Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 131


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mendapatkan kabar dari Ferdy, bergegas Citra dan Kalevi menuju rumah sakit di mana Kenan tengah mendapatkan perawatan.


"Ayah, cepat!" Seru Citra yang tidak sabaran.


"Ayah sudah cepat, Ma." Jawab Ayah Kalevi yang ikut panik karena istrinya.


Melesat cepat menembus jalanan di tengah malam, seharusnya mereka sudah beristirahat mengarungi alam mimpi tetapi di kejutkan dengan kabar Kenan yang masuk rumah sakit.


Menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit karena jalan yang lenggang, Citra bergegas turun dengan cepat padahal mobil belum berhenti dengan sempurna.


Melihat kelakuan Citra yang selalu panik dan suka ikut campur urusan putra mereka, membuat Kalevi hanya mendes*ah pasrah.


Bara yang melihat kedatangan Citra, langsung menghadangnya.


"Tante." Panggil Bara.


Langkah Citra terhenti melihat sahabat putra nya berada di bagian administrasi, "Bagaimana keadaan Kenan, apa membutuhkan operasi?" Cecar Citra dengan cepat.


"Tenanglah, Tan. Kenan hanya lebam-lebam biasa saja karena tadi berkelahi di diskotik." Jawab Bara menjelaskan kepada Citra dengan menepuk punggung tangan wanita paruh baya itu.


Kalevi yang melihat keduanya segera mendekat, "Oh, Bara. Biar paman yang menyelesaikan administrasinya." Kata Kalevi yang baru saja tiba.


"Sudah beres paman, ayo kita ke kamar Kenan." Ajak Bara.


Citra berjalan di belakang bersama Kalevi dengan menggandeng lengan pria yang berstatus suaminya, langkah Citra begitu cepat untuk mengimbangi langkah Bara dan Kalevi.


Bara memencet tombol lift untuk naik ke lantai empat, di mana ruangan Kenan berada. Sebebarnya, cukup di IGD.


Namun, melihat bagaimana kondisi Kenan saat ini sepertinya membutuhkan perawatan apalagi lusa akan menghadapi sidang perceraian.


Bara dan yang lainnya segera kekuar dari dalam lift setelah sampai di lantai, di mana ruangan Kenan berada.


Pintu berwarna coklat dengan sedikit kaca berukuran kecil untuk melihat dari luar, angka ruangan B-115. Ruangan VVIP yang di pesan oleh Bara dan Ferdy.


Pintu ruangan bergerak, Citra menerobos masuk dan menghampiring brangkar Kenan. Nampak wajah putranya yang lebam-lebam dan beberapa bagian luka sobek yang sudah di beri obat merah.


"Ya Tuhan, Kenan." Ucap Citra sendu.


Tangan Citra bergetar menyentuh wajah Kenan, nampak cekungan hitam dan beberapa bulu di dagu yang mulai tumbuh.

__ADS_1


Ferdy menyingkir memberikan ruang untuk kedua orang tua Kenan, Kalevi hanya mampu menatap dengan tatapan iba kepada putranya.


"Apa kata dokter Fer?" Tanya Kalevi dengan bersedekap dada.


"Kenan baik-baik saja paman, tadi di berikan obat tidur dosis kecil agar dapat beristirahat. Juga saya menemukan ini di kantong kemeja Kenan."


Ferdy memanggil Kalevi, paman. Di saat jam kerjanya habis jika masih di waktu kerja maka akan memanggilnya Tuan.


Kalevi menerimanya dengan hembusan nafas panjang, "William tidak akan pernah mundur." Ucap Kalevi.


Citra yang mendengar nama keluarga William di sebut, mengusap air matanya dengan kasar dan berbalik menghadap suaminya.


Dengan cepat merebut kertas yang berada di tangan Kelavi, terlihat jelas di bagian kepala surat dari pengadilan negeri.


"Apa pernikahan mereka tidak dapat di pertahankan?" Tanya Citra dengan bibir bergetar.


Kalevi hanya menggelengkan kepalanya pelan, "William bukan orang yang mudah merubah prinsipnya." Jawab Kalevi pelan.


Citra menolehkan kepalanya ke arah Kenan, maju satu langkah dan memeluk tubuh putranya yang masih tertidur.


"Hiks... Maafkan Mama, Ken. Maafkan Mama...." Citra berkata di sela isak tangisnya.


Ketiga pria hanya mampu diam seribu bahasa, mereka tidak dapat melakukan apapun tentang percerain Kenan dan Alice.


Sedangkan di mansion William, nampak Alice yang gelisah. Rasa kantuk sudah menerjang kedua matanya namun sampai menit ke tiga puluh belum juga dapat terlelap.


Tubuhnya di miringkan ke kiri dan ke kanan, mencari posisi ternyaman agar dapat segera tidur.


"Kenapa aku memikirkan pria plin plan itu." Runtuk Alice dengan wajah cemberut.


Hingga akhirnya Alice menyerah, dirinya duduk di sofa kamarnya dengan memandangi lampu jalanan. Menggunakan sweater tebal agar membuat tubuhnya tetap hangat.


"Kita hidup berdua tidak apa-apakan, baby? Mama tidak akan melarangmu untuk bertemu Papa jika sudah besar." Alice berbicara sendiri dengan bayinya sembari mengelus perut yang sudah membuncit itu.


*


*


*


Mentari muncul dari tempat peraduannya, membuat langit yang berwarna gelap perlahan menjadi terang dengan beriring nya waktu.

__ADS_1


Tirai tipis yang masih sedikit tersibak, membuat cahaya matahari masuk merambat melalui celah jendela kayu.


Kening menyerengit halus dengan kelopak mata yang mulai bergerak, perlahan kelopak mata terbuka hingga mata kecoklatan itu terbuka semburna.


Alice menguap dan mengusap matanya khas seperti orang bangun tidur, memegang punggungnya yang pegal.


"Kenapa aku bisa tidur di sini." Ucap Alice pelan.


Entah sejak kapan, wanita cantik yang tengah berbadan dua itu tertidur di kursi. Segera Alice bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


Seperti biasanya, Alice hanya mencuci muka dan gosok gigi dengan rasa malas yang luar biasa. Jika dulu sebelum hamil, Alice sangat gemar bersolek dan kebersihan tubuhnya.


Sudah beberapa hari, Alice enggan untuk mandi. Jangankan mandi untuk merapikan rambut saja tidak mau.


Tidak membutuhkan waktu lama, Alice segera berganti pakaian. Mengucir rambutnya dengan asal dan berjalan keluar dari dalam kamar untuk menuju ruang makan.


Terdengar suara ribut-ribut dari lantai satu, Alice yang merasa tidak asing dengan suara di bawah mengerutkan dahi nya dalam untuk mencoba mengingatnya.


Dengan rasa penasaran, Alice melangkahkan kakinya berjalan menuruni anak tangga menuju sumber suara.


Suara makin jelas terdengar cukuo keras di ruang tamu, hingga ucapan orang itu terhenti karena melihat keberadaan Alice.


"Alice."


"Mama."


Citra dan Alice memanggil secara bersamaan. Namun, Alice teringat bagaimana wanita yang sebentar lagi menjadi mantan mertuanya itu berkata kasar dan merendahkan diriny dulu.


Dengan cepat, Alice merubah mimik wajahnya menjadi datar bercampur kesal.


"Ada apa pagi-pagi, Nyonya datang ke sini?" Tanya Alice sinis.


Tanpa berkata apapun, Citra langsung bersimpuh di hadapan Alice. Membuat William dan Elizabet kaget karena tindakan Citra yang mendadak.


Alice berjalan selangkah mundur dengan memegang perutnya, menatap tidak percaya ke arah wanita yang dulu sangat garang dan angkuh.


"Apa yang Anda lalukan!" Teriak Alice marah.


Entah kenapa Alice marah, apakah marah karena Citra yang merendahkan dirinya di hadapan Alice atau marah sebab yang lain.


"Alice ... Mama minta maaf, maafkan Mama. Mama salah menilaimu, ampuni Mama." Ucap Citra yang sudah berurai air mata.

__ADS_1


"Maaf untuk apa? Apa Anda berbuat salah kepada ku atau keluargaku?" Tanya Alice yang sudah mengepalkan tangan kirinya dengan erat sehingga membuat otot biru Alice nampak dari permukaan kulitnya yang berwarna putih.


...🐾🐾...


__ADS_2