Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Selena dan Josh : Memandang dari kejauhan


__ADS_3

Happy Reading


Nampak langit masih gelap, tapi seorang wanita tengah bersiap untuk keluar hari ini. Dengan mengenakan pakaian serba hitam, topi, dan juga masker. Sebelum benar-benar melangkah meninggalkan apartemen, Selena terlebih dahulu menghirup udara dengan dalam dan menghembuskannya secara kasar.


Perasaan gugup, cemas, marah, sedih menjadi satu bagaikan bola panas yang siap menggelinding tak tentu arah, seorang pengawal telah siap di luar apartemen saat Selena menemuinya kemarin malam.


"Ayo!" Ajak Selena.


Keduanya berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke basement apartemen, "Kamu tahu wanita itu bekerja di mana subuh hari?" Tanya Selena tanpa menoleh ke arah pengawal.


"Tau Nyonya." Jawab pengawal.


Tidak ada jawaban dari Selena, terlihat kedua tangan wanita itu mengepal kuat menahan perasaan yang begejolak di dalam hatinya. Hingga keduanya telah sampai di basement apartemen, segera Selena masuk bersama pengawal yang akan menyetir mobil.


Perlahan mobil berwarna hitam itu bergerak meninggalkan apartemen menuju ke daerah yang terakir kali merka kunjungi. Selama di perjalanan, dia hanya mebuang pandangannya dengan bersedekap dada, mengigit bibir bawahnya seakan cemas bagaimana jika mereka akan bertemu.


Menempuh waktu kurang lebih dua puluh menit dari area apartemen, mobil yang Selena tumpangi berhenti tidak jauh dari rumah kecil yang hanya ada satu lampu di luar sebagai penerangnya. Kedua mata Selena menatap lekan rumah kecil dengan pintu berwarna coklat kusam itu.


Bibirnya bergetar dan kedua matanya sudah memanas, dia sangat marah kepada Luna kenapa tidak hidup bahagia setelah meninggalkannya begitu saja, bukankah seharusnya wanita paruh baya itu bisa hidup lebih baik dan layak saat meninggalkan beban hidupnya.


Menunggu kurang lebih lima menit, hingga pintu itu terbuka. Membuat Selena reflek mencondongkan tubuhnya ke depan untuk dapat melihat lebih jelas siapa yang keluar. Sebuah roda kecil keluar terlebih dahulu dari dalam rumah itu, hingga benar-benar menampakkan sosok wanita dengan rambut yang di kucir kuda tengah memakai jacket untuk menghalau rasa dingin di pagi hari.


Nampak wanita itu menutup pintu sebelum menaiki sepeda buntutnya, melihat Luna mengayuh sepeda ke arah mobil Selena membuat Selena segera menutup wajahnya dengan mengenakan topi. Namun, pandangan Selena terarah pada wajah dan tubuh Luna.


Melihat Luna sudah melintasi mobil yang dia tumpangi, tangis Selena pecah. Dengan kedua tangannya, dia menangis sesenggukan. Dia sakit melihat wanita yang melahirkan dia di dunia hidup menderita, wajah yang tidak terawat, tubuh yang kurus, tangan nya yang sudah renta tetapi pagi hari harus mulai bekerja mengais rezeki.

__ADS_1


Pengawal hanya diam membiarkan majikannya menangis, hingga suara serak dengan kedua tangan yang masih menutupi wajahnya menginturpsi lagi. "Ikuti dia." kata Selena.


Segera mesin mobil kembali di nyalakan, dan mengikuti kemanapun Luna pergi mengayuh sepedanya. Mengambil jarak aman agar Luna tidak curiga jika di buntuti, mengikuti Luna dari mengambil susu murni sebanyak dua krak dan di tali di bagian belakang sepeda nya.


Selena yang memandangnya dari dalam mobil terus menangis meski tanpa suara, air matanya terus luruh dari mata cantiknya membasahi wajah. Mobil terus bergerak perlahan bahkan mungkin pejalan kaki dapat menyalipnya, Selena terus memandangi punggung Luna dari belakang yang terus naik turun dari sepedanya untuk mengantarkan susu.


Luna yang tahu jika dirinya terus di ikuti langsung menghentikan kayuhan sepedanya, dia berhenti begitu saja sehingga membuat pengawal cukup kaget. Selena panik karena Luna berjalan mendekat ke arah mobil dan mengetuk kaca bagian pintu depan.


Tok


Tok


Tok


Selena langsung mengenakan masker dan topinya, pengawal yang menyetir membuka kaca mobil setelah melihat majikannya sudah menyembunyikan dirinya.


"Majikan saya ingin membeli susu yang anda jual, tapi tidak tahu caranya bagaimana" Jawab pengawal berbohong.


"Oh, kenapa tidak berteriak saja biar aku berhenti. Mau beli berapa?" Tanya Luna yang mencoba melhat ke arah bangku belakang.


"Sisa susu yang anda miliki berapa?" Pengawal berbalik bertanya kepada Luna.


"Masih banyak, ingin beli berapa. Akan aku bawakan ke sini." Ucap Luna jujur.


"Beli semuanya." Jawab Selena dengan suara pelan.

__ADS_1


"Apa!" Luna sedikit berteriak karena tidak mendengar.


"Kami membeli semuanya." Ulang pengawal.


"Benarkah? Jangan berbohong." Selidik Luna.


Selena memnyerahkan beberapa lembar uang kepada pengawal, pengawal segera mengambil dan menyerahka kepada Luna. Luna menerima dan menghitung uang itu, "Ini kelebihan, semuanya cukup tiga ratus ribu saja." Kata Luna dengan menyerahkan kelebihan uangnya.


"Untumu saja, cepat ambil susunya." Selena berkata dengan cukup keras.


Tubuh Luna menegang mendengar suara yang familiar di telinganya, pengawal segera membuka pintu mobil dan mengambil sisa susu yang Luna bawa menaruhnya di belakang mobil. Luna menahan lengan pengawal yang akan masuk kembali ke dalam mobil.


"Siapa nama majikanmu?" Tanya Luna dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Jendela mobil turun perlahan, membuat Luna melebarkan kedua matanya dengan sempurna. Wanita yang tumbuh dengan baik dan cantik duduk dengan tenang di kursi belakang, Luna dan Selena saling mengunci pandangan nya, Selena menatap datar dengan wajah sembab sedangkan Luna menatap Selena dengan wajah penuh haru.


"Selena." Lirih Luna.


"Cepat masuk! Suamiku akan segera berangkat bekerja." Perintah Selena yang menaikkan kembali jendela mobil.


Pengawal segera masuk dan menutup pintu mobil, mobil bergerak meninggalkan tempat di mana Luna masih berdiri. Selena menyeka air matanya yang kembali turun dari kedua mata indahnya, dirinya cukup puas melihat wajah pias Luna.


Selena cukup lama menimang apakah akan menampakkan diri di depan Luna atau hanya tetap mengamati dari kejauhan, Luna ambruk di jalanan dengan memandang nanar ke arah mobil yang bergerak menjauh darinya. Air matanya sudah turun dengan deras.


Kedua bahunya bergetar karena merasakan dadanya yang begitu sesak, tenggorokannya tercekat untuk mengeluarkan perasaannya saat ini. Tangan kanan yang masih menggenggam uang dari Selena perlahan di buka, tubuhnya semakin terguncang cukup keras hingga suara yang sejak tadi hanya berhenti di tenggorokan kini dapat keluar.

__ADS_1


"SELENA!"


__ADS_2