Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 140


__ADS_3

Happy Reading


"Al ... Aaa!"


Mutia yang membuka pintu kamar Alice tanpa permisi langsung memekik dan memutar tubuhnya sehingga menubruk tubuh Ferdy yang menyusulnya.


Alice yang menyadari kehadiran Mutia dan Ferdy langsung mendorong tubuh Kenan hingga memberikan jarak di keduanya, nampak Alice kikuk seperti pencuri yang tengah tertangkap basah.


Kenan yang gagal untuk menci*um bibir sang istri hanya meraup wajahnya kasar, perasaan kesal bercampur malu menjadi satu.


"Mataku!" Rengek Mutia pada Ferdy.


Ferdy hanya memandang wajah Mutia bingung, karena Ferdy memang tidak sempat melihat aksi Kenan yang mulai bermesraan dengan Alice.


"Kenapa?" Tanya Ferdy penasaran.


"Mereka ber...."


"Tidak apa-apa, ayo turun." Alice langsung membekap mulut Mutia dan menyeretnya turun ke lantai satu.


Mutia tidak memberontak justru memeluk tubuh ibu hamil yang sangat dia rindukan, semenjak gosip Kenan yang akan menikah kembali membuat Mutia suka nimbrung di GC dan terkadang ikut mendengarkan saat rekan kerjanya membicarakan tentang kisah asmara Kenan.


Dari gosip itu, membuat Mutia hanya mampu berkomunikasi dengan Alice melalui ponsel meskipun tidak setiap hari. Selalu melaporkan apa yang terjadi di perusahaan meskipun tanpa di minta oleh Alice, seperti beberapa hari ini. Melaporkan bagaimana Kenan ketika berada di perusahaan Wijaya.


Sedangkan Kenan dan Ferdy berjalan di belakang kedua wanita muda tersebut, "Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Ferdy melirik ke arah Kenan.


"Urusan suami istri, kamu tidak akan tahu." Jawab Ken dengan senyum mengejek ke arah Ferdy.


Ferdy menghentikan langkahnya dan memegang pundak Kenan sehingga ikut berhenti. Memutar tubuhnya hingga keduanya berhadapan.


"Lihatlah." Ferdy mengeluarkan ponselnya memutar sebuah video membuat Kenan membulatkan kedua matanya sempurna.


"Kau!" Geram Ken tertahan.


Ferdy tersenyum miring, "Belikan aku mobil keluaran terbaru maka akan aku hapus." Ucapnya.

__ADS_1


"Dasar lintah, apa gajimu kurang." Sungut Ken menatap sengit ke arah Ferdy.


Ferdy menghendikkan kedua bahunya saja dan memasukkan ponsel ke dalam saku dalam jas miliknya, "Semua ada di tanganmu." Jawab Ferdy membalas Kenan dengan senyum mengejek.


*


*


*


Setelah melepas rindu dengan sahabatnya Mutia, Alice kembali melangkah menyusul Kenan yang sudah lebih dulu pergi ke kamarnya. Membuka pelan pintu ber cat putih takut jika Kenan tengah tidur, dahi Alice mengkerut dalam karena tidak menemukan Kenan di dalam kamarnya.


Menggaruk pelan keningnya, kembali melangkahkan ke arah balkon karena di dalam kamarnya tidak ada siapapun. Namun, kosong membuat Alice bingung kemana perginya Kenan.


Tangan kokoh melingkar dengan lembut di perutnya, terasa basah punggung Alice membuat wanita berbadan dua itu memiringkan kepalanya.


"Mas, habis mandi?" Tanya Alice lembut.


Ken mengangguk, "Apa masih bau?" Tanya Kenan sama lembutnya.


Kenan yang mendapatkan perluakuan dari sang istri, membuatnya menahan nafas. Tubuh Kenan meremang merasakan sesuatu yang ingin dia lakukan bersama Alice, segera Kenan memiringkan kepalanya hingga wajah mereka berjarak satu inci.


Kecupan yang berubah menjadi sebuah ciu*man yang menuntut, merangkup pinggang Alice dengan lembut hingga perut buncit sang istri menyentuh perut six packnya. Kedua tangan Alice melingkar di leher kokoh sang suami keduanya nampak larut tidak memperdulikan mereka melakukan di mana dan di lihat oleh siapa.


Rasa rindu dan cinta keduanya di salurkan pada setiap sentuhan yang memabukkan, Kenan menyudahi aksinya dengan nafas yang terengah-engah begitu juga Alice. Kedua tatapan saling mengunci dan perlahan senyum melengkung smepurna terbit di bibir tipis keduanya.


"Jangan sampai aku melakukannya, ini masih siang." Ucap Ken dengan suara serak menahan gair*ah.


"Coba saja." Jawab Alice menantang dan menggoda Kenan.


Ucapan Alice membuat Ken gemas, ingin rasanya menerkam sang istri. Namun, Kenan mengingat jika Alice tengah hamil dan tidak ingin menyakiti anak mereka. Hanya kecupan kecil di bibir Alice yang Kenan lakukan.


Kenan berjongkok di depan perut buncit istrinya, mencium dengan cukup lama. Setitik air mata turun dari mata tajam Kenan "Halo, baby. Ini Papa." Sapa Ken dengan bayinya.


"Halo, Papa." Jawab Alice yang menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


Kenan mendongak menatap wajah Alice dan tertawa bersama, "Dia tidak membuatmu susahkan, sayang?" Tanya Kenan yang masih berjongkok di depan Alice.


Alice menggeleng pelan dengan tersenyum, "Tidak, buakankah Mas yang ngidam?" Tanya Alice lembut.


"Benar, lebih baik aku saja yang merasakannya. Karena perbuatanku juga, jadi tidak masalah meskipun harus merasakan sampai kamu melahirkan sayang." Jawab Kenan tulus.


Alice mengelus pipi tirus Kenan dengan perasaan haru, "Mas baik-baik saja?" Tanya Alice dengan wajah sendu.


"Tentu, Mas sangat baik. Akhirnya Mas dapat tidur dengan nyenyak karena mendapatkan maaf darimu sayang." Jawab Ken yang kini sudah berdiri.


"Terima kasih." Ucap Alice dengan bibir bergetar.


"Mas yang berterima kasih, terima kasih sudah menjadi istri yang baik untuk Mas. Terima kasih sudah menjadi ibu yang hebat. Terima kasih sudah hadir di dalam kehidupanku." Jawab Kenan yang sudah kembali meneteskan air matanya.


Tanpa keduanya sadari, interaksi keduanya sudah di tonton oleh pria yang berhenti di plataran mansion. Memasang kembali kacamata hitam sehingga bertengger di hidung mancungnya menambah ketampanan wajahnya berkali lipat.


Suara pintu mobil terdengar dan perlahan bergerak meninggalkan mansion William, seulas senyum tipis terbis dari bibir tipisnya "Aku tulus mendoakan kalian, semoga kalian selalu bahagia." Ucap Bara di dalam hati.


Ponselnya berdering, terlihat nama Jundi tertera di layar ponselnya. Segera Bara mengangkat panggilan asistennya tersebut.


"Tuan, kita harus segera terbang ke Eropa hari ini juga. Perusahaan sedang mengalami masalah." Lapor Jundi tanpa menunggu Bara berkata apapun.


"Siapkan saja semuanya." Jawab Bara tegas.


"Baik, Tuan langsung saja ke bandara saya akan menyusul." Ucap Jundi yang langsung mematikkan panggilan telfunnya.


Bara memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jas, "Ke bandara." Perintah Bara kepada sopir perusahaan.


"Baik Tuan." Jawab sang sopir.


Mobil melaju kencang menerobos kendaraan lainnya, mendengar perkataan dari bisnya mungkin sedang mendesak.


Bara hanya membuang pandangannya ke sembarang arah, memperhatikan apa yang dia lewati dengan bersedekap dada.


"Selamat tinggal Alice, selamat tinggal." Ucap Bara di dalam hatinya.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2