
Happy Reading 🌹🌹
Mobil sedan melaju kencang menuju rumah sakit, setelah bercocok taman dengan Alice. Kenan mengantarkan sang istri kembali ke mansion mereka terlebih dahulu, meski hanya ada kehebingan selama perjalanan.
Kenan tidak ambil pusing, saat ini yang jelas Ken segera memastikan ucapan Selena. Apakah benar Selena hamil anaknya atau hanya bualan belaka.
Di sisi lain, Ferdy tengan menunggu Dokter Ana yang tengah membantu persalinan untuk segera memeriksa Selena.
Ferdy dengan setia menunggu Dokter Ana dengan duduk di kursi depan ruangan, sedangkan Selena beberapa kali mengintip di luar dengan perasaan gelisah.
"Si*al, ini rumah sakit milik Kakek Wijaya bagaimana jika aku ketahuan." Gumam Selena frustasi.
Selena terus menerus jalan mondar-mandir di dalam ruangannya sembari mwngigit kuku ibu jari tangannya.
Hingga, suara pintu mengagetkan Selena. Nampak Ferdy dan dokter wanita berjalan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan kandungan.
Dokter Ana mengulas senyum hangat ke arah Selena, "Maaf membuatmu menunggu, aku baru membantu persalinan." Ucap Dokter Ana lembut.
Selena hanya mengangguk kaku, dengan takut Selena melirik ke arah Ferdy yang menatap ke arah Selena dengan datar dan dingin.
"Silahkan berbaring di atas brangkar, Nyonya. Mari kita mulai pemerikaaan." Ucap Dokter Ana setelah menginput data pasien di dalam komputernya.
Selena masih bergeming di kursinya hingga membuat Ferdy harus bersuara, "Jangan membuang waktuku." Ucap Ferdy datar nan dingin.
"Bisakah kamu keluar, kamu pria di sini terlebih kamu bukan suamiku." Cecar Selena cepat.
Ferdy hanya berdecih saja mendengar ucapan Selena, namun pria itu berdiri dari duduknya, dan berjalan keluar ruangan.
*
*
*
__ADS_1
Ferdy yang melihat Kenan berlari ke arahnya segera berdiri, dengan nafas yang cepat nampak dari dada Ken turun naik.
"Bagaimana?" Tanya Ken pada Ferdy yang di depan ruangan.
"Masih di periksa oleh Dokter Ana." Jawab Ferdy.
Kenan yang tidak sabaran segera membuka pintu pemeriksaan ibu hamil, nampak Selena yang sedang kembali berjalan dan Dokter Ana yang melepaskan sarung tangannya.
Selena yang melihat kehadiran Kenan tersenyum bahagia, "Ken, kamu datang juga." Ucap Selena dengan berbinar bahagia.
Ken hanya menatap dingi wanita masa lalunya dan beralih menatap Dokter Ana, "Lakukan tes DNA, Dok." Kata Ken cepat.
Kedua mata Selena kembali melebar dan berkabut, menatap Kenan dengan wajah sendunya.
"Ken, ini anak kita." Selena berkata lirih dan sedih.
"Diam." Jawan Ken tegas dan dingin.
Dokte Ana yang melihat perdebatan segera melerainya, "Duduk dulu Tuan Kenan, akan saya jelaskan." Kata Dokter Ana lembut.
Ekhm
Dokter Ana berdehem sebelum dirinya menjelaskan kepasa pasien, "Tes paternitas prenatal noninvasif menganalisis DNA janin yang ditemukan dalam darah ibu hamil selama trimester pertama, Tindakan ini dapat dikerjakan pada usia kehamilan 10-18 minggu dengan mengambil sampel DNA dari cairan ketuban atau jaringan plasenta. Namun, pemeriksaan ini berisiko menyebabkan keguguran sehingga banyak pihak yang enggan menerima risiko tersebut."
Dokter Ana menjelaskan keinginan Kenan secara tegas dan lugas, bahkan menggunakan bahasa paling sederhana sekaligus.
"Segera lakukan." Jawab Ken cepat.
"Kenan." Selena menoleh ke arah Ken dengan sendu.
"Maaf, Tuan Kenan. Seperti yang sudah saya katakan tadi. Usia kehamilan 10-18 minggu baru dapat kita lakukan dan coba pikirkan kembali karena dapat menyebabkan keguguran." Jawab Dokter Ana dengan tenang menatap wajah sahabat kekasihnya tersebut.
Ken diam sejenak, "Berapa minggu usia kandungannya?" Tanya Ken dengan suara dan aura dingin.
__ADS_1
"Baru akan memasuki 5 minggu." Jawab Dokter Ana.
"Baiklah, saat usia 10 minggu lakukan tes DNA." Kata Ken.
Kenan segera berdiri dan beranjak dari depan Dokter Ana dan Selena, Selena beberapa kali memanggil namanya namun tidak Ken respon.
Pikiran Ken berkecamuk, menyakiti Alice entah yang keberapa kali.
"Fer, awasi Selena sampai semua terungkap." Ucap Ken yang langsung meneruskan langkahnya meninggalkan rumah sakit.
Ferdy hanya mengangguk untuk melaksanakan perintah atasannya.
*
*
*
Ruangan yang luas dengan tirai tipis melambai-lambai akibat hembusan angin yang masuk ke dalam ruangan luas melalui celah-celah jendela.
Seolah menemani sang penghuni kamar itu, seorang wanita cantik yang meringkuk di atas kasur berukuran king size tengah menangis tersedu-sedu.
Sesekali tangan kirinya memukul dadanya sendiri untuk menyalurkan semua rasa sesak di dalam dirinya, pil pahit harus dia terima hari ini.
Ingin rasanya dia tidak percaya dengan ucapan wanita yang berstatus mantan kekasih sang suami. Namun, melihat bagaimana Kenan yang terus berbohong kepadanya membuat dirinya enggan untuk percaya setiap ucapan dari bibir Kenan.
"Hiks ... Ya Tuhan. Apa tidak cukup dengan kehadiranku yang menjadi bayangannya! Aaa ... Ini terlalu sakit Tuhan." Racau Alice yang marah akan takdir hidupnya.
Alice memukul dan mere*mas apa saja yang dapat di gapainya, biarkan Alice menjadi wanita paling lemah hari ini. Dunia tempatnya berpijak telah hancur, rumah yang seharusnya tempat paling nyaman justru menjadi rumah penuh luka.
Maid yang menjadi kepercayaan Alice, hanya mampu berdiam diri di depan kamar majikannya dengan mendengar suara tangis serta racauannya.
"Ya Allah, kenapa Nyonya Alice selalu menangis. Sudahi kesedihannya." Doa maid dalam hati dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
...🐾🐾...