
Happy Reading
Mutia dengan susah payah memasang seat belt ke tubuhnya karena mendengar ancaman dari Ferdy, "Aku tidak ingin mati muda, gila saja masih lajang belum menikah tapi sudah mati." Oceh Mutia yang sudah tidak bisa membendung sikap sopan santunnya di depan Ferdy.
Ferdy yang mendengarnya hanya berdecih kesal, "Dasar gil*a."
Mobil sedan hitam terus melaju dengan kecepatan tinggi karena mengingat jarak mansion William dan perusahaan yang cukup jauh, di belakang Kenan yang merasa perutnya bergejolak akibat minuman keras dan juga cara menyetir Ferdy yang ugal-ugalan membuatnya memuntahkan seluruh isi perutnya.
Suara orang muntah di belakang membuat Mutia mengibaskan tangannya di depan sedangkan Ferdy membuka kaca mobil yang hanya dapat di kendalikan oleh sopir. Baik Mutia dan Ferdy menghirup banyak-banyak udara yang tidak tercemar oleh muntahan Kenan.
"Kita mampir ke pom dulu." Ucap Ferdy yang membelokkan mobil sedan tersebut.
Ferdy memarkirkan mobil di dekat kamar mandi pria, dengan cepat Ferdy dan Mutia keluar. Membuka pintu belakang dan membantu Kenan keluar untuk ke kamar mandi.
"Kenapa kau diam saja, berat!" Ucap Ferdy kepada Mutia.
"Eh, tidak mungkin aku masuk ke dalam kamar mandi laki-laki." Ucapnya.
Ferdy mende*sah kasar, "Apa kamu wanita mesum?" Tanya Ferdy.
"Hey! sekate-kate." Sentak Mutia dengan mengerucutkan bibirnya.
"Yasudah jika begitu, cepat bantu aku." Kata Ferdy menatap tajam ke arah Mutia.
"Kosek! eh tunggu, Tuan Ferdy ingin membawaku ke mana sampai harus pergi bersama Tuan Kenan? Menemui Alice makhsudku Nona Alice?" Tebak Mutia dengan wajah penasaran.
Ferdy hanya berdehem saja menandakan jika memang benar, membuat Mutia menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, dudukkan di sini saja Tuan Kenan. Aku akan membersihkan muntahannya, Tuan seka saja bibir Tuan Kenan dengan tisu." Mutia berkata dengan mendudukkan Kenan di atas rerumputan yang hampir gundul.
Ferdy menaikkan alisnya dalam karena tidak tahu apa tujuan sahabat dari Alice itu, "Aku akan membelikan kaos ganti dulu." Ucap Ferdy yang mau beranjak dari tempatnya.
"Eh ... jangan Tuan, Tuan Kenan ingin meminta maaf kepada Nona Alice kan? Biarkan dia berantakan seperti itu, agar Nona Alice tahu bagaimana kacaunya Tuan Kenan. Jika Nona Alice tahu Tuan Kenan baik-baik saja akan lebih susah meluluhkan hatinya." Ucap Mutia panjang lebar dengan memunggungi Ferdy dan Ken yang duduk.
Ferdy nampak memikirkan ucapan Mutia, kepala Ferdy menoleh ke arah Kenan yang mulai sedikit sadar. Kepala Ferdy mangut-mangut sendiri dan senyum licik terbit di wajah tampannya.
Mutia mengeluarkan setengah badannya dengan nafas terengah-engah karena harus menahan nafas saat membersihkan muntahan Kenan, memlihat Ferdy tersenyum sendiri menatap Kenan membuat Mutia bergidik ngeri.
Segera Mutia berjalan menuju toilet wanita untuk mencuci tangan dan juga juga membersihkan lengan bluse nya yang sedikit terkena untahan Kenan saat mebersihkan tadi.
__ADS_1
*
*
*
Pejalanan yang sangat lama dan panjang bagi Ferdy juga Mutia, hingga mobil sedan itu sampai di tempat tujuan.
"Pak, aku sahabatnya Alice. Aku ingin mengunjunginya saja." Ucap Mutia dari dalam mobil dengan kaca sedikit turun.
Penjaga sedikit menunduk untuk melihat siapa yang berada di dalam mobi, "Aku bersama sopirku, tidak perlu kuatir." Lanjut Mutia yang membuat kedua mata Ferdy membulat sempurna.
"Sial, beruntung aku membutuhkanmu. Lain waktu aku tidak akan memaafkanmu."* Umpat Ferdy dalam hati.
Sama halnya dengan Ferdy, Mutia menelan ludahnya susah payah karena menyebut atasannya sebagai sopir pribadinya. "Mati koe, Mut!" Runtuknya dalam hati.
"Berapa orang?" Tanya sang penjaga.
"Du-dua, apa bapak tidak dapat melihat hanya aku dan sopirku. I-iyakan?" Jawab Mutia dengan meminta bantuan Ferdy.
"Benar." Jawab Ferdy singkat.
"Oh-oh bapak kenapa?" Ucap Mutia dengan menutup mulutnya kaget karena tidak tahu apapun.
"Ti-tidak apa-apa, silahkan masuk." Kata sang penjaga.
Mutia mengangguk dan kembali masuk ke dalma mobil, Ferdy yang melihat penjaga berjalan dengan aneh membuat hatinya tergelitik untuk bertanya kepada Mutia.
"Dia kenapa?" Tanya Ferdy yang menggerakkan dagunya ke arah penjaga.
"Tidak tahu." Jawab Mutia jujur.
Mobil sedan hitam melaju kembali, masuk ke plataran mansion Willia. Ferdy memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah di sediakan, Mutia langsung turun dan membuka pintu belakang.
Nampak pria yang menggeliat seperti ulat akibat tangan dan kakinya di tali dengan dasi dan juga mulutnya di sumpal sapu tangan. Mutia seegera membuka ikatan di kaki Kenan dan juga tangan nya sedangkan Ferdy mengambil sapu tangan yang berada di mulut Kenan.
"Hey! Kau mau mati." Teriak Kenan kesal.
Kesadaran Kenan sudah kembali karena saat Mutia keluar dari toilet membawa satu gayung berisi air dan membasahi wajah Kenan dengan air agar cepat sadar. Jika Kenan datang sempoyongan dan berbicara tidak jelas, Mutia takut jika malah melukai Alice.
__ADS_1
"Diamlah, kita sudah sampai di mansion." Jawab Ferdy yang melempar sapu tangan ke dalam mobil.
"Mansion?" Beo Kenan.
Kenan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, dahinya berkerut dalam karena suasana dan ini bukanlah mansion miliknya maupun mansion utama.
"Alice." Lirih Ken.
"Kita di mansion Nona Alice, Tuan Kenan." Kata Mutia dengan jelas dan sopan.
Kenan membalikkan badannya, menatap wanita muda yang tidak dia begitu kenal. Tapi, kenapa dia bisa ada di sini bersamanya. Bukan untuk menanyai Mutia, Ken bergegas turun dari dalam mobil.
Kepalanya sedikit berdenyut, menggelengkan kepalanya cepat dan menghalau rasa pusing yang menerjang.
"Alice! Sayang!" Teriak Ken dari luar mansion.
Tidak ada jawaban, membuat Kenan kembali berteriak. Hingga seorang wanita dengan derss di bawah lutut dan perut buncitnya keluar di balkon. Pandangan keduanya bersibobrok, melihat wajah Alice yang kaget karena kehadiran Kenan membuat Ken sedikit sedih.
Namun, Kenan harus memperjuangkan rumah tangga mereka. Penjaga yang melihat suami anak majikannya berhasil masuk segera berlari untuk menyeretnya keluar mansion, Alice hanya melihatnya dari lantai dua.
"Alice!" Mutia berteriak dengan melambaikan tangannya.
Alice tersenyum lebar saat mendapati sahabatnya datang bersama Kenan, tapi kenapa bisa mereka datang bersama. Memuat Alice merasa heran.
"Cepat masuk Tuan." Mutia mendorong Kenan agar berlari masuk dan menghalau penjaga bersama Ferdy.
Kenan berlari masuk ke dalam mansion meskipun tidak tahu dengan pasti di mana kamar Alice, terakir kali Ken berkunjung karena menjemput Alice dan itu hanya di lantai satu saja. Para maid yang melihat tidak menghalangi Kenan justru menujuk ke salah satu pintu di lantai dua.
Kenapa maid tidak menghalangi Kenan, karena mereka tidak tega melihat majikannya terus sedih dan murung setelah kembali lagi ke mansion. Terlebih saat William dan Elizabet pergi entah ke mana, membuat Alice banyak mengurung diri di dalam kamar.
Wajah Alice yang datar tapi tampak bahagia, hanya muncul saat mendapatkan buket bunga dan hadiah yang setiap hari di antarkan oleh Kenan. Membuat pada maid semakin yakin, jika keduanya saling mencintai hanya saja Alice masih enggan untuk memaafkan Kenan.
Ken mengangguk mengerti, Ken maiki anak tangga dengan langkah lebarnya, sekali melangkah dua sampai tiga anak tangga dia lewati. Hingga sampai di lantai dua dan berlari dengan cepat menuju pintuk yang di tunjuk oleh maid keluarga William.
Brak!
Pintu kayu bercat putih di buka dengan cepat dan kasar, membuat Alice yang sejak tadi menunggu hanya diam hanya menatap dalam kedua mata Kenan yang sudah berkaca-kaca.
Kenan melangkah pelan menuju wanita yang tengah berbadan dua dengan perasaan bercampur aduk, rasa sedih, sesal, marah, bercampur menjadi satu kesatuan dan membentuk bola panas yang siap membakar tubuhnya.
__ADS_1