Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Gagal Karena Ulah Asisten


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mobio yang di kendarainoleh Jundi telah sampai di perusahaan Wijaya. Segera Bara keluar dan di ikuti Jundi memasukin perusahaan Wijaya.


Para karyawan yang melihat keduanya memberikan salam, seperti biasa mereka harus menaiki lift agar sampai di ruangan tertinggi kantor ini.


Tidak membutuhkan waktu lama, Bara dan Jundi telah sampai di lantai CEO. Langkah Bara terhenti begitu juga Jundi melihat meja kerja Alice yang kosong.


Bara melihat jam yang melingkar di tangannya terlihat waktu masih pagi, tidak mungkin Alice datang terlambat.


Jika Ken ada rapat mungkin resepsionis sudah memberitahukannya kepada Bara mauoun Jundi.


"Ada apa Tuan?" Tanya Jundi sopan.


"Tidak. Ayo." Bara melangkah ke arah ruangan Ken.


Sudah di ketuk dua kali tidak ada suara apapun dari dalam kantor Kenan.


"Mungkin Tuan Kenan sedang di luar Tuan." Ucap Jundi.


"Mungkin, kita tunggu saja di dalam." Jawab Bara.


Beruntung ruangan Ken tidak di kunci, Baramembuka pintu ruang kerja Ken pelan. Dengan terbukanya pintu ruangan Kenan, Bara dapat melihat dengan jelas bagaimana Ken merengkuh dan merapatkan Alice ke tembok.


Cemburu? Tentu saja, perasaan sesak dan marah menjadi satu di dalam hati Bara.


Jundi yang melihat suami istri tersebut tidak dapat berbuat babyak, toh mereka sudah sah di sepan agama dan negara lalu untuk apa mengganggu mereka.


Bara dan Jundi hanya menjadi penonton di depan pintu ruagan Kenan, bahkan mendengar dengan jelas ucapan Ken kepada Alice.


"Aku harap kamu menolaknya Alice." Ucap Bara dalam hati.


Sayang beribu sayang, Alice memberikan Ken kesempatan untuk membina rumah tangga dengan serius bahkan terlihat jika wajah Alice yang bahagia.


Bara tau arti senyum itu, berbinar terang kedua mata itu. Bahwa Alice telah jatuh cinta kepada Kenan.


Kenan dan Alice belum sadar akan kehadiran Bara, tangan Ken mengelus pipi bersemburat merah Alice dengan lembut.


Perlahan namun pasti, Ken mendekatkan wajahnya ke wajah Alice. Sontak membuat Alice memejamkan kedua matanya dengan rapat, dia begitu malu mengingat ciuman cukup panas malam itu.


Bruk!


Suara benda dan rintihan orang membuat Alice langsung mendorong Kenan begitu juga Ken yang langsung membalikkan tubuhnya.


Terlihat dua orang asisten yang tengah saling menindih di lantai.

__ADS_1


"Astaga! Punggungku." Rintih Jundi.


"Auhh"


Alice langsung berlari mendekati kedua asisten konyol itu sedangkan Ken mengikuti dari arah belakang dengan wajah masam.


"Ya ampun, kalian kenapa bisa begini." Ucap Alice yang menolong Ferdy dan Jundi.


"Achh... apa kau tidak punya mata. Kenapa masih berlari di lorong kantor." Omel Jundi kepada Ferdy.


"Maafkan aku Jun, aku terburu-buru harus menemui Kenan." Jawab Ferdy.


"Ada apa?" Tanya Ken yang merengkuh pinggang Alice.


Eh, Ferdy nampak kaget melihat Ken neneluk pinggang Alice. "Apakah mereka sudah akan mempublikasikan hubungan" Gumam Ferdy.


"A-aku hanya ingin mengatakan , jika ada restoran baru buka di sebrang jalan." Jawab Ferdy dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Dasar kau ini." Umpat Ken.


Alice melepaskan tangan Ken yang melingkar di pinggangnya karena merasa tidak enak karena terus di tatap oleh Bara.


*


*


*


"Nona Alice duduk saja di dekat Tuan Kenan, tidak perlu malu. Hehehe." Ucap Jundi yang mencoba mencairkan suasana.


Ken menepuk sofa yang ada di sampingnya namun tatapannya tetuju kepada Bara, Ken tidak suka jika kepunyaannya di lihat oleh orang lain.


Kedua mata Alice nampak melirik ke kiri dan ke kanan, Bara terus menatapnya sedangkan Ken juga saat ini ikut menatap dirinya juga.


"Kenapa mereka mengerikan." Ucap Alice menangis di dalam hati.


Ferdy hanya menghela nafas pelan, "Astaga, situasi macam apa ini." Jeritnya dalam hati.


"Oh iya, Bara kenalkan ini adalah Alice istriku dan Alice ini adalah Bara sahabatku sekaligus cucu dari sahabat Kakek."


Kenan memperkenalkan keduanya, "Kamu harus mengerti posisimu Bara." Gumam Ken dalam hati.


Sudut bibir Bara terangkat samar, "Benarkah, aku kira dia hanya sekertarismu saja. Salam kenal Alice, maaf tidak mengenalimu karena saat itu tidak dapat menghadiri acara pernikahan kalian." Ucap Bara dengan tersenyum tipis.


"Ah, iya terima kasih Tuan Bara." Jawab Alice yang menerima jabatan tangan Bara.

__ADS_1


Cukup lama Bara menjabat tangan Alice hingga Alice mendesis lirih, Bara tidak sadar jika terlalu cemburu kepada Alice dan Kenan hingga sedikit mencengkram kuat saat bersalaman.


"Kamu tidak apa-apa sayang." Ucap Ken panik.


Alice menatap Ken dengan wajah kaget begitu juga Ferdy maupun Jundi.


"Sepertinya akan kiamat." Ucap Ferdy pelan.


"Ah, ti-tidak apa-apa." Jawab Alice yang masih kaget dengan panggilan Kenan.


"Huh, syukurlah." Ucap Ken dengan mengelus tangan kanan Alice lembut.


"Bagaimana kerjasama kita selanjutnya?" Tanya Bara yang ingin melempar Ken dari lantai tiga puluh saat ini.


"Oh, iya. Kerjasama itu sudah siap, kapan kita akan memulai pembangunannya?" Jawab Kenan dengan serius.


"Bagaimana jika minggu depan saja, lebih cepat lebih baik." Usul Bara.


"Lebih cepat menjauhkanmu dari Alice."


"Bagus, aku setuju. Penanggung jawab kerjasama kita adalah istriku Alice, dia baru saja lulus kuliah dan kurang memiliki banyak pengalaman di lapangan." Jawab Kenan.


"Kenapa kamu mengutus orang yang tidak kompeten? Apa karena dia istrimu." Ucap Bara tajam.


Ucapan Bara membuat Alice sedih, benar dia memang kurang dalam lapangan namun bukan kompeten hanya belum cukup kompeten jika di setarakan dengan Kenan maupun Bara.


"Bukan, aku ingin Alice belajar lebih banyak dari kerjasama kita. Karena kedepannya dia pasti akan menghadapi kerjasama kerjasama yang lainnya." Kenan meluruskan maksud dari mengutus Alice.


"Selama tidak merepotkanku tidak masalah." Jawab Bara dingin.


Jundi yang mendengar ucapan Bara sedikit kejam kepada Alice hanya menghela nafas pelan, dirinya tahu saat ini Bara sedang terluka karena mengetajui kenyataan jika wanita yang dia cintai adalah istri sahabatnya sendiri.


Sedangkan Ferdy menatap ketiganya dengan tatapan yang berbeda, terutama kepada Alice.


"Aku harap dia tidak pernah mengusik rumah tangga kalian." Doa Ferdy dalam hati.


"Tentu saja, aku percaya dengan kemampuan kerja Alice meskipun hanya beberapa hari menjadi asistenku." Jawab Kenan dengan yakin.


"Aku harap istrimu tidak manja, karena kamu tahu kerjasama ini banyak bekerja di lapangan. Pasti yang di temui hanya pekerja, debu, terik matahari, dan keringat." Kata Bara menjelaskan sebenar benarnya.


"Tidak masalah Tuan Bara, saya bukan wanita selemah itu." Alice menjawab ucapan Bara yang sejak tadi meremehkan dirinya.


"Bagus, aku tunggu ketangguhanmu." Ucap Bara tersenyum miring.


"Ternyata sudah siang, sehingga sedikit panas di sini ya guys ya. Bagaimana jika kita makan siang yang segar segar saja."

__ADS_1


Ferdy mencoba mencairkan suasana yang tegang dan panas ini.


...🐾🐾...


__ADS_2