
Happy Reading 🌹🌹
Pagi menjelang, terlihat Alice dan Ken tengah bersiap untuk berangkat ke kantor.
Alice duduk di depan cermin memoleskan skincare yang dia bawa dari rumahmya, sedangkan Ken memasang dasinya seorang diri seperti biasa.
"Tidak perlu berusaha keras untuk berpenampilan cantik karena aku tidak akan pernah tergoda denganmu." Ken tiba-tiba bersuara.
Alice menghentikan gerakannya menatao Ken dari pantulan cermin, "Percaya diri sekali, aku cantik untuk diriku sendiri bukan menggodamu." Jawab Alice tak kalah tajam.
Ken tersenyum miring, "Kamu pikir aku percaya, wanita mata duitan sepertimu sangat mudah di tebak." Kata Ken.
"Wanita yang tidak mata duitan itu sungguh munafik, apa kamu pikir kita dapat hidup dengan ucapan cinta. Konyol sekali, ah buka tapi benar-benar wanita bodoh." Ucap Alice dengan wajah sinisnya.
"Tidak semua wanita seperti itu, Selenaku beda dengan wanita sejenismu." Kata Ken dengan menatap tajam.
Alice meletakkan listik yang sudah dia kenakan, "Selena? Siapa Selena?" Tanya Alice dengan alis di angkat sebelah.
"Wanita berhati malaikat, aku menceritakannya kepadamu juga tidak ada untungnya karena kalian bagaikan bumi dan langit." Jawab Ken acuh dan mengambil jas di atas kasurnya.
"Dasar tidak waras." Umpat Alice pelan dengan memandang kepergian Kenan dari dalam kamar.
Seperti biasa Alice dan Ken sarapan bersama keluarganya, meski terkadang Citra berbicara cukup sinis namun Alice menulikan kedua telinganya.
"Pagi Ferdy." Sapa Alice dengan tersenyum ramah.
"Pagi Nona." Jawab Ferdy tak kalah ramah.
"Cepat masuk." Ucap Ken dari dalam mobil.
Alice mencebik kesal namun di mata Ferdy begitu lucu, haiss ingat dia istri sahabatmu. Begitu kiranya sang malaikat baik membisikkan di telinga Ferdy.
Mobil BMW hitam meninggalkan mansion Wijaya, terlihat Alice menghembuskan nafasnya pelan karena merasa gugup. Jujur saja ini adalah pertama kalinya Alice bekerja setelah magangnya beberapa bulan lalu.
Sedangkan Ken yang duduk di sampingnya hanya acuh saja, berbeda sengan Ferdy yang sering menatap ke arah belakang melalui kaca spion tengah.
"Apakah Anda gugup, Nona?" Tanya Ferdy kepada Alice.
"Ah, ti-tidak juga. Hanya sudah cukup lama tidak pernah datang ke perusahaan." Jawab Alice yang kaget mendapatkan pertanyaan dari Ferdy.
"Awas saja jika tidak becus bekerja." Timpal Ken tanpa melihat keduanya.
"Jika tidak ada yang diketahui bisa tanyakan kepada saya saja Nona." Tawar Ferdy tersenyum ramah kepada Alice.
__ADS_1
"Ya, terima kasih." Jawab Alice.
"Urusi saja pekerjaanmu Fer." Timpal Ken dengan sinis.
"Baik Tuan." Jawab Ferdy pelan.
Ken meletakkan tabletnya dan melihat tanda jalan, "Fer berhentindi halte bis depan." Ucapnya.
"Ada apa Tuan, apakah Anda ingin naik bis?" Tanya Ferdy dengan wajah penasaran.
"Ikuti saja perintahku." Ucap Ken tegas.
Ferdy memgangguk dan perlahan melajukan mobil dengan pelan karena akan sampai di samping halte bis, lampu sen menyala di sebelah kiri.
"Keluar." Ucap Ken.
Ferdy dan Alice melihat ke arah Ken, mereka bingung Ken berbicara dengan siapa.
"Kamu keluar, mulai saat ini kamu pulang pergi naik bis. Aku hari ini berbaik hati memgantarkanmu sampai halte bis, hari berikutnya dalam jarak 500 meter dari mansion aku akan menurunkanmu." Ucal Ken panjang lebar dengan menatap ke arah Alice.
"Aku?" Beo Alice dengan menunjuk pada dirinya sendiri.
Brum!
Mobil BMW berjalan cepat meninggalkan wanita yang berdiri dengan wajah kesal, si*al sekali harinya hari ini.
Alice mengantur nafasnya yang naik turun akibat emosi kepada Ken, di lihatnya jam sudah semakin siang.
Di halte tidak ada orang yang memakai pakaian kantor, sepertinya semua sudah berada di dalam bus.
"Aku harus bagaimana, aku juga tidak tahu bus ke arah perusahaan Wijaya." Alice mengacak rambutnya frustasi.
Sedangkan Ken yang berada di dalam mobil tertawa puas karena rencananya sudah mulai di jalankan, benar Ken sengaja membuat hari Alice bagaikan rollercoaster hari ini.
Ferdy yang melihatnya menggelengkan kepalanya pelan, "Kekanakan sekali Ken." Ucap Ferdy.
"Pasti dia sangat kesal Fer, apa kamu lihat wajahnya yang memerah karena marah kepadaku. Aku yakin dia tidak akan mendapatkan bis saat jam seperti ini." Ken tidak menjawab ucapan Ferdy namun mengingat wajah kesal Alice sebelum keluar dari dalam mobil.
"Dia pasti akan terlambat Kenan." Ucap Ferdy lagi.
"Aku memang sengaja, waktu kurang sepuluh menit lagi." Jawab Ken dengan melihat jam rolex mewah miliknya.
"Hah, terserahmu saja." Ferdy pasrah dengan ide gila Kenan.
__ADS_1
Alice berlari menyusuri jalan dengan tas yang di slempangkan pada tubuhnya dan juga sepatu hak tinggi yang dia jinjing di tangan kanannya.
"Aku akan membunuhmu Kenan! Masih berapa jauh lagi." Ucap Alice dalam larinya.
Ya, Ken mengatakan jika perusahaan Wijaya hanya berjarak 200 meter lagi namun Alice merasa sudah berlari lebih 500 meter dari halte.
Alice yang berlari kencang dengan mengenakan pakaian kantor menjadi tontonan para pengendara termasuk Bara dan Jundi yang tengah terjebak lampu merah.
Terlihat rambut Alice yang tergerai dengan di terpa angin membuat kecantikan Alice berkali lipat, pantulan matahari mengenai keringat yang berada di kening dan juga yang meluncur bebas melewati pipi Alice seakan permata yang berkilau.
Alice berbelok menyebrangi zebra cross karena melihat perusahaan Wijaya Corp berada di kiri jalan.
Alice menghentikan larinya menjadi berjalan karena di sampingnya ada seorang nenek tua yang tengah menyebrang dengan tongkat, tanpa menoleh ke arah para pengendara mobil Alice berjalan pelan dan santai.
Hitung-hitung mengatur nafas dan memulihkan tenaganya dulu. Para pengendara tidak ada yang membunyika klakson seakan mereka tersihir dengan kecantikan Alice.
Bara hanya duduk mengamati Alice yang berjalan dengan menyeka keringat beberapa kali hingga akhirnya Alice dan nenek tersebut sudah sampai di sebrang jalan.
"Terima kasih." Ucap nenek tersebut.
"Hah? Aku hanya berjalan karena lelah berlari." Jawab Alice yang langsung berjalan cepat meninggalkan nenek tersebut.
Nenek tersebut hanya tersenyum ke arah Alice yang telah berlalu dari hadapannya, "Anak yang baik." Ucap nenek pelan.
Alice kini telah sampai di depan perusahaan Wijaya dengan wajah kesal dan nafas yang memburu, segera Alice menurunkan sepatu haknya untuk di kenakan kembali.
Mengambil karet rambut berwarna hitam dan mengucirnya tinggi-tinggi, tidak lupa tas juga pakaiannya di rapikan.
"Hah astaga, kemana tisuku." Ucap Alice yang mengibrak-abrik isi tasnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan sapuntangan ke arah Alice, Alice menghentikan gerakannya dan melihat di depannya seorang pria tampan dengan wajah polosnya.
"Ini pakailah, kamu sangat berkeringat." Ucapnya.
"O-oh, terima kasih."
Alice menerima sapu tangan tersebut dan segera mengeringkan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuhnya pagi ini.
...🐾🐾...
Alice William (22)
__ADS_1
Kenan Wijaya (30)