Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Menemani Bara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Kenapa wajahmu pucat sekali, apa perlu aku telfonkan dokter?" Tanya Ken yang sudah berdiri di sisi ranjang Bara.


Mendengar kata dokter membuat Bara panik, "Ti-tidak perlu, kemarin dokter sudah ke sini." Jawab Bara seikit terbata.


Ken hanya menaikkan kedua alisnya saja, "Tapi wajahmu sangat pucat bahkan seperti mayat hidup." Ucap Ken kembali.


"Ah, benarkah. Tubuhku rasanya sangat lemas dan sedikit panas." Kata Bara dengan sedikit terbatuk.


Bara mengedarkan pandangannya tidak ada Alice melainkan hanya Ken saja.


"Kau mencari siapa?" Tanya Ken.


"Aku tadi seperti mendengar suara Alice, aku kira dia bersamamu. Apa kita akan ke proyek?" Jawab Bara jujur dengan menatap Ken yang sudah duduk di pinggir kasurnya.


"Istriku sedang di dapurmu, tidak perlu ke proyek. Keadaanmu sungguh mengkhawatirkan, kau bisa menyusahkan istriku nanti." Kata Ken dengan datar namun terdengar menyebalkan untuk Bara.


Hingga datang seseorang yang sudah di nanti Bara, Alice masuk dengan membawa nampan berisi mangkuk dan segelas air berjalan mendekat ke arah Bara.


"Makanlah buburmu dulu." Ucap Ken yang melihat Alice sudah meletakkan nampan di atas nakas.


Bara tidak mendengarkan apa yang Ken ucapkan, pandangannya masih fokus ke arah Alice yang berdiri tidak jauh dari Kenan.


"Kenapa dia semakin cantik." Gumam Bara dalam hati.


Hingga kepala Bara terasa sakit, ternyata Ken memukul kepala Bara dengan cukup keras membuat Alice melebarkan kedua matanya kaget.


"Hey! Apa yang kau lihat. Jaga matamu dari istriku, atau aku congkel biji matamu." Sungut Kenan kepada Bara.


"Aku hanya kaget melihat Alice yang sedikit gemuk." Jawab Bara dengan wajah yang kesal.


Mendengar jawaban Bara sontak membuat Alice langsung memegang perutnya dengan wajah yang kaget, Ken menoleh ke arah Alice dan melihat penampilan istrinya.


"Jangan bicara sembarangan, istriku masih kurus. Jika gemuk berarti dia hamil bod*oh!" Sungut Ken yang tidak terima Alice di katai gemuk oleh Bara.


Mendengar ucapak Ken membuat Alice tersenyum, benar apa yang di katakan Ken jika dirinya gemuk kemungkinan adalah hamil. Berbeda dengan Alice, Bara yang mendengar kata hamil menghela nafasnya panjang.


"Sudah sana pergi, aku mau istirahat." Usir Bara karena moodnya tiba-tiba jelek.


"Makan dulu buburmu." Kata Ken.


"Nanti, sudah sana kalian pergi." Bara memiringkan tubuhnya hingga memunggungi sepasang suami istri tersebut.

__ADS_1


"Sayang bisakah aku minta tolong, rawat bayi besar ini?" Tanya Ken kepada Alice.


"Apa tidak lebih baik kita menelfon Jundi saja Mas, aku takut jika ada keluarga Tuan Bara berkunjung dan membuat salah paham." Jawab Alice pelan kepda Kenan.


"Aku tidak punya orangtua." Ucap Bara dengan suara sedikit menyentak.


Alice berkedip cepat, "Ma-maaf, a-aku tidak tahu." Jawab Alice terbata karena merasa kaget dan tidak enak hati.


"Setelah memastikan Bara minum obatnya, Sayang kembalilah ke kantor. Tidak perlu ke proyek sampai dia sembuh." Ken berkata dengan lembut.


Alice mengangguk, "Baiklah, Alice akan segera ke kantor nanti." Jawab Alice.


"Jika begitu, Mas berangkat ke kantor dulu."


Bara menolehkan kepalanya ke belakang, terlihat Ken mencium kening dan bibir Alice sekilas dan kemudian berlalu dari kamar Bara. Alice masih melihat kepergian suaminya hingga tubuh tegap Ken sudah tidak terlihat di kedua netranya.


"Tuan, silahkan duduk." Ucap Alice setelah memastikan Ken sudah keluar.


"Sudah pergilah." Kata Bara dengan malas.


Alice menaikkan sebelah alisnya heran, "Tapi, saya harus memastikan anda memakan buburnya." Ucap Alice.


Bara akhirnya duduk dengan kasar dan menatap kesal ke arah Alice, kenapa kesal? Tentu kesal melihat Ken mencium kening Alice apalagi bibir tipis Alice itu. Baru membayangkan mereka berbulan madu saja sudah membuat Bara hampir gila dan kali ini harus menyaksikannya sendiri.


"Hah? Tuan bisa memakannya sendiri, aku akan menunggu di sini." Jawab Alice lembut.


"Lihat, aku sedang sakit dan lemas. Bahkan tanganku memegang sendok akan gemetar." Ucap Bara.


Alice mengaruk pipi kanannya yang tidak gatal, "Jika lemas kenapa suaranya masih bisa keras begitu dan lagi, dia bangun sendiri." Gumam Alice dengan menghela nafas pelan.


Dengan terpaksa Alice menyuapi Bara, Alice masih bimbang apakah Bara hanya berbohong dengan sakitnya namun jika melihat wajah Bara benar-benar seperti orang sakit. Alice hanya diam dengan telaten menyuapi sahabat suaminya itu.


Bara dengan intens menatap wajah Alice, istri dari sahabatnya tanpa berkedip. Rasa bahagia membuncah dalam hatinya saat ini. Meskipun hanya sebentar namun Bara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Tuan, di mana obatnya?" Tanya Alice setelah selesai menyuapi Bara.


Bara tersedak sisa buburnya karena mendengar pertanyaan Alice, "Anda baik-baik saja Tuan? Tanya Alice.


Bara benar-benar terkena karmanya, dengan lembut tangan Alice menepuk-nepuk punggung Bara.


"Coba cari di dalam laci, jika tidak ada berarti aku lupa menaruhnya." Jawab Bara berbohong.


Alice membuka laci kecil satu per satu guna mencari obat, sedangkan bara memejamkan mata memunggungi Alice. Bara merutuki kebodohannya, kenapa sandiwaranya tidak totalitas.

__ADS_1


"Tuan, tidak ada." Kata Alice.


"Ekhm, berarti aku lupa menaruhnya." Jawab Bara singkat.


"Baiklah, jika begitu saya pamit untuk kembali ke perusahaan." Jawab Alice sopan.


"Tunggu!" Bara dengan cepat menghentikan langkah Alice.


"Ada yang anda butuhkan lagi Tuan?" Tanya Alice pelan.


"Kamu boleh kembali saat aku sudah tidur." Jawab Bara pelan.


Alice menghela nafasnya panjang, "Baik."


Alice berjalan mengambil kursi santai yang berada di sudut ruangan, mengangkat dan meletakkannya di dekat ranjang Bara. Bara mengulum senyumnya karena melihat wajah Alice yang kesal namun tetap menurutinya.


Bara memiringkan tubuhnya dan memunggungi istri sahabatnya itu, jika dirinya terus-terusan menatap Alice ingin rasanya Bara melakukan sesuatu yang lebih.


"Kamu bisa membaca buku agar tidak bosan, banyak buku baru di rak itu." Bara kembali bersuara.


Wajah Alice sedikit bersinar, segera Alice berjalan mendekat ke arah rak yang berisi banyak buku. Alice berdecak kagum karena buku-buku ini adalah buku bisnis keluaran terbaru yang hanya Alice tahu namun tidak membelinya.


*


*


*


Alice sudah tiba di mansion seorang diri, setelah mendapatkan telfon dari suaminya untuk langsung pulang tidak perlu kembali ke perusahaan.


"Sayang, kembalilah pulang tidak perlu ke perusahaan." Ucap Ken dari sebrang telfon.


Alice sedikit mengerutkan keningnya dalam, "Kenapa Mas? Alice sebentar lagi akan ke keperusahaan." Jawab Alice sedikit bingung.


"Tidak apa-apa, Mas akan pergi ke luar dengan Ferdy." Kata Ken dengan cepat.


"Alice bisa mengerjakan pekerjaan yang ada, jika Mas mau ke luar dengan Ferdy tidak apa-apa." Alice berkata dengan lebut.


"Tolong menurut dengan Mas." Ucap Ken yang frustasi di sebrang sana.


"Baiklah Mas."


Panggilan terputus begitu saja, entah kenapa percakapannya dengan Ken kali ini membuat hati Alice sedih.

__ADS_1


__ADS_2