Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Cobalah Buka Hatimu Kenan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terlihat Alice menunggu Mutia di depan ruang divisinya, hingga orang yang di nantikann Alice muncul.


"Kamu sudah menunggu lama?" Tanya Mutia dengan wajah ceria.


"Tidak." Jawab Alice dengan tersenyum tipis.


"Ayo."


Mutia menarik Alice memasuki lift yang biasanya di gunakan para atasan karena lift yang menuju ke ruangan Ken hanya satu lift membuat Alice harus berpindah lift jika dirinya menaiki lift karyawan biasa.


"Mau makan apa kita hari ini ya?" Ucap Mutia sembari mengetukkan jari di dagunya.


"Makan nasi." Jawab Alice


Mutia yang mendengar ucapan Alice sontak tertawa, "Tentu saja, maksudku apakah makanan yang berkuah atau kering?" Kata Mutia yang merangkul manja lengan Alice.


Alice yang baru sadar dengan jawabannya juga ikut tertawa pelan, karena baru menyadari kebodohannya.


Pintu lift terbuka, tawa Alice redup dengan tubuh terpaku di tempat.


Terlihat Citra tengah berdiri di depannya dengan seorang wanita yang tentu tidak asing di mata Alice.


Sama halnya dengan Mutia, dirinya langsung berdiri tegap dan memberi salam kepada Citra sebagai istri pemilik perusahaan Wijaya.


"Selamat siang Nyonya." Sapa Mutia dengan menundukkan kepalanya.


"Siang Nyonya." Sapa Alice mengikuti Mutia.


Baik Kenan maupun Alice masih merahasiakan status pernikahan mereka di depan karyawan, hanya Ferdy dan para tamu undangan saja yang memgetahui status hubungan mereka.


Mutia menarik Alice agar segera keluar dari dalam lift memberikan ruang untuk Ibu dari CEOnya.


Alice hanya pasrah tangannya di tarik-tarik oleh Mutia, mereka melewati Citra dan Mourin yang menatapnya tajam.


"Berhenti."


Deg


Jantung Mutia berdetak kencang karena mendengar Citra bersuara, Mutia dan Alice berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Citra dan Mourin.


"Ada yang bisa kami. Bantu, Nyonya?" Tanya Mutia sopan.


"Jangan menaiki lift ini lagi, ingat kedudukan kalian di sini. Lift ini hanya khusus orang-orang penting saja." Citra berkata dengan penuh penekanan dengan metap kedua mata Alice tajam.


Ucapan Citra secara tidak langsung untuk mengingatkan Alice pada posisinya, setelah mengatakan hal itu. Citra segera masuk ke dalam lift bersama Mourin meninggalkan Alice dan Mutia yang masih beridri tidak jauh dari lift.


"Ayo Alice, jangan dengarkan omongan orang kaya seperti itu. Itu sangat menakutkan."

__ADS_1


Ucapan Mutia membuat Alice mebolehkan kepalanya, "Bukankah wajar jika orang kaya berkata seperti itu, bagus mereka mengingatkan posisi kita." Jawab Alice dengan wajah datarnya.


"Tidak perlu di ingatkan, orang seperti kita sudah sadar dengan posisinya. Sudah ayo kita ke cafetaria waktu istirahat akan habis." Mutia menggandeng lengan Alice sehingga keduanya berjalan meninggalkan area lift tersebut.


Mourin yang merasakan hawa tidak enak setelah pertemuan mereka dengan sekertaris Kenan membuat Mourin tergelitik untuk bertanya.


"Ekhm, Tante." Panggil Mourin.


"Ada apa Mourin?" Jawab Citra lembut.


"Istri Ken itu seperti apa? Mourin mencari di internet tidak ada satupun foto keturunan dari keluarga William." Tanya Mourin mencoba mengorek informasi.


"Tentimu tidak ada, dia hanya wanita yang tidak penting. Kamu tau Mourin, dia bahkan di mansion sudah berlagak seperti seorang Nyonya Wijaya." Jawab Citra yang menjelekkan Alice.


"Tante harus sabar, sebentar lagi Mourin pasti bisa mendepaknya. Tapi, seperti yang Tante tahu. Kenan masih belum melupakan masa lalunya." Kata Mourin dengan lirih bahkan hampir menangis.


"Tenang saja, Ken harus menikah dengan wanita yang sederajat keluarga Wijaya dan itu hanya kamu Mourin." Ucap Citra dengan meyakinkan Mourin.


"Hiks, Mourin takut jika Ken kembali marah Tante. Kemarin Mourin tidak sengaja menyenggol foto Selena yang ada di atas meja kerjanya."


Mourin menangis mengingatkan kembali apa yang sudah di adukannya kepada Citra, bahkan Mourin berbohong jika dirinya tidak sengaja memecahkan pigura kecil milik Kenan yang nyatanya Mourin memang sengaja menjatuhkan foto Selena.


"Tenanglah Mourin, hanya kamu yang pantas menjadi menantu keluarga Wijaya." Citra memeluk Mourin menenangkah hati wanita yang sudah di gadang-gadang olehnya untuk menjadi menantu Wijaya.


"Terima kasih Tante. Mourin akan meminta maaf kepada Kenan untuk kejadian kemarin." Jawab Mourin tersenyum dalam dekapan Citra.


Segera Citra dan Mourin berjalan keluar menuju ruangan Kenan, Citra melirik meja kerja Alice terlihat rapi dan hanya sedikit dokumen di meja kerjanya.


Pintu ruangan Ken terbuka terlihat Ferdy yang sudah membukanya dari dalam.


"Nyonya." Sapa Ferdy sopan.


"Kalian tidak istirahat?" Tanya Citra yang langsung masuk kedalam ruangan Kenan.


Ken memutar kursinya, terlihat Citra dan Mourin yang menundukkan kepalanya dalam di belakang tubuh Citra.


"Ken, kamu tidak menyapa Mamamu?" Tanya Citra kepada sang putra.


"Ada apa Mama datang ke kantor?"


Ken tidak menjawab melainkan kembali bertanya kepada Citra.


"Tidak ada, Mama hanya mampur saja saat pulang arisan." Jawah Citra sekenanya.


"Fer, istirahatlah dulu aku akan menyusul." Ucap Ken yang melihat jam rolex mewah di tangannya.


"Baik Tuan, terima kasih." Ferdy berjalan keluar dari ruangan Kenan meninggalkan anak dan ibu tersebut di dalam ruangan tidak lupa satu orabg asing.


Ken menatap datar ke arah Citra dan Mourin, bahkan memandang Mourin membuat darah kenan kembali meninggi.

__ADS_1


"Ken, A-aku."


"Cukup! keluar dari ruanganku."


Kenan memotong perkataan Mourin dengaj cepat bahkan tanpa ba bi bu langsung mengusirnya lagi.


"Kenan! Jangan seperti itu kepada wanita." Tegus Citra kepada sang putra.


Ken berdecih, "Apa tujuan Mama ke sini, segera katakan dan pergi. Kenan banyak kerjaan." Ucap Ken dingin.


Citra menghela nafasnya pelan, awalnya Citra sudah sangat senang karena Ken kembali dingin kepada Alice tapi ternyata penyebab sifat dingin itu muncul akibat kesalahan Mourin.


"Pergilah makan malam denganku." Ucap Mourin tegas dengan kedua mata memerah yang hampir kembali menangis.


Ken tersenyum miring, "Ternyata nyalimu boleh juga Mourin." Ucap Ken.


Mourin menggigit bibir bawahnya bahkan kedua tangan sudah mere*mat rok yang dia kenakan, tatapan Kenan sungguh menakutkan senyuman itu bagaikan senyuman sejuta rahasia.


"Ken. Maafkan Mourin, dia tidak sengaja merusak barangmu. Lagipula kenapa kamu masih memajang foto Selena, dia sudah menikah Ken biarkan dia bahagia." Ucap Citra panjang lebar kepada Kenan.


"Mama tidak perlu ikut campur." Jawab Ken dingin dan tegas.


"Mama tidak pernah melarangmu menjalin kasih dengan Selena Ken, bahkan dengan sadar dia lebih memilih pria lain untuk menjadi suaminya. Lupakan dia Kenan, kejar kebahagiaanmu sendiri. Mama ingin kamu menikah dengan Mourin." Ucap Citra panjang lebar.


"Mama lupa jika Ken sudah menikah?" Jawab Ken mengingatkan kepada Mamanya.


"Mama sejak awal menolaknya Kenan! Dia tidak pantas menjadi menantu Wijaya, jika dia wanita baik-baik tidak akan menawarkan sebuah pernikahan bisnis kepada Kakekmu." Citra mengatakan dengan tegas dan berapi-api.


Ken menghela nafasnya panjang dan menatap Mamanya intens.


"Bagaimana jika Kenan ingin menjalani biduk rumah tangga dengan istri Ken?" Tanya Kenan dengan seius.


"Maka Mama yang akan pergi dari hidupmu Kenan." Jawab Citra dengan tegas dan lantang.


Mourin yang mendengarkan perdebatan keduanya tersenyum samar, "Bagus, dengan penolakan yang kuat dari Tante Citra maka posisiku akan semakin kuat." Gumam Mourin dalam hati.


"Cobalah membuka hatimu Ken, kita sudah kenal cukup lama. Meskipun aku tidak sebaik Selena tapi aku juga mencintaimu dengan tulus Kenan." Mourin membuka suara setelah beberapa lama terdiam.


Ken menatap datar ke arah Mourin, "Cih, dasar wanita ular." umpat Ken dalam hati.


"Benar Ken, cobalah bersama Mourin jika memang kamu tidak ada hati kepadanya Mama tidak akan memaksamu lagi." Timpal Citra mendukung Mourin.


"Si*al, aku akan mendapatkan Kenan apapun caranya." Umpat Mourin dalam hati atas jawaban Citra.


"Baiklah, aku akan mengabari kapan kita makan malam. Sekarang kalian pergilah." Usir Kenan kepada Citra dan Mourin.


"Benarkah, Kenan! Baiklah aku akan menunggumu." Mourin berbinar senang mendengarkan keputusan Kenan.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2