
Happy Reading 🌹🌹
Mobil taxi berwarna biru tersebut masuk ke dalam mansion yang membuat Alice bingung, "I-ini mansion siapa Mas?" Tanya Alice heran.
Ken hanya tersenyum, "Ayo keluar." Ajak Ken.
Alice membuka pintu taxi di ikuti oleh Kenan, keduanya keluar dari pintu yang berbeda. Alice mengedarkan pandangannya ke penjuru arah.
Terlihat pohon cemara yang berada di samping tembok berjejer rapi, mansion bergaya klasik dengan ukuran yang tidak begitu besar. Pilar-pilar besar menjulang tinggi dan kokoh.
Banyak lahan kosong di samping mansion yang siap untuk di tanami bunga, ada air mancur kecil di samping mansion yang dapat Alice tebak adalah taman.
Ken segera membayar uang taxi dan sejurus kemudian taxi tersebut meninggalkan pelanggannya.
"Apa kamu senang sayang?" Tanya Ken memeluk Alice dari belakang.
"Ini mansion siapa Mas?" Tanya Alice lagi.
"Milik kita." Jawab Ken pelan.
Alice mengerjabkan kedua matanya cepat dan menoleh ke arah Kenan, "Milik kita? Sejak kapan?" Tanya Alice tidak percaya.
Ken menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, "Benar milik kita sayang. Kita mulai detik ini akan tinggal di mansion ini." Ucap Kenan lembut.
"Ta-tapi sejak kapan Mas menyiapkan ini semua?" Tanya Alice terbata.
"Sejak, Mas mengajakmu untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama." Jelas Ken.
Bibir Alice bergetar bahkan kedua matanya terasa panas hingga menggenang cairan bening yang sebentar lagi akan tumpah, "Mas" Ucap Alice yang tidak mampu berkata-kata.
Alice memeluk tubuh suaminya dan di sambut dengan baik oleh Kenan, "Surprise." Ucap Ken pelan dengan di iringi tawa pelan.
"Kita akan tinggal di sini bersama anak-anak kita sayang." Lanjut Ken lagi.
Alice mengangguk dalam pelukan suaminya dengan tangis bahagia, Ken menghujani pucuk kepala Alice dengan kecupan-kecupan kecil.
Ken memeluk erat tubuh kecil dan ramping Alice dengan erat, dirinya tidak ingin melihat pertengkaran Citra dan Alice akan terulang kembali. Ken mengambil jalan cepat untuk mengajak Alice keluar dari mansion utama.
"Ayo kita masuk. Akan aku perlihatkan isi mansion kita." Ajak Ken.
__ADS_1
Alice mengangguk dan keduanya berjalan masuk ke dalam mansion yang masih terlihat kosong itu, "Mas sengaja belum mengisi banyak barang sayang, Mas ingin kamu yang menatanya sesuai keinginanmu." Ucap Ken lembut.
Senyum Alice semakin melengkung sempurna karena dirinya tidak di lupakan dalam menata isi mansion membuat Alice merasa menjadi bagian penting dalam kehidupan Kenan dan keputusan Kenan.
"Kamar kita di lantai dua, mau lihat?."
Ken menarik Alice untuk mengikutinya menuju lantai dua, di mana kamar utama berada. Ken membuka pintu perlahan memperlihatkan ruangan kamar yang sama luasnya dengan kamar mereka di mansion Wijaya.
Satu kasur berukurang king size dengan sprei serba putih dan juga tirai tipis di sana, "Mas hanya membeli kasur saja kemarin." Ucap Ken jujur.
"Lalu bagaimana dengan yang lain, handuk apakah tidak ada?" Tanya Alice dengan wajah polosnya.
Ken berjalan mendekat hingga kedua hidung mancung itu bertemu, " Tidak perlu handuk, bagaimana jika kita melanjutkan sesuatu yang tertunda?" Ucap Ken.
Alice menaikkan sebelah alisnya saja, "Apa Mas, apanya yang tertunda?" Tanya Alice bingung.
"Kenan Junior, daripada memikirkan handuk lebih baik kita bekerja keras untuk membuat Kenan Junior di dalam rahimmu sayang." Ucap Ken yang berbisik hingga membuat bulu kuduk Alice meremang.
"Ishh... Masih siang." Cicit Alice malu-malu dengan memukul pundak Ken pelan.
"Pagi, siang, sore, malam... tidak masalah sayang." Ucap Ken dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Alice.
"Kenapa, hem... Mas ingin punya anak sepuluh bersamamu." Kata Ken semakin membuat kedua bola mata Alice ingin keluar.
"Apa Mas pikir, Alice ini kucing." Omel Alice pada Kenan.
"Tentu bukan, istriku yang cantik ini masa di samakan dengan kucing." Jawab Ken yang tidak setuju dengan ucapan Alice.
"Cukup dua anak saja Mas, dua anak." Kata Alice mengingatkan program pemerintah.
"Tidak! Aku ingin punya anak yang banyak bersamamu sayang biarkan mansion ini di penuhi tawa anak-anak kita dan juga cucu kita kelak." Ucap Kenan dengan tertawa pelan.
"Memiliki anak saja belum sudah memikirkan cucu." Kata Alice yang tertawa pelan karena merasa lucu dengan ucapan sang suami.
"Makanya kita harus rajin membuatnya mulai saat ini."
Ken memangut bibir tipis istrinya dengan penuh perasaan, Alice mengalungkan kedua tangannya di pinggang Kenan. Perlahan namun pasti, Ken membawa Alice berjalan hingga terjerembab di atas kasur. Tubuh Alice bagaikan candu untuknya, ingin rasanya Ken mengurung Alice untuknya.
Namun, Ken memiliki satu misi penting dalam hidupnya. Mengajari Alice tentang bisnis dengan berkedok membantu Kenan menjadi sekertarisnya. Ken mengakui jika istrinya ini sangat cerdas namun kurang pengalaman di lapangan, oleh sebab itu Ken memberikan tanggung jawab proyek kerjasama dengan perusahaan Santosa kepada Alice.
__ADS_1
Mengingat, Alice tidak memiliki saudara membuat Ken yakin jika penerus keluarga William hanyalah Alice istrinya. Meskipun Ken tidak menginginkan Alice bekerja, biarlah untuk saat ini tidak apa.
Ken akan membuat Alice hamil anak-anak mereka, dan jika sudah besar Alice maupun Ken dapat mewariskannya ke keturunan mereka.
Menghabiskan masa tua bersama Alice tanpa memikirkan perusahaan, itulah cita-cita sederhana Kenan.
Tangan Ken menjamah mainan kesukaannya dari dalam pakaian Alice, membuat Alice meleng*uh dalam cumbuan sang suami. Perlahan namun pasti, pakaian Alice dan Ken sudah tercampakkan di atas lantai. Di dalam kamar di siang hari yang cukup panas tidak kalah panasnya di dalam kamar utama Alice dan Kenan.
Hanya ada suara erotis yang menggema di ruangan itu, peluh yang membasahi tubuh mereka, saling menyebut nama satu sama lain dalam aktivitas panas mereka dan tidak lupa ungkapan cinta hingga saling memuji satu sama lain.
"Kamu cantik sayang, kamu sangat cantik!" Ucap Ken di sela aktivitasnya.
"Wanita cantik untuk orang tampan sepertimu, Mas." Jawab Alice dengan nafas memburu.
"I love you Alice." Kata Ken lagi.
Ken kembali memangut bibir Alice dengan menggerakkan pinggulnya, hingga Ken memeluk tubuh Alice dengan keduanya dengan erat dan memutar posisi mereka tanpa melepaskan.
"Menarilah untukku sayang." Ucap Ken dengan nafas terengah-engah.
Baik Alice maupun Ken tidak tabu tentang hubungan intim, Alice mulai menari menggerakkan tubuh rampingnya di atas Kenan. Ken terpesona dengan sang istri, karena rambut panjangnya yang basah akibat keringat, benda kesayangannya yang terombang-ambing selaras dengan pergerakan Alice. Membuat Kenan kembali membaringkan Alice dengan kasar.
"Aw! Ah.. mas"
Ken yang sudah ingin meledakkan benihnya semakin cepat dan kuat dalam memberi kenikmatan untuk keduaya mencapai puncak, "Ah..A..Alice,..ah!" Ken berteriak dengan di ikuti Alice.
Ken memperdalam agar benihnya agar cepat tumbuh dalam rahim sang istri, Alice melingkarkan kadua kakinnya di pinggang Kenan dengan menengadahkan kepalanya ke atas.
Cup!
"Junior segeralah hadir." Ucap Ken yang mengecup perut rata Alice dan tersenyum ke arah istrinya.
Alice tersenyum mendengar ucapan Ken.
"One more, baby."
Begitulah Kenan yang sudah candu dengan kenikmatan surga dunia milik Alice, akan terus menggempur istri cantiknya setiap saat seperti siang hari ini.
...🐾🐾...
__ADS_1