Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Selena dan Josh : Ending.


__ADS_3

Happy Reading


Mobil sedan hitam telah berhenti tepat di depan kantor polisi, segera Josh dan Luna keluar dari dalam mobil. Di luar kantor sudah ada beberapa polisi yang tengah piket.


"Ada yang bisa kami bantu?" Ucap seorang polisi.


"Sa-saya mau melaporkan tindakan KDRT." Jawab Luna menundukkan kepalanya dengan berkata terbata.


"Mari ikuti saya di unit anak dan perempuan." Kata seorang polisi yang menunjukkan unit kepada Luna dan Josh.


Keduanya berjalan mengikuti pria yang mengenakan seragam coklat, lengkap dengan perlengkapan kerjanya. Hingga masuk ke unit yang di maksud.


"Silahkan duduk." Ucap polisi lagi.


Josh menarik kursi besi agar Luna dapat duduk, Luna merasa terharu karena tidak bisa membayangkan jika Selena di ratukan oleh Josh. Segera Luna duduk sehingga berhadapan dengan seorang polisi yang mengadap komputer di depannya, sedangkan Josh duduk di kursi samping Luna.


"Silahkan jawab pertanyaan saya dengan sebenar-benrnya agar kami mudah memprosesnya." Kata polisi kepada Luna.


Luna menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh polisi dan juga memberi keterangan sebagai saksi, Polisi dengan seksama mencatat kronologis yang di ucapkan oleh Luna.


"Akan kami proses, karena adna korban anda dapat melakukan visum sebagai bukti-bukti untuk memperkuat laporan ini." Kata petugas lagi.


Luna dan Josh nampak lega akhirnya dapat melakukan visum, setelah mengajukan laporan. Luna dan Josh segera keluar dari kantor polisi untuk menuju rumah sakit yang di anjurkan oleh pihak kepolisian. Segera mobil sedan hitam kembali bergerak menembus padatnya jalan raya hari ini.


Luna melakukan setiap rangkaian visum dengan baik, Josh menunggu dengan tenang sampai mertuanya selesai melakukn pemeriksaan dengan duduk di depan ruangan . Sesekali Josh menghubungi pengawal yang menjaga di depan apartemennya untuk mengecek Selena secara berkala.


Hingga ruangan terbuka, Luna sudah selesai melakukan pemeriksaan.


"Kapan hasilnya keluar, Dok?" Tanya Josh dengan cepat.


"Dua puluh hari dari sekarang." Jawab sang dokter.


"Apa tidak bisa di percepat." Kata Josh yang khawatir Hardi akan melakukan sesuatu.


"Tidak bisa, itu sudah yang paling cepat. Bisa empat puluh hari jika penuntut umum menghendakinya." Jelas dokter.


"Baiklah, dua puluh hari kami akan kembali lagi." Ucap Josh.


Josh dan Luna berjalan melewati koridor rumah sakit, hanya ada keheningan di sana. Hingga Luna mencekal pergelangan tangan Josh membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Josh, bolehkan Mama bertemu Selena?" Luna berkata dengan hati-hati.


"Tentu saja, Ma. Kapan ingin bertemu, akan Josh atur waktunya." Jawab Josh dengan senyum lebut ke arah mertuanya.


Luna menundukkan kepalanya, "Secepatnya." Lirih Luna.


"Baiklah, secepatnya akan Josh ajak Selena keluar. Hari ini dia sedang mengurung diri di dalam kamar setelah pulang memborong dagangan Mama tadi subuh." Jelas Josh dengan pandangan teduhnya.


Luna mengusap air matanya dengan cepat, karena sungguh hatinya sangat merindukan Selena dan menyesal telah menelantarkan putri satu-satunya itu tanpa meninggalkan apapun.


"Ayo, Josh antarkan Mama kembali ke swalayan." Ajak Josh setelah memastikan mertuanya tidak menangis.


Luna menganggukkan kepalanya cepat, keduanya melanjutkan perjalanannya menuju kembali ke swalayan. Bagaimanapun Luna harus bekerja dan Josh harus segera kembali ke apartemen karena khawatir jika Selena melakukan sesuatu yang berbahaya.


Membutuhkan waktu tiga puluh menit hingga kini telah sampai di parkiran swalayan, Luna segera keluar dan di hampiri oleh Kris.


"Luna! Astaga, kamu dari mana saja kamu membuatku khawatir." Ucap Kris dengan wajah cemas.


"Maaf, aku tadi hanya pergi sebentar dengan menantuku." Jawab Luna oelan.


"Menantu?" Kening Kris berkerut dalam bagaimana memiliki menantu jika hanya memiliki satu anak Selena yang sekarang entah kemana keberadaannya.


Pintu mobil sebelah terbuka membuak Kris dan Luna memutar kepala ke arah pria yang kini sudah berdiri tegak memberi salam ke arah Kris, Kris menutup mulutnya kaget karena ada bule di hadapannya.


"Selamat siang, maaf membuat Mama saya terlambat bekerja. Tadi ada urusan sebentar yang tidak dapat di tunda, kenalkan saya Josh suami dari Selena." Ucap Josh dengan lancar dan tenang.


"Hah! Oh astaga, salam kenal. Jika begitu kami masuk dulu, senang berkenalan denganmu Josh saya Kris." Ucap Kris yang langsung menarik Luna.


Luna mengulum senyum karena melihat rekannya tidak percaya dengan keberadaan Josh, "Kamu harus menjelaskannya padaku, Lun." Bisik Kris yang menoleh ke belakang, Josh masih berdiri di posisinya.


"Iya, nanti setelah kerja." Jawab Luna lembut.


"Baiklah, kamu bekerjalah dulu. Aku ikut senang kamu akhirnya bisa bertemu dengan Selena." Kata Kris tulus.


*


*

__ADS_1


*


Di dalam kamar apartemen, Selena hanya tidur meringkuk dengan memegang kedua lututnya. Jika di lihat seperti anak kucing yang tengah kedinginan. Selena memandang lurus dengan pandangan kosong, pikiran dan hatinya berkecamuk dengan hebat saat ini.


Ingin dia berlari memeluk Luna dan menanyakan kenapa dia di tinggalkan begitu saja, tapi ada rasa benci di dalam hatinya karena Luna lari begitu saja saat keadaan keluarganya terpuruk. Ayah meninggal, harta benda habis, bahkan Selena tidak bisa meneruskan pendidikannya, dia pergi jauh karena Kakek Wijaya.


Ketukan pintu terdengar namun Selena enggan untuk membuka pintu kamarnya, dia hanya ingin suasana yang tenang, hanyut dalam pikiran, dan perasaannya sendiri. Josh yang baru saja sampai di partemen masih berusaha mengetuk pintu apartemen.


"Beby!" Seru Josh.


Namun, tidak ada jawaban. Josh menempelkan telinga kirinya ke pintu. Josh menyingkir dan menggerakkan kepalanya saja tanpa bersuara, kedua pengawal yang berada di belakangnya segera mendobrak pintu sebanyak tiga kali.


Selena yang kaget, masih duduk di atas kursi. Pengawal segera pergi dan Josh melangkah masuk ke dalam kamar, "Apa kamu gila!" Sentak Selena kepada Josh.


"Kamu tidak membukakan pintu untukku, sayang. Apa sudah mengatakan kepadamu, jika aku bisa berbuat gila hanya untukmu." Jawab Josh yang kini sudah duduk di sisi ranjang.


Selena hanya menghela nafasnya panjang, dia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Josh menyingkirkan anakan rambut yang menutupi sisi wajah istri cantiknya, "Ayo makan siang." Ajak Josh.


"Aku tidak lapar, Josh." Tolak Selena lembut.


"Kamu belum makan sejak pagi, apa kamu kekenyangan setelah meminum susu." Kata Josh dengan menatap lekat wajah istrinya.


Selena hanya memutar bolanya malas. "Pergilah Josh, tinggalkan aku sendiri." Usir Selena.


"Aku akan membiarkanmu berdiam diri, tapi kita harus makan siang dulu. Jangan sampai kamu sakit beby." Kata Josh yang tidak menerima penolakan.


Selena langsung duduk dengan wajah masam, "Sudah aku bilang, aku tidak la...."


Belum juga Selena menyelesaikan ucapannya, perut Selena sudah lebih dulu berbunyi. Membuat dia sangat malu dan mengutuk ususnya, Josh yang mendengar suara perut istrinya hanya tersenyum simpul.


"Ayo makan, aku membelikanmu sushi." Josh mengendong Selena secara bridal style.


Selena melingkarkan kedua tangannya di leher Josh karena kaget dengan tidakan suaminya, mengigit bibirnya dalam. Ingin rasanya Selena tersneyum selebar mungkin tapi dia tahan, Josh melewatii pintu yang rusak tanpa rasa bersalah.


Menurunkan istrinya dengan hati-hati di kursi makan, Selena berbinar memandangi banyak aneka jenis sushi yang terhidang di atas meja makan. Tanpa sadar, Selena mengambil sumpit untuk mengambil sushi ikan salmon, di cocolkannya dengan saus khusus shusi.


Memasukkan potongan sushi yang cukup besar dengan wajah berbinar bahagia, Josh yang melihat istrinya makan dengan wajah berbinar hanya memangku dagu dengan satu tangan. Selena menghentikan gerakan tangannya yang akan kembali menyuapkan sushi di mulutnya dan menyodorkannya ke arah Josh, dengan senang hati Josh menerima suapan dari istrinya.


*


*


*


"Apa kamu gila tersenyum sendiri?" Tanya Selena dengan menandang curiga.


"Berhentilah menyebutku gila, beby. Atau aku akan...." Josh menjeda ucapannya.


Kecupan singkat mendarat di bibir tipis istrinya membuat wanita itu melebarkan kedua matanya dengan sempurna, "Atau aku akan memakanmu malam ini." Ucap Josh dengan menyentuhkan ujung hidung keduanya.


Selena langsung mendorong dada bidang Josh dengan cepat, jantung Selena seakan meledak mendapatkan perlakuan manis dari Josh sejak mereka kembali satu atap.


"Cepatlah, jangan membuang waktuku." Selena pergi terlebih dahulu melewati Josh.


Josh hanya tersenyum melihat Selena salah tingkah karena perbuatannya, segera dia juga mengikuti langkah istrinya yang sedang mengenakan high hells miliknya.


Selena dan Josh hanya diam selama perjalanan, Josh sibuk dengan ponselnya sedangkan Selena memandangi jalanan yang mereka lalui. Tidak membutuhkan waktu lama keduanya telah sampai di sebuah restoran mewah, Selena mengedarkan pandangannya, "Apa kita akan makan malam romantis?" Tanya Selena dengan menolehkan kepalanya ke arah Josh.


"Ayo, beby."


Josh menggandeng tangan Selena dengan erat, seorang waiters berjalan menghampiri, "Untuk berapa orang tuan?" Tanya waiters tersebut.


"Saya sudah melakukan reservasi atas nama Josh." Jawabnya.


Witers segera mengantarkan keduanya ke ruangan VIP, Selena menaikkan sebelah alisnya karena tidak ada hal manis apapun di atas meja makan. Josh mengajak selena duduk di salah satu kursi "Sayang, aku pergi sebentar ke belakang." Ucapnya.


Selena mengangguk dan Josh melangkah keluar, selama lima menit Selena hanya duduk seorang diri wajahnya sudah masam dengan bibir yang maju beberapa inci hingga merasa orang lain masuk.


"Kau..." Teriakan Selena terhenti melihat wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu.


Luna menatap wajah Selena penuh haru, ingin sekali dia berlari dan memeluk putrinya, meminta pengampunan kepadanya. Selena menatap nyalang wanita yang masih berdiri, dengan kasar Selena berdiri dari duduknya dan ingin berjalan keluar.


"Lena." Panggil Luna lirih dengan memegang pergelangan Selena.


Selena melepaskan dengan kasar, "Jangan panggil aku Lena, hanya orang tuaku yang boleh memanggil itu." Kata Selena dengan tegas.


Luna langsung bersujud di depan Selena, tapi Selena masih bergeming dari tempatnya. Kedua tangannya mengepal dengan kuat menahan segala amarah yang ingin meledak saat ini.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Len. Mama mengaku salah, Mama kabur begitu saja saat Ayah meninggal, Mama berfikir kamu akan hidup makmur dnegan menikahi Kenan."


"Tapi teryata apa yang kamu pikirkan salah."


"Maafkan Mama, Mama menyesal. Mama terlena dengan kesenangan sesaat sehingga menelantarkanmu begitu saja, Mama selalu berdoa kamu bahagia tanpa Mama."


"Tapi ternyata aku tidak pernah bahagia."


"Maafkan Mama."


Luna terisak dengan menunduk dalam, melipak kedua kakinya dengan posisi bersujud. Dia benar-benar tidak ada niatan menelantarkan putrinya begitu saja tanpa berfikir panjang, sedangkan Selena hanya diam tapi air matanya keluar dengan deras membasahi kedua pipinya.


"Kamu jangan pernah lagi muncul di hadapanku, lakukan seperti kamu meninggalkanku tanpa rasa belas kasihan." Ucap Selena dengan tegas dan tajam.


Luna menggeleng kepalanya cepat, "Tidak Lena, maafkan Mama. Mama memohon pengampunanmu." Jawab Luna menangis histeris.


Melihat Josh berjalan mendekat membuat Selena menatap dengan tajam, dia pergi begitu saja tanpa menjawab ucapan Luna. Josh yang akan menghentikan langkah istrinya di tepis dengan kasar, Josh segera berlari menyusul istrinya sedangkan mata-mata menghampiri Luna untuk mengajaknya keluar menyusul Selena.


Selena berlari menyusuri jalanan yang ramai dengan kendaraan, Josh yang baru keluar dari restoran kaget karena mobilnya kosong. "Di mana istriku!" Teriak Josh.


Pengawal yang baru datang dari kamar mandi jelas tidak tahu, membuat Josh mengumpat. "Cepat kita cari dia!" Perintah Josh.


Selena terus berlari dengan sesekali jatuh karena sepatunya yang tinggi, hujan menguyur kota malam itu. Membuat tangis Selena semakin menjadi, dia sangat sakit dan sedih saat ini seakan langit juga merasakan kesedihan yang tengah dia rasakan.


*


*


*


Tiga minggu berlalu.


Selena masih enggan memaafkan Luna, dia lebih suka berdiam diri di dalam kamar. Mendiamkan Josh setelah kejadian malam itu, Josh hanya mampu bersabar hingga Selena menenangkan hatinya. Hari ini adalah hari penangkapan Hardi, Josh ingin mengatakan kepada Selena jika hari ini ayah tirinya akan di ringkus.


"Beby." Panggil Josh.


Josh merebahkan tubuhnya di belakang tubuh Selena, memeluk tubuh Selena dengan erat, merapatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak hanya terpisah pakaian mereka.


"Sayang, hari ini penangkapan ayah tirimu. Apa kamu tidak ingin ikut?" Tanya Josh lagi.


Selena masih diam seribu bahasa, mulutnya terkunci dengan rapat, pandangannya masih lurus ke depan tetapi telinganya mendengarkan tiap ucapan Josh.


Josh bangkit dari tidurnya dan menggendong Selena seperti karung beras, "Apa yang kamu lakukan!" Seru Selena.


"Kita lihat, apa benar kamu belum meaafkan Mama." Ucap Josh.


Pengawal yang melihat Josh keluar dengan melihat cara menggendong Selena merasa kaget, tapi keduanya langsung mengikuti langkah Josh yang akan masuk ke dalam lift. Tidak membutuhkan waktu lama, keempar orang itu sudah sampai di basement apartemen.


Josh langsung menurunkan istrinya dan mendorong masuk ke dalam mobil secara paksa barulah dirinya ikut masuk bersamaan degan kedua pengawal.


"Jalan!" Ucap Josh.


Pengawal segera menekan gas dalam menuju ke tempat Luna, menempuh perjalanan dua puluh lima menit karena jalanan yang cukup macet kini telah sampai. Pemandangan yang mereka lihat adalah Luna di jambak oleh Hardi, menyeret wanita kurus itu ke arah kamar mandi.


Selena yang melihat langsung membuka pintu mobil dengan cepat, "LEPASKAN TANGAN KOTORMU!" Teriak Selena.


Hardi berhenti dan Luna menatap Selena dengan wajah yang sudah babak belur, Hardi berdecih melihat wanita muda yang dia tahu.


"Cih, kau kembali rupanya. Cantik juga kamu." Ucap Hardi mesum.


Selena berjalan mendekat dan melepaskan cekalan tangan Hardi dari rambut Luna, bersamaan dengan itu tiga mobil polisi telah sampai. Membuat Hardi ketakutan dia segera berlari untuk melarikan diri.


Suara tembakan terdengar, Hardi tersungkur dnegan kaki berdarah. Ternyata polisi menembak kaki Kardi untuk melumpukan tersangka, polisi segera berlari ke arah Hardi dan memborgol kedua tangannya di belakang "Ayo ikut kami ke kantor polisi." Ucap salah satu petugas.


Hardi di jatuhi hukuman tiga puluh tahun penjara karena tidak sanggup membayar denda, sedangkan Selena, Josh, dan Luna telah terbang kembali ke Amerika. Selena menerima kehadiran Luna meskipun belum sepenuhnya, meninggalkan setiap kenangan yang menyakitkan di Indonesia.


"Selamat tinggal, terima kasih, dan maaf untuk kalian Kenan dan Alice." Ucap Selena dalam hati.


...🐾🐾...


...TAMAT...


...Terima kasih sudah mengikuti kisah Alice dan Kenan, kisah Selena dan Josh. ...


...Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya....


...Semua alur hanyakan haluan autor semata....

__ADS_1


...Sampai bertemu di novel yang berikutnya πŸŒΉπŸ™...


__ADS_2