Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 97


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Terima kasih, Dokter Rasyah." Ucap Alice tulus dengan wajah bahagia tangannya mengelus perutnya yang masih rata.


"Sama-sama, saya harap anda menjaga kandungan nya sesuai saran Dokter Ana." Jawab Dokter Rasyah pelan.


Alice mengangguk namun dengan cepat dirinya menoleh ke dokter keluarga Wijaya tersebut, "Tapi, bagaimana bisa dokter ...."


Dokter Rasya tersenyun simpul, "Tadi pagi saya baru saja memeriksa Tuan Kenan." Dokter Rasyah memotong ucapan Alice.


"Jadi benar Kenan sakit?" Tanya Alice kaget.


"Benar, tapi anda tidak perlu khawatir. Tuan Kenan terkena couvade syndrome." Jawab Dokter Kenan tegas dan lugas.


"Makhsudnya, Kenan ngidam?" Ucap Alice dengan wajah mupeng.


Dokter Rasyah mengangguk, membenarkan ucapan menantu dari keluarga Wijaya tersebut.


Sontak hal itu membuat Alice tertawa bahkan sampai memukul lengan Dokter Rasyah, Alice tertawa membayangkan Kenan yang mengalami ngidam memggantikan dirinya.


Dokter Rasyah sedikit terpesona dengan Alice namun dirinya langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Si*al, pesona ibu hamil apa sekuat ini." runtuknya dalam hati.


"Ha ha ha, maaf Dokter. Aku... Aku tidak tahan membayangkan Kenan yang mengalami ngidam." Ucap Alice dengan menyeka air mata di ujung matanya.


"Silahkan menebus vitamin anda, di bagian apotek." Dokter Rasyah mengingatkan Alice sebelum kembali.


"Sebelum itu, tolong rahasiakan ini dari siapapun termasuk Kenan maupun Kakek." Alixe berkata dengan wajah serius hilang sudah wajah berbinar bahagia tadi.


"Baik." jawab Dokter Rasyah.


Alice tersenyum tipis, "Terima kasih, Dok."


Alice segera berlaku dari hadapan Dokter Rasyah dan berjalan menuju apotek ruma sakit tersebut, dengan menyunggingkan senyum manis serta wajah bahagianya Alice bersenandung sepanjang jalan.


Dokter Rasyah memandang punggung Alice dengan pandangan yang sulit di artikan, segera Dokter Rasyah berbalik dan menelfon seseorang di sebrang dengan wajah serius.


*

__ADS_1


*


*


Seorang pria dengan aura dingin tengah berdiri membuang pandangannya ke arah kuar, tangan kanan memegang segelas vodka dingin.


Tatapan tajam, rahang tegas, dan sorot mata tajam mampu mengintimidasi siapapun yang melihatnya.


Bara, setelah kejadian tiga minggu lalu membuat pria itu menjadi kembali seperti dulu. Dingin, kejam, dan sadis.


Tidak ada senyum di bibir tipisnya, hanya ada rasa penyesalan dan kerinduan di dalam hatinya. Menyesal karena terlalu gegabah menyatakan perasaan cinta kepada Alice dan kerinduan mendalam kepada Alice.


Suara ketukan pintu terdengar, Jundi langsung membuka pintu begitu saja karena suasana hati atasannya sedang tidak baik-baik saja.


"Tuan, hari ini ada rapat." Ucap Jundi mengingatkan Bara.


"Cari cafe terdekat." Kata Bara tanpa melihat ke arah Jundi.


Jundu hanya mampu menghela nafasnya panjang, "Baik, anda dapat segera turun Tuan." Ucap Jundi sopan.


Bara memutarbtubuhnya, berjalan mendekat ke meja kerja meletakkan gelas kristal berisi vodka dingin dan mengambil jas kerjanya.


Para karyawan perusahaan Santosa selalu menunduk berpapasan dengan atasannya, selama tiga minggu juga Bara telah memecat beberapa karyawan karena kesalahan sepele.


Mobil sedan hitam sudah berada di depan perusahaan Santosa dengan pintu belakang yang sudah di bukakan oleh sang penjaga perusahaan,.


"Jalan." Ucap Bara tanpa ekspresi.


Hanya membutuhkan waktu lima menit Bara dan Jundi telah sampai di sebuah cafe yang cukup nyaman untuk melakukan rapat, suasana yang tenang dan pengunjung yang saling menjaga privasi masing-masing.


Jundi menujuk meja dekat jendela dekat penyebrangan jalan raya, "Tuan, saya tinggal ke toilet sebentar." pamit Jundi.


Jundi segera meletakkan dokumen untuk rapat hari ini dan pergi ke belakang untuk menuntaskan sesuatu, selang lima menit seorang wanita yang membuat Bara tak melepaskan pandangannya tengah masuk ke dalam cafe sembari menelfon seseorang.


Sejenak keduanya saling mengunci pandangan hingga Alice memutuskannya terlebih dahuku, Alice berjalan ke arah kiri untuk menghindari Bara.


Entah setan apa yang memasuki pikiran Bara, pria jangkung itu berdiri dari kursinya dan bejalan cepat ke arah meja Alice.

__ADS_1


Alice yang tengah fokus menunggu Mutia kaget karena Bara tiba-tiba duduk di depannya tanpa permisi.


"Maaf, Tuan. Itu kursi teman saya dan anda tidak sopan duduk begitu saja tanpa permisi." Ucap Alice dengan memandang Bara tegas.


Tengan Bara mengepal di bawah meja, "Anda?" padahal sudah cukup dekat mereka bahkan hingga memanggil nama saja. Tapi, apa yang wanita di depannya ini katakan.


"Alice." Panggil Bara dengan suara deepnya.


"Apa anda ada perlu dengan saya? Saya rasa tidak ada pertemuan dengan perusahaan Santosa hari ini." Ucap Alice yang mencoba mengusir Bara.


Ya, Alice tahu jika perusahaan Santosa menanamkan modal begitu besar ke perusahaan sang ayah. Bahkan tanpa saham dari perusahaan Wijayapun, perusahaan Wiliam tetap dapat berjalan bagaiaman semestinya.


"Jika anda menyukai meja ini, saya akan pindah." Ucap Alice yang berdiri dan mengambil tas jinjingnya.


Grep


Bara mendengkram pergelangan Alice, Alice menoleh dan mendapatkan tatapan tajam dari Bara.


"Apa kamu akan terus menghindariku? Apa salahku Alice, apa aku salah jika mencintaimu?" Bara akhirnya mengatakan apa yang ada di dalam hatinya neskipun belum semuanya.


"Tentu anda salah, Tuan. Saya ini wanita bersuami bagaimana bisa berdekatan dengan pria lain yang sudah sangat jelas memiliki perasaan lebih kepada saya." Jawab Alice tegas dan lugas kepada Bara.


Alice melepaskan cengkraman dari tangan Bara dengan paksa, "Jangan membuat orang salahpaham Tuan." Ucap Alice lagi.


Bara tersenyum hambar, "Apa yang kamu harapkan dari pernikahanmu dengan Kenan, Selena sudah kembali. Kamu hanya akan terus menjadi bayangannya." Kata Bara.


"Tuan, aku tidak akan terprovokasi dengan ucapan anda. Tapi, jika anda ingin mencoba mengambil hatiku dan seluruh cintaku dari Kenan. Akan saya beri kesempatan," Alice berkata dengan wajah datar namun tatapannya mengintimidasi.


"Baiklah, aku setuju." Jawab Bara dengan cepat sembari berdiri.


"Jika saya tidak jatuh cinta kepada anda, maka anda harus rela menerima hasilnya." Alice mengingatkan Bara jika ujungnya akan kecewa.


"Tidak masalah, setidaknya kamu memberiku kesempatan." Ucap Bara dengan tersenyum.


Alice tersenyum simpul mengecup pipi Bara dan berlalu begitu saja dari hadapan Bara menuju meja lain, sedangkan Bara hanya terpaku menatap Alice.


Hingga Jundi menghampiri Bara dan kembali ke mejanya karena kolega sudah datang. Alice tersenyum dengan memandang seseorang di sebrang jalan.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2