
Happy Reading 🌹🌹
Alice yang telah memasuki loby perusahaan Santosa, segera berjalan ke arah resepsionis. Meskipun sudah menghubungi Jundi namun Alice tetap mengikuti alur jika akan bertemu dengan Bara sebagai CEO, jabatan tertinggi di perusahaan tersebut.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Tanya resepsionis dengan sopan.
"Saya utusan dari perusahaan Wijaya, sudah memiliki janji dengan Tuan Jundi dan Tuan Bara." Jawab Alice tidak kalah sopan.
"Baik, akan segera saya hubungi. Tolong tunggu sebentar."
Resepsionis dengan rambut cepol tersebut segera mengambil gagang telfon dan menekan angka guna menghubungi Jundi, asisten Bara. Tidak membutuhkan waktu lama panggilan tersebut telah terputus.
"Nona sudah di tunggu, silahkan langsung naik ke atas." Ucap sang resepsionis kepada Alice.
"Terima kasih."
Alice berjalan seorang diri, beruntung dirinya pernah datang ke perusahaan Santosa dengan Ferdy hingga mengetahui lantai berapa dirinya harus pergi. Selama di dalam lift Alice terlihat lebih banyak melamun, memikirkan bagaimana kisah rumah tangganya bersama Kenan kedepannya.
Bahkan hingga pintu lift sudah terbuka karena telah sampai lantai ruangan Bara, Jundi yang keluar dari ruangannya memutar kepalanya karena merasa ada seseorang berdiri di belakangnya "Kenapa aku merinding, tengok ... jangan ... tengok ... jangan."
Dengan perlahan Jundi menolehkan kepalanya ke belakang, sedikit kaget karena benar firasatnya dengan mengelus dada Jundi berjalan mendekat ke arah Alice.
"Nona!" Seru Jundi yang menganggetkan Alice.
__ADS_1
Alice terperanjat kaget bahkan hampir jatuh ke belakang jika tidak di tahan oleh tangan kekar Jundi, sesaat keduanya saling menatap namun dengan cepat Alice bangkit dan berdiri dengan benar, begitu juga Jundi yang berdehem menetralkan detak jantungnya.
"Siaal kenapa istri orang sangat cantik!"* Umpat Jundi dalam hati.
"Oh, maaf dan terima kasih Tuan Jundi." Ucap Alice tidak enak hati.
"Tidak masalah Nona, kenapa pagi-pagi melamun sampai saya panggil-panggil tidak menyaut." Jawab Jundi kikuk.
"Hanya kepikiran masalah di proyek." Ucap Alice dengan tersenyum tipis.
Alice segera berjalan keluar dari lift menuju ruangan Bara dan di ikuti oleh Jundi di belakang, Jundi membukakan pintu untuk Alice. Sejenak Alice terpaku melihat Bara yang tengah bekerja dengan wajah datar namun serius hingga Bara menoleh ke arah pintu karena merasa seseorang tengah mengamati dirinya.
"Tuan, Nona Alice sudah datang." Ucap Jundi yang membuat Alice dan Bara tersikap.
"Mari Nona." Jundi mempersilahkan Alice untuk duduk di sofa sembari menunggu atasannya.
Jundi berjalan menuju meja Bara dengan menyerahkan satu dokumen, terlihat obrolan yang begitu penting namun Alice enggan mendengarkannya. Kedua mata Alice menelisik setiap sudut ruangan Bara, seperti ruangan Kenan hanya beberapa hiasa di sana dan lebih sederhana.
"Apa memang selera pria seperti ini." Ucap Alice dalam hati.
*
*
__ADS_1
*
Bara dan Alice telah berada di dalam mobil menuju proyek dengan di sopiri oleh Jundi, mobil mewah itu melewati perusahaan Wijaya. Saat Alice melebarkan kedua matanya dan meminta Jundi berhenti membuat Jundi kaget dan mengerem mendadak.
"Berhenti!." Seru Alice tanpa menoleh ke arah Jundi.
"Aishhh... Apa yang kau-"
Bara menghentikan ucapannya karena melihat Alice yang menatap ke arah luar jendela, membuat kepala Bara miring ke kanan untuk melihat apa yang Alice lihat.
Sebuah mobil taxi pergi hingga seorang wanita dengan tubuh tinggi dan langsing berdiri di depan perusahaan Wijaya, kepala wanita itu menoleh dan memberikan senyum namun senyum itu terlihat menyebalkan di mata Bara.
Hingga wanita itu berjalan masuk dengan langkah angkuhnya, tubuhnya menghilang di balik pintu kaca perusahaan Wijaya. Kedua mata Alice bergetar ingin rasanya Alice berlari ke perusahaan sang suami namun dia harus profesional jangan sampai masalah rumah tangganya sampai mengganggu pekerjaan.
"Ada apa?" Tanya Bara dengan tangan kanannya menyentuh pundak Alice.
Alice segera menyeka air matanya dengan cepat dan membenarkan duduknya, "Tidak apa-apa Tuan, maaf mengagetkan kalian." Jawab Alice dengan sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa Nona." Kata Jundi cepat.
"Apa kamu mau mampir menemui suamimu dulu?" Tanya Bara mencoba mengerti Alice.
"Tidak perlu, ayo kita jalan." Jawab Alice lembut.
__ADS_1
Jundi melirik spion tengah menatap Bara, seakan meminta intruksi bosnya. Bara hanya mengangguk sebagai jawaban hingga kembali mobil tersebut bergerak meninggalkan perusahaan Wijaya menuju tempat Proyek.