Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Perasaan Mulai Goyah


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Malam tiba, Kakek Wijaya tidak pulang ke mansion melainkan langsung melakukan penerbangan ke negara Jepang guna melihat pasar saham di salah satu negara maju tersebut bersama sahabatnya Santosa.


Bukannya tidak tahu kejadian Alice di sekap dalam gudang, hanya Kakek Wijaya ingin mengetahui apakah Kenan masih memiliki sisi baik sebagai manusia dan suami.


Kalevi menyerengitkan dahinya, seluruh keluarga tengah berkumpul di meja makan namun tidak ada Alice sang menantu di sana.


"Di mana Alice?" Tanya Kalevi.


Cintra menghendikkan kedua bahunya saja, tidak ada minat untuk menjawab pertanyaan sang suami.


"Ken." Panggil Kalevi dengan suara dingin.


"Tidur." Jawab Ken singkat.


Kalevi menghela nafasnya panjang, "Bawa makanan ke kamar Kenan." Perintah Kalevi kepada seorang maid.


Maid tersebut nampak bingung karena seluruh pekerja tahu jika istri dari Tuan Muda mereka tengah di kurung di dalam gudang.


"Kenapa hanya diam? Cepat." Ucap Kalevi tegas.


"Baik tuan."


Segera maid berjalan ke belakang mengambil piring dan lauk pauk untuk Alice, dengan cepat kedua kaki maid melangkah menaiki anak tangga.


Meskipun sudah tahu jika tidak ada penghuni di dalam kamar majikannya, maid tetap mengetuk pintu terlebih dahulu.


Nampak ruangan yang sangat hampa tanpa penghuni, segera maid meletakkan makanan di atas nakas dan meninggalkannya begitu saja.


"Oh, iya Ken. Minggu depan mama ada arisan tolong kamu antarkan ya." Ucap Citra kepada Kenan.


Kalevi menoleh ke arah istrinya, "Kenapa harus Kenan? Ada aku dan banyak sopir di mansion ini." Protes Kalevi kepada istrinya.


Citra mendengus kesal, "Ayah, semua teman-teman mama di antar oleh anak-anak mereka. Mama juga ingin di antar oleh Kenan." Jelas Citra kepada Kalevi.


"Oh begitu, yasudah. Ken antar mamamu besok." Kata Kalevi mengiyakan sang istri.


"Ken sibuk, biar di antar oleh Ferdy." Jawab Ken dengan menyeka bibirnya.


"Ken! Anak mama itu kamu bukan Ferdy." Kesal Citra kepada Kenan dengan meletakkan sendok makannya kasar.


"Ken banyak kerjaan ma."


Kenan menghela nafas karena lelah, lelah dengan pekerjaan, lelah pikirannya melayang kepada Alice, sekarang mamanya ikut merengek kepadanya.

__ADS_1


"Hanya satu hari saja tidak membuat kita bangkrut Kenan." Tegas Citra.


"Baiklah, Ken pergi ke kamar dulu."


Kenan beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju lantai dua, menapaki setiap anak tangga dengan memikirkan Alice yang masih dia kurung di dalam gudang.


Sedangkan Alice, terlihat tertidur dengan posisi duduk akibat kelelahan menangis. Hingga dirinya terbangun karena datang rasa perih di perutnya.


Alice hanya dapat mengigit bibirnya dengan sesekali merintih, terlihat tangan kanannya meremat bagian perut yang memunculkan rasa sakit untuk menghilangkannya.


Satu hari hanya tadi makanan masuk ke dalam perutnya, seharusnya dirinya tidak kelaparan karena Alice tahu takarannya. Namun semua meleset saat dirinya harus mencuci baju di bawah teriknya matahari juga akibat menangis.


"Ssshhh, seharusnya aku tampung air mataku agar dapat aku minum." Gumam Alice pelan.


Terlihat seorang pria yang tengah bergerak gelisah di tempat tidurnya, menghadap ke kanan, menghadap kekiri dan telentang.


"Hais! Aku sepertinya harus olahraga."


Kenan bangun dengan kasar dan segera menjatuhkan dirinya ke lantai dingin karena karpet bulunya sudah tidak ada didalam kamarnya.


Bertumpu dengan kedua tangan dan mulai menaik turunkan tubuhnya, perlahan tubuh Ken mulai di basahi oleh keringat karena melakukan push up di malam hari.


Terdengar suara nafas yang kasar akibat kelelahan, Ken merebahkan tubuhnya di atas lantai dingin tanpa alas apapun.


Ken ingat, jika Alice masih di dalam gudang. Biarlah esok saja Ken mengeluarkannya agar Alice menyadari kesalahannya.


...***...


Pagi telah datang, Ken menggeliat dalam tidurnya. Tangannya meraba mencari selimut namun nihil.


Ken membangunkan tubuhnya, ternyata dirinya tertidur di atas lantai dengan pakaian yang sama.


Dengan menghembuskan nafas panjang, Ken berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tidur dalam keadaan penuh peluh membuat tubuhnya merasa sangat kotor.


Tidak lama, suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi menandakan jika Ken sudah memulai aktivitasnya di dalam sana.


Keluar dengan melilitkan handuk putih, Ken berjalan menuju walk in closed untuk bersiap pergi ke kantor. Mengenakan kemeja putih dibalut dengan jas berwarna hitam dan tidak lupa dasi bermotif Ken kenakan hari ini.


Ponsel Ken berdering, segera Ken berjalan keluar mengambil ponsel yang ada di atas nakasnya.


Terlihat nomor Ferdy tertera di layar ponsel miliknya. Segera Ken mengangkat panggilan tersebut.


πŸ—£οΈ Ken segera datang ke kantor, investor telah sampai.


Ken melebarkan kedua matanya dan segera melihat jam dinding yang berada di kamarnya, si*al dirinya terlambat sekali.

__ADS_1


πŸ‘€ Aku sudah di jalan, tahan jangan sampai mereka pergi.


Kenan segera menyambar tasnya dan bergegas keluar dengan berlari menuruni anak tangga. Bahkan dirinya melewati Kalevi dan Citra begitu saja.


"Kenapa Ken terburu-buru begitu." Kata Citra pelan.


"Mungkin ada rapat penting hari ini." Jawab Kalevi dengan memakan makanannya.


"Yah, anak kita selalu sibuk." Citra membenarkan ucapan suaminya.


"Ayah pergi dulu, Ayah harus meninjau pabrik di pinggir kota."


Kalevi menyeka bibirnya, meminum air putih hingga tandas dari gelasnya dan beranjak dari duduknya.


Cup.


Kalevi mengecup dahi sang istri sebelum berangkat, "Ayah pergi dulu ya." Ucapnya dengan bibir tersenyum.


"Ya sayang, hati-hati." Jawab Citra dengan senyumnya pula.


Kalevi tidak menanyakan keberadaan Alice kenapa belum turun, mungkin menantunya masih adaptasi karena tidak ada Kakek Wijaya atau bisa jadi memproduksi cucu untuknya.


Kalevi terkikik geli membayangkan bagaimana sang putra yang dingin itu menggoda Alice, "Ah, aku tidak sabar memiliki cucu dan memamerkan kepada teman-temanku." Ucap Kalevi pelan namun senyum bahagia tidak luntur dari bibirnya.


Di sisi lain, Kenan baru saja sampai di perusahaan Wijaya Corp. Para pegawai memberikan hormat melihat CEO mereka berlari ke salam gedung.


Beberapa bagian devisi tahu jika hari ini ada rapat penting dengan salah satu investor perusahaan, dengan tergesa-gesa kenan memencet tombol lift untuk menuju ruangan rapat.


Ponselnya kembali berdering, terlihat Ferdy memanggilnya.


πŸ—£οΈ Kamu sampai mana, aku sudah tidak bisa menahannya.


πŸ‘€ Satu menit lagi.


Ken langsung mematikan sambungan telfonnya, beruntung lift khusus untuk atasan lebih bepat dibanding lift yang lain.


Dengan berjalan dengan kaki panjangnya, Kenan berjalan menuju ruangan rapat yang sudah di buka tirainya. Sehingga menampakkan tiga orang tengah duduk di kursi.


"Maaf, saya terlambat."


Ucap Kenan ketika membuka pintu ruang rapat. Terlihat seorang pria melihat jam tangan rolex mewah miliknya dan menatap Kenan dengan datar.


...🐾🐾...


...AUTOR UP SATU BAB LAGI KARENA DI SAWER TERUS πŸ˜­πŸ™ ...

__ADS_1



__ADS_2