
Happy Reading 🌹🌹
Alice mendengar suara pria yang sangat dia kenal, yaitu Ken. Namun tak ada niatan Alice untuk aekedar bertanya karena Ken tengah mengobrol dengan orang lain.
Alice terus larut dalam pekerjaan kantor perdananya yang menumpuk, hingga suara perut tidak bisa di kondisikan.
Kruk...
"Jam berapa ini? Astaga, sudah pukul setengah satu, pantas saja alarm di dalam lambungku berbunyi."
Alice melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, dengan wajah kaget melihat waktu istirahat yang hampir habis.
Alice segera beranjak dari duduknya, beruntung Alice sempat mengambil dompet dan atm miliknya sendiri jika tidak, bisa di pastikan Alice akan berpuasa hari ini.
Namun, atm pribadi Alice tidak akan dipakai jika tidak keadaan mendesak. Mengingat pernikahan ini hanya sementara untuknya.
Segera Alice turun dengan membawa domoet kecil di tangan kanannya, tidak lupa ponsel pribadinya.
Hah, sudah lama rasanya Alice tidak bermain Hp karena saat pertama kali datang ke mansion Wijaya. Alice hanya membawa koper berisi pakaian saja.
Denting bunyi lift terdengar, terlihat banyak karyawan yang berlalu lalang. Kebanyakan karyawan tidak sendirian seperti Alice, ya mengingat jika Alice adalah karyawan baru jadi wajar.
Berjalan ke arah penjaga keamanan, Alice segera pergi ke cafetaria perusahaan Wijaya. Terlihat masih banyak karyawan yang mengambil makanan.
Alice mengantri mengikuti rekan kantor yang lain.
"Karyawan baru, Neng?" Tanya penjaga cafetaria.
"Iya, Bu." Jawab Alice sopan.
"Pantas baru pertama kali lihat." Ucapnya.
Alice hanya tersenyum dan bergeser membeli sesuatu yang lain. Alice mengedarkan pandangannya ke segala arah karena meja senua suda penuh.
Di sudut meja yang berbeda, Bara tampak mengerjabkan kedua matanya cepat karena melihat running woman.
Bara mempertahankan wajah datarnya meski dalam hati dia tersenyum lebar melihat running woman begitu lucu karena bingung.
Ferdy yang memergoki Bara akhirnya menilehkan keoalanya, terlihat Alice istri dari Kenan tengah kebingungan mencari temoat duduk.
Secara spontan Ferdy melambaikan tangannya untuk Alice datang mendekat, Ken yang melihat Ferdy tersenyum langsung menoleh ke objek yang tengah di lihat Ferdy.
Terlihat Alice berjalan mendekat dengan membawa nampan makanan miliknya, Bara begitu kaget karena tidak menyangka jika Ferdy dekat dengan running womannya.
Oh, ayolah Bara. Kau baru melihat Alice tadi pagi tapi sudah di klaim running womanmu. Begitu malaikat Bara berkata.
__ADS_1
Ken yang melihat Alice tersenyum menyipitkan matanya, "Cih, dasar mura*han pasti dia begitu bangga di panggil oleh Ferdy." Gumam Ken dalam hati.
Ferdy langsung berdiri dengan membawa nampan miliknya, "Nona Alice duduk saja di sini." Ucap Ferdy ramah.
"Kau mau mati." Ucap Ken mendelik kesal.
"Cepat! Cepat! pasti Nona pegal membawa nampan."
Ferdy tidak menggubris ucapan Kenan, karena tujuan Ferdy untuk membuat keduanya jatuh cinta.
Alice mendudukkan dirinya di samping Kenan, terlihat keduanya saling melihat namun sedetik kemudian saling membuang muka.
Bara mengerutkan keningnya melihatbinteraksi Kenan dengan running woman tersebut.
"Siapa?" Akhirnya Bara bersuara karena kepo yang bergejolak.
"Ah, Nona Alice adalah i-aaa"
"Sekertarisku."
Ken menginjak kaki Ferdy di bawah meja hingga jawaban Ferdy terputus dan dengan cepat menyela jawaban.
"Nama saya Alice, sekertaris dari Tuan Kenan." Jawan Alice sopan.
"Perkenalkan, Saya Jundi asisten Tuan Bara."
Jundi mengulurkan tangannya ke arah Alice, dengan senang hati menerima jabatan tangan Jundi.
"Senang berkenalan Tuan Jundi." Jawab Alixe ramah.
Tanpa di sadari kedua pria menatap tajam tangan Jundi yang bersalaman dengan Alice, bahkan kedua mata Bara menyipit. Ken semakin mengecap jika Alice wanita tidak benar.
"Cepat selesaikan makanmu, sisa 15 menit lagi." Ucap Ken dingin.
"Baik Tuan."
Alice menjawab sopan karena ada orang lain di hadapan mereka, jika Alice merespon tidak baik ucapan Kenan salah-salah Ken akan kehilangan kolega perusahaannya.
Segsra Alice mengambil sumpit dan sendok di kedua tangannya, terlihat nasi putih yang hampir segunung, sop tahu, tumis ayam dan juga sayur kacang panjang dengan cepat masuk ke dalam bibirnya yang kecil.
Sengaja Alice memilih makanan khas Indonesia terlebih masakan rumahan, karena Alice ingin mengingatkan pada dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja.
Gerakan Alice berhenti dengan mendongakkan kepalanya, terlihat ke empat pria tengah menatapnya tanpa berkedip.
"Apa kalian mau?" Tanya Alice dengan mulut yang masih mengunyah kemudian menelan makanan.
__ADS_1
Ferdy tertawa pelan, membuat yang lainnya menatap heran ke arah Ferdy termasuk Alice yang berkedip lucu dengan kening yang berkerut.
"Ada apa?" Tanya Alice lagi.
"Nona, pelan-pelan saja makannya. Karena Nona turun lebih lambat dari yang lain maka boleh kembali naik lebih dari pukul satu siang." Ucap Ferdy panjang lebar dengan menyerahkan tisu yang melewai Ken dan Bara.
Alice melihat Ferdy dan tisu secara bergantian, "Oh begitu. Baiklah." Jawab Alice.
"Maaf Nona, ada nasi di sekat bibir Anda." Ucap Jundi sopan.
Alice langsung menyambar tisu yang masih di penang oleh Ferdy dan mengusapnya di pinggiran bibirnya.
Bara dan Ken tidak bereaksi apapun karena mereka fokus dengan wajah dan bibir Alice yang kini tersenyum.
Waktu istirahat jam makan siang telah habis, terlihat Alice berjalan di belakang Kenan dan Bara bersama dua asiaten yang nampak lebih cwria di banding dengan bos mereka.
Banyak karyawan memberi hormat kepada Ken dan Bara yang melewati mereka, seperti biasa kedua bos tersebut nampak acuh.
Namun, wajah kedua bos besar tersebut terlihat lebih mengerikan. Pintu lift terbuka Ken dan Bara masuk terlebih dahulu dan di susul dengan ketiganya.
Ferdy menekan tombol lift menuju lantai CEO.
"Nona, apakah ada kesulitan mengerjakan laporan?" Tanya Ferdy.
"Emm, sampai detik ini belum sih. Tidak tahu jika nanti." Jawab Alice tersenyum.
"Baiklah, Nona Alice dapat menanyakan kepadaku." Kata Ferdy yang membalas tersenyum.
"Nona Alice baru pertama kali bekerja ya?" Jundi menimbrung pembicaraan keduanya.
"Benar Tuan." Jawab Alice sopan.
"Nona Alice dapat bertanya juga kepadaku." Jundi mengusulkan dirinya.
"Bagaimana dia bertanya kepadamu, kita saja beda perusahaan." Timpal Ferdy mencebik kesal.
"Kita bisa bertukar pesan kok, begitukan Nona?" Jawab Jundi yang notabennya memiliki sifat sama dengan Ferdy.
"Apa sistenmu berniat ingin mencuri informasi perusahaanku." Ken berkata dengan nada dingin kepada Bara.
...🐾🐾...
...HALLO AUTOR MEMBAWAKAN REKOMENDASI NOVEL YANG BAGUS UNTUK KALIAN. SEMBARI MENUNGGU ALICE BISA MAMPIR DULU 🌹...
__ADS_1