
Happy Reading 🌹🌹
Waktu berjalan begitu cepat, setelah Alice mencabut gugatan perceraiannya yang ternyata tidak di proses secara hukum. Hanya rekayasa dari pengacara Ayah William.
Membuat Alice dan Kenan sangat berterima kasih kepada Ayah William. Bahkan Kenan yang tidak bisa menangis di depan pria lain selain Ferdy untuk pertama kalinya menangis dalam pelukan ayah mertuanya.
"Jagalah putri dan cucuku, jika sampai kamu menyakitinya seujung rambut kalian akan benar-benar aku pisahkan." Ucap Ayah William tegas.
Tidak kalah dengan pertemuan Kenan dengan kedua orang tua Alice, pertemuan Alice dengan keluarga Wijaya juga mengharu biru.
Ibu mertua yang selama ini membenci keberadaan Alice, kini membuka tangannya lebar menyambut kedatangan Alice dan anaknya.
Citra memeluk Alice dengan erat seperti seorang ibu yang takut kehilangan anak kandungnya, Ayah Kalevi dan Kakek Wijaya begitu bahagia melihat perubahan Citra meskipun belum sepenuhnya. Setidaknya Citra dapat menerima Alice dengan senang hati.
"Aku bahagia melihat anak dan cucuku mendapatkan kebahagiaannya masing-masing, sepertinya aku sudah siap untuk meninggalkan mereka." Ucap Kakek Wijaya dalam hati.
Alice yang melihat Kakek Wijaya tengah berdiri tidak jauh dari Ayah Kalevi berjalan mendekat setelah Citra melepaskan pelukannya.
"Kakek ... Ayah ... Terima kasih sudah menjadi pelindung Alice selama ini." Ucap Alice yang melelehkan air matanya.
"Sudah tugas Ayah untuk melindungimu." Jawab Kalevi tersenyum.
"Kakek juga sangat berterima kasih, karena kamu sudah hadir di tengah-tengah keluarga Wijaya. Maafkan orang tua ini yang tidak membantu banyak." Ucap Kakek Wijaya dengan nada lembut.
Alice menggelengkan kepalanya pelan dan meneluk tubuh Kakek Wijaya, Alice mengungkapkan betapa rasa terima kasih dan sayang nya untuk sang kakek.
*
*
*
__ADS_1
Keluarga, seperti sebuah cabang di pohon, kita semua tumbuh ke arah yang berbeda, namun akar kita tetap satu.
Perkataan Kakek Wijaya terus terngiang di kepala seorang wanita yang mengenakan dress hitam. Dia berdiri tegak, pandangan nya lurus, menatap peti mati berwarna putih yang perlahan di turunkan.
Mata wanita yang tengah berbadan dua itu tiba-tiba memerah, membendung air di pelupuk mata yang sudah menetes membasahi pipi chubby nya. Dadanya terasa sesak, tetapi masih dapat mengambil nafas pendek.
Kenan yang berada di samping nya, mengulurkan sapu tangan bermotif garis-garis kecil berwarna biru tua dan dengan lembut tangannya bergerak untuk menyeka air mata yang tersisa di pelupuk mata.
"Kenapa kakek pergi begitu cepat. Padahal kita baru saja dapat berkumpul lagi." Kata Alice lirih dengan air mata yang terus menetes.
"Kakek sudah cukup tua, ikhlaskan. Mungkin saat ini kakek dan nenek tengah menatap kita dari atas sana." Jawab Kenan dengan memandang ke arah langit.
Nampak segerombol awan hitam menutupi langit hari ini, seakan duka atas kepergian Kakek Wijaya juga tengah di rasakan oleh semesta. Awan hitam bergelayut di atas para pelayat yang mengiringi tempat peristirahatan terakhir Kakek Wijaya.
"Kakek tidak bisa melihat cicit pertamanya, Ken." Ucap Alice yang sudah menangis sesenggukan.
Kenan merangkul pundak istrinya dan membawa ke dalam pelukannya. Mengelus punggung wanita yang sangat dia cintai dengan lembut. Kenan juga merasakan kesedihan yang sama bahkan mungkin lebih dari Alice. Sekejam apapun sang Kakek dan sebenci apapun Kenan kepada kakeknya di masa lalu dalam lubuk hati yang paling dalam Kenan begitu menyayangi sang kakek.
Seperti cuka yang di siram pada luka. Dadanya menjadi semakin sesak saat mengingat kata Kakek Wijaya sebelum menghembuskan nafas terakirnya. Citra hanya mampu menangis dalam pelukan Elizabet, kepergian ayah mertuanya melebihi rasa sakitnya saat kehilangan kedua orang tua kandungnya.
Kakek Wijaya telah pergi, membawa semua rasa sesal Citra karena belum mampu menjadi menantu yang baik untuknya. Membawa semua keegoisan yang selama ini menguasai hatinya.
"Ayahku ... hiks, A-aku masih ingin merawatnya." Ucap Citra tersendat-sendat karena menangis.
Elizabet hanya dapat mengelus punggung dan lengan Citra, dirinya juga pernah berada di posisi saat ini. "Ikhklaskan Citra, bagaimanapun umur Kakek hanya sampai di sini." Jawab Elizabet pelan.
"Aku bukan menantu yang baik untuknya, El. Aku menantu yang buruk untuk ayah dan mama." Adu Citra pada besannya.
Elizabet hanya terdiam, kedua matanya sudah menganak sungai siap menerjunkan nya saja. "Baik dan buruknya dirimu di masa lalu, aku yakin jika kedua mertuamu sangat menyayangimu Citra. Maka sekarang jadilah mertua yang baik seperti kedua mertuamu yang sudah berada di surga. Meskipun raganya sudah tidak dapat kita lihat dan sentuh tapi dia tetap hidup di hati kita dengan versi berbeda-beda." Kata Elizabet pelan.
Peti mati berwarna putih telah tertutup dengan tanah sepenuhnya. Batu nisan dari marmer berwarna putih uga sudah terpasang dengan sempurna di bagian atas makam.
__ADS_1
Beberapa pelayat nampak masih terlihat berdiri, menyeka air mata mereka lantaran ditinggal oleh orang yang sangat baik. Rekan kerja, karyawan, dan sanak saudara secara bergilir, menaruh bunga krisan berwarna putih di dekan batu nisan.
William berjalan mendekatke arah Kalevi yang menangis tergugu dengan memeluk batu nisan sang ayah. William berjongkok guna mensejajarkan tinggi tubuhnya, menepuk pelan pundak kiri Kalevi yang terlihat bergetar karena tangisnya.
"Menangislah sepuasmu, setelah ini jangan menangisinya lagi. Setiap manusia akan pergi dengan cara mereka, kamu harus siap dengan hal itu kapanpun!" Tegas William.
Di antara banyaknya pelayat yang masih mengerumuni pusaran terakir Kakek William dan juga yang memutuskan pergi meninggalkan keluarga yang tengah berduka.
Seorang pria dengan jas hitam dan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menatap lurus ke arah makam yang masih di kerumini pelayat. Menatap dengan lekat makan Kakek Wijaya melalui sela-sela kaki para pelayat.
Hingga tepukan yang dia dapatkan membuat kepalanya menoleh ke arah samping, terlihat pria yang sama tinggi dengannya sudah berdiri tanpa menatap ke arahnya. Pria yang beberapa bulan ini sibuk bekerja di perusahaan yang berada di Eropa.
"Kapan sampai?" Tanya Ferdy yang kembali membuang pandangannya ke depan.
"Baru saja." Jawab Bara singkat.
"Di mana kakekmu?" Tanya Ferdy lagi.
"Masih di dalam mobil, dia akan turun saat pelayat sudah berkurang banyak. Kamu pasti tahu kan bagaimana pria tua itu." Jawab Bara tersenyum tipis.
Ferdy sama tersenyum tipis karena tahu sifat Kakek Santosa dan Kakek Wijaya hanya sebelas dua belas, "Benar, pasti kakekmu sangat sedih kehilangan sahabat dan kawan bermain golf." Kata Ferdy pelan.
"Hemm ... tentu. Mungkin setelah ini aku akan memboyong kakekku ke Eropa." Ucap Bara yang membuat Ferdy menoleh dengan cepat.
Bara yang terus di tatap oleh Ferdy juga ikut menolehkan wajahnya, "Aku tidak ingin kehilangan moment bersama kakekku." Ucap Bara lagi.
Mendengar ucapan Bara membuat hati Ferdy tercubit,di rangkulnya pundak Bara seakan setuju dengan ucapan sahabatnya. "Pimpinlah perusahaan Santosa untukku." Ucap Bara yang membuat Ferdy terpaku untuk sesaat.
"Tidak, aku hanya akan bekerja bersama Kenan." Tolak Ferdy.
"Aku sudah membicarakannya dengan Kenan, Jundi tidak bisa memegang perusahaan di sini. Karena aku tanpanya ...."
__ADS_1
"Bagaikan sup tahu tanpa garam." Saut seorang wanita yang membuat kedua pria membalikkan tubuhnya.