
Happy Reading
Josh dan Selena kini kembali melanjutkan perjalanan mereka, Selena yang sangat kekenyangan tidak sengaja tertidur di dalam mobil, sesekali keningnya terbentur kaca mobil akibat mobil yang bergerak sesuai kondisi jalanan. Josh dengan lembut membawa kepala istrinya untuk tidur di atas bahunya mengelus pelan pipi sang istri dan kembali fokus pada ponselnya.
"Tuan kita sudah sampai." Ucap sang pengawal.
"Tunggu sampai istriku bangun." Jawab Josh yang masih fokus dengan ponselnya.
Cukup lama menunggu Selena bangun, hingga seorang pria mengetuh pelan kaca mobil bagian depan, dan segera pintu yang terkunci dari dalam di buka. Pria dengan pernyamaran sebagai penjual makana ringan sudah duduk yang sebelumnya menyapa orang di dalam mobil.
"Bagaimana?" Tanya Josh singkat.
"Seperti biasanya Tuan, tidak ada perubahan. Mereka selalu bertengkar bahkan yang terakir saya lihat wanita itu di seret ke luar rumah." Jawab mata-mata.
Josh marah karena wanita itu adalah mertuanya, tapi melihat bagaimana masa lalu mertuanya itu membuat Josh menekan rasa kasihnya. Dia lebih iba dengan sang istri yang sampai detik ini tidak tahu alasan di tinggal oleh ibunya, bagaimana jika Selena tahu alasan sebenarnya? Apakah dengan hati yang lapang Selena memaafkan wanita paruh baya itu.
"Rumahnya sepi, apa mertuaku pergi bekerja?" Tanya Josh menatap sang mata-mata.
"Benar, wanita itu pergi bekerja mengirim susu di subuh hari dan langsung menuju sebuah swalayan untuk menjadi OG. Pria itu hanya berada di rumah, dia tidak bekerja, dan sering pulang dalam keadaan mabuk maupun babak belur." Jawab sang mata-mata.
"Baiklah, terima kasih. Aku meminta bantuanmu untuk mengummpulkan bukti-bukti kejahatan pria itu." Kata Josh dengan serius.
"Tentu saja Tuan, sudah saya kumpulkan dan kapan pun bisa kita naikkan ke pengadilan." Jawab sang mata-mata dengan menyerahkan sebuah map coklat dari dalam jaket lusuhnya.
__ADS_1
Josh menerima amplop coklat itu dan membukanya, banyak foto-foto yang menunjukkan kekerasan dalam rumah tangga, laporan dari para tetangga, dan juga hutang yang menumpuk di tempat judi. Josh membaca dan melihatnya dengan seksama jangan sampai dirinya salah langkah, hanya ini satu-satunya untuk menyelamatkan ibu mertua.
"Ajak wanita itu untuk visum." Perintah Josh pada mata-matanya dengan memasukkan berkas ke dalam map kembali.
"Tapi, pasti pihak rumah sakit akan menelfon polisi." Kata sang mata-mata.
Josh terdiam sejenak, benar. Melakukan fisum bukan seperti membalikkan telapak tangan karena harus berurusan dengan kepolisian, bisa membuat laporan kekerasan dan akan mendapatkan surat perintah untuk melakukan visum karena visum tanpa laporan polisi tidak bisa di lakukan.
"Serahkan itu kepadaku, kamu akan mengerjakan sisanya." Josh akhirnya memutuskan akan turun tangan sendiri, lebih tepatnya Selena.
Josh tahu bagaimana perangai Selena terkait orang yang dia sayangi, akan melakukan dan menghalalkan segala cara agar mencapai tujuannya salah satu sontohnya merusak rumah tangga Kenan dan Alice.
Seperginya sang mata-mata, Josh merasakan pundaknya yang terasa ringan. Kepalanya menoleh ternyata sang istri tengah mengumpulkan jiwa-jiwanya yang berceceran. Selena meregangkan tubuhnya karena merasa sangat pegal, menatap sejenak sekeliling yang sangat asing baginya.
"Aku harus menemui temanku sebentar, tunggu di sini aku akan membelikanmu minuman di warung kecil itu." Jawab Josh yang langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
Selena hanya merengut saja, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan karena terasa pegal-pegal. Namun, gerakannya terhenti saat melihat secari kertas kecil di bawah. Karena penasaran dia mengambil dan membaliknya karena ingin tahu kertas apa itu.
Jantung Selena seakan terhenti berdetak, merasakan hatinya terasa nyeri yang amat sangat, tenggorokannya terasa tercekat lebih tepatnya serasa tercekik oleh udara di dalam mobil, pandangannya nanar ke arah foto wanita yang masih sangat dia kenal.
Kedua matanya memanas, air mata suda memenuhi pelupuk matanya, dan menetes begitu saja. Bibir dan tanganya gemetar akibat menahan tangisnya, di edarkannya pandangan Selena hingga menemukan amplop yang berada di kursi samping. Dengan cepat dia membukanya, dia semakin kaget karena lebih banyak menemukan foto dan tulisan-tulisan yang tidak dia pahami.
"Siapa pria ini, kenapa bisa dengan Mama?"
__ADS_1
Bahkan Selena menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan kanan, saat dirinya melihat foto-foto kekerasan yang di alami oleh Luna. Air matanya terus menetes hingga membasahi beberapa berkas yang sudah dia letakkan di bawah.
JDari kejauhan Josh berjalan kembali dengan dua botol minuman di tangan kirinya, melihat pengawalnya berdiri di luar mobil membuat Josh segera berlari mendekat ke arah mobil dan dengan cepat membuka pintu mobil, Selena yang tengah fokus pada foto-foto yang berada di tangannya.
Segera Josh melempar dua botol minum ke sembarang arah di dalam mobil, menjatuhkan bobot tuubuhnya di kursi mobil, dan menarik Selena ke dalam pelukannya. Tangis Selena langsung pecah, suara tangisannya tersendat-sendat seperti terakir kali saat Josh membuat luka di hati Selena yang paling dalam.
Kedua mata Josh sudah memanas, hatinya begitu sesak melihat istrinya menangis. Dia hanya mampu mengeratkan pelukannya dan mencium ujung kepala Selena penuh cinta.
Selena masih menangis kencang di pelukan Josh, "Hiks ... Sa sakit Josh." Ucapnya susah payah dengan memukul-mukul dadanya sendiri.
Josh mengehentikan Selena yang melukai dirinya sendiri dengan membawa ke belakang punggungnya. "Pukul saja aku beb, jangan sakiti dirimu." Ucap Josh dengan menahan air mata.
Melihat Selena pingsan membuat Josh memutuskan kembali ke apartemen dan menghubungi dokter di rumah sakit terdekat untuk datang memeriksa istrinya. Wajah Josh kusut melihat istrinya harus kembali membuka luka lama, "Aku berjanji ini yang terakir kalinya, sayang. Kamu harus menuntaskan masa lalu dengan Mama mu, apapun keputusanmu aku akan menghargainya, kita akan pergi jauh setelah ini." Ucap Josh lembut.
Pengawal segera menancap gas mobil menuju apartemen, meninggalkan area yang terbilang kumuh di kota itu. Bertepatan mobil yang di tumpangi Josh dan Selena pergi, Hardi keluar dari dalam rumahnya menatap mobil mewah yang jarang terlihat di lingkungannya tinggal.
"Apa ada tetangga yang memiliki saudara orang kaya? Ah tidak mungkin, pasti orang-orang kaya itu habis membagikan sembako atau makanan gratis." Monolog Hardi.
Di dalam mobil Josh menolehkan kepalanya kebelakang, karena merasa di tatap oleh seseorang dan benar saja firasatnya. Ternyata ayah tiri Selena yang tengah memandangnya denga berdiri tegap, tapi mimik wajahnya tidak bisa di tangkap oleh Josh.
"Dengan kedua tanganku sendiri yang akan menyeretmu ke penjara pria tua." Ucap Josh dalam hati.
Josh belajar dari masa lalunya yang selalu bersikap kasar kepada Selena, dia mulai menjalani pengobatan sebelum datang ke Indonesia dan terjeda karena belum bisa kembali ke negara asalnya. Setidaknya, saat ini Josh bisa lebih mengendalikan emosi dan se*x nya yang selalu menyakiti istri cantiknya. Jika Selena tidak memaafkan Luna, setidaknya hidup wanita paruh baya itu tidak selalu tersiksa, itulah yang membuat Josh bertekad memenjarakan Hardi sejak awal mengetahui KDRT di rumah tangga mertuanya.
__ADS_1