Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Penggoda (1)


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mourin terlihat tengah berputar di depan cermin panjang yang berada di dalam kamarnya, hingga suara ketukan pintu membuat dirinya menghentikan aktivitas tersebut.


"Mourin." Panggil Mira yang sudah membuka pintu kamar Mourin.


"Iya, Ma. Mourin sudah siap." Ucap Mourin dengan wajah riang dan segera mengambil tas jinjingnya.


"Cantik sekali anak Mama." Puji Mira pada Mourin.


"Tentu saja, pasti Kenan jatuh hati dengan Mourin." Jawab Mourin dengan mengibaskan rambut gelombangnya.


"Tentu, ayo kita berangkat." Ajak Mira.


Mourin dan Mira menuruni anak tangga dengan senyum bahagia, karena hari ini mereka akan membuat Kenan Wijayakusuma jatuh dalam pesona Mourin.


Mira dan Mourin berangkat ke lokasi, berbeda dengan Citra yang tengah kesal menunggu Kenan bersiap-siap. Terlihat jika Citra mengigit kuku ibu jarinya dengan cemas.


"Kenapa Ken lama sekali." Gumam Citra pelan.


Citra membuang nafanya kasar dan segera menaiki kembali anak tangga untuk memanggil Kenan, "Ken...."


Pintu kamar Ken terbuka, terlihat  Ken mengenakan baju santai tidak berdandan seakan dirinya akan berkencan. Mengenakan celana pendek dan kaos berlengan pendek dengan bentuk leher V.


Citra menatap dari atas ke bawah penampilan Kenan, "Ken, kamu ini akan berkencan bukan tamasya." Ucap Citra.


"Sudahlah Ma, mau berangat atau tidak." Jawab Ken yang menantang Ibunya.


"Cepat ganti Ken, Mama tidak akan bergerak sedikitpun dari kamarmu." Tegas Citra.


"Yasudah, Mama  berdiri saja terus. Ken akan ke perusahaan jika begitu." Kata Ken yang berjalan melewati Citra begitu saja.


Citra sedikit tercengang dengan sifat Ken, bahkan menolehkan kepalanya metapa punggng Ken yang mulai tidak terlihat karena sudah turun ke lantai satu.


"Tidak mungkin Ken sudah jatuh cinta dengan Alice, tidak bisa! Ken harus bersanding dengan wanita baik-baik." Ucap Citra dalam hati.


Citra bergegas turun dan mengejar Kenan yang sedang menuju mobil, "Kenan! tunnggu Mama." Seru Citra.


Ken menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang, dimana Citra berlari dengan membawa tas juga sepatu hak tinggi di kedua tangannya.


Ken terlihat acuh dan kembali melanjutkan langkahnya, segera Citra masuk ke dalam mobil di bangku depan. Tanpa berkata apapun Ken menjalankan mobilnya menuju lokasi meski Ken tidak tahu di mana lokasinya.


"Ken, maafkan Mama." Ucap Citra dengan nafas terputus-putus.

__ADS_1


"Jika begitu batalkan pertemuan ini." Jawab Ken tanpa melihat ke arah Citra.


"Tidak bisa Ken, kamu ingat. Mama hanya ingin kamu mencobanya terlebih dahulu jika memang tidak cocok Mama tidak akan memaksamu lagi." Jelas Cirtra pada Kenan.


Ken hanya diam dan fokus menyetir, Citra yang paham watak sang putra tetap keras kepala. Citra memasukkan alamat ke dalam map yang ada di dalam mobil.


"Kita berangkat dulu." Ucap Citra lagi.


*


*


*


Mira melambaikan tangan kanannya begitu melihat Citra dan Ken sudah masuk.


"Jeng!" Seru Mira.


Citra menoleh ke arah sumber suara, segera Citra menggandeng tangan Ken denagn cepat dan menyeretnya agar berjalan mengikuti langkah Citra.


"Maaf menunggu lama, Jeng." Ucap Citra kepada Mira


"Tidak, kami juga baru saja sampai." Jawab Mira berbohong,


"Halo Mourin, kamu sanat cantik hari ini." Ucap Citra memeluk Mourin.


"Terima kasih Tante, Tante juga sangat cantik." Jawab Mourin.


Mira tersenyum melihat Citra ramah kepada Mourin, "Kenan, apa kabar? Lama tidak berjumpa." Ucap Mira kepada Kenan.


"Baik tante." Jawab Ken singkat.


"Ah, maafkan Ken ya Mira dan Mourin. Kenan baru saja sembuh karena beberapa hari kemarin sempat sakit." Ucap Citra dengan tersenyum menjelaskan.


"Ken kamu sakit? Kenapa tidak memberi kabar kepadaku?" Tanya Mourin mulai memainkan drama.


"Apa kamu beralih profesi menjadi dokter?" Tanya Ken dengan wajah datar.


"Bu-bukan begitu." Mourin terlihat mati kutu dengan ucapan Ken yang tajam.


"Ah, mungkin Mourin bisa menjengukmu Ken jika tahu kalau kamu sedang sakit." Timpal Mira kepada Kenan.


Ken hanya acuh saja seolah enggan menjawab kedua wanita penjilat tersebut.

__ADS_1


"Sudah, kita di sini bukan untuk berdebat. Ken sudah sembuh itu cukup bagiku." Ucap Citra menengahi.


Semuanya nampak berbincang dengan riang kecuali Kenan yang sudah jengah di antara tiga wanita tersebut, hingga waktu menunjukkan waktu makan siang.


"Ken ajak Mourin makan siang, Mama dan Tante Mira ingin pergi berkumpul dengan ibu-ibu sosialita lainnya." Ucap Citra kepada Ken.


"Kenapa dia tidak ikut saja." Ucap Ken dengan menunjuk ke arah Mourin memggunakan dagunya.


"Ken, ini pertemuan ibu-ibu. Mourin tidak akan paham pembahasan kami benarkan Jeng Mira." Ucap Citra.


"Benar Jeng." Jawab Mira mendukung Citra.


Ken hanya mendengus kesal dan segera berdiri dari duduknya, berjalan meninggakan ketiga wanita tersebut.


"Cepat ikuti Kenan." Ucap Citra kepada Mourin.


Mourin tersenyum lebar, "Terima kasih Tante." Ucap Mourin yang langsung berdiri dan mengikuti langkah Kenan dengan cepat.


Tidak ada agedan membukakan pintu untuk Morin, Ken masuk begitu saja tanpa berkata apapun. Mourin dengan wajah kesal membuka pintu untuk dirinya sendiri.


Ken segera melajukan mobilnya, Mourin mulai beraksi kembali.


"Ken kita makan di restoran Prancis saja, aku sudah lama tidak makan masakan Prancis." Ucap Mourin dengan suara mendayu setengah mende*sah.


Ken bukannya terangsang justru bergidik ngeri, "Bisakah kamu menjauh sedikit, ingat aku sudah memiliki istri." Jawab Ken dengan tegas.


Mourin mendengus saja, namun dirinya tidak hilang akal. Kaki kanan Mourin yang memiliki belahan cukup tinggi di naikkan ke kaki satunya hingga memperlihatkan paha mulus dan putihnya kepada Kenan.


Ken hanya melirik saja namun segera beralih ke depan unti fokus menyetir, "Milik Alice lebih menggoda." Gumam Ken dengan membayangkan tubuh sang istri.


"Si*al aku hanya membayangkannya kenapa anakonda bangun." Umpat Ken dalam hati.


Sedangkan Mourin yang melihat wajah gelisah Kenan tersenyum penuh kemenangan, di lihatnya sesuatu menonjol di balik celanan Kenan.


"Mudah sekali, sudah pasti tidak ada pria yang dapat menolak pesona tubuhku ini." Kata Mourin dalam hati.


Tanpa berkata apapun kepada Mourin, Ken membelokkan mobilnya menuju retoran biasa yang cukup terkenal dengan steiknya. Tanpa Ken sadari, ada seseorang yang melihatnya.


Dia adalah Alice, Alice melihat Mourin yang keluar dari mobil sang suami. Dengan sekuat hati Alice mengajak Bara untuk makan siang di restoran tersebut.


"Ayo kita makan siang di sana, Tuan." Ucap Alice dengan menatap wajah Bara serius.


Bara tersenyum dengan melengkung sempurna, "Dengan senang hati."

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2