Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Selena dan Josh : KDRT


__ADS_3

Happy Reading


Di sebuah rumah berukuran kecil, dinding dengan cat putih yang sudah kusam, dan pintu kayu jati yang nampak sudah tua. Di dalam rumah sederhana itu hanya ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu dapur yang berada di belakang.


Isi rumah itu juga sudah nampak barang-barang lama, tidak ada harta benda yang berharga kecuali penanak nasi yang sudah berkarat di bagian luar sana sini dan kompor gas satu tungku.


Suara benda pecah memenuhi rumah kecil itu, suara teriakan dua orang berbeda gender terdengar nyaring hingga keluar rumah. Para tetangga nampaknya acuh dengan pertengkaran di rumah itu, seperti sudah hal biasa bagi mereka mendengar sumpah serapah dan makian dari penghuninya.


"Di mana uangku!" Teriak seorang wanita paruh baya yang berkacak pinggang di depan pria seusianya.


"Sudah habis." Jawab pria itu acuh.


"Apa. Breng*sek! Itu uang untuk membayar kontrakan, cepat kau kembalikan hari ini juga! Pria tidak berguna." Makinya yang tidak habis pikir dengan pria berpenampilan lusuh di depannya.


"Kau yang breng*sek! Jika bukan karena menikahi wanita lintah sepertimu, aku tidak akan miskin!" Teriaknya tidak terima.


Wanita paruh baya itu tertawa sumbang, "Aku yang sial menikahi pria bo*doh sepertimu!" Ucapnya ikut berteriak.


Tamparan keras terdengar, tangan pria yang berstatus sebagai suaminya itu menampar dengan keras sehingga membuat pipi kirinya terasa kebas, panas, dan telinganya sedikit berdengung.


"Diam! Aku yang bodo*h karena percaya wanita murah*an sepertimu! kau wanita pembawa si*al." Jawabnya dengan berseru dan menunjuk ke wajah wanita yang berstatus istrinya itu.

__ADS_1


Pria paruh baya itu berjalan meninggalkan sang istri seorang diri, wanita yang masih meledak ledak amarahnya berjalan dengan cepat mencengkram jacket jeans lusuh yang di kenakan sang suami.


"Mau kemana kamu! Aku belum selesai bicara," kata sang istri.


Dengan kasar sang suami menepis tangannya dan berbalik mencengkram rahang wanita yang sudah membuat kehidupannya nelangsa, "Mau kemana aku, itu bukan urusanmu. Lebih baik kamu bekerja untuk melunasi hutangmu kepadaku." Ucap sang suami dengan nada renda namun penuh penekanan.


Wanita paruh baya itu meludahi wajah pria di depannya, karena dia tidak dapat berbicara untuk menjawab ucapan sang suami. Cengkraman sang suami semakin keras dan membuatnya kesakitan, dengan kasar pria itu mendorong tubuh kurus berbalut kulit itu di atas lantai.


Meraup wajah yang terkena ludah dari wanita itu dengan kadar, "Breng*sek!" makinya, dengan cepat pria itu berjalan ke sudut lain mengambil sesuatu yang akan dia gunakan untuk menghukum sang istri seperti biasanya.


Wanita paruh baya yang melihat potongan kayu di tangan kanan sang suami, dengan cepat wanita itu menggeser tubuhnya ke belakang dengan cepat. Wajah wanita yang tadinya mengeras dan berani, kini pucat pasi dan menciut.


"Kemari kamu!"


"Sakit." Ucapnya lirih.


Senyum miring muncul di wajah pria paruh baya itu, "Heh? Sakit, akan aku beri tahu rasa sakit yang sesungguhnya."


Pintu kamar mandi tertutup dengan keras, suara benda tumput terdengar di dalam kamar mandi. Suara rintihan dan teriakan menggema di ruangan lembab nan dingin. Tidak berselang lama pintu kamar mandi terbuka, pria paruh baya berjalan keluar tanpa memperdulikan pria paruh baya yang lemah di dalam.


Dengan nafas memburu dan air mata yang sudah luruh sejak tadi dapat terlihat pada wanita paruh baya itu, sudut bibirnya berdarah dan lebam-lebam yang berada di sekujur tubuhnya menghiasi masa tuanya.

__ADS_1


"Hiks ... maafkan Mama Selena." Ucap Luna.


Luna adalah ibu kandung Selena, saat sang suami meninggal dunia. Luna pergi lari seorang diri meninggalkan Selena bersama selingkuhannya yang kini menjadi suaminya Hardi. Keduanya berselingkuh di belakang suami Luna, menimbun harta hasil korupsi sang suami secara diam-diam dan kabur bersama Hardi.


Luna yang begitu mencintai Hardi, menyerahkan semua harta bendanya kepada pria tersebut, awalnya baik-baik saja. Hingga, Hardi mengenal dunia judi. Seluruh harta bendanya termasuk harta Hardi telah habis di meja jundi hingga mereka harus keluar dari kemewahan yang selama ini mereka nikmati.


Menyewa rumah kecil dengan harga sewa setiap bulannya satu juta rupiah, bekerja serabutan agar dapat melangsungkan hidupnya setiap hari. Uang yang selalu di kumpulkan untuk membayar sewa rumah selalu tidak utuh dan terkadang habis di meja judi.


Luna bekerja sebagai pedagang, buruh cuci, dan pekerjaan lainnya yang langsung mendapatkan uang. Sedangkan Hardi pekerjaannya setiap hari selalu mabuk-mabukan dan judi, tidak jarang pria itu pulang dengan keadaan babak belur karena uang yang Hardi bawa sudah habis dan kalah di meja judi tapi masih memaksa untuk ikut, entah berapa jumlah hutang yang di miliki Hardi, Luna tidak ingin tahu.


Selama pernikahan Luna dan Hardi tidak ada keturunan, bukan keduanya mandul hanya itu sudah keputusan bersama. Luna tidak ingin di repotkan oleh seorang anak begitu juga Hardi yang masih ingin menimbun pundi-pundi kekayaan.


Bagi Luna, anaknya cukuplah Selena. Gadis yang baru beranjak dewasa dia tinggal lari begitu saja dengan beban yang di tinggalkan oleh almarhum sang suami, tidak memberikannya sepeserpun uang kepada Selena saat itu karena di dalam pikiran Luna, Selena akan tetap dapat bertahan hidup dengan menikahi keturunan keluarga Wijaya.


Dengan susah payah Luna mencoba berdiri dari duduknya, merasakan sakit yang dia rasakan disekujur tubuhnya. Berjalan tertatih dengan sesekali menyerengit karena menahan sakit, menyeret langkahnya menuju kamar yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah. Tidak ada sanak saudara maupun tetangga untuknya bersandar.


"Ssshhh..." Ringis Luna saat melepaskan pakaiannya yang basah karena sempat di guyur beberapa kali opeh Hardi.


Memandang wajah dan tubuhnya yang penuh luka baru maupun bekas luka yang selalu dia dapatkan saat menyuruh Hardi mengembalikan ataupun meminta uang kepada pria tersebut, setitik air mata menetes di mata tuanya. Dirinya mengingat Selena, putri satu-satunya itu sepertinya untuk mengingatnya saja Luna tidak berhak karena dia dengan sadar dan keji meninggalkannya tapi untuk menemuinya Luna juga tidak memiliki keberanian, biarlah Selena membenci ataupun melupakannya seumut hidup.


Luna merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang sudah keras itu perlahan, menahan rasa sakit yang mendera seakan menghujam ke seluruh tubuhnya. Memejamkan mata tua dan sayunya itu perlahan, untuk uang kos biarlah dia pikirkan nanti yang terpenting dia harus dapat bekerja lagi.

__ADS_1


Pengawal Josh yang menyamar sebagai pedagang ojek hanya berdiam diri di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari rumah Luna dan Hardi, melihat Hardi keluar dengan wajah yang marah dan acuh membuat Josh segera menghubungi Josh untuk melaporkan semuanya.


Mendapatkan intruksi agar tidak mendekat, membuat Josh mengurungkan niatannya. Dirinya akan tetap memantau dan menunggu intruksi dari Josh maupun Selena.


__ADS_2