
Happy Reading 🌹🌹
Jundi dan Alice mnegikuti langkah Bara yang sudah lebih dulu masuk ke dalam taman bermain, dengan menyerahkan lembaran tiket keduanya mendapatkan cap di tangan dan juga gelang kertas.
"Kamu ingin naik apa?" Tanya Jundi yang memang sudah akrab dengan Alice sebelum mengetahui jika wanita di sampingnya istri dari Kenan.
Alice menggelengkan kepalanya serta tersenyum, "Tidak, aku hanya ingin beli ice cream saja." Jawab Alice jujur.
Jundi hembembuskan nafasnya frustasi, sedangkan Alice terkekeh pelan. Bara yang melihat keduanya mendengus kelas, "Cepatlah!" Teriaknya.
Alice berlari ke raha Bara dengan menggandeng lengan Jundi, membuat Jundi seperti masuk ke dalam kandang buaya karena mendapatkan tatapan tajam dari Bara.
Ya, Jundi belum mengetahui jika Bara sudah menyerah untuk merebut Alice dari sisi Kenan. Mengingat jika wanita itu sedang hamil dan juga masalah rumah tangga yang di hadirkan oleh orang terdekat mereka.
"Aku ingin ice cream." Ucap Alice seperti anak kecil kepada ayahnya.
"Baiklah." Jawab Bara.
"Kalian duduk saja, aku akan membelikannya." Jundi melepas rangkulan Alice dan berlari menuju stan penjual ice cream.
Alice berjalan ke arah kursi yang sudah di sediakan oleh pengelola taman bermain, di bawah pohon sakura sintetis keduanya duduk diam dengan pikiran masing-masing.
"Aku dengar kamu hamil, selamat Alice." Bara membuka pembicaraan.
Alice tersenyum tipis, "Hehe, benar. Terima kasih." Jawab Alice.
Suasana kembali canggung, kejadian terakir membuat Alice kembali membangun jarak kepada Bara.
"Alice ... Bara."
Keduanya secara bersamaan memanggil, "Kamu dulu saja." Kata Alice pelan.
"Em, aku minta maaf untuk kejadin terkir kali. Aku ... aku sudah memutuskan untuk mengubur perasaan cintaku kepadamu. Aku akan membantumu agar tetap bersama Kenan." Bara berkata dengan pelan namun tegas.
Alice tersenyum getir, "Tidak ada yang bisa kami pertahankan dari rumah tangga, Kenan sudah bersatu dengan wanita yang dia cinta dan aku juga berterima kasih kepadamu Bara. Karena kamu sudah mengajakku pergi keluar dan menjadi tempat bersandar kala aku bersedih. Aku berdoa agar kamu mendapatkan wanita yang sangat besar cintanya kepadamu dan kalian hidup bahagia." Alice berkata panjang lebar dengan perasaan yang tulus saat mendoakan Bara.
__ADS_1
"Terima kasih, aku rasa aku akan kembali ke Eropa." Kata Bara yang tersenyum tipis ke arah Alice.
Alice menundukkan kepalanya merasa tidak enak hari dengan Bara, apa karena dirinya membuat Bara meninggalkan Indonesia.
"Maaf." Satu kata yang hanya dapat keluar dari bibir Alice.
"Hey! Kenapa denganmu Alice, aku pergi bukan karenamu ya. Kamu jangan terlalu besar kepala, karena perusahaanku yang berada di Eropa memiliki banyak proyek yang tertunda." Ucap Bara dengan mengacak rambut Alice pelan sembari tertawa.
Alice menyeka air mata yang sudah membasahi kedua matanya, "Benarkah bukan karena aku?" Tanya Alice yang sudah hampir meledakkan tangisnya seperti anak kecil.
"Oh my god! tentu tidak Alice, tenanglah jangan menangis." Jawab Bara yang mulai panik.
"Benarkah?" Alice menangis hingga menjadi busat perhatian.
Bara segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Alice. Membawa wanita itu dalam pelukannya, "Tenanglah jangan menangis." Bara membujuk Alice agar tenang.
Bukannya semakin tenang, justru membuat Alice semakin menangis. "Maafkan aku...hiks." ucap Alice dalam tangisannya.
Jundi yang melihatnya segera berlari dengan tiga ice cream di tangannya, "Why? why? why?" Jundi berkata dengan cepat dan bingung.
Baik Bara dan Alice tidak ada yang menanggapi Jundi, "Tenanglah Alice, aku tidak akan pergi sampai kamu melahirkan." Bara berkata dengan frustasi karena tidak dapat menenangkan wanita menangis.
"Benar, sudahi tangismu." Kata Bara yang tidak sabar karena mendapatkan pandangan sinis dari banyak orang.
Alice menjauhkan tubuhnya dari Bara dan tersenyum cerah ke arah Jundi, "Mana ice cream ku." Pinta Alice.
Jundi memberikan dua ice cream sehingga memenuhi dua tangan Alice, Alice nampak asik dengan dunianya sendiri tanpa menghiraukan dua pria yang tengah tercengang dengan tingkah laku absurd Alice.
"Ini untukmu." Jundi menyerahkan satu ice cream lagi ke arah Bara.
"Sepertinya aku harus minum minuman yang dingin."
Bara berjalan meninggalkan Jundi dan Alice, Bara sedikit takut berdekatan dengan Alice. Sedangkan Jundi menyodorkan satu ice cream di depan Alice, Alice menggelengkan kepalanya menandakan jika tidak mau.
Dengan menbuka mulut lebar, Jundi memakan ice cream rasa vanilla itu hampir setengahnya sendiri. Entah kenapa dalam hati Jundi merasa kesal hingga ingin membenturkan kepalanya di tembok.
__ADS_1
Bara yang berjalan untuk kembali menuju Alice dan Jundi, di kagetkan karena wanita yang berlari ke arahnya hingga mebuat keduanya terjatuh.
Bruk!
Bara terjatuh dengan posisi wanita di atasnya, "Apa matamu buta, hah!" Sentak Bara dengan kasar.
"Tolong aku." Ucap wanita itu dengan menatap ke arah belakang.
Nampak beberapa pria dengan mengenakan jas hitam rapi, Bara yang melihat empat pria tengah mencari-cari seseorang sudah di pastikan jika wanita di depannya ini adalah targetnya.
"Hey! Dia di sini." Teriak Bara yang sudah berdiri sejak mendorong wanita dari atasnya.
Empat orang tersebut berlari ke arah bara, membuat wanita yang meminta tolong kepada Bara membelalakkan kedua matanya dengan sempurna. Dengan kasar, wanita itu menginjak kaki Bara menggunakan sepatu ketsnya.
Membuat Bara mengaduh kesakitan, tanpa basa basi wanita itu menangkup wajah tampan Bara mencium bibir tipis Bara tanpa permisi. Membuat empat orang tersebut terpaku di tempatnya, salah seorang dari mereka memfoto kejadian tersebut untuk di laporkan kepada majikan mereka.
Bara membulatkkan matanya sempurna, bahkan tangannya terangkat ke atas menandakan jika dia tidak melakukan pelecehan di tempat umum. Jundi yang melihatnya dari kejauhan sampai menjatuhkan sisa ice cream miliknya.
"Oh my god! ini seperti di novel-novel, wanita itu sangat keren!" Alice tiba-tiba berkata dengan penuh antusias pemandangan di depannya.
"Apa yang kamu lakukan!" Bara mendorong tubuh wanita gila di depannya.
Wanita itu tersenyum penuh arti, "Kamu milikku." Ucapnya.
Wanita itu memutar tubuhnya hingga menghadap empat pria bertubuh kekar dan berbalut jas mahal, dengan sembarangan wanita itu merangkul lengan Bara dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Bara.
"Kalian pergilah, aku akan berkencan dengan kekasihku. Benarkan sayang?" Ucapnya dengan menoleh ke arah Bara memberikan wink.
Bara semakin melotot menatap wanita gila yang dia temunya hari ini, "Dasar wanita gila." Desis Bara dengan melepaskan rangkulan wanita asing itu.
"Nona."
"Stt ... kalian pergilah aku hanya ingin berkencan, kalian dapat mengawasiku dari jauh jika mau. Awas jika sampai merusak acara kencanku." Ancam wanita itu kepada ke empat pengawalnya.
"Baik, Nona Stevani." Ucap mereka serentak.
__ADS_1
...🐾🐾...