
Happy Reading 🌹🌹
Bara dan Alice tengah menuju ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota, Alice hanya diam sembari memikirkan selera kekasih Bara. Sedangkan Bara diam dengan berjuta pertanyaan dalam benaknya.
Bara masih mencerna kejadian hari ini, Tante Citra mengajak Ken untuk mengantarkan arisan namun merencanakan kencan dengan wanita lain.
Bara menolehkan kepalanya ke arah Alice, menatap sebentar wajah wanita yang sudah mencuri hatinya dengan penuh selidik.
"Apa yang sedang kamu tanggung Alice." Gumam Bara dalam hati.
Bara kembali fokus melihat jalan raya, hingga akhirnya mereka telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal para kalangan orang kaya yang berkunjung ke sana. Karena semua barang yang di jual di mall tersebut adalah barang branded dengan harga selangit.
Mobil mewah Bara melesat masuk ke dalam basement untuk parkir, Alice segera membuka seat beltnya dan membuka pintu dengan membawa tas kerjanya di ikuti oleh Bara.
Keduanya berjalan ke arah lift, jika orang lihat akan mengira mereka adalah sepasang kekasih atau sepasang suami istri. Wanita cantik dengan jas kerja dan pria tampan dengan wajah dingin mengenakan jas kerja pula.
Ting
Bunyi denting lift menandakan jika mereka telah sampai di tujuan, Alice terlihat berbinar sudah lama rasanya dia pergi ke mall untuk berbelanja. Setelah kepulangannya dari luar negri dan menjadi istri Kenan baru kali ini dia ke mall lagi.
Bara berjalan beriringan dengan Alice, langkahnya yang lebar disamakan dengan langkah Alice yang sedang tidak ada setengah langkah Bara.
Menoleh ke arah Alice terlihat wajah cantik yang terlihat berseri-seri dengan mata bening yang berbinar, "Apa kamu suka?" Tanya Bara.
Sontak membuat Alice menoleh ke arah Bara dengan wajah penuh tanda tanya, "Suka? Suka apa?" Tanya Alice kembali.
"Suka datang ke mall, tempat yang ramai?" Tanya Bara lagi.
"Ya, sudah lama tidak datang ke pusat perbelanjaan." Jawab Alice jujur.
Bara menghentikan langkah kakinya dan menghadap ke arah Alice, menatap lekat kedua mata coklat terebut dengan intes.
"Kenapa? Apa ada kotoran di mataku?" Tanya Alice yang meraba ujung matanya.
"Kamu selama menikah dengan Kenan, belum pernah berbelanja bersama?" Tanya Bara dengan wajah datar.
Gerakan Alice terhenti, Alice tersenyum menatap Bara "Belum, Tuan Bara tau sendiri kami berdua sangat sibuk." Jawan Alice berbohong.
Bara hanya mengangguk, masuk akal alasan Alice. Mengingat jika Alice adalah sekertasis Kenan dan juga penanggung jawab proyek yang sedang mereka jalankan bersama.
"Baiklah, ayo Tuan Bara cepat kita mencari kado dan segera antarkan aku pualng."Ucap Alice yang mulai memasuki outlet merk tas ternama.
Bara memutar tubuhnya dan mengikuti langkah Alice, Bara berjalan pelan di belakang Alice yang tengah berkeliling ke arah tas wanita. Pelayan yang akan mendekat di ebri intuksi oleh Bara agar menjauh jangan mendekati mereka.
Siapa yang tidak tahu Bara, Bara adalah pemilik mall tersebut. Satu fakta yang tidak banyak orang ketahui termasuk sang Kakek Santosa.
__ADS_1
"Apakah kekasih Tuan menyukai warna merah muda?" Tanya Alice tanpa melihat ke arah Bara.
"Mungkin." Jawab Bara singkat.
"Bagaimana sih, kenapa warna kesukaan saja Tuan tidak tahu." Omel Alice dengan mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kalau kamu, kira-kira suka warna apa?" Bara balik bertanya kepada Alice.
"Warna yang lembut, merah muda, hijau tosca, begitulah." Jawab Alice dengan tersenyum tanpa menoleh ke arah Bara.
"Mungkin kekasihku akan menyukai pilihanmu." Kata Bara.
"Semoga saja, jika sampai dia marah jangan salahkan aku." Jawab Alice tegas.
Bara hanya berdehem, Alice menunjuk satu tas berwarna putih bersih dengan ukuran sedang.
"Bisa ambilkan tas itu mbak." Tunjuk Alice pada tas yang di maksud.
Pelayan segera mendekat dan mengambil tas yang ditunjuk oleh wanita yang tengah bersama atasan mereka, dengan menggunakan sarung tangan tipis untuk standar kebersihan.
"Silahkan, Nona." Ucap pelayan.
Alice mengangkat dan memutar tas di depannya, membuka guna melihat isi tas apakah efisien untuk memasukkan barang-barang pribadi wanita.
Kembali Alice menunjuk beberapa tas yang terpajang pada rak, mengenakannya dengan bercermin. Mematutkan tas dengan berbagai model agar tidak mubazir jika sudah di beli.
"Tidak special dong, namanya hadiah cukup satu saja namun special. Jika hanya memberi biasa aku rasa Tuan Bara mampu membeli seluruh isi toko ini." Jawab Alice panjang lebar dengan mencoba satu per satu tas.
Bara hanya tersenyum saja, hingga Alice menyodorkan satu tas jinjing di depan Bara. "Pilih ini saja Tuan, terlihat elegant untuk acara penting juga untuk daily juga bagus." Ucap Alice
"Bungkus ini." Ucap Bara.
Pelayan mengangguk dan mengambil tas yang Alice pegang, "Tuan tulis surat untuk di taruh didalamnya." Ucap Alice.
Alice berjalan cepat ke arah pelayan meminta kartu ucapan dan memanggil Bara, dengan senang hati Bara datang dan mengambil pena serta kertas.
"Kenapa kamu dekat-dekat." Tanya Bara kepada Alice.
"Eh, hehehe maaf Tuan." Jwab Alice yang kemdian menyingkir dari samping Bara.
Bara dengan cepat dan penuh perasaan membubuhkan tulisan di kertas ucapan dengan sesekali melihat ke arah Alice yang tengah berkeliling melihat-lihat barang di sana.
"Ini." Bara menyerahkan kepada pelayan.
__ADS_1
Segera pelayan memasukkan kartu ucapan ke dalam kotak sebelum membungkusnya dengan pita dan memasukkan kedalam tas eksklusif yang biasa di dapatkan oleh pelanggan jika membeli barang mereka.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Bara yang telah berdiri di belakang Alice.
"Tidak, kita langsung pulang saja." Jawab Alice dengan menghadap ke arah Bara.
"Bantu aku sekali lagi, hadiah apa yang cocok untuk kakek." Ucap Bara.
"Kakek?" Beo Alice.
"Iya, Kakekku akan berulang tahun sebentar lagi." Jawab Bara jujur.
"Bagaimana dengan sweater? Kemeja? Jacket? Sepatu?...."
Alice menyebutkan beberapa pilihan barang yang dapat di beli oleh Bara.
"Kakek sudah memiliki semuanya tanpa aku memberinya, dia sudah bisa membelinya sendiri." Jawab Bara memotong ucapan Alice.
Alice terdiam sejenak dan berfkir, "Ajak saja berlibur, mungkin memancing ikan." Ucap Alice dengan wajah polosnya.
"Memancing?" Ulang Bara.
"Iya, pasti untuk orang kaya seperti kalian berlibur di luar negri sudah hal biasa apalagi pembisnis itu sudah hal yang sangat biasa. Bagaimana jika dengan memancing ikan di sungai atau samping danau dengan emnyewa seuah mobil van untuk kemah juga. Sepertinya quality time lebih cocok untuk kalian." Jawab Alice panjang lebar dengan membayangkan dirinya juga berkemah.
Bara mencerna ucapan Alice, memang benar sepertinya sudah lama dia dan Kakek Santosa tidak mengobrol bersama sebagai kakak dan cucu. Pembicaraan mereka hanya seputar bisnis dan kerjasama, jika tidak itu snag kakek yang menuntut agar Bara cepat menikah.
"Ide yang bagus." Ucap Bara.
Alice tersenyum, dirinya sangat senang jika idenya tidak mengecewakan Bara.
"Siapkan semuanya, untuk dua minggu kedepan." Ucap Bara lagi.
"A-aku?" Tunjuk Alice pada dirinya.
"Iya, kamu yang memberi ide jadi harus menyiapkannya juga." Jawab Bara tanpa rasa bersalah.
Alice tercengang di tempatnya, "Ba-bagaimana bisa, Tuan bisa menyuruh Jundi untuk menyiapkan segala keperluan Tuan. Aku bahkan tidak bekerja untuk Anda." Gerutu ALice dengan sebal.
"Mulai saat ini kamu bekerja denganku, menjadi asisten pribadiku dan memberikan ide-ide yang segar." Kata Bara tanpa menerima penolakan.
Bara berjalan dengan mengambil tas setelah setelah selesai melakukan pembayaran, meninggalkan Alice begitu saja dengan senyum yang tercetak indah di bibir Bara.
"Kenapa harus aku." Rengek Alice yang berjalan mengikuti Bara.
...🐾🐾...
__ADS_1