Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Tamparan Mertua


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Suara tamparan menggema di ruang tengah mansion Wijaya, terlihat dua orang wanita yang berdiri dengan dua aura berbeda.


Alice yang baru saja memasuki mansion harus menerima kemurkaan mertuanya, betapa kerasnya tamparan itu jelas terlihat karena tubuh Alice sedikit terhuyung ke belakang.


Terasa pipi kirinya panas, kebas, dan telinga terasa berdenging. Alice nampak kaget dan terpaku sesaat mencoba mencerna keadaan.


Teringat tentang pertengkaran dengan Mourin tadi siang, ah mungkin Mourin sudah mengadukan kepada mertuanya dan merasa tidak terima.


Ken yang melihat Citra menanpar istrinya membelalakkan kedua matanya kaget, "Mama!" Seru Kenan.


"Dsar wanita mura*han! Bagaimana bisa kamu membuat malu keluarga Wijaya dengan kelakuanmu!" Seru Citra dengan nafas terengah-engah karena emosi.


Alice memegang pipi yang telah terkena tamparan dan langsung menatap Citra dengan tajam, "Membuat malu yang mana Ma, Mama yang sudah mempermalukan Keluarga Wijaya dengan kelakuan Mama. Bagaimana bisa, Mama menyuruh Kenan berkencan dengan wanita lain sedangkan dia sudah memiliki istri. Siapa yang membuat malu keluarga Wijaya, Alice atau Mama!" Sentak Alice kepda Citra setelah menjawab cukup panjang.


"Aku hanya ingin menantu seorang wanita terhormat, bukan seperti dirimu!" Seru Citra yang tidak kalah keras dengan Alice.


Alice tertawa mendengar penuturan Citra, membuat Citra meyerengitkan dahinya heran.


"Wanita terhormat? Sungguh konyol sekali, Mama wanita terhormat di seluruh dunia juga tahu. Jika yang Mama dan Mourin lakukan itu jauhhhhh dari kata wanita TER...HOR... MAT!" Jawab Alice dengan menggaris bawahi jika Mourin wanita murahan.


Citra ingin kembali menampar Alice karena kalah telak dalam debat, namun baik Alice maupun Citra kaget.


Karena Ken langsung memeluk Alice hingga Citra memukul punggung Kenan, terdengar deru nafas yang cepat dan detak jantung tak kalah cepat juga.


"Ayo kita ke kamar." Ucap Kenan kepada Alice.


Alice hanya diam, hatinya sangat lemah dan mudah terluka namun sebisa mungkin Alice terlihat tegar dan kuat di luar agar tidak mudah di injak orang lain.


"Ken...."


Kenan langsung berbalik dan menyembunyikan Alice dari balik punggungnya, menatap Citra penuh kekecewaan.


"Sudah, cukup Mama! Mama tidak berhak memukul Alice, dia istri Kenan dan akan terus menjadi istri Kenan. Mulai detik ini, Kenan tidak akan lagi menuruti ucapan Mama. Jika sampai Mourin kembali mendekati Kenan tidak segan-segan Ken akan menghancurkan perusahaan keluarganya." Cecar Kenan kepada Citra.


Ken langsung mengajak Alice pergi dari hadapan Citra, dengan menggenggam pergelangan tangan kanan Alice.


Nampak kedua tangan Citra terkepal erat dengan kedua mata yang memerah, semakin membuncah kebenciannya kepada Alice karena Ken lebih membela Alice daripada Ibunya sendiri.


Dari luar mansion, terlihat pria bersandar di pintu utama tanpa di ketahui penghuni yang ada di dalam mansion.


Kilatan amarah terlihat jelas di kedua matanya, "Akan aku buat kalian menyesal." Ucapnya dalam hati.


Segera pria tersebut berjalan menuju arah mobil pribadinya, perlahan mobil itu bergerak keluar dari mansion Wijaya.


*


*


*


Ken mendudukkan Alice di sofa kamar, membantu meletakkan tas dan jiga dokumen yang masih di pegang oleh sang istri.


Hingga suara ketukan pintu membuat Ken langsung beranjak dari tempatnya, terlihat seorang maid membawa baskom dan juga handuk baru.

__ADS_1


"Tuan, ini es untuk mengompres." Ucap seorang maid.


"Terima kasih." Jawab Kenan yang langsung menutup pintu dengan lengan kanannya setelah mengambil baskom berisi es batu.


Maid tersebut terpaku sesaat dan berkedip cepat, "Apa aku mulai berhalusinasi? Tuan Kenan mengucapkan terima kasih kepadaku?" Ucapnya pelan.


Maid tersebut mencubit pipi dan lengannya secara bergantian untuk memastikan jika dirinya masih hidup.


"Awshh... Sakit, jadi aku tidak berhalusinasi." Ucapnya yang langsung berjalan meninggalkan kamar Kenan.


Ken meletakkan baskom kecil berisi es batu, Ken meletakkan beberapa es batu ke handuk yang sudah di bawakan oleh Maid.


Membungkus Es batu dengan rapi dan mulai menempelkannya ke pipi kiri sang istri, "Maafkan Mama, sayang." Ucap Ken pelan.


Alice hanya diam tidak mengeluarkan suara meskipun lukanya terasa perih dan berdenyut, Alice menahannya.


Ken dengan pelan dan telaten mengompres pipi Alice, "Ini pasti sangat sakit." Gumam Ken yang masih dapat di dengar Alice.


Alice berkedip-kedip cepat agar tidak menangis dan menetralkan nafas serta detak jantungnya agar tidak terbawa suasana.


"Kenapa kamu hanya diam? Kamu marah, marahlah denganku karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak bertemu dengan wanita lain." Kata Ken yang menatap kedua manik mata Alice berwarna coklat tersebut.


Alice membalas tatapan Kenan dengan pandangan yang sulit di artikan, "Aku hanya manusia biasa Mas, tidak dapat mengendalikan perilakumu serta ucapanmu. Kamu berjanji jutaan kali aku akan mudah percaya namun jika kamu melanggarnya itu sudah keputusanmu untuk menghianatiku dan menghianati dirimu sendiri secara sadar." Jawab Alice panjang lebar dengan wajah datarnya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Kenan langsung menjatuhkan kompresnya dan kembali memeluk Alice.


Di balik punggung Kenan, Alice menangis hatinya begitu sakit mendapati pria yang mengajaknya membina rumah tangga berjalan dengan wanita lain bahkan jauh lebih sakit saat mengetahui mertuanyalah yang merencanakan ini semua.


"Maaf sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Ken yang lagi-lagi berjanji.


Mungkin Ken mengabdi dan patuh sebagai anak, Alice mencoba memahami meskipun tidak paham dengan jalan pikiran Citra.


"Aku akan hubungi dokter Rasyah dulu." Ucap Ken.


Alice memegang pergelangan tangan Kenan yang sudah berdiri dari duduknya, "Tidak perlu Mas, di kompres saja juga akan sembuh." Jawab Alice lembut.


Ken kembali duduk, "Tapi, sayang. Mama menamparmu sangat keras dan ini pasti akan bengkak esok hari." Kata Ken pelan.


"Jika bengkak aku akan ijin bekerja, dan kamu menggantikanku bekerja di kantor." Jawab Alice tersenyum lembut.


"Tidak, aku akan menemanimu di rumah." Tolak Ken tegas.


"Jangan seperti itu, hari ini aku ke mall dengan Tuan Bara. Aku sudah lama tidak berbelanja, jika kamu malas bekerja siapa yang akan membelikan kebutuhanku." Kata Alice sedikit merajuk.


Ken merasa bersalah selama menikah dirinya belum prnah membelikan Alice barang maupun jalan-jalan berdua seperti pasangan pengantin pada umumnya.


"Sayang, kita pergi bulan madu saja ya." Ucap Ken dengan lembut.


Alice mengangguk, "Tapi bereskan dulu pekerjaan di kantor Mas. Tidak lucu jika kita sedang berbulan manu namun masih sibuk dengan pekerjaan kantor." Jelas Alice kepada Kenan.


"Baiklah, aku besok akan ke kantor. Bagaimana jika aku mengantarkanmu ke rumah Mama dan Papa?" Tawar Kenan kepada Alice.


"Dengan melihat anaknya di tampar oleh ibu mertuanya?" Ucap Alice.


Ken menggaruk kepala belakangnya kaku, "Lalu aku harus bagaimana sayang? Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian di mansion bersama Mama. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa selama aku bekerja." Kata Kenan dengan penuh rasa khawatir.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas, Mas minta tolong Ayah Kalevi saja untuk di rumah. Dengan begitu Mama tidak akan berani macam-macam denganku atau Kakek untuk pulang?" Jawab Alice memberikan ide kepada Kenan.


"Benar, aku akan meminta bantuan Ayah saja. Jika sampai Kakek tahu, Mama akan di usir dari mansion ini." Ucap Ken lirih.


Alice terpaku sesaat, apa Kakek Wijaya begitu sayang kepdanya. Sampai rela mengusir Citra menantu dan Ibu dari sang cucu.


Di sudut hati Alice merasa terharu dan bahagia karena Kakek Wijaya hampir sama dengan kedua orang tuanya yang begitu sayang kepada Alice.


"Lebih baik kamu membersihkan diri sayang, aku akan mengambilkan makanan untukmu." Kata Kenan dengan lembut.


"Baiklah." Jawab Alice singkat.


Alice beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi, sedangkan Ken keluar dari kamar menuju lantai satu.


Di lantai satu terlihat sepi tidak ada Citra maupun sang Ayah yang belum pulang dari luar kota.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" Tanya maid.


"Bawakan dua makan ke atas." Ucap Ken.


Ken kembali menuju lantai dua di mana kamarnya berada, Ken masuk bertepatan dengan Alice yang menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


"Ada apa?" Tanya Ken heran dengan menutup pintu pelan.


"Anu, tolong ambilkan aku handuk." Ucap Alice malu-malu.


Seringai tipis muncul di bibir Kenan, "Keluar saja sayang, hanya ada aku di sini." Jawab Ken enteng.


Alice mendelik kesal menatap sang suami, Ken hanya terkekeh dan berjalan menuju rak berisi handuk bersih.


Ken menyodorkan ke arah Alice, terlihat Ken mempermainkan Alice dengan memaju mundurkan tangannya yang memegang handuk.


Hingga Alice berhasil meraihnya dan dengan cepat Kenan menarik tangan Alice hingga terjungkal ke lantai marmer yang dingin.


Dengan posisi Ken di bawah Alice dan kedua wajah yang bertatapan, perlahan Ken memegang tengkuk Alice dan kedua benda kenyal saling bertabrakan.


Ken melakukannya dengan lembut sedangkan Alice masih kaku dalam melakukannya, Ken mengabsen seluruh isi mulut Alice.


Ken mendominasi persilatan hari ini, Alice yang mulai menghindar karena kehabisan oksigen di tekan kembali oleh Kenan.


Tangan Kenan tidak tinggal diam, meskipun tubuh Alice terhalang baju handuk. Ken memasukkan tangan kirinya hingga menyentuh kulit punggung Alice.


Terasa tubuhnya tersengat, Alice tidak sengaja mende*sah membuat Ken semakin terpacu dengan gairahnya.


Tok


Tok


Tok


...🐾🐾...



__ADS_1


__ADS_2