
Happy Reading 🌹🌹
Seluruh keluarga Wijaya tengah melakukan kegiatan sarapan pagi seperti biasanya.
"Ken, Kakek akan pergi ke LA bersama Paman Santosa hari ini." Ucap Kakek Wijaya yang telah selesai memakan sarapannya.
"Kenapa mendadak sekali Ayah?" Tanya Kalevi heran.
"Tidak, Ayah sudah merencanakan ini beberapa hari lalu bersama Santosa." Jawab Kakek Wijaya.
"Ayah di LA apakah lama?" Tanya Citra seperti biasanya.
"Lumayan, selama aku pergi jaga Alice dan Kenan jangan sampai mereka bertengkar." Kata Kakek Wijaya kepada Citra.
Citra tersenyum kesal, "Baik Ayah." Jawabnya pelan.
Alice yang mendengar jika Kakek Wijaya akan pergi ke luar negri cukup lama hanya mampu menghela nafas panjang.
"Harus kembali ke kamar bawa." Pikir Alice.
"Ken sudah selesai, Kakek hati-hati di jalan." Ucap Kenan pada sang Kakek.
"Tentu, jaga Alice dengan baik Ken."
Ken hanya mengangguk kemudian berjalan dan di ikuti Alice dari belakangnya, seperti biasa keduanya berangkat dari mansion bersama-sama.
Mobil mewah milik Kenan mulai meninggaljan mansion dan bersiap membelah kemacetan di pagi hari.
Mobil Ken melewati tempat biasa dirinya menurunkan Alice, "Ken, kamu tidak menurunkanku?" Tanya Alice heran.
"Apa kamu ingin Kakek melihatmu ketika berangkat ke bandara." Jawab Kenan tanpa melihat ke arah Alice.
Sudut bibir Alice berkedut, seharusnya dia sudah paham jika Kenan tidak akan sebaik itu pada dirinya.
"Perusahaan Ayahmu sudah mulai pulih, meski masih harus mendapatkan babtuan dari perusahaan Wijaya."
Ken tiba-tiba membicarakan perusahaan keluarga Alice, membuat wanita yang diam menerung menolehkan kepalanya ke arah Kenan.
"Syukurlah." Jawab Alice pelan.
__ADS_1
Ken mengangkat sebelah alisnya dan menolehkan kepalanya ke arah Alice, "Kamu tidak senang?" Tanya Ken.
"Tentu saja sangat senang, apalagi jika benar-benar perusahaan Ayahku bisa bangkit tanpa sokongan dana dari perusahaan Wijaya." Jawab Alice jujur.
Mendengar jawaban Alice, membuat sudut bibir Kenan terangkat.
"Akupun berharap begitu, setelah itu kita dapat bercerai." Kata Ken dengan tegas.
"Aku sependapat denganmu." Ucap Alice cepat.
Mendengar Alice begitu mudah mengiyakan perceraian membuat Ken merasa marah, kenapa dengan wanita yang menjadi istrinya tidak takut kehilangan Kenan bahkan lebih Alice yang tidak tertarik dengannya.
"Sebelum bercerai, kita akan pergi bulan madu." Kata Ken pada Alice.
Sontak permintaan Kenan membuat Alice melototkan kedua matanya, "Jangan berani menyentuhku, ingat ucapanmu saat pertama kali kita menikah. Aku juga tidak sudi mengandung anak untukmu Kenan." Jawab Alice dengan tegas.
Sekali lagi, Alice berhasil mencoreng harga diri Kenan sebagai pria terlebih suami.
"Aku juga tidak sudi menyentuhmu." Kata Ken mempertahankan harga dirinya.
"Bagus." Ucap Alice.
Hingga, mobil Ken telah sampai di perusahaan. Mobil berhenti di pintu utama segera Ferdy membukakan pintu untuk Ken sedangkan Alice keluar dari pintu satunya.
Para karyawan yang melihat Alice satu mobil dengan Ken menjadi heboh, teringat gosip yang beredar apakah benar jika Alice wanita simpanan dari seorang Kenan Wijayakusuma pemimpin perusahaan Wijaya.
Ken berjalan dengan di ikuti Ferdy serta Alice di belakangnya, para karyawan yang awalnya berbisik melihat raut wajah atasannya pagi ini tidak baik kembali memunculkan spekulasi baru.
Apakah mereka sedang bertengkar? Apakah benar Alice simpanan CEO? Apakah sebentar lagi mereka akan mempublikasilan hubungan di depan publik?
Ferdy menekan tombol menuju ruangan Ken, tidak ada obrolan di dalam lift hanya keheningan dan pikiran mereka masing-masing.
Ken menatap pantulan Alice dari dinding lift, kilatan amarah terlihat jelas di kedua mata Kenan.
Berbanding terbalik, Alice tengah diam dan merenung. Mungkin dengan secepatkan bercerai dari Kenan membuat kehidupannya kembali lagi seperti dulu.
Alice tidak munafik, dirinya mengakui ketampanan dan karismatik suaminya. Dirinya juga hanya manusia biasa yang hanya mampu mencoba menjauh dari perasaan yang mulai tumbuh.
Denting bunyi lift terdengar, panggilan Ferdy membuat Alice kaget.
__ADS_1
"Nona, kita sudah sampai." Ucap Ferdy dengan menggoyang lengan Alice.
"Oh, iya. Terima kasih Fer." Jawab Alice sedikit gelagapan.
Alice menatap punggung Ken yang sudah berjalan lebih dulu hingga sosok itu menghilang di balik pintu ruangan CEO.
Helaan nafas terdengar, segera Alice berjalan menuju meja kerjanya. Sudah banyak dokumen di meja kerja yang harus segera dia selesaikan.
"Nona." Panggil Ferdy.
"Iya, ada apa?" Tanya Alice.
"Perusahaan Wijaya dan Santosa tengah kerjasama membangun sebuah villa, Tuan Kenan mengutus Anda sebagai penanggung jawab dalam kerjasama ini." Ferdy menjelaskan kepada Alice.
Alice langsung melebarkan kedua matanya, "Fer, tidak mungkin aku sebagai penanggung jawabnya. Kamu tahu aku masih belajar dan belum sampai ke tahap ini. Ba-bagaimana bisa Kenan melimpahkan kepadaku." Jawab Alice frustasi.
"Mohon maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Kenan." Kata Ferdy pelan.
Alice mengguyar rambutnya ke belakang dengan frustasi, segera Alice menyambar map kerjasama tersebut dari tangan Ferdy.
Brak!
Pintu ruangan Ken terbuka dengan cepat dan kasar, "Ken!" Seru Alice.
Kenan melemparkan penanya di atas meja dan bersedekap dada, melihat Alice yang berjalan dengan rasa amarahnya kepada Kenan.
"Apa kamu tidak memiliki sopan santun." Ucap Kenan.
"Ini maksudnya apa Ken, aku tidak mungkim menjadi penanggung jawab kerjasama ini." Kata Alice to the point.
"Terserah aku ingin memberikanmu pekerjaan apapun kepadamu Alice, selama kami bekerja di bawah naunganku. Mau tidak mau ... Suka tidak suka, kamu harus menjalankan perintahku." Jawab Kenan dengan tegas.
"Ken, ini kerjasama yang tidak sedikit. Aku belum memiliki pengalaman tentang ini Ken." Ucap Alice memelas.
"Bukankah kamu lulusan dari luar negri, bahkan lulusan terbaik di universitasmu. Itu hal mudah untuk otak kecilmu." Kata Ken sedikit menyindir Alice.
"Lulusan terbaik jika belum memiliki pengalaman ibarat kamu mengisi air dalam gelas berlubang Kenan Wijayakusuma." Ucap Alice penuh penekanan kepada Kenan.
...🐾🐾...
__ADS_1