Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 113


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Seorang pria dengan jas hitam mahal, rambut klimis, sepatu hitam mengkilat, arloji mahal melingkar di pergelangan tangan kirinya tengah ikut menganti di sebuah penjual kaki lima.


Gerobak yang cukup besar yang terbuat dari kayu dan di lapisi kaca tebal, sehingga nampak menarik mata para pembeli yang melihat barisan buah-buah segar tersusun rapi di dalamnya.


"Mau pesan apa, Mas?" Tanya si penjual yang sibuk dengan cobeknya.


"Rujak mangga muda tidak pedas." Jawab Ferdy dengan suara bassnya.


"Di tunggu sebentar, duduk saja dulu." Kata penjual.


"Tidak, aku harus membuatnya sendiri." Ucap Ferdy sengan suara selembut sutra.


Banyak ibu-ibu dan juga anak muda yang melihat aksi Ferdy tengah berperang dengan coberk di depannya, bagaimana tidak menjadinpusat perhatian jika Ferdy tetap mengenakan kacamata hitam nya.


"Astaga, aku ingin membawanya pulang."


"Sangat cocok menjadi menantuku."


"Aku harap dia masih lajang agar bisa berkencan dengan nya."


Beberapa kalimat yang bisa di tangkap oleh kedua indra pendengaran Ferdy dengan sempurnya, "Awas, kalian berdua." Omel Ferdy dalam hati.


"Om! Bisa cepat tidak, aku sudah lelah menunggu giliran dari tadi om menghaluskan cabai sebiji saja tidak halus-halus!"


Gerakan tangan Ferdy terhenti mendengarkan suara cempreng seorang gadis yang mengenakan segaram SMA di depannya.


Dengan wajah sebal dan bibir yang mengerucut, gadis itu bekacak pinggang menatap ke arah Ferdy.


"Cepat! Malah diam saja, sini minggir."


Gadis tersebut langsung menggeser Ferdy dengan kasar bahkan tubuh Ferdy bertabrakan dengan penjual rujak.


Nampak gadia remaja yang tengah menghaluskan cabai dan bumbu yag lainnya dengan gerakan cepat.


"Mau pedas atau tidak, Om!" Serunya tanpa melihat ke arah Ferdy.

__ADS_1


"Ck, menyingkirlah gadis ingusan. Ini untuk ibu hamil dan harus aku yang membuatnya sendiri."


Ferdy menoyor kepala gadis itu pelan dan mengambil alih segera, hampir tiga puluh menit Ferdy berkutat bahkan para pembeli hanya mampu menunggu dengan duduk di bawah pohon.


"Sudah, ini bayaranmu. Maaf menunggu lama, semuanya gratis untuk kalian."


Ferdy memberikan dua puluh lembar pecahan uang berwarna merah kepada penjual rujak


"Wah! Terima kasih pak." Ucap penjual rujak penuh syukur.


Ferdy hanya mengangguk dan melangkah pergi dari sana.


"Kalau punya suami tidak becus memasak sudah ku tendang sampai langit ke tujuh!"


Ferdy berhenti dan menatap sengit remaja yang membuat ulah dengannya, tanpa mengatakan apapun Ferdy melanjutkan langkahnya.


*


*


*


"Baik, Dok. Terima kasih banyak sudah membantu, panggil saja Alice." Jawabnya lembuy.


Dokter Ana hanya mengulas senyum, "Banyak istirahatlah jangan banyak pikiran, aku yakin jika masalahmu akan cepat selesai." Ucap Dokter Ana lembut.


Alice hanya tersenyum kaku dan mengangguk, hingga pintu terbuka kasar. Nampak pria yang mengenakan jas hitam, kacamata hitam, dan satu kantung kresek hitam di tangan kanannya.


"Maaf, menunggu lama Nona." Ucap Ferdy yang meletakkan kantong kresek di depan Alice.


"Kamu membuatku hampir mati kelaparan, Fer." Jawab Alice merengut.


Ferdy hanya memutar bolanya malas, meeasa jika drama ibu hamil akan di mulai.


Dokter Ana hanya tersenyum simpul, "Jika begitu aku permisi dulu, Alice. Masih banyak pasien yang belum aku kunjungi." Dokter Ana nelangkah keluar meninggalkan Alice dan Ferdy di ruangan itu.


Dengan tidak sabar, Alice segera membuka bungkusan plastik yang berisi mangga muda sesuai pesanannya.

__ADS_1


"Bisa tolong ambilkan sendok, Fer." Ucap Alice yang fokus menatap rujak di depannya.


Dengan sabar Ferdy melayani Alice, "Silahkan Nona." Kata Ferdy halus.


"Em, terima kasih. Duduklah Fer jika haus ambil saja sendiri di kulkas kecil itu." Jawab Alice tersenyum ke arah pria jangkung di depannya.


"Baik Nona, terima kasih."


Ferdy menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa yang tidak jauh dari istri sahabatnya tersebut, dengan berpangku tangan kedua mata indra Ferdy menatao Alice yang dengan lahap memakan mangga muda buatannya tersebut.


Ada rasa bahagia di dalam hati Ferdy dapat mengabilkan permintaan calon ibu muda tersebut, terbesit dalam pikiran Ferdy bagaimana jika dia menikah dan istrinya hamil apakah akan di repotkan seperti saat ini.


Alice yang tengah mengunyah rujak mangga muda miliknya menatap keran ke arah Ferdy yang tersenyim sendiri padahal tidak ada obrolan di antara mereka.


"Fer, kamu tidak jadi gila karena aku mintai tolong membuat rujakkan?" Tanya Alice dengan wajah tanpa dosa.


"Oh, tidak. Aku hanya heran melihatmu makan selahap itu apa kamu sedang hamil?" Tanya Ferdy pura-pura tidak tahu.


Tubuh Alice membeku, merutuki kebodohannya karena yang tahu dirinya hamil hanya Dokter Rasyah saja.


"Aku hanya sedang ingin makan yang asam saja." Elak Alice kembali fokus pada plastik di depannya.


"Benarkah? Aku dengar jika orang hamil suka yang asam-asam." Ferdy mulai menggoda Alice.


"Ketiakmu yang asam, Fer." Alice pura-pura kesal agar tidak di berondong pertanyaa.


Ferdi terkekeh melihat wajah panik Alice, melihat Alice yang sudah menyelesaikan makannya dan berjalan cepat ke arah brangkarnya.


"Kamu boleh pergi, terima kasih untuk makanannya." Ucap Alice yang merebahkan dirinya dengan memunggungi Ferdy.


"Baiklah, jika membutuhkan apapun kabari saja Nona Alice. Jagalah kesehatan, aku akan kembali ke mansion Kenan karena dia sedang sakit."


Ferdy sengaja berkata demikian demikian, ingin memberi informasi saja bukan maksud apapun. Ferdy akan mengungkapkan semuanya saat waktunya tiba.


Alice meremat selimut ingin sekali bertanya namun mengingat jika Kenan menghamili wanita lain membuat Alice kembali menangis tanpa suara.


...🐾🐾...

__ADS_1



__ADS_2