
Happy Reading 🌹🌹
"Beb, aku hari ini ada rapat online agak lama. Kamu tidak apa-apa jika berbelanja sendiri?" Tanya Josh kepada Selena yang tengah memakan sarapannya.
Selena hanya melirik dan enggan menjawab ucapan Josh, "Tanpamu aku juga tidak akan tersesat." Jawab Selena ketus.
Josh hanya menghela nafas panjang, melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam petang waktu Indonesia yang berarti di Amerika pukul enam pagi. Selisih waktu antara kedua negara tersebut cukup banyak, yaitu 12 jam.
Dengan menyeka ujung bibirnya, Josh memberikan kartu debit untuk istrinya berbelanja keperluan. "Pakailah seperlunya." Ucap Josh lembut.
Deritan kursi terdengar, Josh sudah bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Selena seorang diri di meja makan. Selena hanya mencebik pelan sejak dulu hingga sekarang kebiasaan Josh yang irit tidak berubah.
Segera dia membersihkan bekas makan malam hari ini, membawa piring ke dalam wastafel, dan segera mencucinya dengan bersih. Tidak memakan banyak waktu karena hanya dua piring dan dua gelas saja yang dia cuci.
Selena melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar untuk berganti pakaian, seakan tidak memperdulikan Josh yang tengah rapat. Selena nampak mondar-mandir di belakang hingga beberapa karyawan atau rekan kerja Josh dapat melihat Selena.
Tidak banyak yang tahu jika Josh sudah menikah, karena Josh begitu tertutup, dan misterius. Josh yang menyadari jika rekan kerjanya tidak fokus akibat sang istri yang tengah berdandan di depan meja rias dengan pakaian yang cukup sexy seperti biasanya membuat Josh menoleh ke belakang setelah menutup kamera laptop nya dengan selotip.
"Bisakah kamu tidak berpakaian seperti itu?" Ucap Josh dengan datar.
Selena menghentikan gerakannya yang tengah memoleskan lipstik di bibir indahnya, menoleh dan menatap wajah suaminya yang nampak kesal. "Kenapa? Seharusnya kamu sudah terbiasa melihatku berdandan seperti ini, bukankah kamu juga menyukainya." Jawab Selena dengan tersenyum miring.
Setelah mengatakan hal tersebut, Selena segera mengambil tas jinjingnya dan pergi begitu saja keluar dari kamar menyisakan Josh yang hanya diam seribu bahasa. Josh yang lupa tidak mematikan microfon zoom membuat rekan kerjanya tampak dia.
Beruntuk, rekan kerja Josh tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia sehingga tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh sang istri. Menyadari jika dia masih memiliki rapat penting segera kembali fokus dan serius.
"Maaf membuat rapat kita terganggu, kita bisa teruskan." Josh berkata dengan tegas dan lugas.
Rekan kerjanya kembali melanjutkan kegiatan rapat hari ini tanpa menggoda atau menanyakan perihal privat kepada Josh. Begitulah budaya barat yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain jika bukan orang tersebut tidak mengatakan atau membicarakannya.
Menjaga privasi orang lain sangatlah penting, tidak semua permasalhan orang lain harus kita mengerti. Secara tidak sadar, kita sebenarnya bukan peduli lebih tepatnya hanya sekedar ingin tahu atau penasaran. Dan akan kita bandingkan permasalahan orang lain dengan permasalhan kita, karena sejatinya permasalhan yang mudah bagi kita belum tentu mudah bagi orang lain begitu pun sebaliknya.
Selena berjalan keluar apartemen dengan satu pengawal di belakangnya, awalnya Selena menolak tapi pengawal tersebut harus menjalankan pekerjaan nya karena sudah di sewa oleh Josh selama berada di Indonesia. Kini keduanya berada di depan lift yang akan membawa mereka ke lantai satu.
Tidak membutuhkan waktu lama, lift telah sampai dan pintunya terbuka. Selena masuk bersama pengawal nya, hari ini lift sepi hanya ada mereka berdua.
Dengan bersedekap dada Selena melontarkan pertanyaan kepada pengawal yang berada di belakangnya, "Di bayar berapa kalian?" Tanya nya menggunakan bahasa Inggris.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Karena kami hanya di utus dari perusahaan penyedia jasa saja." Jawab pengawal jujur.
Selena mengangguk-anggukkan kepalanya saja, "Pasti sangat mahal, bukankah sangat sayang uangnya. Mungkin bisa untuk bertahan hidup selama satu tahun." Gumam Selena dalam hati.
Kini keduanya telah berada di loby apartemen, Selena segera berjalan keluar dari dalam gedung menuju depan untuk menghampiri taxi online yang sudah dia pesan sebelumnya. Segera dia masuk ke dalam taxi bersama pengawal yang duduk di kursi depan bersama sopir.
Perlahan taxi online bergerak meninggalkan area apartemen menuju pusat perbelanjaan, selama perjalanan Selena hanya bersedekap dada dan membuang pandangannya ke luar jendela taxi. Pikirannya melayang memikirkan babak episode baru dalam kehidupannya.
Meminta Josh untuk menceraikannya secara baik-baik sudah dia lakukan tetapi tidak ada hasil, meminta secara kasar semakin membuat Josh tidak akan melepaskannya, dan sudah pergi jauh dari kehidupan Josh semakin membuat pria itu menggila sehingga dia tidak bisa lari.
Hingga taxi sudah berhenti di salah satu pusat perbelanjaan, segera Selena keluar yang di ikuti oleh pengawal nya. Berjalan masuk beriringan menuju swalayan yang berada di dalam mall. Pengawal segera mengambil troly untuk Selena dan mengikutinya dari belakang.
Wanita cantik itu nampak memilih dan memasukkan barang yang memang di butuhkan, berjalan ke area makanan segar dan memilih sayur, buah, daging, dan seafood. Tidak lupa juga bumbu, namun langkah nya terhenti saat berada di dekat ruangan yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Terdengar seseorang tengah marah, awalnya dia tidak perduli hingga suara yang tidak begitu asing namun Selena tidak begitu mampu mengingat siapa pemilik suara itu membuat hatinya berdenyut nyeri.
Pengawal yang melihatnya lantas panik takut jika terjadi sesuatu kepada Selena, "Anda tidak apa-apa Nyonya?" Tanya sang pengawal.
Selena menggeleng, "Tidak apa-apa, ayo pergi." Jawab nya yang berjalan lebih dahulu dengan memegang dada kirinya.Dia berusaha mengingat pemilik suara tapi tidak bisa, hanya hatinya yang merasa sakit dan ingin menangis.
Keduanya pergi menuju kasir, waktu juga sudah makin larut. Sebentar pagi toko-toko akan tutup, lebih baik Selena menyudahi acara belanjanya hari ini.
Sedangkan di dalam gudang, seorang pria dengan kemeja putih tengah berkacak pinggang di hadapan wanita paruh baya yang mengenakan seragam biru muda tengah menundukkan kepalanya dalam. Pria tersebut adalah supervisor swalayan yang di kunjungi Selena.
"Gajimu yang bulan lalu saja belum bisa menutupi pinjamanmu, bagaimana bisa kamu meminta gajimu di awal lagi. Hah!" Sentak sang supervisor.
"Maaf, tapi aku benar-benar membutuhkanya untuk membayar kontrakan. Aku janji ini yang terakir kalinya pak." Jawab Luna dengan suara lirih.
"Tidak bisa! Hutangmu sudah menumpuk cukup banyak dan gajimu satu bulan tidak mampu menutupinya, aku masih berbaik hati tidak memecatmu, Luna. Ceraikan saja suami pemabukmu itu dan mulailah hidup baru." Ucap Kris pelan.
Kris yang bekerja sebagai supervisor di swalayan adalah salah satu rekan Luna sekolah dulu. Mereka bertemu saat luna menjalani pekerjaan serabutan di sebuah warung makan, Luna yang meminta pekerjaan di beri Kris sebagai OG karena usia Luna yang tidak dapat melamar bagian apapun.
Luna mencengkram celemek yang dia kenakan, "Tidak bisa Kris, dia pasti akan mencariku sampai ke lubang semut. Aku harus bertahan hingga dia mati dengan sendirinya." Jawab Luna dengan mata berkaca-kaca.
Hembusan nafas terdengar kasar, "Carilah anakmu dan tinggalah dengannya, aku tidak bisa membantumu lagi Lun. Jika kamu terus seperti ini bukan aku yang akan memecatmu melainkan atasan sendiri." Kata Kris yang kemudian berjalan pergi keluar dari dalam gudang untuk melakukan pekerjaannya.
Luna meneteskan air mata saat Kris menutup pintu gudang, dengan kasar dia menyeka air mata di wajah tuanya. "Jika aku bertemu Selena, aku tidak akan berani menatapnya Kris." Ucap Luna lirih.
Keluarnya Kris bersamaan dengan kepergian Selena yang pergi ke arah kasir, jika saja Kris bertemu maka dia kaan menahan Selena dan mempertemukan nya dengan Luna.
*
*
*
Menguap tapi kedua matanya masih tertutup, sekaan enggan membuka kedua matanya. Namun, dia harus segera bangun untuk menjalankan rencana yang sudah dia susun dari jauh hari. Perlahan kedua kelopak mata terbuka yang langsung memandang ke arah kasur berukuran king size.
Seulas senyum terbit dari wajah tampannya, menatap wanita yang dia cintai masih tertidur dengan lelap seperti bayi. Josh segera membangunkan tubuhnya yang terasa amat pegal karena sejak terakir kali dia tidur satu ranjang dengan Selena, Josh tidur di sofa.
Bukan tanpa sebab Josh tidur di tempat yang kecil dan sempit, karena malam setelah kejadian itu. Selena tidak tidur di sampingnya melainkan memilih tidur di sofa, sakit hati dan marah tentu saja Josh rasakan, Namun, dia menahannya agar tidak berlaku kasar dengan istrinya, dia mengalah tidur di sofa selama istrinya tidak ingin tidur bersamanya.
Mendengar suara gemericik air, membuat kening Selena berkerut dan membuka kedua matanya. Menatap jam dinding dengan malas, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Bukannya Selena segera bangun, dia merapatkan selimut dan kembali memejamkan kedua matanya.
Pintu kamar mandi terbuka, Josh keluar dengan mengenakan handuk yang di lilitkan pada pinggangnya saja sedangkan bagian atas terbuka menampilkan dada bidang dan perut six packnya. Mengetahui jika istrinya tidak benar-benar tidur membuat Josh mengulum senyum, dengan langkah lebarnya dia berjalan mendekat.
Mencondongkan badannya sehingga tetesan air dari rambutnya mengenai wajah Selena yang berada di bawah, membuat wanita yang berusaha kembali tidur langsung bangun dan mendudukkan dirinya cepat.
"Apa yang kamu lakukan!" Teriak Selena dengan mendelik kesal.
Josh menegakkan tubuhnya dan tersenyum tipis, "Segeralahan mandi beb, aku akan mengajakmu keluar." Jawab Josh yang kemudian berlalu dari hadapan sang istri.
Selena meraup wajahnya dengan kasar akibat air yang menengai wajahnya, "Dasar gila" gumam Selena dengan mengerucutkan bibirnya. Meskipun menggerutu, dia tetap bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi setelah merapikan tempat tidurnya.
Kini, Selena dan Josh sudah berada di dalam mobil yang telah Josh sewa untuk satu bulan lamanya. Di kendarai oleh pengawal menggunakan GPS. Josh benar-benar melakukan sisanya sendirian tanpa bantuan dua keluarga yang memberikan nya informasi keberadaan Selena.
__ADS_1
Bahkan mengetahui jika Selena akan melangsungkan pernikahan dengan mantan kekasihnya tidak membuatnya gentar, karena Josh masih suami sah wanita tersebut, dia tidak marah kepada mantan kekasih Selena justru Josh merasa bersalah dan ikut andil dalam kekacauan rumah tangga Kenan dan Alice.
Jika saja Josh tidak melakukan kesalahan kepada Selena, mungkin sampai detik ini kedua insan yang pernah menjalin hubungan itu tidak akan pernah bertemu dan hidup bahagia dengan keluarga masing-masing.
"Kita mau kemana?" Tanya Selena yang sejak tadi tidak mendapatkan jawaban dari Josh.
"Kamu ingin pergi kemana, beb?" Josh melemparkan pertanyaan ke pertanyaan.
"Aku lapar, aku ingin sarapan dulu." Jawab Selena cemberut.
"Baiklah." Josh memerintahkan pengawal untuk membawa mereka ke salah satu hotel untuk sarapan di restoran hotel tersebut.
Dengan lahap, Selena memakan sarapannya berbeda dengan Josh yang terbiasa hanya memakan sepotong sandwitch dan segelas susu maupun kopi. Melihat nafsu makan istrinya yang berubah membuat Josh bingung, apakah istrinya tidak kekenyangan karena sudah memakan makanan yang penuh dengan karbo.
Selena sudah menyantap dari yang namanya soto, sate ayam, salad sayur, mie goreng, nasi padang, nasi goreng, sop iga sapi, dan yang lainnya.
Meskipun porsinya cukup sedikit, tapi untuk Josh tetaplah banyak dengam berbagai jenis masakan itu.
"Kamu mau ke mana lagi, beb?" Tanya Josh heran melihat ke arah Selena yang berdiri dari duduknya.
"Mau ambil minum." Jawab Selena singkat.
Josh hanya menghembuskan nafas panjangnya pelan, sembari memandangi punggung istrinya dari belakang yang tengah menuju sebuah stand di restoran tersebut. Namun, kedua mata Josh melebar sempurna saat Selena datang dengan sebuah gelas besar berisi air berwarna pink dengan banyak toping buah.
"Sayang, kamu belum kenyang? Katamu mau ambil minum." Ucap Josh yang masih kaget.
"Ini minum, apa kamu tidak lihat ini es batu dan air." Jawab Selena berdecak kesal.
"Apa itu salad buah?" Tanya Josh penasaran.
"Es teler." Jawab Selena singkat.
"Es teler?" Beo Josh.
Selena menyodorkan satu sendok es teler di depan bibir Josh, sedikit menggerakannya agar suaminya cepat membuka mulutnya. Dengan perasaan ragu-ragu, Josh menerima suapan dari istrinya. Tampak dari wajahnya Josh berfikir, hingga wajah cerahnya muncul.
"Enak?' Tanya Selena penasaran.
Josh mengangguk, "Boleh aku minta lagi?" Tanya Josh pelan.
Selena menyuapi Josh es teler lagi, yang awalnya Josh ragu-ragu malah kini tidak menyisakan setetes air es teler yang berada di dalam gelas besar bahkan Selena baru mencobanya dua sendok.
"Aku benar-benar kekenyangan." Ucap Josh menepuk perutnya pelan.
Selena mencebik kesal, "Satu gelas es teler kamu habiskan sendiri." Omelnya.
"Ya, benar-benar membuatku es teler." Kata Josh.
Josh selama datang di Indonesia belum pernah mencoba makanan atau minuman di negara asal sang istri, dirinya tetap makan seperti apa yang selalu dia makan di Amerika. Bahkan Josh sendiri tidak tahu artinya 'teler'. Mendengar jawaban Josh membuat Selena gemeletuk kesal menahan tawanya.
...🐾🐾...
__ADS_1