Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 137


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Waktu terus berjalan, hampir satu minggu lamanya Kenan terus memberikan bucket bunga dan hadiah kecil untuk Alice. Namun, sampai detik ini tidak ada tanggapan dari sang istri. Bahkan saat Kenan menelfon menggunakan nomor baru miliknya tidak mendapatkan tanggapan dari Alice.


Alice duduk termenung di atas kasurnya dengan kaki lurus dan punggung bersandar, pandangannya di buang di jendela yang mengarah ke gerbang masuk mansion. Pikirannya melayang kepada Kenan yang telah berjuang untuk bertemu dengannya.


Apakah Kenan masih merasakan mual saat makan?


Apakah Kenan masih menggantikannya ngidam?


Apakah Kenan dapat makan dan tidur dengan baik?


Pikiran yang terus berputar tentang Kenan, mengkhawatirkan ayah dari sang anak. Apa yang di khawatirkan Alice tidaklah terjadii, entah sejak kapan tepatnya. Kenan sudah tidak merasakan siksaan mual lagi, meski terkadang penciumannya masih sensitif tapi tidak separah dulu.


Helaan nafas kasar terdengar, Alice merebahkan tubuhnya di atas kasur hingga suara teriakan dari seseorang membuat dirinya mengurungkan niat. Dengan tergesa Alice bangun dan turun dari kasurnya, memakai sendal berbulu dan berjalan ke arah balkon depan kamarnya.


*


*


*


Di sebuah gedung pencakar langit, tepatnya perusahaan Wijaya. Pria yang selalu berdandan rapi dan selalu tampan, kini sudah berubah. Penampilan yang selalu tidak rapi akibat tidak memperhatikan kesehatannya.


Kenan berdiri di depan jendela ruangannya, membuang pandangan jauh kedepan pada gedung-gedung yang tidak kalah tinggi dengan perusahaannya. Satu tangan kanan masuk ke dalam saku celana sedangkan tangan kiri memegang minuman keras.


Lengan kemeja putih dia naikkan sampai siku secara serampangan dan kancing kemeja bagian atas terbuka dua kancing. Wajahnya yang nampak tenang dan datar tidak seperti isi hati dan pikirannya, satu hari lagi adalah sidang perceraiannya dengan Alice.


Sampai hari ini, Alice masih belum ingin dia temui. Setiap hari Kenan selalu datang ke mansion William, sekedar mengantarkan bungan dan hadiah kecil. Terkadang dia juga menunggu agar Alice keluar.


Di teguknya dengan kasar air keras di dalam gelas kristal, helaan nafas kasar terdengar panjang. Tangan Kenan nampak gemetar dengan mencengkram gelas kosong di tangannya.


"Apa sudah tidak ada maaf untukku, sayang." Ucap Kenan dengan suara parau.


Air mata Ken luruh membasahi kedua pipinya, merambat perlahan melewati bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di dagu runcing miliknya.


Suara pecahan terdengar keras di ruangan besar itu, Kenan membanting gelas yang ada di tangannya di lantai dengan keras sehingga sepihan beling berceceran ke seluruh penjuru ruangan meski tidak dengan jarak yang jauh.

__ADS_1


Kenan marah pada dirinya sendiri, sedih karena harus kehilangan Alice dan juga anaknya yang masih di dalam kandungan. Ken berbalik, berjalan ke arah mejanya mengambil botol yang masih berisi setengah minuman keras miliknya.


Sekertaris Kenan yang mendengar suara barang di banting terperanjat kaget, mengetahui atasannya tengah bermasalah dengan rumah tangganya. Membuat sang sekertaris rela bekerja lembur agar dapat mengerjakan semua berkas yang seharusnya Kenan kerjakan.


Dengan langkah tergesa, sang sekertaris berjalan ke ruangan Ferdy selaku asisten Kenan. Tanpa mengetuk pintu sang sekertaris langsung membuka ruangan Ferdy.


"Tuan, Tuan Kenan sepertinya mengamuk!" Ucapnya langsung yang membuat Ferdy langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar ruangan.


Di susul oleh sang sekertaris di belakang, Ferdy membuka ruangan Kenan tanpa permisi. Nampak, ruangan yang masih sangat rapi hanya penghuni di dalamnya yang kacau.


Sang sekertaris yang melihat pecahan di lantai dekat jendela besar bosnya segera berlari untuk mengambil peralatan kebersihan, sedangkan Ferdy melangkah lebar ke arah Kenan yang terduduk di atas lantai dengan bersandar di kaki meja kerja miliknya.


"Ken." Panggil Ferdy yang berdiri di samping dengan berkacak pinggang.


Ken tidak menghiraukan panggilan Ferdy, dia kembali meneguk air keras yang masih tersisa di dalam botok berukuran 350 ml tersebut. Ferdy yang tidak menyukai cara Kenan mabuk-mabukan untuk melupakan sejenak masalahnya segera merebut botol di tangan Ken dengan paksa.


"Apa yang kamu lakukan! Apa kamu akan terus-terusan seperti ini." Teriak Ferdy dengan menatap tajam ke arah Kenan.


Kenan tertawa hingga kedua pundaknya terlihat naik dan turun. Namun, kedua matanya mengeluarkan air mata yang kembali membasahi wajah sayu nya.


"Alice tidak memaafkanku, Fer." Ucap Ken yang masih menertawai dirinya.


Ken menggeleng, "Dia tidak mau menemuiku, aku sudah melakukan apapun agar dapat bertemu dengannya. Tapi apa? Jangankan untuk menemuiku, membalas pesanku pun dia sudah tidak sudi." Racau Kenan.


"Bod*oh, seharusnya kamu harus lebih bekerja keras lagi. Kenapa tidak kamu panjat saja dinding mansion!" Teriak Ferdy yang sudah habis kesabarannya.


Sekertaris Kenan yang tengah membersihkan serpihan beling di dalam ruangan sedikit tertegun mendengar ucapan sekertaris bosnya, nampak kepalanya menggeleng ke kanan seakan memikirkan sesuatu.


"Tuan, tembok mansion bukankah sangat tinggi. Bagaimana Tuan Kenan menaiki temboknya?" Tanya sang sekertaris dengan wajah bingung.


"DIAM! Bekerja saja dengan benar!" Sentak Ferdy kepada sang sekertaris.


Sekertaris tidak sakit hati dengan teriakan Ferdy, karena sudah hal biasa dan terlebih memang sang sekertaris menaruh hati dengan pria tampan bermata tajam, bukan hanya matanya tapi juga ucapannya yang seperti silet.


"Hahaha, benar. Kenapa aku bisa bod*oh seperti ini, aku akan menjemput istri dan anakku dulu." Ucap Ken yang berdiri susah payah.


Beruntung Ferdy dengan sigap menahan tubuh Ken agar tidak jatuh keatas lantai. Ken berusaha beridri tegak dan menyingkirkan tangan Ferdy yang memegang lengan kirinya.

__ADS_1


"Aku akan menjemputnya." Ucap Ken lagi.


Ken berjalan sempoyongan, dengan susah payah berjalan keluar dari ruangannya. Ferdy mengehla nafas dengan kasar dan menaruh botol dengan kasar "Buang semuanya!" Perintah Ferdy kepada sekertaris Kenan.


Dengan berlari Ferdy menyusul Kenan, "Dasar menyusahkan." Umpat Ferdy yang melihat Ken masih menunggu lift terbuka. Keduanya kini telah masuk ke dalam lift, sesekali Ken terhuyung ke kanan maupun ke kiri karena tidak bisa menjaga keseimbangannya.


Ferdy yang berdiri di belakang dengan menyandarkan punggungnya ke tembok dan juga bersedekap dada, tangan kanannya hanya memijat pangkal hidung yang tidak sakit. Sesekali telinganya menangkap racauan Kenan yang selalu mengakatakan akan menjemput Alice.


Lift sudah sampai di lantai satu, para karyawan yang melihat Kenan segera menyingkir dan sesekali berbisik karena melihat bosnya yang tengah mabuk saat di jam 10 pagi. Namun, tidak berlangsung lama karena melihat Ferdy yang berwajah sangar di belakang Kenan.


Kenan terus berjalan tidak memperdulikan pandangan para karyawan, hingga kedua netranya menangkap sosok wanita yang dia tahu.


"Kamu!" teriak Ken menuding ke salah satu wanita yang tengah memeluk berkas.


Seluruh pandangan tertuju ke arahnya termasuk Ferdy, Ferdy tahu makhsud Kenan segera berjalan ke arah wanita manis yang berdiri di belakang karyawan lainnya.


"Ikut kami." Ucap Ferdy tegas.


Mutia hanya terperangah karena Ferdy mencekal pergelangan tangannya, keduanya berjalan mengikuti Kenan yang sempoyongan di depan. Mutia masih nampak ling lung dengan kejadian yang secepat kilat baginya. Hingga Kenan masuk kedalam mobil oleh penjaga perusahaan.


"Berikan kuncinya." Pinta Ferdy kepada petugas.


Petugas sejenak diam, hingga Ferdy menyadari sesuatu dan langsung melepaskannya dengan cepat. Ya, penjaga kaget karena Ferdy menggandeng seorang wanita untuk pertama kalinya selama bekerja di perusahaan Wijaya.


"Cepat!" Ucap Ferdy dengan nada menekan.


Penjaga segera merogoh kantung celananya dan menyerahkan kunci kepada Ferdy, dengan langkah melabarnya Ferdy berjalan ke arah pintu depan untuk menyetir. Sedangkan Mutia nampak bingung dirinya untuk apa di bawa sampai di depan perusahaan.


Ferdy yang melihat Mutia hanya diam mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil, "Apa kau akan terus berdiri seperti patung pancoran." Ucap Ferdy geram.


"O-oh, baik Tuan." Ucap Mutia yang kelang kabut ingin duduk di kursi belakang atau depan.


Hingga akhirnya Mutia duduk di belakang bersama Kenan yang setengah nyawanya entah kemana, Ferdy menatap tajam Mutia lewat spion tengah.


"Apa kamu pikir aku sopirmu! Cepat pindah." Sentak Ferdy membuat Mutia terperanjat kaget.


Mutia mengelus dadanya dan berjalan keluar untuk pindah ke bagian depan, tidak menunggu Mutia hingga mengenakan seat belt, Ferdy langsung menginjak pedal gas dengan dalam sehingga membuat tubuh Mutia kebelakang dengan kasar.

__ADS_1


"Tuan pelan-pelan!" Teriak Mutia takut.


"Cepat pakai seat belt mu atau kau akan ku lempar dari dalam mobil." Jawab Ferdy yang tidak menghiraukan rengekan Mutia.


__ADS_2