Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Pencarian Bara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Kenapa kamu tidak segera membuatkan aku kopi, malah mengobrol di sini hah!" Sentak Kenan pada Alice.


"Maaf tuan, ini salah saya karena mengajak ngobrol Nona Alice." Jawab Ferdy sopan.


"Aku tidak bertanya kepadamu." Kata Ken tegas.


"Aku mengistirahatkan kakiku karena sudah berlari lebih 500 meter, apa kamu pikir aku ini robot tidak memiliki rasa lelah." Alice menjawab ucapan Ken dengan kesal.


"Ck, baru seperti itu saja sudah mengeluh. Jika tidak sanggup pulang saja sana dan mengadu kepada Kakek." Kata Ken dengan nada mengejek.


"Huh, apa kamu pikir aku gadis manja seperti kekasihmu tadi."


Alice melenggang pergi dengan bersedekap dada dari hadapan Ken juga Ferdy, beruntung ruang pantry hanya di samping ruangan Alice. Sedangkan Kenan menatap kesal punggung Alice.


"Tuan."


"Apa!"


"E anu, ini dokumen kerjasama dengan perusahaan Santosa yang perlu di tanda tangani." Ferdy menyerahkan map yang dia bawa.


Dengan kasar Ken menerima dan membanting pintu ruangannya hingga membuat Ferdy terjingkat kaget begitu juga Alice yang menumpahkan air panas hingga mengenai rok dan sedikit tangannya.


"Astaga! apa dia tidak bisa tenang, kenapa sejak tadi marah-marah terus." Gerutu Alice mengelap rok dan meja dengan tisu dapur.


...***...


Alice terlihat sibuk mengoperasikan komputer di depannya, dengan lincah kedua tangan dan matanya bergerak dengan cepat untuk mengecek dokumen satu per satu. Beruntung saat Alice magang di perusahaan BS Company yang berbasis di Amerika dengan induk perusahaan di Eropa.


Tidak jauh beda dengan Alice, Kenan dan Ferdy juga tengah sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Tidak di ragukan lagi masalah pekerjaan Kenan bersikap profesional terkecuali dengan Alice.


"Jam berapa Bara akan datang?" Tanya Ken yang sibuk membaca dokumen di atas mejanya.


"Mungkin sebentar lagi, Bara juga ingin makan siang denganmu." Jawab Ferdy dengan melihat jam dinding di kantor Kenan.


"Ck, kenapa dia akhir-akhir ini memiliki banyak waktu luang untuk datang ke perusahaan. Biasanya hanya bertukar surel maupun Jundi yang datang ke sini." Kata Ken tanpa melihat ke arah Ferdy.


"Mungkin dia rindu denganmu." Jawab Ferdy asal.


"Apa kamu gila! aku masih normal." Sungut Kenan.


Sedangkan di basement perusahaan Wijaya, Bara dan Jundi sudah keluar dari dalam mobil. Jundi yang memperhatikan tingkah Bara agak berbeda hari ini menjadi merinding karena Tuan Mudanya tidak biasa memperhatikan bau parfum maupun warna dasinya.


"Aku tidak baukan?" Tanya Bara pada Jundi.

__ADS_1


"Tidak Tuan." Jawab Jundi jujur.


"Bagaimana warna dasiku? Apakah cocok dengan jas dan cuaca hari ini?" Tanya Bara lagi.


"Sangat cocok Tuan, cuaca hari ini sangat cerah warna biru tua sangat pas." Jawab Jundi dengan menatap langit saat ini mereka sudah keluar dari basement.


Suara kicauan burung seakan mendukung ucapan Jundi, "Benar, ayo." Bara melanjutkan langkahnya di ikuti Jundi di belakang.


Sengaja Bara tidak memberikan kabar kedatangannya kepada Kenan, karena tujuan Bara hanya satu yaitu menemui wanita yang sudah mencuri hatinya. Pasti jika sering berkunjung ke perusahaan Wijaya Bara akan menemukan runner woman atau wanita pelari itu.


Bara terkikik geli dalam hari dengan julukan yang di sematkan kepada Alice, runner woman. Bara dan Jundi memasuki lift yang biasa di gunakan oleh para atasan perusahaan Wijaya.


"Tuan." Panggil Jundi.


Bara hanya menolehkan kepalanya saja.


"Apa Tuan menginginkan sesuatu?" Tanya Jundi.


"Apa?" Jawab Bara datar.


"Seperti bunga." Kata Jundi mengingat Tuan Mudanya hanya menatap penjual bunga tadi pagi yang berjualan di depan perusahaan Wijaya.


"Bunga? belum perlu." Jawab Bara yang menganggap jika Jundi peka dengan perasaannya.


Bara langsung masuk ke ruangan Kenan tanpa mengetuk pintu, "Apa kalian masih sibuk?" Tanya Bara tiba-tiba.


"Apa kamu tidak memiliki sopan santun, masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu." Sungut Kenan dengan berdiri dari sofa.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Tanya Bara.


"Apa?" Ucap Kenan dengan wajah lelahnya.


"Istrimu." Ucap Bara asal.


"Kenapa kamu datang cepat sekali, masih ada wkatu tiga puluh menit lagi untuk makan siang." Tanya Kenan yang mengambil bungkus rokok dari dalam lacinya.


"Sejak kapan kamu merkok?" Tanya Bara dengan wajah heran.


"Sudah lama." Jawab Ken seadanya.


"Berhentilah, tidak baik untuk kesehatanmu." Kata Bara dengan santai.


"Hemm, tidak setiap hari. Hanya saja aku sedang banyak pikiran." Jawab Kenan jujur.


"Memikirkan istrimu." Uap Bara dengan tertawa pelan.

__ADS_1


"Ck bukan." Sungut Ken.


Ken melihat meja Alice yang terlihat dari dalam ruangannya, terlihat hanya tumpukan dokumen saja sepertinya Alice benar-benar tenggelam dalam pekerjaan.


"Oh ya, kenapa banyak sekali dokumen di meja sekertarismu. Apa dia habis melakukan cuti melahirkan." Ucap Bara dengan menunjuk meja sekertaris dengan dagunya.


"Dia karyawan baru, aku hanya mengetesnya seberapa cepat dia membereskan pekerjaan sekertarisku sebelumnya." Jelas Kenan dengan menghisap rokoknya.


"Aku lihat karyawan perempuan di perusahaanmu lebih banyak ya." Kata Bara tiba-tiba.


"Hemm, kenapa? Apa kamu menaksir salah satu dari mereka semenjak datang ke perusahaanku langsung." Jawab Ken dengan meledek.


"Tidak, aku bertemu karyawanmu di jalan tadi pagi yang membuat kemacetan." Ucap Bara dengan tersenyum mengingat Alice yang menyebrang zebra cross.


"Siapa? Akan aku pecat dia jika mempermalukan perusahaan Wijaya di depan publik." Tanya Bara dengan wajah serius.


"Santailah, Ken. Dia tidak akan mempermalukan perusahaanmu." Jawab Bara santai.


Waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, di mana seluruh karyawan perusahaan Wijaya berbondong-bondong keluar untuk makan siang. Tidak beda pula dengan Ken dan Bara mereka keluar dari ruangan CEO di ikuti asisten keduanya.


"Ayo kita makan siang di luar saja." Ajak Ken berjalan beriringan dengan Bara.


"Tidak, aku lebih suka makanan perusahaanmu." Jawab Bara asal.


Jundi yang mendengarnya tersedak ludahnya sendiri, hingga membuat Ferdy dan yang lainnya menatap ke arah Jundi.


"Kamu tidak apa-apa." Tanya Ferdy menepuk pundak Jundi.


"Ekhm, tidak apa-apa." Jawab Jundi cepat.


"Sekertarismu tidak istirahat?" Tanya Bara yang menatap punggung Alice.


"Biarkan saja, jika dia lapar juga akan makan." Jawab Ken acuh.


Pintu lift tertutup perlahan namun pandangan Bara dan Kenan tertuju pada sosok wanita yang memunggungi keduanya, yaitu Alice.


Kini Bara dan Kenan berjalan menuju cafetaria yang berada di perusahaan Wijaya, terlihat meja sudah penuh dengan para karyawan beruntung Ferdy menelfon OB untuk menyediakan meja kosong bagi atasan perusahaan.


Terlihat Bara mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah dengan cepat mengamati setiap karyawan wanita yang berada di cafetaria perusahaan.


"Silahkan menunggu di meja Tuan." Ucap Ferdy sopan.


Ken dan Bara berjalan ke salah satu meja kosong, seperti biasa kedua asisten mengambil makanan untuk atasan mereka. Bara mengambil tempat duduk yang menghadap ke dalam sedangkan Kenan membelakangi para karyawannya.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2