Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Terbongkar


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Citra memasuki mansion dengan bibur tersenyum lebar, namun langkahnya terhenti saat para maid terlohat sibuk menyiapkan makan malam yang beda dari biasanya.


"Ada apa ini? Kenapa memasak makanan yang hambar." Ucap Citra marah.


Citra berjalan ke arah meja makan dan mengicipi masakan yang di dominasi dengan sayuran dan daging.


Kalevi yang melihat istrinua pulang langsung berjalan cepat , "Sayang, kita sebentar lagi akan menjadi kakek dan nenek!" Ucap Kalevi bahagia.


Deg.


Citra melebarkan kedua matanya, "Jangan bercanda! Tidak mungkin wanita itu hamil apa Kenan memiliki wanita lain?" Ucap Citra yang melepaskan pelukan sang suami.


"Tentu saja tidak, kita hanya meiliki menantu Alice. Tentu hanya Alice yang hamil." Jawab Kalevi dengan wajah serius.


"Ayah, mereka baru menikah seminggu ini bagaimana bisa wanita itu cepat hamil. Oh jangan-jangan benar dugaanku, jika dia wanita mura*han!" Seru Citra kepada Kalevi.


Citra segera berjalan naik ke lantai dua menuju kamar Kenan, dia begitu marah dan semakin membeni Alice. Benar dugaannya dia tidak lebih dari ja*lang.


Cklek


Pintu terbuka dengan kasar, Kenan yang baru saja berdiri dari duduknya menoleh ke belakang terlihat Citra berjalan mendekat dengan wajah penuh amarah.


Citra menatap tubuh Alice yang tertidur dengan nyenyak seperti seorang putri tidur di matanya, seakan wajah pucat dan infus yang terpasang di punggung tangan Alice tidak terlihat.


"Hey! Bangun kamu!" Citra langsung menggoyangkan tubuh Alice yang lemah dengan kasar


"Mama!" Ken menyentak kedua tangan Citra dengan kasar karena datang dengan tiba-tiba.


Alice yang mendapatkan perlakuan kasar dari Cinta seketika membuka mata sayunya.


"Kamu berbuat kasar kepada Mama karena wanita mura*han itu, Ken." Ucap Citra dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Kenan mencengkam rambutnya frustasi, "Mama kenapa datang dengan marah-marah. Alice sedang sakit Ma." Jawab Ken mencoba menenangkan Citra.


"Bohong! Dia sedang hamil Ken! Dia wanita mura*han dan hamil dengan pria lain." Seru Citra menuding ke arah Alice yang tengah berusaha duduk.


Baik Alice maupun Kenan tersentak kaget, keduanya saling menatap. Alice menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak mungkin Ma, Alice masih suci." Ucap Alice kepada Citra.


"Diam kamu! Mana ada penjahat megakui perbuatannya, sejak awal aku memang sudah tidak suka denganmu! Kamu tidak hanya benalu, lintah, namun juga wanita mura*han!" Teriak Citra yang menggelegar di kamar Ken.


Bibir Alice bergetar, air matanya sudah tidak dapat di bendung lagi.


"Terserah Alice di tuduh oleh Mama sebagai benalu atau lintah yang seperti Mama katakan, namun Alice bukan wanita mura*han! Alice masih memiliki harga diri, kedua orang tua Alice masih mampu menghidupi Alice!" Ucap Alice penuh penekanan dengan kedua mata yang memerah menatam tajam ke arah Citra.


"Dengar Kenan, dia mengakuinya sendiri. Usir wanita itu sekarang juga!" Tunjuk Citra kepada Alice.


"CUKUP!"


Kalevi berteriak setelah mendengarkan kalimat dan sumpah serapah yang keluar dari bibir Citra sang istri tercinta.


"Aku juga tidak sudi mengandung cucu untukmu." Ucap Alice dingin namun di iringi air mata.


Kenan merasakan perasaan yang membuat dadanya sesak setelah mendengar ucapan Alice yang tidak ingin mengandung benih darinya.


"Aku juga tidak sudi menyentuhmu." Ucap Kenan dengan kedua tangan mengepal.


"Jika Alice pingsan bukan karena hamil lalu apa, hah! Mama ingat duku ketika hamil Kenan, Mama pingsan dan ternyata dinyatakan hamil oleh dokter. Lalu jika Alice pingsan bukan karena hamil, lalu apa?!" Ucap Kalevi dengan kesal.


"Karena putra dan istri anda yang tercinta ini membuat saya di kurung didalam gudang bahkan dengan teganya mereka tidak membiarkan seorangpun mengantarkan makanan ke gudang." Ucap Alice dengan menyorot tajam keduanya.


"Apa." Lirih Kalevi.


Bug!

__ADS_1


Kalevi langsung menghajar Kenan dengan keras hingga Ken terhuyung beberapa langkah ke belakang.


"Ayah! Apa yang kamu lakukan kepada Kenan." Seru Citra yang berjalan ke arah Ken.


"Apa kalian bukan manusia, hah! Bagimana bisa kalian mengurung Alice di dalam gudang bahkan tidak memberikannya makan! Sejak kapan kalian menguncinya, jawab!"


Kalevi berteriak dengan wajah yang memerah bahkan urat-urat di lehernya terlihat menonjol. Citra yang sudah lama tidak pernah melihat Kalevi marah menjadi menciut dan bergetar tubuhnya.


"Oh, jadi saat aku menanyakan keberadaan Alice saat itu dia sudah kalian kunci di gudang." Lanjut Kalevi dengan sorot mata tajam.


"Alice ceritakan kepada Ayah, kenapa kamu sampai di kurung didalam gudang." Perintah Kalevi kepada Alice namun tatapannya tidak lepas dari anak da ibu yang ada di depannya.


Alice menceritakan bagaimana awal mula dirinya di hina oleh maid, bahkan saat Alice membela dirinya sendiri. Bagaimana Alice di tampar oleh Citra dan bagaimana Kenan menyeretnya ke dalam gudang tanpa menanyakan kronologisnya.


"Apa Alice salah memperjuangkan harga diri Alice, tidak masalah Alice tidak di anggap menantu di keluarga ini bahkan istri seorang Kenan namun Alice tidak akan tinggal diam jika orang lain yang tidak memiliki andil dalam kehidupan dan keluarga Alice ikut menindas Alice."


Alice berkata dengan membuang muka ke sembarang arah, bahkan terlihat dirinya menangis dengan menyeka air matanya dengan kasar.


"Kalian dengar! Sungguh kalian manusia biadap, inilah hasil didikanmu Ma selalu memanjakan Kenan hingga menjadi pria yang aroogant dan tidak punya hati, mulai detik ini semua fasilitas Mama akan Ayah cabut, dan kamu Kenan. Selama Alice belum sembuh dan mendapatkan maaf darinya jangan bermimpi untuk menjadi pewaris keluarga Wijaya."


Kalevi berkata dengan tegas tanpa bantahan dan langsung berlalu pergi dari dalam kamar Kenan dengan membawa sejuta amaraj yang ada di dalam dadanya.


Citra kaget dengam ultimatum sang suami, inilah yang ditakutkan oleh Citra. "Ayah! Tunggu."


Citra langsung berlari meninggalkan kamar Kenan menyusul sang suami, meskipun Citra memiliki saham namun keuangan yang memegang adalah Kalevi.


Kenan menatap Alice dengan tajam, dengan kedua tangan mengepal dengan erat. Bukan marah tentang harta warisan keluarga Wijaya namun marah atau kesal yang dia rasakan mengingat ucaoan Alice yang tidak ingin mengandung anaknya.


Brak!


Ken menutup pintu kamar mandi dengan kencang hungga kedua pundak Alice naik karena kaget, Alice menatap tutup pintu kamar mandi dengan pandangan sendunya.


...🐾🐾...

__ADS_1



__ADS_2