Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Selena dan Josh : Awal mula masalah


__ADS_3

Happy Reading


Keduanya hanyut dalam kesedihan dan penyesalan, Josh merasa hembusan nafas yang teratur ternyata istrinya tertidur dalam pelukannya. Seulas senyum munsul di wajah tampan pria blasteran tersebut mengelus pelan pipi yang nampak berisi karena efek kehamilan kemarin.


Dengan hati-hati Josh menggendong Selena dengan cara bridal style, berjalan pelan menuju kasur berukurang king size. Merebahkan pelan tubuh Selena, menaruh kepala wanita yang dia cintai dengan hati-hati di atas bantal. Josh menggeram karena pakaian Selena bagian atas menampakkan bukit yang berisi ituu.


"Jangan sampai kamu menyakitinya lagi, Josh." Josh berkata pada dirinya sendiri.


Setelah mengancingkan bagian atas pakaian sang istri, Josh menyelimutinya dan berjalan ke arah kamar mandi. Menuntaskan sesuatu yang sejak bertemu sang istri ingin di keluarkan, semenjak Selena melarikan diri. Dia hanya melakukannya di dalam kamar mandi dengan sabun, tidak pernah terbesit di dalam pikiran Josh untuk mengicipi tubuh wanita lain setelah menikahi Selena.


Cukup lama Josh berada di dalam kamar mandi, hingga suara geraman yang cukup tinggi terdengar. Dengan nafas terengah-engah dan keringat yang membasahi tubuhnya Joshbersandar di dinding kamar mandi. Melihat ke arah bawah yang mulai nampak layu dan menciut.


Menggurar rambutnya ke belakang dengan menghena nafas panjang, "Sabarlah, istriku sedang merajuk dan jangan berbuat kasar lagi. Ingat, karena kamu aku harus mendapatkan kebencian dari Selena." Omel Josh pada benda pamungkasnya.


Pintu kamar mandi terbuka perlahan, pandangan Josh jatuh pada wanita yang masih tenang di dalam tidurnya hanya saja posisi yang semula terlentang kini menjadi miring. Josh menanggalkan pakaiannya dan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Menarik pelan kepala wanita agar tidur di lengannya, Josh juga memiringkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan sang istri. Merapikan rambut yang menutupi wajah cantik Selena dengan lembut, mengelus mata yang bengkak karena menangis, masih tersisa jejak air mata di sudut mata sang istri.


Mengecup sudut mata yang basah dengan perasaan bersalah yang kembali menggerogoti hatinya, menatap sejenak wajah yang terlelap dengan tenang. Merapatkan tubuh keduanya dan ikut memejamkan kedua matanya menyusul sang istri ke dalam mimpi.


*


*


*


Ksibukan di luar apartemen terus berlanjut hingga matahari kembali ke tempat peraduannya, menyisakan langit yang mulai gelap dan beberapa toko mulai tutup. Para pekerja yang mulai memenuhi jalanan untuk pulang beristirahan dan para pekerjja yang memulai aktivitas di malam hari.


Lampu-lampu nampak mulai menyala satu persatu, menghiasi bangunan dan jalan raya yang masih terlihat aktivitas. Suhu udara yang panas kini mulai turun dan berganti dengan hawa dingin, meski tidak sedingin di pegunungan tapi mampu membuat para pekerja maupun pejalan kaki mengenakan jaket untuk menghangatkan tubuh mereka.


Di dalam kamar, Selena dan Josh masih terlelap dalam tidurnya. Hingga suara ponsel berbunyi membuat wanita yang berada di dalam dekapan Josh mulai menyerengitkan dahinya. Merasakan perut dan kakinya berat membuat wanita yang nampak masih enggan untuk tidur haru membuka kedua matanya.


Kedua kelopak mata wanita yang akan memasuki usia tiag puluh tahun itu terbuka perlahan dan sempurna, pandangannya langsung bersibobrok dengan wajah tampan pria yang menurut Selena membawanya ke dalam kesengsaraan.


Sejenak Selena menatap wajah pria yang pernah dia cintai, meskipun tahu jika pria itu berbohong dia tetap menerimanya dnegan senang hati. Sebuah kesalahan yang membuat Selena menjadi dingin dan terus memberontak kepada pria yang masih tertidur dengan damai itu.


Pandangan yang semula hangat berubah menjadi dingin, jika ingin membunuh Josh. Selena memiliki banyak kesempatan tapi dia tidak melakukannya. Jika dia membunuh Josh, tidak ada bedanya dirinya dengan pria tersebut yang sudah membunuh janinĀ  yang tidak berdosa.


Mendengar bunyi ponsel singkat, membuat Selena menyingkirkan tangan dan kaki Josh yang memeluknya seperti bantal. Dengan wajah yang napak tidak bersahabat, dengan perasaan dongkol jemari wanita itu mencubit paha Josh dengan kencang.


"Aw!" Josh langsung terbangun dengan sempurna akibat perbuatan sang istri.

__ADS_1


Mengusap dengan cepat paha yang terasa panas akibat cubitan sang istri dean meringis karena benar-benar rasanya ingin mengumpat, Selena hanya mendelik kesal menatap Josh dan langsung bangkit dari tidurnya.


"Mau kemana, beb?" Tanya Josh yang ikut bangkit mengikuti Selena dari belakang.


"Bukan urusanmu." Jawab Selena acuh.


Josh tahu jika sang istri sudah bangun karena merasa dirinya di perbatikan, apalagi mendapati Selena yang berusaha mengangkat tangan dan menyingkirkan kakinya yang membelit tubuh kecil sang istri. Niat Josh hanya ingin menggoda dengan semakin mengeratkan pelukannya tapi justru mendapatkan cubitan yang sangat menyakitkan.


Josh mengikuti Selena sampai dapur, dia mendudukan dirinya di salah satu kursi di meja makan. Memandang seksama wanita dengan rambut tergerai yang tengah mengambil air putih dari dalam lemari pendingin itu.


Setiap gerakan wanita yang mengisi penuh hatinya, tidak lepas dari kedua netra berwarna kebiruan itu. Melihat wanita itu meneguk hingga tandas air putih membuat kerongkongan Josh tiba-tiba terasa kering.


"Bisa ambilkan aku air, kaki ku sakit karena kamu cubit." Cicit Josh pelan.


Selena tidak menjawab apapun, hanya diam dengan menuangkan air dalam gelas lagi. Josh berfikir jika Selena enggan untuk melayaninya lagi dalam artian bukan di atas ranjang, hembusan nafas panjang terdengar hingga di gantikan dengan suara gelas yang cukup keras.


Tak!


Gesehan gelas yang baru di taruh oleh Selena di atas meja kaca berwarna hitam itu membuyarkan pikiran Josh, tanpa mengatakan apapun Selena berjalan menuju kamar mandi yang berada di luar. Josh yang mendapati Selena mulai berubah seperti dulu lagi mengulum senyumnya.


Memandangi dengan seksama gelas putih yang berisi air dingin itu, namun sekeras apapun Josh membendung senyum bahagianya tidak bisa. Josh tersenyum senang hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya dan dengan penuh perasaan dan hati-hati. Dia mulai meminum air putih dingin itu.


Josh sangat ingat bagaimana wajah bahagia Selena saat berkata ingin memiliki anak darinya, meskipun Josh selalu bersikap kasar dan di luar kendali saat melakukan hubungan badan tapi Selena dengan senang hati melayaninya, semua berubah saat Josh gelap mata.


Saat itu, Josh yang pergi bekerja seperti biasanya setelah memakan sarapan yang di masakan Selena. Meskipun Selena memang tidak pandai dalam memasak tapi Josh tetap memakannya, Selena sendiri juga belajar agar menjadi seorang istri yang sempurna termasuk mengandung seorang anak.


"Beb, aku pergi bekerja dulu. Di rumah saja jangan ke manapun." Ucap Josh tegas.


"Hem, hati-hati di jalan." Jawab Selena dengan tersenyum.


Saat itu di bulan November, di mana bulan pertama salju turun di Negara Amerika. Selena menatap pintu apartemen yang tertutup dan berjalan di jendela, menunggu mobil Josh benar-benar pergi meninggalkan apartemen yang mereka tempati.


Hari itu, Selena keluar sebentar ke sebuah apotik, mengenakan mantel tebal dan juga sapu tangan. Mengenakan sepatu bot agar tubuhnya tetap hangat. Dengan wajah gembira dan langkahnya yang riang, Selena berjalan keluar dari unit apartemen menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai satu.


Berjalan dengan jarak 500 meter dari apartemennya menuju apotik, sesekali Selena menegur tetangga dan penjual yang dia kenal. Selena terkenal wanita yang ramah di kalangan para tetangga, memanglah Selena terkadang matre untuk membeli barang branded karena bagaimanapun Selena belum pernah hidup susah semenjak kematian Ayahnya.


Melewati jalanan dengan beberapa genangan air yang di ciptakan dari salju mencair, menghembuskan nafas melalui mulutnya hingga nampak seperti kepulan asap. Dirinya terkekeh pelan dan mengelus perutnya, dirinya berharap apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan.


Sudah satu minggu Selena telat datang bulan, membuat wanta itu kegirangan sendiri. Berharap jika dirinya hamil anak dari Josh dan akan menemani hari-harinya di apartemen saat Josh pergi bekerja.


Selena tahu jika Josh berbohong jika dirinya orang kaya, tapi Selena pura-pura tidak tahu selama Josh memberinya uang dan mampu membelikan apa yang dia mau. Dia akan tetap diam seribu bahasa, dia juga belajar agar tidak boros untuk membeli barang branded.

__ADS_1


Kini Selen telah sampai di sebuah bangunan apotik yang klasik, membuka intu apotik sehingga membunyikan lonceng yang berada di atas berbunyi. Pegawai apotik segera mengangkat pandangannya saat mencatat sesuatu di dalam buku.


"Selamat datang." Ucap apoteker yang menjaga apotik.


"Pagi, aku ingin membeli tes kehamilan." Jawab Selena dengan wajah bahagia.


"Berapa?" Tanya apoteker.


"Lima." Jawab Selena dengan menunjukkan telapak tangannya.


"Wah, kamu begitu semangat dan bahagia ya. Tunggu sebentar." Kata apoteker yang berjalan ke rak belakang.


Selena terus tersenyum lebar karena jantungnya merasa seperti genderang perang, hingga petugas kembali di hadapannya dan menyerahkan tujuh alat tes kehamilan.


"Aku hanya membeli lima." Ucap Selena dengan menyingkirkan dua alat tes kehamilan.


"Bonus untukmu, semoga kamu benar hamil dan aku akan memberikan vitamin kehamilan untukmu juga. Kamu istrinya Josh bukan?" Jawab apoteker itu dengan tersneyum lembut ke arah Selena.


Selena mengangguk, "Benar." Ucap Selena.


"Josh pria yang baik, kamu sangat beruntung memiliki suami sepertinya. Semoga Tuhan selalu memberkati pernikahan kalian." Kata apoteker dengan memasukkan tes kehamilan dan juga satu tablet vitamin.


"Berapa aku harus membayar semua ini?" Tanya Selena menerima belanjaannya.


"$10 saja." Jawab apoteker


Sejenak Selena terdiam karena begitu murah, segera Selena merogoh kantung mantelnya dan memberinya $15 "Aku tidak bisa membalas kebaikanmu, terima kasih untuk vitaminnya." Kata Selena yang di angguki oleh apoteker.


"Terima kasih, hati-hati di jalan." Ucap apoteker yang melihat Selena bersiap pulang.


Selena mengangguk dan mulai meninggalkan bangunan kecil itu, kembali berjalan pulang menuju arah apartemennya. Kembali melewati jalanan yang kini mulai di tutupi salju tipis.


Sekembalinya dia, segera melepaskan mantel dan menaruhnya di gantungan pakaian samping pintu masuk. Berganti pakaian rumah karena pakaiannya terasa dingin akibat suaca di luar.


Dengan tidak sabar, Selena masuk ke dalam kamar mandi membaca seksama tulisan yang ada. Tertera jika alat lebih baik di gunakan saat subuh tapi dia tidak sabar. Lagipula banyak alat tes kehamilan membuatnya tidak sabar.


Segera Selena menampung urin di dalam wadah yang biasanya untuk air berkumur saat siikat gigi, dengan perasaan cemas dia menunggu hasilnya. Tapi besar harapannya jika benar dia hamil.


Hingga wajah yang semua cemas berubah menjadi bahagia, dia menjerit dengan berjingkrak jingkrak karena bahagia. Perasaan haru menjalar di dalam hatinya, "Aku hamil." lirihnya yang meneteskan air mata.


"Aku akan mencobanya subuh nanti, ah. Aku tidak sabar memberitahukan kepada Josh, dia pasti sangat bahagia karena perbuatannya membuahkan hasil." Ucap Selena dengan riang dan menyimpan kembali hasil tes ke dalam sebuah lemari begitu juga cangkir yang dia gunakan untuk menampung urin.

__ADS_1


__ADS_2