
Happy Reading 🌹🌹
Di dalam ruangan putih dengan khas bau obat-obatan. Suara lenguhan terdengar, meskipun mentari nampak masih malu-malu untuk keluar dari ufuk timur.
Tidak dengan penghuni kamar VVIP nomor B-115, seorang pria mengerjab dan berusaha duduk dengan memegangi kepala kirinya.
Menelisik seluruh sudut ruangan yang nampak asing tapi dirinya tahu jika ini di rumah sakit.
"Kamu sudah bangun, Ken?" Tanya Citra yang keliar dari dalam kamar mandi.
"Mama." Ucap Ken kaget.
Citra berjalan cepat dengan memeluk putranya, dirinya berasa sangat bersalah karena menjadi salah satu orang yang merusak kebahagiaan anaknya.
"Apa yang kamu rasakan, Ken?" Citra melepaskan pelukannya dan memandang Kenan menelisik.
Kenan hanya menggeleng memendam prasaan sesaaknya, kedua mata Kenan menatao wajah sayu sang Mama. Di lihat dari wajah tuanya, nampak jika Mamanya kurang tidur karena menjaganya.
"Mama minta maaf, Ken. Mama pikir kamu masih mencintai Selena ternyata Mama salah. Maafkan Mama sudah membuat Alice pergi meninggalkanmu." Ucap Citra dengan bibir bergetar di sertai air mata yang luruh membasahi pipinya.
"Mama tidak salah, ini semua salah Kenan. Jika saja Kenan tidak plin plan dan mengikuti semua kemauan Alice. Ini semua juga tidak akan terjadi, Ma. Seandainya Kenan lebih memilih mengejar Alice mungkin ini semua tidak akan terjadi Ma." Jawab Kenan panjang lebar dengan tubuh gemetar.
Bayangan dulu saat Alice mengantar makan siang dan berlari meninggalkan Kenan dan Selena, Kenan yang ingin mengejar namun dintahan oleh Selena.
Setiap ingatan demi ingatan di mana Kenan lebih memilih Selena karena merasa iba, sehingga membuat istrinya terluka berulang kali.
Citra membawa Kenan ke dalam pelukannya, menjadi tempat bersandar pria yang tengah rapuh dan tenggelam dalam penyesalannya.
Sebenatnya, Citra juga sama dengan Kenan. Tengah menyesali seluruh perbuatannya kepada Alice.
"Mama juga salah Kenan, sudah berburuk sangka dengan Alice sejak awal menjadikan Alice pelampiasan Mama saja." Kata Citra pelan.
Sejenak keduanya berpelukan, menguatkan satu sama lain untuk dapat meminta pengampunan kepada Alice.
"Mama akan siapkan air hangat untukmu." Ucap Citra dengan menghapus air matanya.
"Tidak perlu Ma, Ken hanya ingin pulang. Lusa Kenan harus menghadiri sidang perceraian." Larang Kenan dengan membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Mama dan Ayah akan melakukan apapun agar dapat mengulur persidangan itu, bahkan jika seluruh kekayaan kita habis tidak masalah. Asalkan kalian dapat kembali."
"Mama bersungguh-sungguh ingin bertanya, apakah kamu benar-benar mencintai Alice?" Tanya Citra yang sempar terjeda.
__ADS_1
"Sangat, Ma. Kenan baru menyadari jika Kenan sudah jatuh sangat dalam sedalam dalamnya dari pesona Alice." Jawab Ken yang masih membuang arah pandangannya.
"Lalu, kenapa saat Mama mengatakan untuk meninggalkan Selena jika kamu mencintai Alice tidak kamu laukan Ken?" Kata Citra dengan wajah bingung.
Kenan menggelengkan kepalanya, "Entah, Ma. Saat itu Kenan bingung apakah Kenan hanya kasihan dengan Selena atau masih berharap dapat bersamanya. Namun, Kenan selaku merasa bersalah dan berdosa ketika mengingat senyuman Alice." Kata Kenan jujur.
Citra menghela nafasnya panjang, Citra sebenarnya sudah ingin menyerah untuk memisahkan Alice dan Kenan. Namun, bagaikan pucuk ulam tiba mantan kekasih Kenan kembali hadir.
Citra hanya menginginkan Kenan memilih di antara salah satunya, karena tidak ada wanita yang ingin di madu termasuk Citra sendiri.
"Berjuanglah untuk kembali kepada istrimu, Ken." Ucap Citra.
Kenan menolehkan kepalanya ke arah Citra, Citra tersenyum ke arah Kenan untuk meyakinkan anaknya.
"Berjuanglah Ken, Mama juga akan meminta maaf kepada Alice dan keluarganya. Untuk hubunganmu Mama hanya mampu membantumu semampunya semua akan kembali ke tangan Alice sendiri." Lanjut Citra berkata.
"Benar apa yang di katakan Tante Citra, kamu harus berjuang lagi Ken atau aku benar-benar akan menjadi Ayah dari anakmu."
Keduanya kaget dengan ucapan pria yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Kenan, bahkan Citra melebarkan kedua matanya dengan sempurna.
"Anak? Ayah?" Gumam Citra memproses ucapan Bara.
"Perawis? Aku akan memiliki cucu! Benarkah!" Pekik Citra girang.
Bara dan Kenan mengangguk secara serempak, "Jika mereka bercerai maka cucu tante akan menjadi cucu keluarga Santosa." Sela Bara yang menjatuhkan bobot tubuhnya di pinggir brangkar Kenan dengan bersedekap dada.
Plak!
Citra memukul lengan Bara cukup kencang dengan mendelik kesal, "Jangan macam-macam, anak dalam kandungan kenan hanya cucuku." Kata Citra bersungut-sungut.
"Jika begitu, Mama akan pulang dulu sekarang. Bara, Tante titip Kenan sebentar."
Citra melakangkah dengan riang dan wajah bahagia mengambil tas yang berada di atas meja depan sofa. Dengan langkah cepat berjalan keluar dari ruangan Kenan.
*
*
*
Mobil sedan hitam menembus jalanan di pagi hari berbaur dengan kendaraan lainnya, menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya, sedan hitam itu telah sampai di sebuah bangunan yang mewah.
__ADS_1
Penjaga segera berjalan mendekat ke arah mobil, pintu kaca belakang terbuka secara perlahan.
"Ada keperluan apa, Nyonya?" Tanya seorang penjaga.
"Saya sudah memiliki janji dengan Tuan William dan Nyonya Elizabet." Bohong Citra.
"Baik."
Penjaga segera berlari untuk membukakan gerbang selebar mungkin, agar mobil tamu sang majikan dapat masuk ke dalam plataran mansion.
Citra menghembuskan nafasnya panjang, jantungnya berdegup kencang saat mobil semakin dekat dengan pinti utama.
"Nyonya, sudah sampai." Ucap sang sopir.
Citra mengangguk, "Jangan bilang kepada Tuan dan Kenan." Larangnya.
"Baik, Nyonya." Jawab sopir patuh.
Citra membuka pintu mobil perlahan, pertama kali menjejakkan kakinya di mansion William. Di lihatnya bangunan megah meski tidak semegah mansion Wijaya.
"Kamu pasti bisa Citra, demi cucumu agar memiliki keluarga yang utuh." Gumam Citra menyemangati dirinya sendiri.
Kaki yang cukup jenjang itu melangkah masuk ke pintu utama dengan langkah yang elegat, William yang baru keluar dari ruang kerjanya menyerengit dalam melihat kedatangan Citra.
"Kenapa kamu datang ke sini." Kata William tanpa basa basi.
Elizabet yang sedang menyiapkan sarapan nya, heran mendengar suara suaminya. Segera Elizabet melepaskan apron dan berjalan ke sumber suara suaminya.
"Ada ap...."
Perkataan Elizabet terputus saat ekor matanya menangkap sosok Citra yang berdiri tidak jauh di ambang pintu.
"Ada perlu apa, Anda ke mari?" Lanjut Elizabet kepada Citra dengan suara yang tidak manis.
"Aku hanya ingin bertemu dengan kalian juga Alice." Kata Citra dengan lugas.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, lusa kita akan bertemu di pengadilan." Jawab William cepat mengusir keberadaan Citra.
"Batalkan percerain mereka Tuan William, aku ... Aku meminta maaf secara oribadi karena telah meyakiti kalian beserta putri kalian selama menikah dengan Kenan." Ucap Citra yang berjalan ke salah satu ruangan yaitu ruang tamu.
...🐾🐾...
__ADS_1