Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
The Game


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Alice sudah pergi meninggalkan mansion bersama Ferdy, asisten dari suaminya.


Sedangkan Ken menatap kepergian mobil berwarna hitam dari atas balkon kamar, "Maaf sayang, aku pastikan ini yang terakir kalinya bertemu dengan perempuan lain." Ucap Ken pelan.


Tok


Tok


Tok


Terdengar ketukan suara pintu, Ken membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah sumber suara.


"Ada apa Ma?" Tanya Ken malas.


"Segeralah bersiap-siap Ken, Mourin dan Tante Mira sudah berangkat ke tempat pertemuan."


Ken hanya menatao wajah Citra datar, seolah enggan untuk menanggapi.


"Ingat ucapan Mama, Ken. Mama tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Alice lagi jika memang kamu tidak bisa mencintai Mourin." Ucap Citra lagi yang tahu jika Ken tengah marah kepdanya.


"Ken ingat janji Mama." Jawab Ken yang langsung menutup pintu tanpa mendengarkan jawaban Citra.


Citra terperanjat sesaat karena baru kali ini Ken menutup pintu di hadapannya, "Janji Ken, namun Mama tidak janji menghadirkan masa lalumu lagi." Ucap Citra dalam hati.


Ken segera menyegarkan tubuhnya pagi ini, perasaan bersalah berkecamuk dalam hari Kenan kepada Alice.


*


*


*


Mentari nampak semakin membumbung tinggi di langit, mengabtarkanhawa panas hingga ke dasar bumi.


"Panas sekali hari ini." Gumam Alice menyeka keringatnya.


Bara yang ada di sampingnya masih dapat mendengarkan, "Kita istirahat dulu." Ucap Bara.


Alice mengangguk setuju, ingin rasanya Alice menceburkan dirinya di dalam kolam es saat ini.


Bara dan Alice tengah berada di lapangan, mengamati proyek pembangunan yang tengah berlangsung.


Banyak debu yang berterbangan di sekitar mereka, selain hawa panas dan juga gersang yang melanda.


Melihat para pekerja yang seakan tidak mengenal rasa lelah, haus, dan hawa panas. Membuat Alice tidak enak hati jika harus mengeluh.

__ADS_1


Alice menjatuhkan bobot tubuhnya di sebuah tenda putih yang ada di depan pintu masuk proyek, tidak ada AC maupun kipas angin. Mereka hanya mengandalkan angin alamai dari Tuhan.


Bara membungkukkan tubuhnya sedikit membuka kotak es yang terbuat dari plastik berwarna biru tua. Mengambil dua botol air putih yang di dinginkan dengan memasukkan es batu di dalam kotak.


"Minumlah." Ucap Bara.


"Terima kasih."


Alice segera membuka tutup botol mineral, namun Alice heran kenapa botolnya letoy. Bara melirik Alice yang kesusahan membuka tutup botol air minumnya.


"Ada apa?" Tanya Bara.


"Eh, tidak." Ucap Alice cepat.


Alice menghembuskan nafasnya kasar, karena setiap tutup diputar bololnya ikut pula berputar. Mebuat Alice ingin menangis saja rasanya.


Dengan cepat Bara mengambil botol dari tangan Alice dan membukanya meski membuat isi botol sedikit tumpah.


"Air mineral murah memang begini, untuk orang-orang yang berada di lapangan sebisa mungkin menekan biaya konsumsi." Ucap Bara dengan meletakkan botol minuman di dekat Alice.


Alice mengangguk mencoba mengerti, setahu Alice biaya konsumsi sudah di rancang sejak awal. Katakanlah untuk air mineral di budget satu hari seratus ribu untuk merek yang terbaik namun di lapangan kenapa merek yang dibawahnya.


"Kamu pasti sedang menghitung keuangan proyek ya? Kami menekan biaya untuk air mineral namun menambahkan biaya makan maupun kesehatan para pekerja. Perusahaan tidak mungkin menggelontorkan banyak dana hanya untuk sebuah air." Jelas Bara panjang dengan wajah serius.


Alice hanya mengangguk saja karena dirinya juga baru pertama kali bekerja di lapangan, "Saya rasa kita harus banyak menyediakan pasir dan juga batu bata, kemudian juga terpal di bagian pengaduk pasir dan juga pembuat kerangka besi di sebelah sana." Ucap Alice menuding di bagian paling jauh.


Bara melihat ke arah yang di tunjuk Alice , "Benar juga, bisa kamu masukkan dalam laporan. Akan aku sampaikan kepada kepala proyek." Jawab Bara setuju.


"Tidak, aku harus segera membeli sesuatu. Aku membutuhkan bantuanmu." Kata Bara yang menatap lekat kedua mata coklat milik Alice.


"Aku?" Tuding Alice pada dirinya.


Bara mengangguk dan segera beranjak dari duduknya menuju mobil pribadi, Alice sontak menyusul Bara dengan cepat tidak lupa membawa berkas yang ada di dalam map plastik.


Hari ini Alice dan Bara daang ke proyek hanya berdua, tidak ada Ferdy maupin Jundi. Karena kedua asisten tersebut harus tinggal di perusahaan masing-masing jika sesuatu yang genting terjadi.


Alice segera memasang seatbeltnya, Bara perlahan melajukan mobil menjauh dari arena proyek.


"Tuan ingin membeli apa?" Tanya Alice.


"Kado." Jawab Bara singkat.


"Kenapa harus mengajakku, Tuan." Ucap Alice penasaran.


"Karena kamu perempuan." Jawab Bara lagi.


Alice sontak tertawa pelan, "Ah, aku tahu. Tuan ingin membelikan barang untuk kekasih ya, tapi... apa mungkin seleraku dan kekasih Tuan sama?" Kata Alice sambil berfikir.

__ADS_1


Bara yang mendengarkan ucapan Alice kaget, kekasih? Bara saja hanya dekat oh bukan mencoba dekat dengan Alice saja.


"Pasti dia suka." Ucap Bara yang pasrah.


Alice tersenyum sempurna mnatap Bara dari arah samping, "Aku penasaran dengan kekasih Tuan, pasti wanita itu sangat sabar." Seloroh Alice.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Bara penasaran.


"Karena Tuan, kaku." Jawab Alice jujur.


"Apa kamu tidak menyukai pria kaku?" Tanya Bara mencoba mengorek kriteria pria idaman Alice.


"Suka, hanya kaku di depan wanita lain bukan di depanku." Kata Alice jujur.


Bara menyunggibgkan senyum tipis, "Ck, itukan aku banget." Gumamnya dengan 100% keprcayaan diri tinggi.


"Aku rasa kamu salah memilih suami." Ucap Bara tiba-tiba.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Alice menuntut.


Bara menggerakkan kepalanya ke depan Alice mengarahkan kepalanya menuju arah Bara tunjukkan, kedua mata Alice menyipit melihat mobil yang sangat familiar di depannya.


"Itu mobil Ken, Kenan sedang mengantarkan Mama arisan." Kata Alice jujur kepada Bara.


"Apa kamu yakin?" Tanya Bara.


"Tentu saja, Mama mengatakannya sendiri di...."


Ucapan Alice terhenti saat mobil Ken berbelok ke arah restoran mewah dan keluarlah wanita yang sangat Alice kenal, dia adalah Mourin.


Bara sengaja berjalan menepi agar dapat berhenti sejenak di pinggi jalan, sengaja memperlihatkan Kenan yang akan pergi makan siang dengan seorang wanita licik.


"Apa kita perlu makan siang di sana?" Bara menawarkan kepada Alice.


Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari bibir tipis Alice, kedua pandangannya berkabut dengan menggenggam erat pinggiran map plastik dengan erat.


Bara mengambil sapun tangan miliknya, di sodorkannya di depan Alice. Alice mengambil sapu tangan berwarna birubtua dengan aksen garis-garis kecil itu tanpa nelihat ke arah Bara.


Pandangan Alice menatap tajam ke arah meja dekat jendela, dimana Kenan tengah makan siang bersama wanita lain.


"Kenapa kamu tega, Mas." Ucap Alice lirih dengan lelehan air mata.


"Kamu tidak perlu khawatir, kamu pasti tau siapa gadis itu. Mungkin Ibu mertuamu sedang arisan dan menyuruh Ken untuk mengasuh gadis itu." Kata Bara dengan wajah datar namun terkesan lucu karena mengatakan Ken mengasuh.


"Ayo kita makan siang di sana, Tuan." Ucap Alice dengan menatap wajah Bara serius.


Bara tersenyum dengan melengkung sempurna, "Dengan senang hati."

__ADS_1


Bara segera melajukan mobilnya menuju restoran di mana Kenan tengah bersama Mourin.


...🐾🐾...


__ADS_2