Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Selena dan Josh : Bertambahnya Kebencian


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Setelah kepergian pengawal bayaran, tidak berselang lama pintu ruang operasi terbuka. Segera Josh berdiri dan menghampiri dokter dengan pakaian berwarna hijau dan juga masker.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Josh cemas.


"Baik-baik saja Tuan, Nyonya Selena akan segera di pindahkan ke ruang steril sembari menunggu sadar. Dan untuk janinnya bisa di ambil di kamar mayat." Jelas sang dokter.


"Baik, terima kasih." Jawab Josh.


Josh segera melangkah pergi untuk mengambil janin yang sempat bersemayam di rahim istrinya, Josh tidak membenci janin itu. Karena seorang anak tidak dapat memilih orang tuanya.


Dengan bantuan pegawai rumah sakit, Josh membawa janin yang sudah tidak bernyawa ke sebuah pemakaman umum. Tidak ada ritual adat seperti yang di lakukan oleh masyarakat umum lainnya, Josh hanya menguburkan dan mendoakannya saja selepas itu Josh kembali ke rumah sakit.


Kini Josh sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa banyak kantong belanjaan di tangannya, tidak lupa satu bucket bunga mawar merah yang sangat di sukai oleh Selena. Josh berjalan ke ruangan steril untuk melihat istrinya.


Josh melihat dari balik kaca kecil di depan pintu ruangan, kedua matanya menelisik seluruh ruangan steril tapi tidak mendapati Selena. Membuat Josh menghentikan seorang perawat yang akan masuk ke dalam ruangan.


"Sus, di mana istri saya? Atas nama Selena." Tanya Josh panik.


"Nona Selena sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, Tuan." Jawab sang perawat.


Josh segera berlari menuju ruangan di mana Selena sebelum di bawa ke ruang operasi, Josh menghela nafas panjang saat melihat Selena masih tertidur di atas brangkar.Josh berjalan mendekat dan meletakkan semua barang berlanjaannya termasuk bunga untuk sang istri.


"Istirahatlah." Ucap Josh dengan mengelus surai sang istri,


Josh melepaskan sepatunya dan naik ke atas brangkar, berutnung tubuh Josh dan Selena memang kecil dan ramping sehingga brangkar tersebut muat untuk mereka. Josh menatap lekat wajah wanita yang tertidur dengan nyenya, sejenak Josh menikmati pemandangan di depannya sebelum nanti wajah tenang itu akan hilang.


Josh memejamkan kedua matanya perlahan dan tangannya merengkuh pinggul Selena seakan Josh takut kehilangan wanita yang selama ini menemaninya, terlebih Josh memiliki dosa besar kepada sang istri.


Sebuah dosa besar yang akan sulit Josh dapatkan pengampunannya.


Kening menyerengit halus, kelopak matanya perlahan terbuka dan berkedip pelan untuk menyesuaikan cahaya yang dia terima.


Sebuah ruangan putih yang sangat tenang, terdengar suara riuh tapi tidak terlalu berisik di telinganya, merasakan sesuatu yang bersar menimpa tubuhnya.

__ADS_1


Kepalanya menoleh agar dapat melihat siapa yang tengah memeluknya, matanya mendelik kesal, dan penuh amarah.


Brak!


Tubuh pria jangkung itu hampir jatuh sepenuhnya di atas lantai jika saja dia tidak bertindak cepat menagan dengan kaki kirinya yang terlebuh dahulu menjuntai ke lantai.


"Apa yang kamu lakukan!" Teriak Selena yang sudah terduduk.


Josh menegakkan tubuhnya meski dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, merapikan pakaian yang dia kenakan.


Pandangan keduanya menatap penuh dalam, Selena memandang Josh seperti seorang pembunuh sedangkan Josh menatap Selena dengan tatapan sendu dan penuh penyesalan.


Selena yang akan bergerak merasakan sedikit perih di perutnya, meraba perut yang sebelumnya cukup membuncit tapi kini rata.


Kedua matanya membola dengan sempurna, genangan air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Apa kamu melakukanya lagi?" Tanya Selena dengan suara dingin tanpa menatap Josh.


"Maaf, aku tidak sengaja beb." Jawab Josh jujur.


"Pembunuh." Ucap Selena lirih tapi penuh penekanan.


"Aku bukan pembunuh! Itu karena bayi yang kamu kandung dari pria breng*sek!" Sentak Josh yang sudah meledakkan amarahnya.


Ya, beginilah Josh. Saat berhadapan dengan Selena tidak akan terkendali amarahnya.


"Kamu pembunuh! Sekali pembunuh tetap pembunuh!" Jerit Selena dengan melemparkan bantal ke arah Josh berderai air mata.


Josh menerima semua yang Selena lakukan, tidak berpindah satu inci pun dari tempatnya berdiri.


Melihat Selena yang akan mengoyak jarum infus membuat Josh sigap mencekal tangan kanan sang istri, "Apa yang kamu lakukan!" Teriaknya.


"Mengingkir! Jangan sentuh aku, kamu pembunuh sia*lan!" Teriak Selena yang memukul tubuh Josh dengan tangan kirinya.


Perlahan pukulan Selena tidak terasa, wanita itu sudah pingsan membuat Josh panik, dan khawatir.

__ADS_1


"Beb, hey! Bangun, sayang!" Josh menepuk-nepuk pipi Selena agar bangun.


Josh langsung menidurkan Selena dan berlari keluar ruangan untuk memanggil tenaga medis.


"Tolong! Tolong istri saya pingsan, sus!" Seru Josh yang menghadang seorang perawat.


Perawat segera berlari menuju kamar Selena, dengan cepat mengecek detak jantung dan denyut nadi pasien.


Segera sang prawat menekan tombol emergency agar dokter jaga datang, saking paniknya Josh sampai tidak melihat tombol emergency tersebut.


Tidak membuthkan waktu lama, seorang dokter dan perawat masuk dengan terburu-buru.


"Sejak kapan dia pingsan?" Tanya dokter dengan memeriksa keadaan Selena.


"Hampir sepuluh menit, Dok." Jawab perawat yang pertama kali mendatangi ruangan Selena.


Sang dokter hanya diam dan melanjutkan pemeriksaan, membenarkan jarum infus yang sedikir terkoyak hingga darah merembes keluar. Josh hanya berdiri di belakang dokter yang tengah melakukan pemeriksaan kepada istrinya.


Melihat dokter yang sudah berbalik menghadap nya, membuat Josh segera bertanya "Apa yang terjadi pada istri saya, dok?" Tanyanya.


"Istri anda mengalami shock, Tuan. Apakah sebelumnya Nyonya Selena pernah mengkonsumsi obat penenang?" Tanya sang dokter pelan.


Tangan Josh gemetar, apa benar selama ini istrinya meminum obat penenang? Josh tidak mengetahui apapun soal itu. "Saya tidak tahu dok, apakah parah?" Tanya Josh cemas.


"Tentu parah jika sampai istri anda mengkonsumsi obat penenang, Tuan. Saya sudah menyuntikkan obat agar istri anda dapat beristirahat terlebih dahulu." Jawab sang dokter.


"Terima kasih, dok." Ucap Josh.


Melihat pintu ruangan Selena tertutup, membuat Josh langsung terduduk di atas lantai. Pandangannya nanar terkunci pada wanita yang tergolek lemah di atas brangkkar.


"Sa-sayang, maafkan aku." Ucap Josh dengan suara gemetar.


Josh menangis di samping brangkar sang istri, mendapati kenyataan jika istrinya begitu tertekan setelah kejadian di masa lalu. Josh memukul dadanya yang terasa sesak terhimpit batu besar, beban di hidupnya sangat berat dengan dosa yang dia buat.


"Hiks ... maafkan Daddy. Maafkan Daddy yang sudah membuatmu pergi dari kehidupan kami."

__ADS_1


Josh tergugu sendirian di dalam ruangan yang tenang itu, hanya tangis pilu seorang pria yang selalu rapuh tapi di balut dengan kekejamannya.


__ADS_2