggalkan sejenak dua kubu petarung yang merupakan saingan dalam dunia seni bela diri, yaitu Sekte Elang Emas dan Sekte Sanca Perak dengan tuan mudanya yang istimewa.
Di kediaman Ye Kai. Mei Lan menjadi terkejut saat Ye Kai berpamitan padanya untuk pergi malam ini juga. Baru saja pria itu melatih Zike muridnya dengan pelatihan vokal untuk persiapan tour band musik beraliran Symphonic Black Metal bernama Danger Death.
"Gege hendak pergi malam ini juga?" Mei Lan bertanya sembari terus mengikuti suaminya yang sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Ya. Jessy dan rombongannya sedang dalam masalah, jadinaku harus menyusulnya ke sana." Ye Kai berbicara sembari mengenakan jaket kesayangannya. "Kamu baik-baiklah di rumah dan jagalah murid kita itu dengan baik!"
"Tapi, Geeee!" Mei Lan merasa keberatan dengan kepergian Ye Kai yang sangat mendadak ini. "Tidak bisakah ditunda?"
"Tidak bisa, Lan'er. Para anak murid itu terkena racun berbahaya yang belum juga bisa diatasi oleh Jessey," jawab Ye Kai sembari memakai kaos kaki hitam.
"Racun?" Mei Lan merasa kaget hingga tanpa sadar wanita cantik milik Ye Kai itu terpekik kecil. Dia bertanya karena merasa penasaran. "Geee. Racun apa?"
Ye Kai menjawab, "Jurus pukulan beracun dari Sekte Sanca Perak."
"Tapak Racun Akar Hitam?" tanya Mei Lan.
__ADS_1
"Jadi, kamu tahu tentang racun itu?"
...Bersambung...