Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PERBINCANGAN KECIL


__ADS_3

Alexi harus menunggu siungan buah jeruk yang terlanjur dia masukan ke dalam mulut selesai dan habis. Baru setelah itu anak muda itu menjawab, "Kami hanya singgah saja sebentar."


"Lalu ... kamu sendiri?" tanya Alexi dengan nada ia buat tenang. Bagaimanapun juga, dia tetap tidak ingin memperlihatkan kebencian yang tidak seharusnya ada di antara mereka.


"Aku juga hanya bermalam saja, setelah ini kami juga akan melanjutkan perjalanan pulang." Jessey Liu menjawab pertanyaan dari Alexi tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.


Sejujurnya, keduanya merasa cukup senang atas pertemuan yang berawal dari sebuah insiden tersebut. Alexi juga masih terus berusaha untuk menekan perasaan bencinya terhadap pria ini. Dia menyadari, bahwa Jessey Liu tidak layak dianggap sebagai musuh.


"Kalau saja tujuan kita adalah arah yang sama, mungkin kita bisa seiring tujuan bersama-sama," ujar Alexi sebagai basa-basi semata. Tentu saja dalam hati ia tak pernah berharap hal itu akan terjadi.


"Sayang sekali, Alexi. Aku akan pergi ke Kota Wu Shang bagian timur," ujar Jessey Liu dengan tanpa memedulikan keterkejutan di wajah Alexi.


"Wu Shang?" Alexi bertanya sambil menatap wajah lawan bicaranya yang sedang asyik mengupasi buah kelengkeng. "Jadi, kamu ingin ke Kota Wu Shang?"


Alexi harus mengakui dalam hati, jika seorang Jessey Liu yang menurut kabar sangat hebat ini memang memiliki aura kewibawaan yang sangat kental. Bahkan pada saat terdiam pun, seorang Jessey Liu tetap tampak anggun dan tenang. Sesekali mata kedua pria muda itu saling beradu tatap saat berbicara. Mereka sama-sama merasakan suatu kehidupan yang tidak jauh berbeda.


"Aku penasaran, sehebat apakah dia ini sebenarnya? Sampai-sampai ayahku memperlakukan anak sendiri dengan sangat tidak adil! Bahkan, ayah ingin aku bisa melampauinya." Alexi bertanya-tanya dalam hati. "Lalu ... bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya menunjukkan kehebatannya tersebut?"


"Ya, aku memang tinggal di sana. Bukankah Sanca Perak juga berasal dari sana?" Jessey Liu balik bertanya. "Sungguh senang sekali rasanya, akhirnya aku bisa bertemu dengan salah seorang yang dimuliakan di sekte hebat itu."


"Benar," sahut Alexi sambil menyuap kembali buah jeruknya. "Tapi aku tinggal di tempat kakekku dan bukan di Sanca Perak utama."

__ADS_1


"Oh ya?" Jessey Liu sampai mengernyitkan kedua alisnya. "Jadi, Sekte Sanca Perak terbagi menjadi dua bagian?"


"Mmh." Alexi menyahut dengan gumaman kecil. "Yang satu adalah khusus untuk para murid muda dan itu dikelola oleh ayahku, sedangkan murid lama masih setia mengikuti kakekku Ki Surya Praja."


Alexi berhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali ucapannya kembali. "Tetapi, aku lebih kerasan hidup bersama kakek dan nenek, daripada tinggal dengan kedua orang tuaku."


"Itu terjadi semenjak ayah mendengar tentang kehebatanmu!" geram batin Alexi. "Itulah mengapa aku ingin mengetahui lebih jauh tentangmu!"


"Aku juga demikian. Aku belum lama ini tinggal bersama ibuku." Jessey Liu terlihat sendu dengan ucapannya kali ini.


Alexi kembali bertanya, "Lalu ayahmu?"


"Dia tidak pernah bersamaku. Orang tuaku bercerai semenjak aku kecil. Papa juga yang menjadi alasan agar aku terus berlatih ilmu seni bela diri dan mendalami berbagai macam bisnis." Jessey Liu menjawab sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam. "Dan aku melakukan semuanya hanya karena ingin mengalahkan papaku."


"Kita baru saja bertemu dan belum saling mengenal dekat satu sama lain. Jadi, rasanya terlalu lancang kalau aku menanyakan hal yang tidak sepantasnya aku ketahui. Sekali lagi, maafkan aku!" Alexi berucap seraya menundukkan wajah.


"Tidak masalah." Jessey Liu hanya menganggukkan kepalanya. "Aku juga terkadang butuh kawan untuk berbagi. Lagi pula sudah bukan rahasia lagi, tentang ketidakharmonisan hubunganku dan papa. Itu sudah terjadi sejak lama."


"Ternyata, dia juga bermasalah dengan papanya." Alexi sekarang sedikit melunak setelah mendengar cerita dari Jessey Liu ini. Dia pun berniat menjadi pendengar setia kali ini. "Baiklah, aku ingin mendengar apa saja yang akan dia ceritakan."


"Ternyata di balik ketenaranmu selama ini. Kamu juga memiliki sisi yang cukup menyedihkan," ujar Alexi yang sengaja memancing agar Jessey Liu melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Tenar?" Seulas seringaian tersungging di ujung bibir pria sedingin es tersebut. "Itu hanyalah cerita yang terlalu dibesar-besarkan oleh orang-orang, sedangkan aku merasa masih belum mampu menyandang semua gelar tersebut."


"Kalau bisa memilih, maka aku juga lebih ingin menjadi orang biasa saja yang bisa hidup sederhana yang ke mana pun tidak memerlukan pengawalan seperti sekarang ini," ujar Jessey Liu masih dengan wajah sendu. "Jujur saja, aku merasa tidak suka dengan semua peraturan sekte yang mengharuskan aku melakukan hal-hal yang tidak aku senangi."


"Mengapa kamu terlihat tidak senang?" Alexi merasa heran dengan sikap Jessey Liu. "Bukankah kamu sudah banyak memenangkan pertandingan? Kamu juga sudah memimpin banyak perusahaan dan menjadi ketua sekte di usia semuda ini, apa lagi?"


"Bagaimana aku bisa merasa senang?" Jessey Liu balik bertanya kepada orang yang baru beberapa jam saja dia temui.


"Mengapa tidak senang?" Alexi juga kembali melemparkan pertanyaan. "Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan merasa sangat bangga dan bahagia sekali."


Sepertinya, Alexi dengan sengaja memancing lebih jauh pria muda ini. Dia juga sangat ingin mengetahui mengapa ada rasa tidak senang dalam diri Jessey Liu setelah dianggap sukses oleh sebagian besar orang-orang. Apakah kesuksesan dan gemerlap kehidupannya selama ini hanyalah sebagai sangkar emas semata seperti yang dia alami selama ini?


"Aku sama sekali tidak senang!" Jessey Liu berkata dengan nada rendah, dingin dan tajam. Secara tanpa sadar pula, ia meregam kuat-kuat gelas kaca yang ada di hadapannya hingga hancur seketika menjadi serpihan-serpihan kecil.


"Jessey!" Alexi terkejut hingga tanpa sadar ia berteriak. Dia merasa cukup ngeri melihat kemarahan pria ini. Satu buah gelas kaca tebal, hancur hanya dalam sekali regam?


"Aku sangat tidak senang, karena masa kecilku hilang dan berlalu begitu saja tanpa keindahan! Aku tidak bisa bermain bersama dengan anak-anak seumuranku saat itu!" Jessey Liu meremas kuat-kuat rambutnya sendiri.


"Ternyata dia juga mengalami hal yang nyaris sama denganku," gumam Alexi dalam hati. Sekarang dia baru menyadari, jikalau ada orang yang memiliki nasib yang sama dengan dirinya.


"Maafkan aku, Jessey!" Alexi berucap dengan nada lirih dan merasa bersalah dalam hati.

__ADS_1


"Apakah tanganmu terluka?"


...Bersambung...


__ADS_2