Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Makan Siang


__ADS_3

Happy Reading


Dering ponsel berbunyi nyaring di kamar dengan nuansa ungu muda, segera pemilik ponsel


mengambil ponselnya. Senyum tipis terbit dari bibir tipisnya.


 "Halo, tante." Ucap Mourin di sebrang telfon.


 "Mourin, apa tante mengganggumu?" Tanya Citra di sebrang telfon.


 "Tentu saja tidak tan." Jawab Mourin dengan sangat manis.


 "Bisakah kamu mengantarkan makan siang untuk Kenan." Ucap Citra.


 Mourin yang menjawab sembari berbaring segera mendudukkan dirinya cepat, "A-apa


tante, mengantar makan siang?" Tanya Mourin memastikan.


 "Iya, jika bisa hasil masakanmu sendiri karena Kenan sangat menyukai masakan rumah.


Kamu bisa menggunakannya untuk mendekati Kenan." Jelas Citra di sebrang telfon.


"Wah, benarkah tante. Istri Kenan sering memasakkan apa?" Mourin bertanya tanpa


alasan karena Mourin akan menyainginya.


 "Dia tidak pernah memasak." Jawab Citra cepat.


Senyum Mourin semakin lebar, "Kenapa bisa Kak Kenan memiliki istri pemalas


seperti itu, meskipun memiliki maid seharusnya tetap memasak untuk


suaminya." Kata Mourin seakan perhatian kepada Kenan di depan Citra.


"Huh! Memang Ayah memilihkan menantu benalu. Tante ingin kamu menjadi menantu di keluarga Wijaya dan menendang wanita itu dari mansion ini." Citra berdecak kesal kala mengingat Alice.


"Baiklah Tan, Mourin akan segera memasak karena sebentar lagi waktunya makan siang." Kata Mourin yang ingin mengakiri pembicaraan ini.

__ADS_1


"Kenan tidak suka makanan pedas Mourin, kamu harus ingat."


 "Baik tante."


Panggilan telfon segera Mourin akhiri, dirinya segera bergegas masuk kedalam kamar mandi. Memasak? tentu tidak akan pernah Mourin lakukan, bagaimana bisa dirinya memasak padahal sudah pedicure jutaan rupiah dan itu akan merusak kuku indahnya.


Suara gemericik air terdengar menandakan jika Mourin telah memulai aktivitas mandinya, dengan menggosok setiap lekuk tubuhnya dengan sabun mewah yang baru dia order dari prancis. Tidak lupa Mourin membersihkan giginya dan memastikan jika tidak bau mulut.


Selama tiga puluh menit Mourin habiskan di dalam kamar mandi, pintu kamar mandi terbuka Mourin segera berjalan menuju walk in closet dengan bathdrop berwarna ungu tua.


Banyak pakain berjejer rapi, pilihannya jatuh pada gaun berwarna maroon dengan motif bunga-bunga dan bagian dada sedikit rendah.


Mourin segera merias wajahnya dan mengenakan pakaian yang telah dia pilih, memutar tubuhnya di depan cermin panjang "Perfect, Kenan tidak akan dapat menolak tubuh sexy ku ini." Ucap Mourin dengan rasa percaya diri tinggi.


Mengambil tas slempang merk CUCI berwarna hitam, Mourin segera turun dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju lantai satu.


Mira yang melihat putrinya berdandan sexy hari ini mengerutkan keningnya, "Mau kemana sayang?" Tanya Mira kepada Mourin.


"Mourin ingin ke perusahaan Wijaya, Ma." Jawab Mourin.


"Tidak, tadi tante Citra menelfonku." Jawab Mourin.


 "Ada apa?"


Mourin menjelaskan kepada Mira dengan cepat, "Sudah dulu ya Ma, Mourin sudah terlambat." Mourin meninggalkan Mira begitu saja dengan bibir tersenyum puas.


Mira melambaikan tangan ke arah Mourin yang sudah berada di dalam mobil.


"Bagus, jika begini aku bisa menjadi orang terkaya di kota ini." Gumam Mira dengan bersedekap dada.


 Mourin di dalam mobil mewahnya terlihat tersenyum lebar, dengan dukungan Citra semuanya akan mulus dan lancar seperti jalan tol tanpa hambatan apapun. Hanya tinggal berdrama memainkan peran dengan baik di depan Kakek Wijaya.


"Pak, mampir ke restoran Z." Ucap Mourin.


"Baik, Non." Jawab sang sopir.


Mobil Mourin berbelok ke sebuah hotel berbintang di mana restoran Z berada. Segera seorang pelayan hotel membukakan pintu mobil tamu hotel dengan cepat. Mourin berjalan keluar dengan percaya diri.

__ADS_1


Siapapun yang melihat Mourin tidak akan berkedip, karena dia memang wanita yang cantik dan sexy untuk seusianya, terlebih memang perawatan yang selalu di lakukannya tidaklah murah. Namun, jika di sandingan dengan Alice yang memang sudah cantik sejak lahir berbeda bagaikan langit pertama dan ke tujuh.


Segera Mourin menaiki lift dan menekan tombol 31, restoran tersebut berada di lantai paling atas dekat dengan roftoop karena selain terkenal dengan masakannya yang lezat namun juga pemandangan yang di sajikan dari ketinggian gedung hotel itu.


"Pesan makan siang dengan masakan ala rumahan sederhana dan juga masukkan ke dalam box yang mewah." Mourin berkata kepada pelayan dengan cepat karena tidak ingin membuang waktu lama untuk bertemu Kenan.


"Berapa porsi Nona?" Tanya pelayan sopan.


"Dua orang."


Segera pelayan undur diri untuk menyampaikan pesanan Mourin kepada koki hotel, tidak membutuhkan waktu lama pesanan Mourin telah selesai. Mourin dengan cepat menyelesaikan pembayarannya dan kembali turun menuju lantai satu di mana sang sopir sudah menunggunya.


***


Kenan yang tengah mengintip Alice di kagetkan dengan kedatangan Mourin, terlihat Mourin berhenti di depan meja Alice dengan dress sexy yang ketat.


"Hey!" Panggil Mourin kepada Alice.


Alice hanya menolehkan kepalanya saja, melihat penampilan wanita yang berdiri dengan wajah angkuhnya tengah memandang remeh ke arahnya. Sedetik kemudian Alice kembali fokus dengan laptop yang berada di depannya.


Mourin yang seumur hidup belum pernah di acuhkan oleh orang lain kecuali Kenan merasa sangat kesal, "Apa kau tuli, hah!" Seru Mourin.


"Hah heh hah heh! Aku punya nama, jika kamu tidak memanggil namaku aku tidak akan meresponmu." Sembur Alice kepada Mourin.


"Kau! Dasar pegawai rendahan, cepat buatkan minum untuk dua orang." Hina Mourin yang langsung melenggang pergi meninggalkan Alice sendiri.


Alice mendengus kesal, "Dasar mak lampir! masih muda kenapa dandanannya seperti tante-tante, apa aku terlalu giat bekerja hingga tidak tahu jika hari sudah malam." Alice menggerutu di tempatnya.


Sedangkan Mourin membuka pintu Ken setelah mengetuknya dua kali, "Ken." Panggil Mourin dengan suara mendayu.


Mourin berjalan masuk dan menutup pintu kerja Kenan dengan rapat, melangkah mendekat ke arah Kenan yang tengah memunggungi dirinya. Meletakkan rantang di atas meja dan meneruskan langkahnya.


Telihat Kenan tengah beridiri membelakangi pintu rungannya hingga terlihat punggung dan pundak yang lebar, sungguh punggung yang sangat cocok untuk sandaran banyak wanita.


"Ken."


Mourin melingkarkan tangannya di balik punggung Kenan dengan erat dan menyandarkan kepalanya ke punggung yang terasa hangat, tidak lupa menempelkan tubuhnya sehingga Ken pasti merasakannya.

__ADS_1


__ADS_2